3. Maag Dan Kebohongan
Hari ketiga Alina jadi babu CEO rasanya tidak jauh beda dari hari pertama, capek, ngantuk, dan selalu siap dimarahi Arka kapan saja tanpa sebab yang jelas.
Jam 7.30 pagi, Alina sudah duduk manis di mejanya dengan dua mata panda karena semalam lembur sampai jam 12 dan cuma tidur empat jam, tapi Arka yang lewat depan mejanya cuma melirik sekilas tanpa basa-basi dan langsung masuk ke ruangannya kayak robot tanpa tombol off.
"Jadwal hari ini lebih padat dari kemarin, Miss Putri," suara Arka dari interkom bikin Alina langsung tegak, "siapkan dokumen untuk meeting jam 9, terus temenin saya ke lokasi proyek jam 11, dan malam ada dinner sama investor jam 7, jangan telat."
Alina mau protes karena itu artinya dia nggak bakal pulang sebelum jam 10 malam lagi, tapi mulutnya keburu nutup waktu melihat tatapan Arka yang datar banget kayak ngomongin cuaca bukan jadwal neraka.
Meeting jam 9 berjalan lancar sampai Alina nggak sengaja salah menyebut nama klien dari Pak Wijaya jadi Pak Wibowo dan seisi ruangan langsung hening, Arka menoleh pelan dan Alina sudah siap mental buat dipecat hari itu juga.
"Tiga kali kamu salah, kamu bersihin toilet kantor sebulan," kata Arka datar tapi entah kenapa nggak ada nada marah beneran di situ, lebih kayak peringatan dari kakak yang kesel tapi masih sayang.
Alina menghela napas lega dan langsung janji dalam hati buat nggak salah lagi walau otaknya sudah mau korslet.
Jam 11 mereka ke lokasi proyek di pinggir Jakarta yang debunya tebal banget dan panasnya minta ampun, Alina yang cuma pake blazer dan heels langsung menyesal karena keringatnya sudah mengalir kayak habis lari marathon.
Arka jalan di depan dengan langkah cepat dan tenang, nggak peduli sama debu, nggak peduli sama panas, dan nggak pernah sekali pun nengok buat mastiin Alina ketinggalan atau enggak.
"Pak, pelan-pelan dong," Alina teriak dari belakang sambil pegang heels nya biar nggak amblas ke tanah, "saya bukan robot Pak."
Arka berhenti, nengok, dan untuk sepersekian detik raut wajahnya berubah dari datar jadi kesel, "Kalau capek diem aja, nggak usah ngomel," katanya sebelum jalan lagi tapi langkahnya pelan sedikit, cukup pelan buat Alina bisa mengikuti tanpa jatuh.
Di lokasi itu mereka bertemu sama kontraktor yang cerewet dan suka ngelantur, Alina yang disuruh catat akhirnya pusing sendiri karena nggak ada titik komanya, sementara Arka cuma mendengarkan dengan tangan disilang dan sesekali memotong pembicaraan pake satu kalimat yang langsung bikin kontraktor itu diam.
Pulang dari lokasi jam 3 sore, Alina sudah kayak baju jemuran, kusut, keringetan, dan pengen rebahan, tapi Arka malah nyuruh dia langsung balik ke kantor karena ada dokumen yang harus dikirim hari itu juga.
"Pak, saya manusia," Alina akhirnya menyerah dan ngomel di dalam lift, "kalau saya pingsan siapa yang mau jadi babu kamu."
"Kamu nggak bakal pingsan," Arka jawab tanpa nengok, "kamu terlalu berisik buat pingsan."
Kasar, tapi Alina ketawa kecil karena entah kenapa omongan itu malah bikin dia semangat lagi.
Jam 7 malam mereka sudah ada di restoran hotel bintang lima buat dinner sama investor, Alina pake blazer hitam pinjaman kantor karena bajunya yang pagi tadi sudah nggak layak pake, dan dia duduk di kursi paling ujung kayak patung karena nggak tahu harus ngomong apa.
Arka di sisi lain charm banget, ngomong pinter, ketawa dikit, dan semua investor terpukau, tapi tiap ada yang menawarkan Alina minum atau ngajak ngobrol, Arka langsung motong pake alasan kerjaan dan menarik Alina balik ke topik bisnis.
Alina ngerasa aneh karena kok CEO ini posesif banget sama asistennya, tapi dia diam aja karena nggak mau dicap salah paham.
Dinner selesai jam 9, dan harusnya kerjaan sudah selesai, tapi Arka malah bilang ada satu laporan lagi yang harus kelar malam ini karena besok pagi mau dipake rapat direksi.
"Pak, kasihan sama saya dong," Alina sudah bener-bener lemes, "mata saya sudah nggak bisa fokus."
"Lima belas menit lagi selesai," Arka bohong, dan Alina tahu itu bohong karena biasanya kalau Arka bilang 15 menit artinya dua jam.
Benar aja, jam 11 malam mereka masih di kantor dengan tumpukan kertas yang nggak ada habisnya, AC yang dingin, dan perut Alina yang sudah keroncongan dari jam 8.
"Pak, kita makan dulu nggak?" tanya Alina pelan karena takut dimarahin.
"Nanti," jawab Arka singkat, matanya nggak lepas dari laptop.
Jam 12 lewat sepuluh, Alina nyender di kursi dan matanya sudah nggak kuat, kepalanya jatuh ke meja pelan-pelan dan dia nggak sadar sudah ketiduran sambil masih pegang pulpen.
"Alina," suara Arka bikin dia kaget dan langsung duduk tegak, "kamu ketiduran."
"Maaf Pak, saya ,,," Alina malu banget, pipinya merah, "saya nggak sengaja."
Arka menatap Alina lama, dari rambut yang berantakan sampai tinta di pipinya, terus dia mengeluarkan napas panjang kayak orang yang sudah menyerah.
"Sudah, kamu pulang saja," katanya, "sisa laporan saya selesaikan sendiri."
"Hah? Beneran Pak?" Alina nggak percaya, "tapi kontrak saya ,,,"
"Kontrak kamu nggak nyuruh kamu mati di kantor," potong Arka, "pulang sekarang sebelum saya berubah pikiran."
Alina buru-buru marapikan barangnya, tapi pas berdiri dia oleng karena pusing dan lapar, untung Arka cepat menangkap lengan Alina biar nggak jatuh.
Tubuh Arka dingin dan keras, tapi pegangannya kuat dan anehnya bikin Alina ngerasa aman, dan dia baru sadar mereka dekat banget sampai bisa merasakan napas Arka membelai lembut kulitnya.
"Lepas," kata Arka kaku tapi nggak langsung melepaskan tangannya, malah memastikan Alina sudah stabil dulu baru dilepas pelan.
"Maaf Pak, saya lemes," ucap Alina garing, "saya lapar."
Arka diam, terus dia buka laci mejanya dan mengeluarkan sebungkus roti sama air mineral, "Makan ini di mobil, saya antar kamu pulang."
Alina bengong, "Pak, nggak usah repot, saya naik taksi saja."
"Saya bilang saya antar, itu artinya saya antar kamu pulang," Arka sudah jalan duluan.
Di dalam mobil mewah yang sunyi itu Alina makan roti kayak orang kelaparan, sementara Arka menyetir dengan satu tangan dan tangan satunya lagi sesekali mengatur AC biar nggak kedinginan, dan suasana di antara mereka aneh banget, nggak canggung tapi juga nggak biasa.
"Pak, kenapa kamu baik banget malam ini?" Alina akhirnya nanya karena penasaran, "biasanya kamu galak."
Arka nggak langsung jawab, matanya fokus ke jalan, "Karena kamu keliatan mau mati kalau saya suruh kerja lagi," katanya datar, "dan saya nggak mau repot cari asisten baru."
Alasan klasik CEO dingin, tapi Alina tahu itu bohong karena kalau dia bener-bener cuma takut repot, dia nggak bakal repot-repot nganterin sampai depan kos jam 12 malam.
Mobil berhenti di depan kos Alina yang gelap dan sepi, dan pas Alina mau turun Arka tiba-tiba bilang, "Tunggu."
Alina nengok, "Apa Pak?"
"Besok kamu sarapan dulu sebelum ke kantor," kata Arka tapi tatapannya lurus ke depan, "jangan bikin saya repot lagi."
Alina ketawa, "Iya Pak CEO, siap laksanakan."
Alina segera turun dari mobil dan bergegas masuk, sementara Arka di dalam mobil memastikan Alina masuk ke dalam kos sebelum akhirnya pergi tanpa sepatah kata.
Sampai di dalam kos, Alina bersandar di daun pintu sambil pegang roti yang belum habis, jantungnya deg-degan nggak jelas, dan dia nggak mengerti kenapa Arka yang dingin itu tiba-tiba keliatan ,,, manusia.
Mungkin ini cuma kasihan, mungkin ini cuma tanggung jawab bos ke anak buah, tapi buat Alina malam itu rasanya beda, kayak ada sesuatu yang mulai retak di tembok es bernama Arka Mahendra.
Dan dia nggak tahu, retakan kecil itu bakal jadi banjir besar yang nggak bisa dia bendung.
