Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

KONTRAK GILA

Sebuah senyum mengembang di bibir Syika ketika menemukan mobil Erick sudah memarkir di depan gedung apartemen Puri Indah. Fania dan Syika segera menyusupkan tubuh mereka ke dalam kendaraan.

“Aku mau langsung ke kantor saja,” ucap Fania beranjak masuk ke dalam mobilnya sendiri, sementara Syika mengangguk sampai akhirnya ia meletakkan tubuhnya dan mengenakan sitbeltnya dengan baik.

“Kita berangkat?” kata Erick menekan bantalan gasnya. Mereka pun akhirnya berpisah di depan pelataran apartemen. Sepanjang perjalanan Erick dan Syika berbagi cerita.

“Bagaimana perjalananmu? Nggak capek?” Erick memulai percakapan di dalam kendaraan itu.

“Hm. Lumayan. Kau membuatku dalam masalah besar, Erick.” Ucap Syika yang menopang kepalanya dengan tangan yang memangku di sisi lis pintu mobil.

“Aku tidak punya pilihan lain, Syika. Ini pekerjaan. Dan apa yang bisa kita lakukan kalau kontrak sudah ditanda tangani. Kau memintaku memilih Sarah? Rasanya aku akan menghancurkan reputasi perusahaan saja.”

“Tapi kau tahu persis siapa pemilik Pour Group. Dan aku … ya Tuhan, apa kau tahu, saat ini saja perasaanku sudah tidak karuan akan bertemu dia lagi. Entah apa yang akan aku lakukan nanti,” desahnya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sisi penumpang.

“Lalu … Emmile akan ikut? Oh tidak! Sebaiknya kita langsung saja ke kantornya. Kita tidak usah menjemput Emmile. Aku bertemu dia setelah pulang dari sana saja.” Syika melanjutkan ucapannya.

“Apa kamu yakin? Kamu tidak rindu padanya?”

“Rindu. Sangat rindu. Tetapi membawa dia pada ayahnya. Oh yang benar saja. Sama artinya aku membuka pintu surga pada lelaki itu. Sudahlah, turuti saja permintaanku saat ini Erick. Kau tahu semua ini membuatku muak.”

Erick cengengesan mendengar omelan Syika. Diakui Erick, ia berhasil membuat wanita itu merasa dongkol dengan keputusan sepihak yang dilakukan Erick. Tetapi dia juga tidak tahu kalau Erick juga tidak menyukai pekerjaan ini. Sebab ini adalah akalan pihak Tristan yang sengaja agar Syika kembali ke Indonesia. Malah melibatkan wanita itu dalam acara mereka. Menyebalkan.

“Sebaiknya kita dengarkan saja nanti apa keputusan mereka. Setidaknya setelah kita mendengar apa keinginan mereka, maka kita bisa memutuskan apakah kita akan lanjut atau tidak.”

Tampaknya permainan lain sudah dipersiapkan oleh Bimo. Dalam kendali jauh, lelaki itu sedang memberitahukan Hasan selaku manager operasional perusahaan tentang apa yang harus dilakukan dan dikatakan jika pihak Syika dan Erick datang.

“Baik, Pak Bimo. Saya paham.” Kata Pak Hasan yang selesai dari panggilan selulernya. Dan sangat benar. Baru saja ia selesai dari teleponannya, seorang sekretaris datang memasuki ruang kerja lelaki itu.

“Pak, ada tamu mencari anda.”

“Oh , persilahkan masuk,”titahnya.

Tak berselang wajah Syika dan Erick bermunculan dari balik pintu. Sesuai dugaan. Tamu yang ditunggu – tunggu kedatangannya akhirnya muncul juga.

Keduanya segera menempati kursi yang sudah tersedia. Kening Syika sedikit mengkerut. Ruangan itu tidak asing baginya. Semua pernak pernik yang memajang di meja kerja itu masih sama persis seperti lima tahun yang lalu. Hiasan di dinding itu pula masih tetap sama. Cat yang sama dan suasana ruangan yang tetap sama. Masih terasa pekat aroma percintaan panas antara dia dan Tristan saat itu.

Pak Hasan terkekeh melihat sikap Syika yang sedang berselancar kea lam kenangannya.

“Selamat datang lagi di perusahaan Pour Group, mba Syika. Whoa … mba Syika sekarang sudah jadi orang hebat. Bahkan sudah menyandang Nona, sekarang.” Puji pak Hasan manager operasional di perusahaan itu.

“Ah, pak Hasan bisa saja. Oh ya, CEOnya ke mana? kami harus membicarakan beberapa hal terkait kontrak kerja dengan perusahaan Lee.”

UHUK UHUK UHUK

Tiba-tiba saja, Erick terbatuk. Tapi bukan batuk sungguhan, melainkan sebuah isyarat yang diberikan kepada pak Hasan agar memberikan jawaban yang tidak sebenarnya. Melihat gelagat aneh Erick, otak cerdas pak Hasan langsung memahami. Ditambah dia pun sudah mendapat gambaran tentang apa yang harus dikatakan kepada Syika dan hal-hal apa saja yang harus ditetapkan meskipun Erick akan menentangnya nanti.

“Eumm, begini mba Syika. Eh, pak Bos … ah, mba Syika tahulah beliau itu seperti apa. Jadi untuk urusan ini dia menyerahkannya kepada saya.” Kata pak Hasan menggesek-gesek telapak tangannya seperti orang yang sedang kedinginan.

“Huh, mana ada bos seperti itu, Pak. Bagaimana pun kegemaran dia pada perempuan, pekerjaan harus yang diutamakan. Kalau begini terus kami tidak bisa melanjutkan kerja sama. Tidak professional sekali!” cerca Syika meledak-ledak. Pak Hasan sampai melotot heran dan takut melihat ekspresi Syika yang memanas mendengar kalau Tristan sedang bersama perempuan lain seperti hobinya dulu saat mereka masih bersama.

Syika memang dulu adalah sekretaris Tristan. Awal perkenalan mereka terbilang unik. Tristan yang masih menyandang sifat playboy cukup membuat Syika kewalahan mengatur jadwal pertemuannya dengan para gadis-gadis dank lien.

“Loh, loh, loh, mba Syika kok, malah ngamuk-ngamuk sama saya to? Ini sudah keputusan si Bos. Lah saya bisa apa mba Syika.” Ucap pak Hasan dengan nada merendah. Padahal di dalam hatinya lelaki itu sangat ketakutan sekali. Ia takut tak bisa memberikan alasan lain lagi untuk menutupi kebenaran kondisi Tristan dan rencana Bimo untuk mendapatkan Syika dan anaknya.

“Sudah, begini saja. Ini beberapa draf berisi ketentuan-ketentuan dalam kerja sama ini,” pak Hasan menyerahkan dua map berisi ketentuan kerja sama. Erick memilih tidak berkomentar dan fokus pada isi kontrak. Ia ingin melihat bagaimana pengawal Tristan yang cerdas itu bisa mendapatkan Syika dan anaknya.

“Mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan Bimo? Aku pastikan Syika dan Tristan tidak akan bertemu.” Batin Erick.

Senyum sinis menyungging di sudut bibir Erick. Saat retinanya tertuju pada poin nomor sebelas isi kontrak itu dimana di sana tertulis bahwa Syia menjadi coordinator …… dari acara universary perusahaan. Otak Erick langsung bekerja menyimpulkan bahwa inilah cara Bimo untuk mendekatkan Tristan dan Syika lagi.

“Pak Hasan, saya keberatan denan poin sebelas.” Celetuk Erick tiba-tiba. Mata Syika langsung memfokus pada poin yang disebutkan oleh Erick. Ia pun sependapat dengan lelaki itu.

“Di sini secara tidak langsung, Syika bertanggung jawab penuh atas seluruh rangkaian acara. Sementara posisi Syika di sini adalah perancang gaun untuk para pemenang penghargaan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Ini di luar kesepakatan,” jelas Erick.

“Ya kau benar, Rick. Pak Hasan, saya sependapat dengan manager saya. Ini di luar kesepakatan kerja.”

“Tapi itu sudah keputusan tuan, mba. Saya bisa apa. Lagi pula Tuan Erick pasti sudah mengetahui konskuensi dari kerja sama ini, bukankah demikian Tuan Muda Erick,” Pak Hasan menatap senyum palsu pada Erick. Lelaki itu memainkan matanya sebagai tanda peringatan pada Erick.

“Sial. Rupanya Bimo sudah mempersiapkan semua ini,” batin Erick.

“Maaf mba Syika. Jika kita merubah draf ini sekarang, maka seluruh draf acara akan berubah total. Artinya kita akan bekerja dari awal lagi. dan anda tahu konskuensinya seperti apa? Draf ini sudah dipersiapkan dua bulan sebelum hari H. dan sekarang kita punya waktu selama dua minggu mempersiapkan bagian ringannya saja. Yaitu persiapan gaun. Dan dekorasi lokasi juga penggunaan anggaran lainnya. Anda sebagai Koordinator 2 dalam acara ini.”

“Koordinator satunya siapa pak Hasan?” tanya Syika.

“Koordinator satunya adalah … Tuan Tristan. Dan model yang akan kita gunakan adalah Nona Arsela.” Jawab Paka Hasan pasti.

DEGH

Hati Syika langsung begetar hebat mendengar nama-nama yang mengerikan dari mulut pak Hasan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel