Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3 _Orang-Orang yang Tidak Pernah Pergi_

Pagi datang tanpa matahari.

Langit tetap abu-abu, seperti kain lusuh yang digantung selamanya.

Namun kampung mulai ramai. Anak-anak berlarian, orang dewasa menyapu halaman, suara kehidupan terdengar normal—terlalu normal untuk tempat yang seharusnya tidak ada.

Arga keluar rumah dengan kepala berat.

“Selamat pagi,” sapa seorang anak kecil anak yang kemarin menatapnya lama.

“Kamu tidak sekolah?” tanya Arga refleks.

Anak itu tertawa kecil. “Sekolah? Aku sudah belajar semua yang perlu.”

“Umurmu berapa?”

Anak itu berpikir sejenak. “Tujuh… atau tujuh puluh. Aku lupa.”

Jawaban itu membuat Arga terdiam.

Ia berjalan mengelilingi kampung. Tidak besar, tapi tertata rapi.

Namun ada satu hal yang mencolok: tidak ada satu pun kuburan baru. Semua nisan terlihat tua, usang, dan tidak bertanggal.

Seorang nenek sedang duduk di dekat nisan.

“Nenek,” sapa Arga, “siapa yang dimakamkan di sini?”

Nenek itu tersenyum lembut. “Kami semua.”

“Apa maksudnya?”

“Kami datang ke sini hidup-hidup,” katanya. “Dan dimakamkan sedikit demi sedikit.”

Arga menelan ludah. “Kenapa tidak pergi?”

Nenek itu menatap gunung yang tertutup kabut. “Karena setiap orang datang dengan beban. Kampung ini tidak membiarkan siapa pun pergi sebelum bebannya dihadapi.”

“Beban apa?”

Nenek itu menunjuk dada Arga. “Yang kamu bawa sendiri.”

Arga teringat masa lalunya—keputusan-keputusan egois, orang-orang yang ia tinggalkan demi ambisi, pendakian yang ia lakukan bukan untuk mencintai alam, melainkan menaklukkannya.

Tiba-tiba ia sadar: kampung ini tahu.

Ia berlari kembali ke rumah Pak Wira.

“Saya mau pergi,” katanya tegas. “Sekarang.”

Pak Wira menghela napas panjang. “Kamu boleh mencoba.”

Mereka berjalan ke batas kampung. Kabut menggantung tebal. Jalur gunung terlihat samar—seperti lukisan yang belum selesai.

“Langkahlah,” kata Pak Wira.

Arga melangkah satu kali.

Tanah di bawah kakinya runtuh. Ia terjerembab kembali ke jalan kampung.

Pak Wira menatapnya dengan iba. “Setiap usaha pergi tanpa memahami alasanmu berada di sini… akan selalu gagal.”

“Apa yang kampung ini inginkan dariku?” teriak Arga.

Pak Wira menjawab pelan, namun tajam,

“Kejujuran.”

Lonceng kembali berbunyi.

Dan Arga sadar, ia bukan hanya tersesat secara fisik—ia sedang diadili.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel