Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1. _Gunung yang Tidak Seharusnya Didaki_

Tidak semua gunung ingin ditaklukkan.

Sebagian hanya ingin dibiarkan diam.

Arga baru menyadari kalimat itu ketika langkahnya terhenti di batas jalur pendakian yang seharusnya sudah lama ditinggalkan.

Di depannya, kabut turun terlalu cepat—tebal, dingin, dan bergerak tidak wajar, seolah bernapas. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 14.10 siang, tapi cahaya di sekitarnya redup seperti senja yang dipaksakan.

“Mustahil,” gumamnya.

Gunung Semeru—atau setidaknya, gunung yang peta sebut sebagai jalur alternatifnya—tidak pernah punya kabut sepadat ini di siang bolong. Arga adalah pendaki berpengalaman. Lebih dari dua puluh gunung telah ia tapaki. Ia hafal tanda-tanda alam, perubahan cuaca, dan ilusi yang kerap menipu pendaki pemula.

Tapi ini… berbeda.

Langkahnya ragu, namun egonya lebih cepat daripada nalurinya. Ia melanjutkan.

Semua bermula dari satu keputusan kecil: mengambil jalur pintas yang tidak resmi. Seorang pendaki tua di basecamp sempat memperingatkannya pagi tadi.

“Kalau kabut turun di jalur timur, jangan dilawan. Jangan belok ke jalur tua.”

Arga hanya tersenyum tipis saat itu. Ia menganggapnya mitos khas gunung, cerita turun-temurun untuk menakuti pendaki nekat. Lagi pula, ia sendirian. Tidak ada yang perlu disesuaikan, tidak ada yang perlu ditunggu.

Kesombongan sering menyamar sebagai kepercayaan diri.

Kabut semakin menebal. Pepohonan berubah menjadi bayangan hitam yang memanjang, seperti tangan-tangan kurus yang ingin meraih. Suara hutan lenyap—tidak ada burung, tidak ada serangga, bahkan angin pun terasa enggan bergerak.

Arga berhenti lagi.

Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, melainkan karena perasaan aneh: seolah ia sedang diperhatikan.

“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Fokus.”

Ia mengeluarkan kompas.

Jarum kompas berputar liar.

Arga membeku. Ia memukul kompas itu, mengira alatnya rusak. Tapi ponsel yang ia keluarkan menunjukkan hal yang sama: sinyal lenyap, GPS mati, jam digital di layar berkedip lalu berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak ia mulai mendaki bertahun-tahun lalu, rasa takut merayap perlahan di tulang belakangnya. Ia memutuskan untuk berbalik.

Namun jalur di belakangnya… tidak ada.

Yang seharusnya berupa jalan setapak kini hanyalah hutan rapat. Semak berduri, batang pohon besar, dan tanah lembap yang belum pernah diinjak siapa pun. Seolah-olah jalur yang ia lalui tadi menghilang begitu saja.

“Ini tidak masuk akal…”

Napas Arga memburu. Ia berputar, mencoba mencari tanda—pita penanda, bekas sepatu, apa pun. Tidak ada.

Hutan itu tampak utuh, perawan, dan asing.

Saat itulah ia mendengar suara lonceng.

Pelan.

Jauh.

Namun jelas.

Tong… tong… tong…

Arga mengangkat kepala. Di tengah kabut, samar-samar muncul siluet atap rumah. Bukan tenda, bukan pos pendakian—melainkan rumah kayu dengan bentuk kuno, berdiri berjejer seperti sebuah kampung kecil.

“Mana mungkin ada kampung di sini…?”

Namun kakinya melangkah tanpa ia sadari.

Kabut perlahan menipis ketika ia mendekat. Rumah-rumah itu nyata. Dinding kayu tua, jendela kecil, dan jalan tanah yang rapi. Di kejauhan, asap tipis mengepul dari cerobong rumah.

Kampung itu hidup.

Seorang perempuan tua berdiri di tengah jalan, membelakanginya. Rambutnya disanggul rapi, tubuhnya kurus namun tegap. Ia memegang lonceng kecil di tangannya.

“Permisi… Bu?” panggil Arga.

Perempuan itu berbalik.

Wajahnya keriput, matanya dalam, dan senyumnya… terlalu tenang.

“Kamu akhirnya sampai,” katanya lirih.

Arga menelan ludah. “Sampai ke mana, Bu? Ini… kampung apa?”

Perempuan itu menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu yang tak terlihat.

“Kampung ini tidak punya nama,” jawabnya akhirnya.

“Dan seharusnya kamu tidak ada di sini.”

Dada Arga berdegup keras. “Saya tersesat. Jalur pendakian menghilang. Bisa bantu saya kembali?”

Senyum itu memudar.

“Tidak ada yang benar-benar tersesat,” ucap si perempuan pelan. “Kalian hanya melangkah lebih jauh dari yang seharusnya.”

Beberapa orang mulai keluar dari rumah. Lelaki, perempuan, anak-anak. Wajah mereka tampak normal—terlalu normal. Bersih. Tidak lelah. Tidak ada yang terlihat terkejut melihat pendaki asing muncul dari kabut.

Seorang anak kecil mendekat dan menatap Arga dengan mata bulat.

“Om baru ya?” tanyanya polos.

Arga membalas tatapan itu, lalu tersentak.

Ada sesuatu yang salah dengan mata anak itu. Bukan bentuknya—melainkan kedalamannya. Seperti mata orang dewasa yang telah melihat terlalu banyak hal.

“Sudah lama tidak ada yang datang,” kata seorang lelaki paruh baya. “Terakhir… entah berapa tahun lalu.”

“Tahun?” Arga mengulang. “Ini wilayah taman nasional. Tidak mungkin ada kampung di peta”

“Kami tidak ada di peta,” potong perempuan tua tadi. “Dan kamu tidak akan menemukan jalan keluar sebelum malam.”

“Kenapa?” suara Arga meninggi.

Perempuan itu menatap ke arah hutan di belakang Arga. Kabut mulai bergerak lagi, lebih gelap dari sebelumnya.

“Karena setelah malam pertama,” katanya pelan,

“gunung ini tidak lagi mengizinkanmu pergi.”

Angin dingin menyapu kampung. Lonceng di tangan perempuan tua berbunyi sendiri.

Tong.

Arga berdiri kaku di tengah jalan tanah itu, dikelilingi orang-orang asing yang tersenyum tanpa kehangatan.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar—

Gunung itu bukan sekadar tempat.

Ia adalah penjaga.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel