MOVE ON
Malam itu juga, Fania membawaku ke rumahnya. Dia memang hanya staf karyawan sama seperti aku. Tetapi dia cerdas, dengan uang hasil kerjanya ditambah uang dari orang tuannya, Fania berhasil membeli sebuah apartemen sederhana yang tak begitu mewah. Tak masalah, yang penting dari hasil kerja kerasnya dan tidak mengemis.
Meratapi duka selama beberapa hari ini membuat tubuh Syika terasa lelah. Sesampai di rumah Fania, tak banyak kata-kata yang ia ucapkan. Ia langsung masuk dan menjemput mimpi. Fania cukup memahami situasi yang dialami oleh Syika. Sebab itu ia pun tak banyak berkomentar dan membiarkan Syika menjemput lenanya.
***
Mata sembab menyambut di wajah Syika. Fania sampai tertawa terpingkal melihat kelopak mata indah itu mencembung.
“Ya Allah, Syi. Muka kamu bonyok semua! Kayak disengat lebah aja. Bengkak!” ujarnya sambil tertawa.
“Masa sih?” Syika berlari ke arah cermin. Mengamati wajahnya yang membengkak. Persis seperti yang diucapkan Fania. Tangannya mengusap wajah itu. dan teringat lagi gambaran kesuksesan Tristan menciptakan wajah itu.
“Sudah, kamu jangan ingat lagi si berengsek itu. yuk sarapan. Setelah itu kita akan buat rencana masa depan kamu dan bayi kamu.”
“Masa depan? Emangnya aku masih punya masa depan ya, Nia? Hidup ku udah hancur. Apa lagi yang tersisa?”
“Harga diri dan masa depan di dalam perut kamu itu.” ucap Fania cepat.
“Kehidupan kamu mungkin sudah dihancurkan oleh Tristan. Tetapi kehidupan yang lain sedang menunggumu, Syi. Jadi kamu harus bangkit, bangun. Demi kehidupan yang sedang menantimu.”
“Memangnya kehidupan seperti apa Syi? Aku bahkan malu menatap anakku jika lahir nanti. Aku haru bicara apa nanti kalau dia bertanya di mana ayahnya?”
“Katakan saja, ayahnya masih hidup tapi dia tidak boleh bertemu. Atau, sekalian saja katakana kalau ayahnya sudah mati. Biar tidak ada lagi jalan kalian bersama. Kecuali kalau kamu masih mengharapkan Tristan, Syi.”
Di meja makan itu hanya ada perbincangan tentang Tristan dan masa depan Syika yang menunggunya. Wanita itu menatap hampa. Jauh dalam lamunannya pagi itu. Sejak ditinggal peri bekerja oleh Fania, hanya melamun yang dilakukan oleh Syika.
Paling tidak tempat ia berada saat ini, sangat jauh dari gunjingan tetangga. Dia tidak perlu lagi menyakiti dirinya dengan kalimat-kalimat hinaan yang dilontarkan kepadanya. Suasana rumah Fania cukup aman untuk dirinya memikirkan masa depan dan menata kembali kehidupannya.
“Fania benar, aku harus bangkit. Aku tidak bisa begini terus.”
Di saat lamunan itu sedang membalut pikiran Syika. Deringan ponselnya memaksa wanita itu untuk berhenti dan segera kembali ke dunia nyata. Di liriknya benda yang bergetar di atas nakas. Kemudian beranjak dan menjawab panggilan masuk.
“Ya, Nia?” ucapnya tak bersemangat. Tadinya Syika berpikir jika panggilan itu datang dari Tristan. Dan rupanya dia masih menunggu keajaiban datang. Nyatanya tidak. Dan Syika memang harus kembali ke dunia nyata tanpa berharap apapun lagi dari pria itu.
“Syi, ada tawaran kerja. Tapi di luar negeri. Bosku buka cabang Butik di sana. dia butuh karyawan yang bisa dipercaya dan paham masalah desain. Kamu kan jurusan desainer. Nah bagaimana kalau kamu ambil?”
“Di luar negeri di mana, Nia?”
“Oh aku lupa. Di Korsel, Soul. Tapi satu bulan lagi buka cabang di Paris. Kamu bisa ajukan pindah kalau kamu mau.”
“Euumm … tapi … ntar aku tinggalnya bagaimana?”
“Nggak masalah. Pakai duitku aja. Kebetulan tabunganku masih lumayan. Cuma, aku nggak bisa temani kamu di sana. sementara aku cemas dengan kehamilan kamu itu.”
“Eumm … nggak apa-apa, Nia. Aku ambil aja. Mengenai kehamilanku, insyaallah aku bisa atur kok.”
“Beneran?”
“Heem! Percaya deh.”
“Okay, kalau begitu aku hubungi bosku dulu ya?”
“Thanks ya Nia.”
Syika tersenyum. Ia kembali ke balkon dan melepas pandangannya ke suasana cerah pagi itu. menatap dengan puas suasana kota metropolitan yang sudah memberinya banyak kenangan.
“Akhirnya aku akan meninggalkan kota ini. dan aku akan memulai duniaku yang baru di tempat yang asing. Bersama jejak masa laluku ini.” gumam Syika.
Suasana Soul yang terang sudah berhasil menghipnotis Syika. Sejak lama ia memimpikan untuk bisa datang ke tempat yang sangat melegenda itu. bagaimana tidak, sekali membalikkan diri, Korsel langsung berhasil menyaingi Paris sebagai kota mode. Banyak perancang dunia berkiblat pada gaya fashion mereka.
Erick Lee, seorang CEO pemilik perusahaan Fashion terbesar di Soul menyambut kedatangan Syika.
“Selamat datang di Soul,” sambutnya dengan bahasa Indonesia yang masih mentah.
“Oh, kau bisa berbahasa Indonesia juga?” ucap Syika terkejut.
“Well, saya orang Indo juga. Tetapi saya mengurus bisnis saya di sini. Sesekali saya pulang melihat keluarga saya,” jelasnya.
Syika merasa sangat beruntung. Setidaknya dia tidak akan kesulitan dalam berkomunikasi di dunia kerja. Sejak saat itu, Syika membentangkan sayapnya sekali lagi. mengadu keberuntungan lagi di negeri yang asing itu.
Erick cukup ramah. Mereka sering berdiskusi tentang mode dan pasar mode. Erick pun sangat kagum dengan kecerdasan berpikir Syika. Semakin dalam menyelami wanita itu, ia semakin kagum akan sosok pribadi Syika. Bahkan termasuk urusan pribadi ketika ia mendapati ia sedang berbadan dua.
“Perutmu semakin besar. Kau harus banyak makan makanan bernutrisi,” kata Erick suatu ketika saat ia mengunjungi apartemen milik Syika.
“ Terima kasih, Erick. Kau sangat perhatian.”
“Really?” deliknya nakal.
Syika dan Erick menyantap makan malam yang dibawa oleh Erick. Setelah itu keduanya pun memutuskan untuk melanjutkan diskusi tentang pekerjaan.
“Bagaimana menurutmu gaya Fashion ini, Syika?” kata Erick memperlihatkan sebuah majalah Fashion kepadanya.
“Euummm … sepatu boot bertali dengan celana pensil dan kaos blouse … jika blousenya berwarna hitam, kemudian pencilnya berwarna krem bisa unik itu. lalu gunakan topi bundar besar. Aku rasa ini akan mendunia.”
“Kau yakin?” sidik Erick. Sebuah anggukan pasti menampil dari pihak Syika.
“Syika … ngomong-ngomong, saya ada niat ingin mengembangkan Fashion ini ke Indonesia. Kira-kira kamu ada usul?”
“Eumm … untuk Indonesia saat ini, mungkin lebih ke pakaian adat, Erick. Sebab untuk fashion sehari-hari saat ini pemasarannya kurang lancar. Kau harus membuat kerja sama dengan beberapa owner perusahaan fashion besar baru usaha ini akan lancar. Kau bisa mempetanyakannya pada Fania.”
Alis Erick mengangkat, dan bibirnya sedikit dilengkungkan. Ia sepertinya sepakat dengan usul yang diberikan oleh Syika.
“No bad,” tanggapnya.
Lima tahun berjalan. Dan selama itu, Syika mengabdikan hidupnya di Korsel dan terkadang ke Paris. Sejak bekerja sama dengan Erick, perkembangan karir Syika melejit. Ia menjadi partner CEO bagi perusahaan Erick. Sehingga lelaki itu kerap memberinya kepercayaan untuk merancang beberapa desain pakaian untuk pelanggan VIP Erick. Dan sialnya semua pelanggan sangat menyukai karya Syika.
Lima tahun, buah cintanya dengan Tristan pun sudah tumbuh menjadi sosok anak kecil yang menggemaskan. Perjalanan ke luar negeri, memang membuat Syika cukup kewalahan melakoni perannya sebagai seorang ibu. Untungnya Erick menjadi pengganti Fania untuk menjaganya. Dan sepertinya Erick memang menaruh simpati pada Syika. Teringat beberapa waktu lalu saat pria itu memperkenalkan Syika pada keluarganya. Namun jejak luka yang sudah ditinggalkan Tristan membuat wanita itu berpikir ulang untuk menerima niat Erick meminangnya.
“Maafkan Aku Erick. Aku belum bisa membuka hatiku untuk cinta yang lain. Aku ingin sendiri selamanya bersama anakku,” ucap Syika.
