BAB 2. _Malam Pertama di Kampung yang Tidak Tidur_
Malam turun tanpa peringatan.
Tidak ada senja. Tidak ada langit jingga atau cahaya yang perlahan meredup. Gelap jatuh begitu saja, seperti tirai tebal yang ditarik paksa dari atas langit. Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan kampung menyala serempak, seolah dikendalikan oleh satu kehendak yang sama.
Arga berdiri di depan sebuah rumah kayu kecil. Ia tidak ingat kapan tepatnya ia setuju untuk bermalam di sana.
Semua percakapan terasa kabur, seperti mimpi yang berlubang. Yang ia ingat hanyalah satu hal: ia tidak diberi pilihan.
“Masuklah,” kata lelaki paruh baya yang memperkenalkan diri sebagai Pak Wira. “Malam pertama tidak baik dilewati di luar.”
“Kenapa?” tanya Arga.
Pak Wira menatapnya lama, lalu menggeleng. “Kamu akan tahu sendiri.”
Rumah itu hangat, terlalu hangat untuk ukuran pegunungan. Api di perapian menyala stabil tanpa kayu yang terlihat.
Dinding kayu dipenuhi ukiran simbol-simbol aneh—lingkaran, garis patah, dan bentuk menyerupai mata.
“Simbol apa itu?” Arga menunjuk dinding.
“Pengingat,” jawab Pak Wira singkat.
Seorang perempuan muda datang membawa semangkuk sup. Wajahnya cantik, namun matanya kosong. Tidak sedih, tidak bahagia—hanya ada kehampaan yang tenang.
“Makanlah,” katanya. “Agar kuat.”
Arga ragu. Nalurinya berteriak untuk menolak, tapi perutnya perih. Ia akhirnya makan. Rasanya aneh—bukan tidak enak, tapi seperti… tidak memiliki rasa sama sekali.
“Sudah berapa lama Bapak tinggal di sini?” Arga bertanya pelan.
Pak Wira tersenyum tipis. “Sudah cukup lama untuk lupa menghitung.”
Jawaban itu membuat tengkuk Arga merinding.
Di luar, suara lonceng kembali terdengar. Kali ini lebih sering.
Tong… tong… tong…
Arga mendekati jendela. Di jalan kampung, orang-orang berjalan perlahan, berkeliling tanpa tujuan jelas. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang tidur.
“Mereka tidak istirahat?” Arga bertanya.
“Tidur adalah kemewahan,” jawab Pak Wira. “Dan kemewahan tidak selalu diberikan di sini.”
Malam semakin larut, tapi rasa kantuk tidak datang. Mata Arga perih, tubuhnya lelah, namun pikirannya tetap terjaga, atau dipaksa terjaga.
Tiba-tiba, terdengar tangisan.
Pelan. Serak. Seperti suara seseorang yang menahan sakit terlalu lama.
Arga berdiri. “Ada yang menangis.”
Pak Wira langsung berdiri di hadapannya. “Jangan keluar.”
“Itu suara manusia!”
“Justru karena itu, jangan.”
Tangisan itu berubah menjadi jeritan tertahan. Arga tidak tahan. Ia membuka pintu dan melangkah keluar sebelum Pak Wira sempat mencegahnya.
Kabut kembali turun, menyelimuti jalan. Di ujung kampung, Arga melihat sosok berlutut—seorang perempuan dengan rambut terurai, wajahnya tertutup tangan.
“Bu?” panggil Arga.
Perempuan itu menoleh.
Wajahnya… hancur oleh penyesalan. Matanya cekung, bibirnya bergetar.
“Kenapa aku tidak pulang…” gumamnya. “Kenapa aku memilih jalan itu…”
Arga mundur. “Siapa Ibu?”
Perempuan itu bangkit perlahan. Tubuhnya mulai kabur, seperti asap.
“Aku hanya satu dari banyak yang salah memilih,” katanya sebelum menghilang ke dalam kabut.
Lonceng berbunyi keras.
TONG!
Arga terjatuh ke tanah. Pandangannya gelap.
Saat ia membuka mata, ia sudah kembali di dalam rumah.
Pak Wira duduk di depannya, wajahnya muram. “Sekarang kamu tahu kenapa malam pertama berbahaya.”
“Apa… apa dia?” Arga terengah.
“Orang yang ingin pulang,” jawab Pak Wira. “Tapi sudah terlambat.”
Arga menggigil.
Dan malam itu, ia mengerti satu hal:
kampung ini tidak tidur karena mimpi buruk berjalan di luar.
