Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BERTEMU KAWAN LAMA

“Tuan, Nona Syika sudah kembali ke Indonesia. Sepertinya ini demi kerja sama dengan Pour.” Kata pria itu memberikan laporannya.

“Akhirnya … baiklah. Terima kasih atas informasimu. Apakah pria itu juga ikut bersamanya?”

“Benar, Tuan. Dia malah akan menemui anda pagi ini.”

“Baik. Pergilah.”

Lelaki yang memberikan laporan pada Bimo segera pergi. Bimo kembali ke kamar tuannya. Saat ini Bimo membawa Tristan ke salah satu Villa pribadi milik Tristan. Villa dimana ia pernah membawa Syika bermalam di sana. Dan hanya Syika yang mengetahui tempat itu. Orang tua Tristan bahkan tidak tahu tempat itu.

Bimo kesal dan gerah dengan sikap orang tua Tuannya yang lepas tangan saat laki-laki itu terkapar tak berdaya. Menghancurkan cintanya dan meninggalkan dia saat ia membutuhkan perhatian, sungguh kemalangan bagi Tristan memiliki orang tua seperti itu. Ia pun berinisiatif membawa tubuh Tristan ke sebuah Villa miliknya tanpa sepengetahuan Henky dan Rima Darmawan.

“Dokter Angga. Apakah anda bisa datang kemari?” Bimo memanggil seorang dokter yang biasa memantau perkembangan kesehatan sang tuan. Dokter Angga adalah satu-satunya dokter yang diizinkan oleh Bimo untuk menginjakkan kaki di Villa itu.

Terpaksa. Andai sang tuan tak seperti ini, mungkin dokter Angga pun termasuk dalam blacklist untuk menapaki lantai Villa. Tapi demi kesehatan dan keamanan sang tuan, Bimo membiarkan pria bersneli itu melenggang nyaman keluar masuk Villa Tristan.

“Bagaimana perkembangannya?” tanya Bimo begitu lelaki itu selesai memeriksa Tristan.

“Baik. Semua organ vitalnya bagus. Kita tinggal menunggu saraf bawah sadarnya bereaksi. Bimo, tidak bisakah kau menemukan Syika?” dokter Angga sebenarnya bukanlah orang asing. Dia pun termasuk salah satu sahabat Tristan. Tetapi dulu saat lelaki itu masih sehat wal afiat, Tristan jarang berkomunikasi dengannya. Ia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan asmaranya dengan Syika. Sejak kecelakaan itu, satu persatu Angga mengetahui apa yang sudah menimpa sahabatnya tersebut.

“Dia akan segera bertemu, Dokter. Nona Syika akan segera ke Indonesia. Apa hubungannya dengan kesehatan Tuan saya?”

“Aku tidak yakin. Tetapi tak ada salahnya kita mencoba. Barang kali jika Syika ada di sini itu akan memberinya reaksi bagus untuk sarafnya. Atau salah satu dari masa lalunya yang sangat berpengaruh pada dirinya. respon dari orang yang paling dekat dengan pasien akan memberi reaksi positif. Dan setahuku, hanya Syika yang memiliki potensial besar untuk membangunkan si bodoh ini,” ucap Angga dengan bahasa akrabnya dulu.

“Baik, Tuan. Akan saya usahakan. Tapi tampaknya ini akan sulit, Dokter. Dokter tahu sendiri bagaimana perjalanan mereka.” Angga mengangguk paham. Kekhawatiran Bimo sangatlah beralasan. Ia pun tak memungkiri, sebab Tristan seperti ini pun karena kecelakaan yang dialami saat mengejar Syika malam itu. Saat gadis itu memutuskan untuk pergi selamanya.

Andai Syika tahu. Saat Rima mendatanginya malam itu dan saat Arsela mengancamnya, sungguh Tristan tidak tahu menahu prihal kedatangan mereka. semua sampai ke telinganya saat malam kematian orang tua Syika. Malam itu, Tristan berniat menemui Syika. Tapi tampaknya terlambat. Ibunya sudah berhasil mengusir wanita itu.

“Syika! Syika!” suara Tristan mengetuk pintu rumah susun Syika.

“Anda mencari pemilik rumah itu ya Tuan?” suara seorang tetangga yang terganggu ole ketukan dan suara Tristan.

“Ya benar, bu. Kemana pemiliknya?”

“Sudah pergi bersama kawannya sepuluh menit yang lalu.”

“Sial” Tristan menunju daun pintu rumah Syika. Ia kesal karena tak bisa mencegah Syika.

Malam itu, Tristan gagal memberikan penjelasan pada Syika ke mana ia menghilang Selama ini. apa yang terjadi padanya selama ini. ibunya dan tunangannya berhasil menutup jalan komunikasi antara ia dan Syika waktu itu. dan kini semua berbuntut pada kesalah pahaman yang tak berujung. Terlambat, ingin menjelaskan Tristan sudah terjebak dalam koma yang panjang selama lima tahun. Dan hana Tuhan dan dialah yang tahu apa yang terjadi padanya malam itu. Bimo, mekipun ia tahu, ia tak memiliki kekuatan untuk meyakinkan Syika. Statusnya yang hanyalah pelayan, pesuruh, tak berarti apa-apa. Lihat bagaimana saat ia berusaha menjelaskannya pada Fania waktu itu.

“Nona Fania, tolong izinkan saya bertemu Nona Syika. Saya harus menjelaskan semuanya,” melas Bimo tatkala itu.

“Mau jelaskan apalagi pak Bimo. Sudah jelas tuanmu itu pengecut. Kemana dia saat Arsela datang mengancam Syika. Kemana dia saat kedua orang tua Syika meregang nyawa gara-gara tahu Syika hamil. Dan sekarang saat nyonya Rima yang terhormat itu datang menghina Syika dengan uangnya yang bertumpuk-tumpuk. Ke mana?! ke mana pak Bimo?!”

“Tuan saya dikirim ke L.A. dia disibukkan dengan pekerjaan di sana. terakhir kami baru tahu kalau itu semua akal-akalan keluarga Tuan saya. Agar mereka bisa memisahkan tuan saya dengan Nona Syika. Tapi begitu tuan saya tahu dia langsung meninggalkan meeting tingkat tinggi dan terbang kembali ke Indonesia. Beliau juga bertengkar dengan ibunya dan Arsela. Dan sekarang, tuan saya bertarung melawan maut di rumah sakit sana. semalam dia kecelakaan lantaran berusaha mengejar Nona kemari.”

Fania tercengang mendengar rentetan penjelasan yang dikatakan oleh Bimo. Ia percaya apa yang dikatakan oleh pengawal setia itu adalah benar. Tetapi buat apa? Toh Syika muncul atau tidak, tetap tidak akan merubah pandangan keluarga Darmawan. Malah yang ada mereka akan lebih memperketat penjagaan terhadap Tristan. Bagi kelurga Darmawan, Syika adalah parasit yang harus dibasmi. Terlepas ia masih berguna atau tidak.

“Buat apa, pak Bimo. Syika muncul sekarang pun tak akan merubah apapun. Malah saya yakin seyakin-yakinnya, bu Darmawan dan pak Darmawan, akan semakin memperketat penjagaan terhadap Tristan. Apapun akan mereka lakukan asal tuan Bapak itu tidak bertemu dengan Syika. Dan sekali lagi Syika akan terluka. Sudahlah, Pak Bimo. Sampaikan salam saja pada tuan Bapak kalau dia siuman. Katakan, Syika sudah bahagia. lupakan dia.”

Sejak pertemua terakhr itu, Bimo melakukan caranya sendiri untuk memantau perkembangan Syika. Fania sudah menutup segala bentuk komunikasi dengannya. Bimo benar-benar kewakahan dibuatnya. Belum lagi ia harus memantau bisnis tuannya. Jalan satu-satunya adalah menjaga dengan cara yang lain yakni sepupu Tristan.

***

Pagi itu Bimo sangat senang melihat tamu yang ditunggu-tunggu selama ini. Lelaki yang selama ini sudah bersusah payah membantunya. Lelaki yang selalu memberinya informasi terbaru tentang Syika dan putranya.

“Selamat datang Tuan Muda,” sambut Bimo dengan senyum hangatnya. Lelaki itu terus berjalan memasuki kamar Tristan. Matanya masih menemukan sosok yang sama dan keadaan yang sama. Jenuh, lelah, sesak, dan sedih perasaan Erick saat melihat sepupunya terkapar tak berdaya.

“Kapan dia akan siuman, Bimo? Apakah dia tahu kalau anaknya sangat tampan seperti dia?”

Senyum getir menyumbang dari bibir Bimo. Ercik? Di rumah Tristan? Hei, ada apa ini? apa hubungan mereka sebenarnya? Kenapa Erick ada di rumah Tristan? Dan dia mengenal Tristan?

To be continue ….

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel