Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2: Getaran Hasrat Amelia

Mobil Rizaldi meluncur membelah kemacetan jalan Jakarta.

didalam kabin yang sejuk dan beraroma pengharum itu, percakapan ringan mengalir di antara mereka, menciptakan kontras antara hiruk-pikuk di luar dan ketenangan semu di dalam.

Rizaldi, dengan antusiasme seorang paman yang lama tak bersua, banyak bertanya tentang kabar sanak saudara di dan bagaimana kondisi ladang orang tua naufal didesa .

Naufal menjawab setiap pertanyaan dengan nada rendah yang penuh takzim, sesekali menyeka keringat tipis di dahi yang sebenarnya sudah kering karena embusan AC yang menusuk kulit.

Namun, di kursi depan, Amelia lebih banyak bungkam.

Ia bukan tipe wanita yang senang berbasa-basi tentang kehidupan desa yang menurutnya membosankan.

Perhatiannya tersedot sepenuhnya pada spion tengah.

Ia mencuri pandang melalui pantulan kaca, menangkap bayangan wajah Naufal yang sedang terpaku menatap keluar jendela.

Pemuda itu tampak takjub, matanya yang besar dan jernih merefleksikan pandangan ke gedung yang menjulang tinggi seolah hendak merobek langit Jakarta.

"Betapa gagah dia, aku harus membuat dia luruh dalam genggamanku." pikir Amelia sambil memutar ujung rambutnya yang legam.

Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki sebuah kawasan perumahan yang dijaga ketat oleh portal otomatis dan petugas keamanan berseragam.

Kendaraan itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang berdiri kokoh dan angkuh.

Sebuah rumah minimalis modern yang asri dengan taman kecil yang tertata rapi di depannya.

Perpaduan antara dinding batu alam, aksen kayu hitam, dan jendela-jendela kaca besar memberikan kesan mewah yang dingin namun mengundang rasa penasaran yang besar bagi siapa pun yang memandangnya.

"Nah, sampai juga. Inilah rumah Om, Fal. Tidak sebesar ladangmu di desa, tapi cukuplah untuk kita bertiga," ucap Rizaldi.

Ia mematikan mesin mobil dan turun dengan helaan napas lega, seolah baru saja melepaskan seluruh penat dari kemacetan yang menguras energi.

Naufal turun dari mobil dan sejenak terpaku di atas paving block.

Ia menyapukan pandangannya ke arah eksterior rumah yang terlihat sangat elegan dan mahal.

Bagi seorang pemuda yang terbiasa melihat rumah kayu dengan dinding bata tanpa plester dan atap rumbia yang bersahaja, kediaman Rizaldi tampak seperti istana modern yang hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi atau film-film televisi.

"Rumahnya bagus sekali, Om. Luas dan bersih banget. Udara di sini juga terasa lebih sejuk karena banyak pohon," ucap Naufal jujur.

Suaranya sedikit bergetar karena rasa kagum yang tulus, sebuah ekspresi yang sangat langka ditemukan di tengah kemunafikan kota besar.

Amelia, yang kini berdiri hanya beberapa jengkal di samping Naufal, memperhatikan ekspresi takjub itu dengan saksama.

Ia mengamati bagaimana jakun Naufal bergerak turun naik saat pemuda itu menelan ludah, sebuah reaksi fisiologis yang entah mengapa terlihat sangat jantan di mata Amelia.

Ia bisa mencium aroma tubuh Naufal yang samar, sangat berbeda dengan aroma parfum suaminya yang terlalu tajam dan membosankan.

"Polos sekali anak ini... Benar-benar seperti selembar kertas putih yang berteriak minta segera dikotori," gumam Amelia dalam hati.

Ada kepuasan sadis yang mulai mekar di dadanya melihat ketidakberdayaan Naufal menghadapi kemilau kota yang menipu.

Imajinasi Amelia sudah melayang liar jauh melampaui batas kewajaran seorang tante ipar.

Ia kembali menggigit bibir bawahnya, menahan hasrat panas yang mulai menjalar di pembuluh darahnya.

Di pikirannya, ia sudah menyusun skenario di mana Naufal akan memohon padanya, terjebak dalam labirin kenikmatan yang belum pernah pemuda itu rasakan seumur hidupnya.

"Jangan bengong begitu, Fal. Ayo masuk, bawa tasmu. Mulai hari ini, anggap saja rumah sendiri. Jangan sungkan, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu," ucap Rizal memecah lamunan keponakannya itu sambil menepuk punggung tegap Naufal.

"Iya, Om. Sekali lagi terima kasih banyak," jawab Naufal patuh, sambil menyampirkan kembali ransel yang berat ke bahu yang bidang, menunjukkan kekuatan otot-otot yang selama ini tersembunyi di balik kesederhanaan.

Rizal dan Amelia berjalan di depan untuk memandu jalan menuju pintu utama.

Saat itulah, Amelia memulai permainan kecilnya.

Dengan kecerdikan seorang predator yang tahu betul kelemahan mangsanya, ia sengaja memperlambat langkahnya sedikit, membiarkan suaminya berjalan beberapa langkah lebih jauh di depan.

Ia memberikan sebuah pertunjukan visual yang mematikan.

Amelia mulai mengatur ritme langkahnya, membuat bokongnya bergoyang dengan ayunan yang lebih dalam dan provokatif.

Dress kain ketat yang ia kenakan seolah menjadi kulit kedua, membungkus dan menonjolkan setiap lekuk pinggang dan bokongnya yang semok, padat, dan berisi.

Bahan kain itu berkilau tertimpa cahaya matahari sore, mempertegas setiap gerakan otot di baliknya yang menggoda secara eksplisit.

Naufal yang berjalan tepat di belakangnya seakan kehilangan kemampuan untuk memalingkan wajah.

Pemandangan di depannya begitu nyata, begitu dekat, dan begitu menggoda.

Mata Naufal seolah terkunci secara magnetis pada ayunan bokong tante iparnya itu, kain yang menempel ketat itu seakan meronta-ronta di tubuh Amelia.

Sebuah godaan visual yang belum pernah ia hadapi di desanya yang masih memegang teguh norma kesopanan yang kolot.

Darahnya berdesir hebat, memicu detak jantung yang berdentum keras di dadanya, menciptakan sensasi panas yang asing di sekujur tubuhnya yang mulai menegang.

Naufal segera menggelengkan kepala dengan keras, mencoba mengusir bayangan liar yang mulai meracuni pikirannya yang selama ini bersih.

"Istighfar, Fal... Sadar! Itu tantemu sendiri, istri dari Om yang sudah memberikanmu tumpangan hidup.!" Ucap hatinya pada diri sendiri dengan rasa bersalah yang mencekik ulu hati.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Naufal dipersilakan duduk di sofa ruang tamu yang sangat empuk, yang seolah menenggelamkan tubuhnya.

Suasana rumah yang sejuk karena hembusan AC sentral perlahan mulai menenangkan saraf-sarafnya yang tegang, namun ketenangannya hanya sekejap mata.

"Sayang... tolong ambilkan Naufal minum dan sedikit cemilan. Aku mau mandi dulu, badan rasanya lengket dan gerah sekali setelah seharian di kantor," ucap Rizal pada istrinya sebelum melangkah santai menuju kamar utama yang terletak di sisi lain ruang tengah.

"Iya, Mas. biar Naufal aku yang temani di sini." jawab Amelia dengan nada patuh yang dibuat-buat, namun terselip nada rendah yang penuh makna tersembunyi.

Amelia melangkah menuju dapur, Sambil menuangkan air ke dalam gelas, ia melirik ke arah ruang tamu.

Dari posisinya, ia bisa melihat punggung lebar Naufal yang tampak kaku, seolah pemuda itu sedang berjuang sekuat tenaga untuk tidak bergerak sedikit pun.

"Kenapa dia bisa jadi seksi begini meski hanya duduk diam? Aku benar-benar ingin merusaknya sampai tak bersisa," gumam Amelia sangat pelan, nyaris menyerupai desisan ular yang sedang mengincar mangsa di semak-semak.

Senyum tipis yang penuh kelicikan tersungging di bibirnya yang merekah.

Ia tahu betul Naufal adalah pemuda dengan hormon yang sedang meledak-ledak, dan baginya, kepolosan pemuda itu adalah sebuah tantangan yang jauh lebih menggairahkan daripada perhiasan mahal mana pun.

Dengan pikiran yang penuh rencana, Ia siap untuk melancarkan serangan halus yang akan membuat pertahanan pemuda desa itu runtuh seketika.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel