BAB 4 _Suara yang Tidak Pernah Diucapkan_
Arga terbangun dengan satu perasaan yang sulit dijelaskan, bukan takut, bukan cemas, melainkan rasa bersalah.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang kayu. Tidak ada jam di dinding. Tidak ada tanda pagi atau siang. Hanya cahaya pucat yang masuk dari celah jendela, seolah dunia di luar enggan menunjukkan waktunya.
Dadanya terasa berat.
Perasaan itu datang tiba-tiba, seperti tangan dingin yang mencengkeram jantung. Arga menekan dadanya, mencoba mengatur napas. Ia sudah sering berada dalam situasi berbahaya—longsor, badai, hipotermia—tapi tidak pernah merasa seperti ini.
Bukan tubuhnya yang terancam.
Melainkan dirinya.
Di meja kecil dekat ranjang, ada sebuah buku tipis yang kemarin tidak ada. Sampulnya cokelat kusam, tanpa judul. Arga mengernyit. Ia yakin tidak membawanya.
Dengan ragu, ia membuka halaman pertama.
Tidak ada tulisan.
Halaman kedua—kosong.
Ketiga—kosong.
Namun saat ia membalik halaman keempat, jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Nama itu tertulis di sana.
Arga Pratama.
Tulisan tangan. Tegas. Rapi. Seolah ditulis oleh seseorang yang sangat mengenalnya.
“Siapa yang melakukan ini…?” bisiknya.
Ia membalik halaman berikutnya.
Kamu selalu percaya bahwa kamu berjalan sendirian.
Arga menelan ludah.
Padahal ada banyak yang kamu tinggalkan di belakang.
Tangannya gemetar. Ia ingin menutup buku itu, tapi matanya terkunci.
Kamu menyebutnya pilihan.
Mereka menyebutnya pengkhianatan.
Suara langkah terdengar dari luar rumah. Arga menutup buku dengan cepat dan menyelipkannya ke dalam ransel, seolah menyembunyikan dosa.
Pak Wira berdiri di ambang pintu.
“Kamu sudah mulai mendengar, ya?” katanya pelan.
“Mendengar apa?” Arga membalas cepat.
Pak Wira menatap ransel Arga. “Suara yang tidak pernah kamu ucapkan.”
Arga keluar rumah. Kampung tampak sama seperti kemarin, tapi terasa berbeda. Orang-orang masih beraktivitas, namun ada yang berubah dalam cara mereka memandang Arga. Tidak lagi sekadar netral—melainkan seolah mengetahui sesuatu.
Seorang lelaki muda yang sedang memperbaiki pagar menoleh. “Berat rasanya, ya… membawa semua itu sendirian.”
Arga berhenti. “Maksudmu apa?”
Lelaki itu tersenyum tipis. “Yang kamu simpan. Yang tidak pernah kamu minta maafkan.”
Arga melangkah pergi, napasnya memburu.
Ia berjalan tanpa tujuan hingga sampai di tepi kampung, tempat hutan bertemu kabut. Di sana berdiri sebuah bangunan kecil—mirip gardu, tapi lebih tua dan gelap.
Pintu kayunya terbuka.
Sebuah dorongan tak kasatmata membuat Arga masuk.
Di dalamnya, hanya ada satu kursi dan sebuah cermin besar yang kusam. Pantulannya buram, hampir tidak memperlihatkan wajahnya.
“Apa ini?” Arga berbisik.
Udara di ruangan itu terasa berat. Lalu—suara itu datang. Bukan dari luar. Bukan dari dinding.
Dari kepalanya sendiri.
“Kamu ingat dia?”
Arga memejamkan mata. “Tidak.”
“Kamu ingat saat kamu memilih naik gunung itu?”
Napasnya tersendat.
Bayangan muncul di cermin. Bukan wajahnya—melainkan seorang lelaki lain. Lebih muda. Matanya penuh harap.
Reno.
Rekan pendakian pertamanya.
“Kau bilang jalurnya aman,” suara Reno terdengar, bergema.
“Kau bilang kita bisa cepat sampai.”
“Berhenti…” Arga menggertakkan gigi.
Bayangan itu berubah. Hujan deras. Jalur licin. Satu langkah salah. Satu teriakan.
“Bukan salahku,” Arga berteriak. “Itu kecelakaan!”
“Lalu kenapa kamu tidak kembali?” suara itu menekan.
Arga tersungkur ke lantai.
Ia ingat dengan jelas. Saat itu ia bisa turun. Bisa mencari bantuan. Tapi ia memilih melanjutkan pendakian—mengejar puncak, mengejar pembuktian diri.
Dan Reno… tertinggal. Selamanya.
“Aku takut,” bisik Arga, suaranya pecah. “Aku takut kehilangan segalanya.”
Cermin itu retak perlahan.
“Dan karena ketakutanmu,” suara itu melembut,
“orang lain kehilangan segalanya.”
Pintu gardu terbuka tiba-tiba. Pak Wira berdiri di sana.
“Kampung ini tidak menghukummu,” katanya. “Ia hanya memintamu melihat.”
Arga menangis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
“Apa yang akan terjadi padaku?” tanyanya parau.
Pak Wira menatap cermin yang retak. “Itu tergantung pada satu hal.”
“Apa?”
“Apakah kamu ingin dibebaskan…
atau ingin dimaafkan.”
Lonceng berbunyi sekali.
Dan Arga sadar—
jalan keluar dari kampung ini bukan soal arah,
melainkan keberanian menghadapi diri sendiri.
