KEMBALI KE INDONESIA
“Apa aku bisa menolak?”
“Bisa, tapi kamu harus membuat sebuah gaun untuk seseorang lagi,” kembali kalimat Erick akan mengejutkannya lagi. entah kenapa tidak ada kalimat yang membuatnya tenang dari pria ini. apakah Erick sengaja? Bahkan kini emosi Syika sudah terasa tidak stabil.
“Siapa lagi?”
“Arsela Sadewo.”
Tubuh Syika langsung melemas. Kenapa waktu menuntunnya kembali pada masa lalu yang erhasil ia tinggalkan. Bukankah semua sudah selesai. Ia telah pergi sesuai keinginan mereka. memenuhi keinginan mereka, membawa kehancuran harga dirinya yang terinjak-injak. Dan sekarang saat ia memetik buah perjuangannya selama lima tahun, masa lalu itu seakan kembali ingin menghancurkannya.
“Erick, aku sudah menikmati keberhasilanku sekarang. Dan aku tidak ingin hanya karena mereka ini masa depanku yang sekarang ini hancur hanya karena mereka. Tolong carikan desainer yang lain saja. Suruh saja Sarah Mo. Dia juga hebat, kan?”
“Ophh! Sayangnya Raynald seorang billioner itu menginginkan pesta mewah sesuai keinginan calon istrinya Arsela.”
“Raynald? Bukannya dengan Tristan?” gerutu Syika dalam hati. Masih teringat jelas kalimat wanita bernama Arsela itu saat ia meminta Syika menjauhi Tristan dan mendaulat dirinya sebagai tunangan Tristan. Lantas kenapa dia malah menikah dengan pria lain.
“Raynald dari Orbit Group?” tegas Syika yang sedikit mengenal pria itu. Teringat bagaimana Tristan menyelamatkan dirinya dari jebakan Raynald waktu itu. Tapi musibah itu malah menjadi jembatan hubungan antara dia dan Tristan sampai akhirnya selesai dengan cara yang lebih menyakitkan.
Syika menarik udara sebanyak mugkin di sisi sofa. Ia mengusap wajah kasarnya. Erick hanya menghela napas berat melihat rekannya sefrustrasi itu. Erick menggeser tubuhnya ke sisi Syika. Menepuk punggung wanita itu.
“Kumohon, Erick. Aku tidak bisa menghandle proyek ini. Aku tidak bisa dan aku tak ingin.”
“Kau harus professional, Syika.”
“Bagaimana aku bisa professional, Rick? Aku akan bertemu dengan orang-orang yang sudah menghancurkan hidupku. Mereka yang menatapku begitu hina dulu. Orang-orang yang sudah membuangku ke jalanan seperti sampah. Dan sekarang saat aku meraih dunia indahku, apakah aku akan membiarkan mereka menghancurkannya lagi? Tidak! Berikan proyek ini pada Sarah. Aku tidak bisa. Aku akan ke Paris besok.”
“Syika!” syika beranjak bangkit meninggalkan Erick yang memohon kepadanya. Sungguh saat ini Syika memang benar-benar menolak tugas yang diberikan oleh Erick.
Sarah? Oh ya Tuhan, wanita itu lagi. Dia akan bertemu dengan wanita itu lagi. Erick tak menyukai wanita itu. ia tahu Sarah sangat menggilai dirinya. bagaimana mungkin ia akan bekerja sama dengannya dalam satu pekerjaan. Erick mendesah gerah kemudian pergi dengan perasaan kecewa meninggalkan rumah Syika.
***
“Selamat pagi Mommy,” sama Emmile pagi itu yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Erick dan Sushi sudah bertandang pagi itu ke rumah Syika. Emmile terkejut tak menemukan sang Mommy. Bocah tampan itu menjerit kesal. Seperti biasa Momminya membuat ia kesal dengan meninggalkan Emmile sendiri dengan orang asing di rumahnya. Wajah kecut memasang pada Emmile.
“Hei jagoan, ada apa dengan wajahmu itu?” goda Erick mencubit lemah pipi chubby Emmile.
“Apakah Mommy pergi lagi, Uncle?” kata bocah tersebut. Sebuah anggukan diberikan Erick kepadanya. Anggukan itu semakin membuat bocah lima tahun itu semakin kesal pada ibunya.
Begitulah Emmile akan kecewa ketika bangun pagi dan tidak menemukan sang ibu tak bersamanya. Dan seperti biasa aka nada Sushi dan Erick di sana. Jika dua orang itu sudah menyambut bangun paginya, sudah bisa dipastikan ibunya sudah tak di Negara itu lagi.
“Sudahlah, cepat habiskan sarapanmu lalu kita akan ke sekolahmu.” Kata Erick melirik arlojinya seraya berdiri tegak. Sushi membantu Emmile bersiap-siap.
“Kapan Mommy akan pulang, Uncle?” tanya suara bocah yang terdengar sangat lucu itu.
“Dia akan segera pergi. Karena itu, Uncle harus membuat dia cepat pulang.” Kalimat Erick membuat bocah lelaki itu terlihat bingung.
“Membuat Mommy cepat pulang? Bagaimana?”
Erick menyerah. Tampaknya Emmile akan terus melemparinya dengan setumpuk pertanyaan apabila ia tidak segera memberikan serangkaian plot yang jelas. Erick menekuk tubuhnya Sembilan puluh derajat. Jari kerasnya menyentil hidung Emmile.
“Kau,” cetusnya.
“Kau yang akan membuat Mommymu cepat pulang. Kita akan ke sekolahmu sekarang. Uncle akan mengurus kepindahanmu. Kita akan kembali ke Indonesia hari ini juga. Unlce sudah memesan tiket untuk kita bertiga.”
“Bertiga?”
“Ya. Kau, Uncle, dan ….” Tunjuk mata Erick pada Sushi yang sudah memasang wajah senyum imutnya. Bocah kecil yang tadinya terlihat bingung itu langsung berubah menjadi sorakan gembira yang tak putusnya. Emmile melompat bahagia dan memeluk tubuh bawah Erick yang tinggi. Erick dan Sushi tersenyum lega melihat reaksi Emmile yang menyetujui ide mereka.
Sejak semalam, Erick berpikir keras bagaimana caranya Syika tidak menolak proyek ini. Sejujurnya ia sudah mempersiapkan semua ini jauh-jauh hari. Dan dia memang sengaja memilih Syika bukan Sarah. Sarah hanya akan merusak rencananya saja.
Hari itu Erick menjalankan semua rencananya. Diam-diam ia membawa Emmile untuk bertolak ke Indonesia bersama Sushi, sang babysitter. Di Indonesia, Fania sudah menunggu mereka di Bandara. Begitu keluar dari gerbang kedatangan luar negeri, tangan Fania melambai-lambai pada pria itu. selama ini Erick dan Fania memang diam-diam berkomunikasi . Fania harus tahu perkembangan kehidupan Syika. Dan melalui Ericklah ia mengetahui bagaimana kehidupan wanita itu sekarang.
“Selamat datang Erick!” sambut Fania.
“Ouh Sushi? Kau pun ikut?” kening Sushi mengkerut. Ia tersentak heran bagaimana wanita melayu itu bisa mengetahui namanya, padahal ia tidak pernah berkenalan dengan Fania. Sushi memindahkan pandangannya kea rah Erick meminta penjelasan pria itu.
“Saya sudah banyak cerita tentang kamu, Sushi pada Fania. Dia Fania sahabat Nona Syika di Indonesia. Fania, ini si jagoan yang selalu menyemangati Syika.” Fania terkejut melihat duplikat Tristan di wajah kecil itu.
“Astaga Tuhan. Kenapa wajah ini ada di sini?” lirihnya.
“Hehehe, kau gila ya Fania. Dia adalah anak pria itu. tentu saja dia harus mengambil wajah ayahnya.”
“Tapi aku cemas Erick. Tristan akan merebut dia dari tangan Syika. Apakah ini baik bagi Syika?” Fania menatap ragu pada Erick.
“Kau tenang saja, Fania. Aku sudah memikirkan semuanya. Semua akan baik-baik saja.”
“Apakah Syika tahu kalau kau …,”
“Tidak. Sampai detik ini dia belum tahu. Dan jangan sampai dia tahu. Cukup kamu dan saya yang tahu.”
Fania terdiam. Rahasia yang disembunyikan selama lima tahun dari Syika ternyata masih tersimpan apik. Dan semoga semua berjalan sesuai harapan Fania dan Erick.
“Baiklah jagoan. Perkenalkan … kau bisa memanggilku aunt Fania. Sekolahmu sudah kuurus. Dan kau akan tinggal di rumah tante sekarang. Tenang saja. Kau memiliki teman bermain di sini.”
“Siapa, Aunt?”
“Seorang putri cantik dari kerajaan antah berantah,” ucap Fania berbisik pada Emmile dengan menyentil hidung bocah kecil itu.
“Hufh, aku tidak suka anak perempuan Aunt. Mereka merepotkan.” Mulut Fania langsung menganga kaget mendengar kalimat Emmile.
“Ya Tuhan. Erick, kenapa juga sifat si berengsek itu ada pada anak ini? ya Tuhan, aku tidak percaya ini. Kau sama saja dengan dia, Emmile.”
“Siapa, Aunt?”
“Seseorang. Teman Aunt. Di sangat menyebalkan. Dia juga tidak begitu menyukai perempuan sama sepertimu.”
“Tetapi ibumu sudah membuat dia menelan ludahnya sendiri, Emmile.” Batin Fania melanjutkan kalimatnya yang lain.
Berbicara Syika, saat ini wanita itu masih sibuk dengan beberapa rancangannya bersama perancang dunia di Paris. Ia tidak tahu jika Erick sudah diam-diam membawa Emmile ke Indonesia. Sejak keberangkatannya petang-petang sekali, Syika belum juga menghubungi Sushi menanyakan kabar anaknya setelah ditinggal pergi. Syika pun sudah hafal, sepulang dari perjalanan bisnisnya itu ia harus menyiapkan trik untuk merayu Emmile yang sudah pasti kecewa lagi ditinggal olehnya.
“Ouh, Emmile pasti marah padaku,” lirihnya saat masuk ke dalam ruang kerjanya untuk beristirahat. Syika memencet nomor Sushi. Untungnya tak menunggu lama suara Sushi sudah menderu.
“Sushi, kau di mana? bagaimana keadaan Emmile?”
“Tuan baik-baik saja Nona. kami sekarang ada di Indonesia.”
“Apa?!” Syika berubah syok mendengar berita dari Sushi.
“I … Indo … ne …sia?” lirihnya kaget.
