Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6 _Harga dari Sebuah Pilihan_

Lonceng berbunyi tiga kali pagi itu.

Bukan untuk memanggil warga.

Bukan pula untuk menandai waktu.

Itu adalah panggilan bagi Arga.

Pak Wira menunggunya di tengah lapangan kampung. Warga berdiri melingkar, diam, tanpa ekspresi. Tidak ada kebencian di wajah mereka yang ada hanyalah penantian, seperti orang-orang yang sudah tahu akhir cerita.

“Ini pilihan pertamamu,” kata Pak Wira tanpa basa-basi. “Dan setiap pilihan di kampung ini selalu menuntut sesuatu sebagai gantinya.”

“Apa yang harus kupilih?” tanya Arga, suara parau.

Pak Wira memberi isyarat. Dua orang warga maju.

Yang pertama adalah anak kecil yang sering menyapanya mata tua dalam tubuh muda.

Yang kedua adalah perempuan yang menangis di malam pertama.

Perempuan itu kini berdiri gemetar. Wajahnya pucat, matanya kosong.

“Mereka berdua berada di ambang,” kata Pak Wira. “Dan kamu hanya bisa membantu satu.”

“Ambang apa?” Arga hampir berteriak.

“Antara menjadi penduduk tetap… atau pergi.”

Arga menoleh ke anak kecil itu. “Dia masih kecil.”

Anak itu tersenyum. “Aku sudah terlalu lama di sini.”

Perempuan itu mendekat satu langkah. “Aku hanya ingin pulang,” bisiknya. “Anakku menungguku… atau setidaknya, dulu.”

Arga merasa dadanya seperti diremas.

“Kenapa aku yang harus memilih?” tanyanya putus asa.

Pak Wira menatapnya tajam. “Karena dulu, kamu juga memilih. Tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain.”

Arga terdiam.

“Kamu bisa membebaskan satu jiwa,” lanjut Pak Wira. “Yang lain akan tetap terikat.”

“Apa yang terjadi pada yang tidak kupilih?” Arga bertanya pelan.

“Dia akan dilupakan,” jawab Pak Wira. “Bahkan oleh dirinya sendiri.”

Kampung sunyi.

Arga memejamkan mata. Ia teringat Reno. Teringat bagaimana ia memilih dirinya sendiri di gunung itu.

Ia membuka mata dan menatap perempuan itu.

“Kalau aku memilihmu,” katanya, “apa yang akan terjadi padaku?”

“Kamu akan menanggung sisa beban anak kecil itu,” jawab Pak Wira. “Sebagian luka akan berpindah.”

Arga tertawa getir. “Jadi tetap ada harga.”

“Selalu.”

Anak kecil itu menatap Arga. “Kalau Om memilih dia, aku akan baik-baik saja.”

“Bagaimana mungkin?” Arga berbisik.

Anak itu tersenyum sedih. “Karena aku sudah lupa seperti apa rasanya ingin pulang.”

Kata-kata itu menghantam Arga lebih keras daripada teriakan.

Ia melangkah ke depan.

“Aku memilih… perempuan itu.”

Suara lonceng berbunyi.

Perempuan itu menangis terisak, tubuhnya mulai bercahaya samar. Wajahnya berubah lebih muda, lebih hidup.

“Terima kasih,” katanya berulang-ulang.

Namun sebelum ia menghilang, ia menatap Arga. “Maafkan dirimu sendiri.”

Cahaya padam. Perempuan itu lenyap.

Arga jatuh berlutut.

Anak kecil itu masih berdiri. Matanya kini kosong sepenuhnya. Ia menoleh perlahan, lalu berjalan menjauh, masuk ke antara warga dan seolah menghilang dari ingatan semua orang.

Arga menatapnya dengan perasaan hancur.

“Kamu menyelamatkan satu,” kata Pak Wira. “Dan kehilangan yang lain.”

“Apa yang terjadi padaku sekarang?” tanya Arga lemah.

Pak Wira menunjuk dada Arga. “Kamu akan membawa mimpi buruknya. Ketakutannya. Penyesalannya.”

Malam itu, Arga bermimpi tentang seorang anak yang tidak tahu namanya sendiri. Ia menangis tanpa suara.

Keesokan paginya, Arga terbangun dengan rambut yang mulai memutih di pelipis.

Waktu telah mengambil bayarannya.

Pak Wira menatap perubahan itu tanpa terkejut.

“Kampung mencatat pilihanmu.”

“Aku melakukan hal yang benar, kan?” tanya Arga, hampir memohon.

Pak Wira terdiam lama sebelum menjawab,

“Kamu melakukan hal yang manusiawi.”

Arga menghela napas panjang.

"Ia akhirnya mengerti. "pilihan moral bukan tentang benar atau salah—melainkan tentang siapa yang berani menanggung akibatnya.

Dan ini… baru pilihan pertama."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel