Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1: Pesona Keponakan Ipar.

Sore itu, suasana Terminal tampak seperti lautan manusia yang tak berujung, di mana ribuan orang dari berbagai daerah bercampur menjadi satu.

Deru mesin bus antarkota yang memekakkan telinga bersahutan dengan teriakan parau para kernet yang menjajakan rute, menciptakan simfoni kekacauan khas ibu kota yang seolah tak pernah tidur.

Udara Jakarta yang panas, lembap, dan lengket terasa mencekik paru-paru, membawa aroma menyengat campuran solar, asap knalpot, dan debu jalanan yang langsung menempel di kulit.

Namun, bagi Naufal Mahesa Yudhistira, semua kegersangan itu tidak sedikit pun menyurutkan langkah mantapnya.

Ia turun dari dalam bus setelah perjalanan melelahkan selama berjam- jam dari sebuah desa yang betada di Jawa Tengah.

Naufal berdiri sejenak, menyesuaikan napasnya.

Ransel besar miliknya yang tampak berat dan sedikit usang itu terlihat kontras dengan suasana urban di sekelilingnya.

Matanya yang tajam namun jernih menyapu kerumunan, di tengah hiruk-pikuk manusia, matanya akhirnya menangkap sosok pria.

Pria itu bernama Rizaldi dirgantara, yang sedang berdiri di samping istrinya, Amelia puspita, yang penampilannya sangat mencolok, sebuah oase kemewahan di tengah kumuhnya terminal.

"Om Rizal!" sapa Naufal.

Suaranya lantang, membelah kebisingan terminal, namun tetap membawa nada santun dan rendah hati, ciri khas pemuda desa yang belum tersentuh oleh keras dan egoisnya peradaban metropolitan.

Senyumnya mengembang lebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi, memberikan kesan ramah yang jujur.

Tangannya melambai penuh semangat saat ia melangkah mendekat.

Setiap gerakannya memancarkan kepercayaan diri yang tenang, bukan hasil dari keangkuhan, melainkan tumbuh dari kemandirian hidup di lingkungan desa.

Rizaldi menoleh dan seketika terdiam. Ia terpaku sejenak dengan alis mengkerut, mencoba mencocokkan wajah pemuda di depannya dengan memori lama yang tersimpan di kepalanya.

Perlahan, matanya membelalak tak percaya, Ia benar-benar terkejut melihat transformasi drastis keponakannya itu, seingatnya, naufal hanya setinggi bahunya dan sering terlihat ingusan.

Kini bocah itu telah menjelma menjadi pria muda dengan bahu bidang yang tegap, rahang yang tegas, dan postur tubuh yang menjulang melampaui tinggi badannya.

Amelia, yang berdiri anggun di samping suaminya, juga tak mampu menyembunyikan keterpukauannya.

Jika Rizaldi menatap dengan rasa bangga seorang paman yang melihat keponakannya tumbuh sehat, Amelia menatap dengan sudut pandang yang jauh berbeda.

Matanya seolah-olah berubah menjadi pemindai, menyisiri setiap inci tubuh Naufal.

Naufal mengenakan kaus polos yang tampak agak ketat, mungkin karena tubuhnya berkembang terlalu cepat atau ia salah memilih ukuran.

Namun, kaus itu gagal menyembunyikan otot dada dan lengan yang terbentuk alami, padat, fungsional, dan keras, hasil dari bertahun-tahun berkecimpung dengan bobot berat dan mencangkul di ladang sawahnya, bukan hasil manipulasi mesin gimnasium yang estetis.

Wajah Naufal begitu Tampan dan bersih, meski ada butiran peluh yang mengalir di pelipisnya, yang justru menambah kesan maskulinitas yang segar.

Sudah empat tahun berlalu sejak mereka terakhir bertemu, dan bagi Amelia, empat tahun adalah waktu yang sangat cukup untuk mengubah seorang bocah menjadi sosok predator yang sangat menggoda bagi imajinasinya yang mulai jenuh dengan rutinitas birahinya yang mulai hambar.

"Ya Tuhan... anak ini? Kenapa dia bisa jadi segagah ini?" bisik Amelia dalam relung hatinya yang paling dalam.

Ada debaran aneh yang tiba-tiba menjalar di perut bawahnya, sebuah sensasi panas yang sudah lama tidak ia rasakan dari suaminya yang lamban, dan membosankan.

"Wah, gila! Kamu makan apa di kampung, Fal? Om hampir nggak ngenalin kamu. Kamu tinggi banget sekarang, sudah seperti model!" seru Rizal pecah.

Suaranya penuh kekaguman saat ia menepuk-nepuk bahu Naufal dengan bangga.

Ia lalu merangkul pundak keponakannya itu, merasa kecil di samping tubuh atletis yang dipenuhi energi masa muda itu.

"Cuma makan yang seperti orang-orang pada umumnya kok om" jawab Naufal rendah hati, sedikit menunduk sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.

Suaranya kini tidak lagi cempreng, ia berubah menjadi bariton yang berat, dalam, dan bergetar.

Getaran suara itu entah mengapa membuat bulu kuduk Amelia sedikit meremang.

Sensasi itu asing, namun terasa sangat menyenangkan sekaligus menggelisahkan bagi Amelia.

Rizaldi menoleh dan menyadari istrinya masih terdiam mematung, menatap Naufal tanpa berkedip.

"Sayang, kok bengong? Pangling ya lihat keponakanmu?" ucap Rizaldi sambil terkekeh.

Ia sama sekali tidak menyadari badai keinginan yang mulai berkecamuk di pikiran istrinya.

Amelia tersentak, lalu dengan keahlian sosialnya, ia segera menyusun kembali topeng kewibawaannya sebagai seorang wanita.

Ia tersenyum manis, sebuah senyuman yang tampak ramah di permukaan, namun menyimpan tatapan lapar yang tersirat di matanya yang berkilat tipis.

"Tentu saja pangling, Mas. Terakhir ketemu kan waktu Naufal masih kelas 3 SMP, masih pendek, kurus, dan malu-malu," ucap Amelia dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar lembut dan mengayun.

"Selamat datang ya, Naufal. Kamu... benar-benar sudah dewasa sekarang. Tambah macho." Lanjut amelia.

Naufal merasa telinganya memanas. Ia tidak terbiasa dipuji dengan nada yang seintens itu, apalagi oleh wanita seanggun dan secantik Amelia.

Mata tantenya yang menatap dengan fokus yang tidak beralih membuatnya merasa sedikit telanjang di bawah sinar matahari sore.

"I-iya, Tante. Terima kasih sudah mau repot-repot menjemput Naufal," jawab Naufal sedikit kikuk, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

sebuah gestur polos yang justru semakin menambah daya tariknya di mata Amelia.

Selama percakapan ringan itu berlanjut sambil mereka berjalan menuju parkiran, Naufal yang meski polos tetaplah seorang pemuda dengan hormon yang sedang memuncak, tak bisa menahan diri untuk tidak mencuri pandang ke arah Amelia.

Tante iparnya itu tampak jauh lebih menawan dari ingatannya.

Tubuh Amelia yang kini lebih berisi dan matang, dibalut oleh dress selutut yang cukup ketat, menonjolkan lekuk pinggang yang ramping serta bentuk dada yang padat berisi.

Rambut hitamnya yang tergerai indah bergoyang seirama dengan langkah kakinya yang jenjang di atas high heels.

Setiap gerakan Amelia menebarkan aroma parfum mahal yang manis, campuran antara vanila dan melati yang menggoda, aroma yang belum pernah Naufal hirup di desanya yang berbau tanah basah.

Amelia sangat menyadari lirikan-lirikan kecil yang malu-malu dari keponakannya itu.

Sebagai wanita yang paham betul akan aset dan daya tarik fisiknya, ia tidak merasa risih, justru sebaliknya, ia merasa senang.

Secara halus, ia memperbaiki posisi rambutnya, membiarkan leher jenjangnya yang putih terekspos, dan memberikan ruang bagi mata polos Naufal untuk menikmati pemandangan yang ia suguhkan dengan sengaja.

"Sial... dia benar-benar pria jantan sekarang... dan yang terbaik adalah, dia masih sangat polos dan mudah diarahkan," batin Amelia dengan seringai tersembunyi yang tak terbaca oleh siapa pun.

Naluri predator di dalam diri Amelia yang selama ini tertidur lelap karena kehidupan pernikahan yang monoton kini bangkit sepenuhnya.

Sambil berjalan di belakang suaminya, ia sedikit menggigit bibir bawahnya, menatap punggung tegap dan pinggang ramping Naufal dengan rencana-rencana nakal yang mulai tersusun rapi di kepalanya.

"Ayo, masuk mobil. Nanti keburu macet total, Jakarta kalau sore begini bisa bikin kita tua di jalan," ucap Rizal sambil membukakan bagasi mobil, sama sekali tidak menaruh curiga pada interaksi sunyi yang penuh percikan api antara istri dan keponakannya.

Naufal mengangguk patuh, namun dadanya berdegup kencang dengan irama yang tak beraturan.

Ia merasa bahwa di Jakarta tidak hanya akan berhadapan dengan tumpukan buku kuliah, tetapi juga dengan sesuatu yang jauh lebih menantang dan berbahaya yang tidak pernah ia duga sebelumnya, Sesuatu yang tersembunyi di balik senyum manis tante iparnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel