BAB 5 _Retakan yang Tidak Bisa Ditutup_
Arga tidak pernah benar-benar meninggalkan gardu itu.
Meski tubuhnya kembali ke rumah Pak Wira, sebagian dari dirinya tertinggal di depan cermin yang retak. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Reno muncul—bukan sebagai hantu, melainkan sebagai ingatan yang selama ini ia kubur rapi.
Ia duduk diam di sudut ruangan. Makanan di depannya tidak disentuh. Tangannya bergetar tanpa sebab jelas.
“Kamu boleh istirahat,” kata Pak Wira pelan. “Setelah cermin, tubuh dan pikiran butuh waktu.”
“Apa yang terjadi padaku?” Arga bertanya tanpa menatap.
Pak Wira tidak langsung menjawab. Ia menuangkan air ke dalam gelas kayu, lalu meletakkannya perlahan.
“Kampung ini membuka apa yang selama ini kamu kunci. Retakan itu… tidak bisa ditutup kembali.”
Arga meminum air itu. Dingin. Terlalu dingin.
Malam datang lagi tanpa aba-aba.
Namun kali ini, Arga mendengar suara sebelum lonceng berbunyi.
Langkah kaki.
Ia menoleh. Tidak ada siapa pun.
Langkah itu terdengar lagi—lebih dekat. Dari dalam rumah.
“Kau mendengarnya?” tanya Arga.
Pak Wira mengangguk. “Itu sudah dimulai.”
“Apa?”
“Kampung tidak hanya menunjukkan masa lalu,” kata Pak Wira. “Ia mengujinya.”
Suara langkah berhenti tepat di belakang Arga.
Napas dingin menyentuh tengkuknya.
“Kau masih lari?”
Arga bangkit berdiri dengan cepat. Ruangan kosong.
Ia menggenggam kepalanya.
“Aku tidak gila.”
“Tidak,” Pak Wira mengiyakan. “Kamu sedang jujur.”
Keesokan harinya, Arga menyadari perubahan lain.
Waktu terasa tidak konsisten.
Kadang ia merasa satu jam berlalu dalam sekejap. Kadang satu percakapan terasa berlangsung berhari-hari. Ia melihat bayangannya di genangan airterlihat lebih tua, matanya lebih cekung.
Seorang perempuan mendekatinya di jalan kampung. Ia adalah perempuan yang kemarin membawakan sup.
“Kamu mulai mengingat, ya?” katanya lirih.
“Kenapa semua orang di sini tahu?” Arga bertanya putus asa.
Perempuan itu tersenyum sedih. “Karena kami juga pernah seperti kamu.”
“Apa yang terjadi jika aku gagal?” tanya Arga.
Perempuan itu menatap langit abu-abu. “Kamu akan tetap di sini. Bukan sebagai tubuh… tapi sebagai suara.”
Arga terdiam.
Ia mulai menyadari sesuatu yang lebih mengerikan:
ia tidak lagi yakin mana suara yang berasal dari luar, dan mana dari dalam kepalanya.
Saat ia melewati kuburan tua, sebuah nisan tiba-tiba memanggil namanya.
Arga…
Ia menutup telinganya dan berlari.
Namun suara itu mengikuti.
Di rumah, ia membuka kembali buku cokelat itu.
Halamannya kini tidak lagi kosong.
Hari keberapa kamu di sini?
Kamu tidak tahu, bukan?
Arga menulis dengan tangan gemetar.
Aku ingin pulang.
Tulisan itu menghilang.
Lalu muncul balasan.
Pulang ke mana?
Ke gunung? Ke dunia yang tidak pernah menunggumu?
Atau ke dirimu yang lama?
Arga menjatuhkan buku itu.
Malam itu, ia bermimpi atau mungkin tidak.
Ia berdiri di jalur gunung. Reno di depannya, tersenyum.
“Kau akan melanjutkan lagi?” tanya Reno.
“Aku ingin memperbaikinya,” jawab Arga.
Reno menggeleng. “Beberapa hal tidak bisa diperbaiki. Hanya bisa ditebus.”
Saat Arga terbangun, ia menangis tanpa suara.
Pagi yang entah keberapa, Pak Wira menemuinya.
“Besok,” kata Pak Wira, “kamu akan dihadapkan pada pilihan pertama.”
“Pilihan apa?”
“Apakah kamu ingin melupakan rasa sakit ini,” Pak Wira menatapnya dalam,
“atau membawanya sampai akhir.”
Arga mengepalkan tangan.
Ia akhirnya mengerti:
kampung ini tidak menyembuhkan luka—ia memastikan luka itu jujur.
Dan kejujuran, ternyata, jauh lebih menyakitkan daripada hukuman.
