BERITA MENGEJUTKAN SYIKA
“Sushi, jika Nona menelpon dan mencari tuan kecil, katakana saja kalau kita sudah di Indonesia sekarang,” pesan Erick pada Sushi yang sedang menemani Emmile dan Puteri bermain di ruang tengah. Sementara Erick dan Fania mengambil tempat untuk berbincang empat mata.
Seperti dugaan Erick. Tak berselang ponsel Sushi berdering. Ada nama Syika di sana. gadis itu pun langsung mengangkatnya.
“Halo, Nona.”
“Sushi, kau di mana? bagaimana Emmile?”
“Tuan kecil baik-baik saja, Nona. sekarang kami ada di Indonesia.”
Degh
“Apa?! Di I … Indo … ne … sia? Sejak kapan kalian pergi? Siapa yang mengizinkan kalian pergi tanpaku?” cecar Syika penuh luapan emosi.
“Tuan Erick yang mengajak kami hari ini, Nona. Tuan juga sudah mengurus kepindahan Tuan kecil. Saya pun akan tinggal di sini dalam waktu yang lama kata Tuan.”
“Apa? Siapa yang mengizinkan dia mengatur semuanya sesuka hati?! Agh! Kalian membuatku dalam masalah besar saja.” Syika langsung memutuskan sambungan. Sushi menjadi takut. Tak ingin terlibat masalah besar. Gadis itu langsung berjalan menemui Ercik yang duduk di pojokan bangku dekat taman belakang.
“Tuan, Nona marah-marah,” kata Sushi. Baru saja kalimatnya usai, ponsel Erick bordering. Lelaki itu segera merogoh ponselnya yang tersimpan dalam saku jasnya. Ada nama Syika di layar ponsel itu. Erick menatap Sushi dan Fania bergantian.
“Sepertinya aku harus menjinakkannya,” ucap Erick pada kedua wanita itu.
“Kau kembalilah pada Tuan kecil. Aku akan mengurusnya,” kata Erick meminta Sushi untuk tenang dan menjalankan tugasnya sesuai aturan.
“Ya, Syika,” suara Erick yang terdengar tenang.
“Apa-apaan kau ini Erick?!” suara keras Syika membuat Erick harus sedikit menjauhkan speaker ponselnya dari telinga. Fania hanya mengkikik geli saja melihat Syika sudah seperti singa betina yang mengamuk pada pejantannya.
“Bisakah kau sedikit tenang, Syika? Kau memecahkan gendang telingaku? Bagaimana kalau aku tuli? Apa kata dunia padaku? Tampan tapi tuli.”
“Diam! Bisa kau jelaskan semua ini? kau? Di Indonesia? Sekarang? Dan membawa anakku?! Oh ya Tuhan, kau membuat tensi darahku melonjak naik, Erick.”
“Tidak, jika kau bisa bersikap tenang dan menarik napas sejenak. Lakukan!”
“Tidak. Jawab cepat!”
“Baik. Okay aku mengaku salah sudah membawa Emmile ke Indonesia. Karena kau tidak memberiku pilihan yang lain. Kau menolak kerja sama dengan Pour, menolak kerja sama dengan Raynald, hanya karena dua kubu itu adalah masa lalumu. Sedang projek kerja sama sudah ditanda tangani ayahku. Apa kau mau perusahaan Lee bangkrut? Bagiku bisnis is bisnis. Urusan pribadi sama sekali tidak ada hubungannya.”
“Klise,” desis Syika.
“Terserah. Yang jelas, aku dan Emmile sudah di Indonesia. Di rumah Fania. Jika kau sayang padanya. Pulanglah ke tanah airmu. Sampai kapan kau akan lari dari takdir, Syika?”
Terdengar sunyi dari seberang. Tampaknya kalimat akhir Erick berhasil membuat emosi Syika meredam. Apalagi saat ini keberadaan Emmile tak bisa membuat Syika untuk mencari alasan lagi menolak.
“Kau benar-benar ….” Desisnya lagi. seulas senyum mengembang di bibir Erick. Ia sudah berhasil menembus dinding ego Syika pada akhirnya.
“Itulah aku, Syika. Tapi entah kenapa sampai detik ini kau masih juga menolakku.”
“Dan entah kenapa sampai detik ini kau masih mengharapkanku, bodoh. Cari saja wanita lain, jangan aku. aku tidak bisa mencintai lagi.”
“Kau tidak bisa mencintai lagi karena kau masih mencintainya, Syika. Akui saja.”
“Tidak. Dan jangan lagi mendekte ku, Erick Lee.” Syika langsung menyudahi panggilan. Erick tersenyum getir. Jauh dalam lubuk hatinya lelaki itu paham jika sampai detik ini Tristan masih merajai hati Syika. Apalagi kini wajah pria itu berpindah pada buah hatinya. Lantas masih adakah celah baginya untuk menyusup masuk dan merasakan cinta dengan Syika?
“Erick. Aku harap kau jangan terlalu berharap pada Syika.” Suara Fania kembali menyadarkannya pula.
“Bagaimana aku bisa Fania. Dia ternyata masih menyukai Tristan. Tapi hatiku malah semakin menginginkannya.”
“Tapi takdir berkata lain, Erick. Kau lihat sendiri. Saat ini ayahmu secara tidak sadar menuntun mereka untuk bertemu.”
“Agh, jangan ingatkan aku pada si tua itu. Kenapa pula dia menjalin kerja sama dengan Pour. Dan yang lebih gila lagi, Sarah kenapa dia bisa gegabah menandatangani kesepakatan dengan Raynald. Andai aku tahu.”
“Saat ini Pour menjadi incaran semua perusahaan besar, Erick. Sudah jelas ayahmu tidak akan menolak tawaran kerja sama dengan perusahaan itu. Adalah ladang basah bagi perusahaan besar apabila bekerja sama dengan Pour.
“Itulah yang kusesali.”
“Sepertinya tangan Tuhan akan kembali menuntun mereka lagi Erick. Persiapkan batinmu.” Fania bangkit dan menempuk pundak Erick kemudian berlalu pergi. Erick tampak sedang berpikir. Memikirkan bagaimana caranya mendapatkan hati Syika sebelum ia bertemu dengan Tristan. Tapi sebuah janji yang sudah ia buat bersama seseorang kembali terngiang. Erick benar-benar terjebak dalam perasaannya sendiri.
“Halo, Fania. Apa yang harus aku lakukan?” suara Syika malam itu yang menghubungi Fania tanpa sepengetahuan Erick. Ercik sudah beranjak tidur. Sushsi dan Emmile pun sudah menjemput mimpi mereka. suami Fania dan Puteri, anaknya sudah terlelap. Hanya Fania yang masih berdiri di beranda belakang menjawab panggilan telepon Syika.
“Semua keputusan ada di tanganmu, Syika. Aku tidak bisa merubah takdir. Atau melawan takdir. Bukankah kontrak kerja sama ini tanpa sepengetahuan kalian. Dan firasatku berkata kalau mungkinkah takdir akan mempertemukan kalian lagi.”
“Aku tidak ingin terjebak lagi, Nia. Aku lelah. Aku tidak ingin berurusan dengan pria itu atau … oh ya, Nia, aku baru teringat sesuatu.”
“Apa?”
“Kenapa Arsela menikah dengan Raynald? Bukannya Tristan? Dan yang aku dengar Tristan tidak pernah muncul. Apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
“Euumm … entahlah. Aku juga bingung Syika. Aku memang melihat baner undangan pernikahannya di koran dan majalah. Ingin aku bertanya, tapi untuk saat ini akses komunikasi pada keduanya sangat tertutup. Pihak keluarga Raynald tak membiarkan berita keluarga mereka tersebar ke luar. Mereka memboikot semua bentuk komunikasi.”
“Apa? Separah itu?”
“Hm. Apa yang bisa aku lakukan dengan suamiku yang hanyalah seorang CEO perusahaan kecil. Dia hanya mendegar dari rekan kerjanya itupun kalau mereka membahasnya. Ingin bertanya pun rasanya mustahil.”
“Lalu aku harus apa?”
“Hadapi. Aku yakin kau pasti bisa. Lagi pula kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak menyelaminya. Aku akan tetap di belakangmu. Dan akan selalu mendukungmu, Syika.”
“Terma kasih Syika. Aku tenang. Besok aku akan pulang. Eumm … bisakah kau mencarikan aku apartemen? Rasanya tak elok menumpang tinggal di rumahmu. Aku harus menghormati suamimu.”
“Baiklah. Senyamanmu saja, Syika. Aku menunggumu sahabatku. Cepatlah pulang.”
“Kau bicara dengan siapa?” suara Erick menderu dari belakang. Entah sejak kapan pria itu berada di sana dan sudah berapa banyak yang ia dengar dari percakapannya dengan Syika.
“Oh, Erick. Aku … eumm ….”
