JANGAN LAGI
Erick tak kalah terkejutnya dari pada Syika. Nama yang akan ia hindari dan paling takutkan itu akan mengentayanginya setiap saat. Bahkan saat semua belum tentu seperti dalam pikirannya saat ini. Syika masih enggan menjemput tidur. Akan lebih baik baginya berdiri di balkon dekat kamar sambil menggigit kuku ibu jarinya. Dan membiarkan pikirannya berpelesir pada bayangan Tristan.
Wajah tampan itu, senyum menggoda itu, dan suara berat yang memanggil hasrat itu. akan segera ia temukan di acara universary perusahaan tempat ia bekerja dulu. Hal serupa terjadi pada Erick. Lelaki dengan lantai kamar yang berbeda dengan Syika pun masih berdiri menyesap minuman winenya. Sama seperti Syika, lelaki itu sedang membayangkan jalan panjang yang akan dilalui oleh Syika dan Tristan untuk bertemu lagi.
“Apa kamu belum tidur?” suara Erick yang menderu di balik ponsel milik Syika.
“Sama seperti kamu. Aku juga belum tidur. Apa kita memikirkan hal yang sama pula?” balas Syika.
“Heem, kau benar. Aku juga sedang membayangkan bagaimana pertemuan antara kau dan Tristan.”
“Apa kau tak kecewa? Secara kau … ah, kau tahu maksudku Rick.” Ucap Syika menggantung.
“Kalau aku mengatakan aku kecewa, apakah kau mau menikah denganku. Persetan dengan kontrak. Kita kembali ke Korea dan merajut rumah tangga di sana. perkara kontrak ini, aku tak perduli. Uangku lebih untuk konvensasi.”
“Wah, terdengar menggiurkan, Rick. Tetapi kenapa hatiku menolak,” batin Syika.
“Jangan gegabah. Ini menyangkut seluruh perusahaan Lee. Kasihan ayahmu. Dia sudah merintis usaha ini dari nol. Akan sangat menghancurkan batinnya jika melihat hasil jerih payahnya hancur seketika hanya karena kau mementingkan egomu,” jawaban klise Syika.
“Oh ya? Benarkah hanya karena kau kasihan pada ayahku? Apakah tidak ada alasan lain?”
“Apa-apaan kau ini. tentu saja aku berkata yang sebenarnya. Apa kau tak percaya lagi denganku?”
“Aku percaya. Dan semoga karena alasan itu kau menerima kontrak ini. bukan yang lain.”
“Yang lain? Yang lain apa maksudmu?”
“Tidak. Lupakan saja. Good night.”
“Good night, Rick.”
Rasanya lebih baik begitu. Menyudahi saja percakapan yang menyesakkan dada ini. Lebih baik memilih diam dan hanyut dalam batin masing-masing.
“Tristan … sudah lama. Akhirnya waktu mempertemukan kita lagi. Entah apa kau masih ingat dengan kenangan kita dulu? Ataukah kau sudah lupa. Tapi apapun itu, hatiku sudah terlanjur kecewa. Aku tersakiti, Tris. Tristan … my first love,” gumam Syika.
Syika melanjutkan langkahnya ke ranjang. Ada Emmile yang sudah tertidur lelap di sana. mala mini bocah lima tahun itu ingin sekali tidur bersama ibunya. Ia tiba-tiba saja memanja pada wanita yang sudah berjuang antara hidup dan mati melahirkan dia. Dan memberinya kehidupan dari ASI yang dimiliki. Dan kini sebingkai wajah tampan milik sang ayah memahat indah di wajah Emmile.
“Bahkan alam membawamu pada wajah putra kita Tris. Apakah memang aku tidak boleh meninggalkanmu? Tapi kenapa ketika aku ingin dekat denganmu, kau malah semakin terasa jauh. Ya Tuhan, tolong bantu aku menata hatiku. Jika memang pria itu mencintaiku, maka bisakah kami merajut asa kembali? Setidaknya demi wajah malaikat yang terlelap tenang ini,” Syika tak berhenti bergumam. Bahkan saat retinanya menemukan wajah Tristan pada diri Emmile.
Ada rasa rindu dan benci yang datang menyambangi pada waktu yang bersamaan. Membawa batin Syika beradu di dalam sana. membawa mata inda Syika enggan memejam. Ia tak bisa lepas dari bayang Tristan. Lelaki yang sudah meninggalkan jejak cinta begitu pekat di dasar hatinya. Hingga seindah apapun cinta yang datang menyapa, pintu hati itu enggan membuka.
“Tristan … kau berengsek! Kau membuatku tak bisa mencintai lelaki lain. Kau bahkan tak membiarkanku melupakan wajah malaikatmu itu. lantas kenapa sekarang kau tak muncul jua. Sudah lima tahun, Tris. Lima tahun aku terjebak dalam penantian yang tak berujung. Kau membiarkan aku sendiri di tepian jalan cinta ini. seorang dengan jejak yang kau tinggalkan. Kau jahat, Tristan. Aku benci sama kamu. Aku benci.”
Tiba-tiba saja suara isakan terdengar dari Syika. Wanita yang sudah menenggelamkan wajahnya pada bawah bantal itu menumpahkan air matanya. Sudah cukup lama memang Syika tak pernah menangis. Kali ini ketika waktu menuntunnya ke masa lalu, air bening itu kembali bermanja di pipi indah Syika.
***
“Mommy, selamat pagi!” suara comel Emmile memanja di telinga Syika. Meminta wanita itu untuk membuka kelopak matanya. Perlahan Syika membuka matanya. Merespon sapaan buah hatinya pagi itu. ia harus melakukannya, ia tidak ingin mengecewakan malaikat kecilnya itu.
“Selamat pagi sayangku.” Tangan Syika meraih tubuh kecil Emmile. Meminta bocah itu untuk bermanja di atas tubuhnya.
“Apakah tidur Mommy terlalu nyenyak? Sampai-sampai Mommy terlihat masih mengantuk.”
“Anak pintar. Benar sayang. Mimpi Mommy terlalu indah. Tapi tak berakhir, karena suaramu membuat mimpi itu terputus. Sekarang ceritakan pada Mommy, bagaimana sekolah barumu?”
“Tidak menyenangkan Mommy. Anak laki-laki di sini sangat nakal. Mereka suka mengganggu aku. kata Miss Reina, mereka menyukaiku tapi kenapa mereka mengejekku.”
“Hm. Dasar kau anak sensitive. Semua butuh proses, Emmile. Lama-lama kau akan terbiasa juga. Bersabarlah. Dan amati sekitarmu. Okay.” Syika mencubit manja hidung Emmile.
“Okay,Mommy. I see. Now get up and take me to school.” Anak kecil laki-laki itu bangkit berdiri kemudian menarik tangan Syika yang sengaja dilemaskan. Membuat Emmile harus memporsir tenaga menariknya.
Sushi sudah terlihat sibuk menyiapkan sarapan di sisi minibar milik Syika. Dan seperti biasa, suara bel pintu rumah menandakan Erick akan datang mengunjungi mereka sepagi itu. Emmile tampak antusias berlari untuk membukakan pintu.
“Selamat pagi jagoanku!” sapa Erick.
“Pagi uncle! Kau selalu datang meminta sarapan pada kami. Kapan kau akan membuat sarapanmu sendiri?” kalimat Emmile yang selalu diucapkan oleh Emmile ketika pria itu datang pagi-pagi. Kalimat itu memang terdengar tidak sopan. Tetapi bagi Erick dan yang lainnya yang sudah terbiasa dengan caara guyon Emmile, sama sekali tidak tersinggung dengan kalimat Emmile.
“Sweetheart, keep your word!” pekik Syika.
“Syika … ayolah, kau seperti tak mengenal putramu saja. Sudah biasa kali Emmile kepadaku seperti itu.” Erick berjalan sambil menggendong tubuh kecil Emmile.
“Kau selalu memanjakannya, Erick. Lihatlah dia sampai tidak bisa membedakan mana kalimat sopan atau tidak.”
“Sudahlah, jangan kau permasalahkan. Okay jagoan habiskan sarapanmu. Setelah itu kita berangkat sama-sama.” Ucap Erick mendudukkan tubuh kecil Emmile di kursi.
“Uncle, Mommy, kalian mau ke mana hari ini?”
“Kami mau ke kantor, perusahaan Pour Group. Di sanalah tempat uncle dan Mommy bekerja sekarang.”
“Apakah aku boleh ke sana?”
“Tentu,” seru Erick
“Tidak,” jawab Syika.
Erick dan Syika menjawabi Emmile serempak dengan jawaban yang berbeda. Emmile berhasil dibuat bingung oleh mereka.
