4. Cemburu Murahan
Hari keempat Alina kerja di Mahendra Group dimulai dengan sesuatu yang nggak biasa, yaitu Arka nggak bentak dia dari pintu begitu masuk kantor, malah cuma ngasih anggukan kecil dan bilang selamat pagi yang dingin banget, tapi entah kenapa itu sudah cukup bikin Alina kaget setengah mati karena biasanya yang dia dapat cuma tatapan datar kayak melihat kulkas.
"Mood kamu bagus hari ini Pak?" tanya Alina waktu menaruh map di meja Arka, setengah becanda dan setengah mencoba peruntungan.
Alis Arka terangkat tanpa mengalihkan tatapannya dari laptop, "Jangan salah sangka, saya cuma nggak mau mendengar omelan kamu dari jam 7 pagi," jawabnya datar, tapi sudut bibirnya naik sedikit yang Alina sumpah nggak bakal ngaku kalau dia lihat.
Oke, hari ini kayaknya bakal lebih tenang, pikir Alina, tapi hidup emang nggak pernah kasih dia tenang lebih dari tiga jam.
Jam 10 pagi klien baru datang namanya Ryan, masih muda dan ganteng memakai setelan jas mahal. Wangi parfumnya sangat semerbak mengisi udara satu ruangan, dan senyumnya itu lho, senyum playboy yang sudah bikin banyak cewek klepek-klepek termasuk beberapa staf cewek di kantor yang langsung bisik-bisik begitu dia masuk.
"Pak Arka, saya bawa tim kreatif sekalian kenalan sama asisten kamu," kata Ryan sambil melirik Alina dari atas sampai bawah kayak lagi menilai sebuah lukisan, "cantik juga asisten CEO Mahendra Group ya."
Alina langsung canggung dan senyum kaku, "E,,eh terima kasih Pak," katanya sambil mundur selangkah karena nggak suka ditatap kayak gitu.
Arka yang dari tadi diam langsung mengangkat kepala. Tatapannya ke Ryan cepet banget, dingin, dan nggak enak, tapi dia nggak ngomong apa-apa, cuma balik fokus ke dokumen kayak nggak terjadi apa-apa.
Meeting berjalan sejam dan selama itu Ryan nggak berhenti ngelirik Alina, nanya dia sudah kerja lama atau belum, suka kopi apa, bahkan menawarkan buat dikenalkan pada desainer handal kalau Alina butuh relasi, dan Alina cuma bisa ketawa kering sambil jawab seperlunya karena Arka ada di situ dan auranya makin lama makin berat.
Begitu Ryan pamit, Alina lega banget, tapi lega itu nggak lama karena Arka langsung menutup laptopnya keras dan bilang, "Kamu ikut saya makan siang."
"Hah? Tapi Pak, saya belum menyelesaikan revisi..." Alina mau protes.
"Revisi bisa nanti, sekarang ikut saya," potong Arka tanpa nawar, suaranya lebih rendah dari biasanya, dan Alina tahu kalau dia menolak sekarang dia bakal kena semprot.
Mereka makan di restoran Jepang dekat kantor yang biasanya dipake Arka buat klien penting, dan sepanjang makan Arka diam saja, cuma nusuk sushi nya pelan-pelan kayak lagi nusuk orang, dan Alina makin nggak enak karena nggak tahu dirinya salah apa.
"Pak, saya bikin salah ya?" Alina akhirnya nanya karena nggak tahan sama keheningan.
Arka nengok, "Salah apa?"
"Itu, tadi Pak Ryan ,,," Alina nggak tahu mau ngomong bagaimana, "saya nggak kenal dia kok Pak, cuma klien."
Arka diam lagi, terus dia menyeruput tehnya pelan, "Saya nggak nanya kamu kenal dia atau enggak," katanya pelan tapi ada tekanan di tiap kata, "saya cuma nggak suka kamu ngobrol sama orang yang nggak jelas."
Alina bengong, "Hah? Nggak jelas? Dia klien Pak."
"Dia melihat kamu kayak kamu barang dagangan," Arka jawab singkat, "dan saya nggak suka."
Duar. Alina langsung diam, pipinya panas, karena itu kedengeran kayak ,,, cemburu? Nggak mungkin kan? CEO dingin kayak Arka cemburu sama asistennya? Pasti dirinya salah denger.
"Oh," cuma itu yang keluar dari mulut Alina, karena otaknya ngeblank.
Alina dan Arka kembali ke kantor dengan suasana yang makin aneh, dan sore itu Arka tiba-tiba minta Alina ikut dinner klien malam ini, padahal biasanya dia nggak pernah bawa asisten ke acara formal kalau nggak penting banget.
"Pak, saya nggak punya baju yang pantas," Alina panik, "baju saya cuma itu-itu saja."
"Pake blazer hitam kemarin," kata Arka singkat, "cukup pantas buat jadi asisten saya."
Alina nggak bisa nolak, jadi jam 7 malam dia sudah ada di hotel mewah dengan blazer hitam yang sudah dicuci dan disetrika rapi, rambutnya diikat simpel, dan makeup tipis yang dia pinjam dari teman kost.
Restoran nya sangat ramai, lampunya temaram, musiknya pelan, dan semua orang pakai baju mahal. Alina ngerasa kayak bebek di antara angsa, tapi Arka jalan di sampingnya dengan tegak dan sekali-kali menahan pintu buat dia, dan itu bikin Alina ngerasa ,,, dilindungi.
Mereka duduk satu meja sama tiga orang investor, dan di tengah obrolan, tiba-tiba Ryan muncul lagi, duduk di meja sebelah, dan begitu melihat Alina matanya langsung berbinar.
"Alina, kamu juga di sini," Ryan langsung mendatangi Alina, "kebetulan banget, mau gabung meja kami nggak?"
Alina jadi canggung sekaligus bingung, "Eh, saya ,,,"
"Dia asisten saya," suara Arka memotong, rendah tapi jelas banget, "dan dia harus menemeni saya malam ini."
Ryan ketawa, "Iya saya tahu, tapi kan istirahat juga perlu Pak Arka. Masa asisten nggak boleh sosialisasi."
Arka meletakkan gelasnya pelan lalu menatap Ryan tajam, "Sosialisasi boleh, tapi nggak sama kamu," katanya tanpa senyum, "jadi tolong, jangan mengganggu."
Satu meja langsung hening. Investornya jadi canggung. Alina rasanya mau ngumpet di bawah meja karena malu, tapi di dalam hati ada sesuatu yang hangat, kayak ada yang melindunginya.
Ryan akhirnya mundur dengan senyum kecut, "Baiklah, maaf mengganggu," katanya sebelum balik ke mejanya.
Begitu suasana sudah normal lagi, Alina berbisik ke Arka, "Pak, tadi kamu kasar banget."
"Dia yang kurang ajar," jawab Arka pendek, terus dia mengambilkan Alina udang dan menaruh di piringnya, "makan, jangan diam saja."
Alina diam, tapi hatinya nggak diam, karena itu pertama kalinya Arka membela dirinya terang-terangan di depan orang, dan itu rasanya beda banget dari bentakan atau perintah.
Dinner selesai jam 9, dan di mobil pulang Alina masih diam seribu bahasa, memikirkan omongan Arka tadi. Sementara Arka nyetir seperti biasa, tenang, fokus, kayak nggak terjadi apa-apa.
"Pak," Alina akhirnya buka suara, "kamu beneran cemburu tadi?"
Arka ngerem dikit mobilnya, terus ngelirik sekilas, "Cemburu? Sama siapa? Sama kamu? Jangan konyol."
"Tapi tadi kamu ,,," Alina nggak selesai ngomong karena Arka langsung memotong.
"Saya cuma nggak suka ada orang yang nggak punya sopan santun ke karyawan saya," katanya cepat, "titik."
Alina manggut-manggut, "Oh, gitu," padahal di dalam hati dia ketawa kecil karena kedok CEO dingin itu tipis banget.
Mobil berhenti di depan kos Alina, dan pas dia mau turun, Arka tiba-tiba bilang, "Besok jangan pake lipstik merah lagi."
Alina langsung melihat Arka, "Hah? Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa," Arka buru-buru nengok ke depan lagi, "kelihatan norak."
Alina ketawa dalam hati, karena lipstik merah itu satu-satunya yang dia punya, dan jelas banget Arka nggak suka Ryan melihat dirinya.
"Siap Pak," katanya sebelum turun dan menutup pintu.
Di dalam kos, Alina duduk di kasur sambil senyum-senyum sendiri, dan dia baru sadar kalau seharian ini dia nggak sekali pun ngerasa kayak babu, malah ngerasa kayak seseorang yang penting.
Dan dari balik kaca mobil yang sudah jauh, Arka masih mikir kenapa dadanya terasa panas waktu melihat Ryan mendekati Alina, padahal dia sudah sumpah nggak bakal punya rasa ke siapa-siapa lagi.
Cemburu murahan katanya, tapi kenapa rasanya semahal ini?
