SETELAH LIMA TAHUN
“Di mana gadis itu?” kata Bimo. Lelaki yang selalu mengekori kemanapun tuannya pergi. Lelaki itu bahkan sangat hafal betul bagaimana dan apa kebiasaan sang tuan. Dia selalu memuaskan tuannya dengan semua pelayanan yang berikan.
“Seperti biasa, kau melakukannya dengan sangat baik.” Kalimat itulah yang kerap diterima Bimo dari sang tuan. Tapi sekarang sudah lima tahun lamanya lelaki itu terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan berbagai alat medis yang menempel di sekujur tubuhnya. masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya, menggambarkan bagaimana ia bergantung hidup pada alat-alat elektronik itu.
“Pi, bagaimana ini? ini sudah lima tahun lamanya Tristan seperti ini? kenapa tenaga medis Amerika yang terkenal begitu canggih belum bisa juga membangunkan anak kita. Hik hik.” Suara Rima yang menatap dari balik kaca ruang isolate America Medical Center. Seorang lelaki bersneli datang.
“Mr. Darmawan dan Mrs. Darmawan, saya perlu bicara dengan anda,” kata lelaki bertubuh tinggi dan sedikit berewok itu. Rima dan Henky Darmawan berjalan mengikuti lelaki itu. setiba di ruang kerja, hati sepasang suami-istri yang sudah berbungkus kecemasan itu semakin terasa. Keduanya duduk. Dan keduanya memang harus mempersiapkan mental mereka dengan semua kemungkinan terburuk itu.
“Maafkan kami, Mr dan Mrs. Darmawan. Kami sudah menyerah. Kami tidak memiliki upaya apapun lagi untuk menyembuhkan putra anda. Kita hanya berharap pada keajaiban.”
“Kenapa? Bukankah teknologi di negeri ini sangat canggih?”
“Kemana pun anda membawa putra anda untuk berobat, yang ada anda akan mempercepat kematiannya. Kami menyerah. Dan peralatan medis hanya bisa memberinya kestabilan fungsi jaringan tubuhnya saja. Jika mengenai hasil akhir … bisa jadi dia tidak akan bangun untuk selamanya.”
Penjelasan sang dokter seperti bunyi genderang kematian yang siap menjemput putranya. Rima menutup mulut tak percayanya. Putra kesayangan mereka berada di tepi jurang kematian. Henky hanya menunduk pasrah. Jika dokter terbaik dunia saja angkat tangan, lalu apa yang bisa dilakukan mereka.
Bimo menunduk hormat di tepi ranjang tuannya yang bebalut alat medis di sekujur tubuhnya. sejujurnya, Bimo tahu persis apa yang bisa membuat sang tuan bangun, yakni kekasih hatinya yang sudah lama meninggalkan dia dalam keadaan yang hancur. Tapi bagaimana Bimo memberitahukan sang tuan jika Syika sudah pergi atau lebih tepat diusir oleh ibu kandung tuannya. Sedang Arsela … hm, wanita itu malah sibuk menjalin hubungan dengan rival bisnis Tristan Raynald.
“Tuan … bangunlah. Kasihan nona Syika dan putra anda, Tuan,” lirih Bimo dalam batinnya.
“Bimo! Kemari kau!” panggil Henky. Lelaki yang disebut namanya segera keluar dari kamar utama milik Tristan.
“Saya dan istri akan kembali ke L.A. kami harus mengurus perusahaan di sana. kau jagalah Tuan Muda di sini. Jika terjadi sesuatu cepat kabari kami.” Kata lelaki itu.
Sungguh tega hati kedua orang tua itu. Dulu saja mereka begitu menentang hubungan putra mereka dengan wanita yang dicintai oleh Tristan. Dan kini saat putra mereka terkapar tak berdaya, mereka lebih mengutamakan bisnis dari pada berpikir bagaimana caranya menyembuhkan anak mereka.
“Baik, Tuan besar.” Kata Bimo tak panjang lebar.
Lelaki itu pun akhirnya kini seorang saja menjaga tuannya di rumah besar keluarga Darmawan. Pandangannya sayu ke arah tubuh kaku itu. seorang mata-mata yang ia tugaskan selama ini memantau kehidupan Syika datang memberikan laporan.
“Bagaimana perkembangan gadis itu?” kata Bimo.
“Dia sudah melahirkan anak Tuan Muda. Anak itu berkelamin laki-laki, tampan persis seperti wajah Tuan Muda.”
“Lalu bagaimana dengan nona Arsela?” lanjut Bimo.
“Dia akan segera menikah dengan Raynald, Tuan. Rencananya bulan ini. dan dia memesan gaun pengantin pada desainer Syika Lee. Pemilik Butik internasional Lee Fashion.”
“Jadi Nona Syika sudah menikah dengan Erick Lee?”
Lelaki itu menurunkan wajahnya yang sedang berpikir. Tampaknya lelaki itu juga tidak begitu yakin pada dugaan Bimo.
“Saya tidak yakin Tuan Bimo.”
“Baik. Lanjutkan pantauanmu. Ingat, lindungi mereka jika mereka dalam bahaya. Terutama Tuan muda kecil. Oh ya, siapa nama anak kecil itu?”
“Namanya Emmile Lee. Untuk sementara dia memakai nama Lee, Tuan.”
“Hm, baik. Pergilah.”
Setelah pengawal itu pergi, Bimo kembali pada Tuannya yang terbaring memejamkan mata dengan tenang.
“Tuan bangunlah. Lihatlah buah cintamu dengan nona Syika. Dia begitu tampan sepertimu, Tuan.”
***
Rindu yang lain sedang terjalin di tempat lain. Apartemen bertingkat ratusan itu itu, seorang wanita sedang menikmati udara malam di balkon rumahnya. Ia telh sukses, bahkan sangat cantik sekarang. Ia sudah memiliki harga diri lagi, bahkan lebih tinggi dari biasanya. Semua berkat Erick yang setia dan memberinya sayap untuk menjadi terhormat. Dia bukan lagi wanita yang miskin, hina, dan tak berharga lagi. Dia Syika. Syika Lee, seorang desainer yang setara dengan desainer internasional lainnya. Seluruh dunia mengakui keajaiban tangannya dalam menyulam karya terbaik.
Di tangan Erick, Syika tampil menjadi sosok yang elegan, berkelas. Ia bisa mengangkat wajah kepada siapapun sekarang. Namun terlepas dari siapa dirinya saat ini, tetap saja kenangan manis yang penuh air mata itu tak hilang dari memorinya.
“Kamu masih memikirkan dia?” sebuah suara berat yang datang mendekat. Dia Erick, yang malam itu sedang mengantarkan sebuah dokumen kontrak kerja.
“Kau sudah datang, Rick.” Syika berbalik dan melepaskan diri dari lamunannya.
“Ini adalah dokumen kerja sama antara perusahaan Pour Group di Indonesia. Setahuku Pour Group adalah salah satu perusahaan terbesar di Asia dan Internasional. Banyak anak cabangnya di mana-mana bertebaran.”
“Lantas?” kening Syika menarik.
“Mereka mengajak kerja sama dengan kita. Perusahaan Lee memang besar, tapi kami hanya memiliki anak cabang yang tak banyak. Ayahku tidak ingin terlalu banyak cabang. Cukup beberapa saja. Tapi kali ini, kita ditawarkan bekerja sama untuk PH mereka.”
“Memangnya dalam rangka apa mereka meminta kerja sama dengan kita?”
“Mereka akan mengadakan event dalam rangka universary perusahaan. Memberi penghargaan pada artis mereka. mereka juga bekerja sama dengan perusahaan emas terbesar di Eropa.”
“Siapa CEOnya?”
“Kau akan terkejut.” Rasa penasaran semakin memburu hati Syika.
“Siapa?” tanyanya takut-takut.
“Tristan Darmawan.”
DEGH
Syika langsung membatu dan mematung mendengar nama itu lagi. Nama yang ingin ia jauhi. Nama yang ingin ia lenyapkan dari portal kehidupannya. Nama yang sangat ia benci. Nama yang tak ingin didengar lagi.
“Tidak lagi, Lee.” Erick tahu persis kenapa kalimat itu muncul dari Syika. Lelaki itu sudah mengetahui seluruh masa lalu Syika. Dan ia pun bisa menerima dengan perlahan alasan itulah ia di tolak berkali-kali oleh Syika.
“Harus,” desis Lee.
“Lagi pula yang aku dengar dari para Officer Pour Group, sudah sangat lama mereka tidak pernah melihat CEO mereka muncul. Tuan Henky malah sibuk di perusahaan L.A. sebab itulah Pour Group sangat kuat di daratan Amerika.”
“Lalu kemana putra mahkota mereka yang pengecut itu?” sinis Syika.
