Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Pelukan Di Hujan

Hari kelima kerja sama Arka Mahendra harusnya biasa saja, tapi langit Jakarta dari jam 3 sore sudah memberi tanda kalau hari ini bakalan panjang dan basah karena awannya hitam semua dan anginnya sudah membawa bau hujan yang khas banget.

Alina dari pagi sudah merasakan aura aneh karena Arka jadi pendiam banget, nggak menyuruh ini itu seperti biasanya. Arka cuma duduk di ruangannya sambil memperhatikan hujan di luar jendela kayak lagi memikirkan sesuatu yang berat banget.

"Pak, kita masih lembur malam ini?" tanya Alina penuh kehati-hatian saat bertanya di jam 5 sore karena biasanya jam segitu Arka sudah menyuruh dia untuk siap-siap.

"Nggak," jawab Arka pendek tanpa nengok, "kamu pulang jam 6, saya ada urusan."

Alina kaget, "Serius Pak? Bebas jam 6? Matahari dari barat?"

Arka akhirnya nengok dan ngelirik tajam, "Banyak ngomong, kerjain revisi desain yang kemarin, jam 6 tepat kamu boleh hilang dari kantor saya."

Alina langsung semangat 45 dan kerja secepat kilat karena sudah kebayang rebahan di tempat kost sambil nonton drakor, tapi jam 5.50 mendadak hujan turun deras banget, kayak ditumpahkan satu ember gede dari langit ke bumi.

Pak Riko memberi pengumuman lewat grup kantor kalau jalanan depan kantor sudah mulai banjir dan taksi online susah masuk, jadi semua orang disarankan menunggu dulu sampai reda.

Alina ngintip dari jendela dan pasrah, "Ya Allah, kenapa nasib saya begini," gumamnya sambil pegang payung lipet yang sudah bolong di satu sisi.

Jam 6 lewat, Arka keluar dari ruangannya pake jas hitam dan payung mahal, terus berhenti di depan meja Alina, "Kamu belum pulang?"

"Hujan Pak," jawab Alina sambil nunjuk ke jendela, "banjir, taksi nggak ada."

Arka diam dua detik, terus menghela napas, "Tunggu di lobi, saya antar kamu pulang."

"Hah? Nggak usah Pak, repot," Alina langsung nolak karena nggak enak, "saya nunggu hujan reda saja."

"Saya bilang tunggu di lobi," Arka sudah jalan duluan, nadanya nggak bisa dibantah, "lima menit lagi."

Alina nggak bisa apa-apa selain nurut, jadi dia turun ke lobi dengan tas dipeluk erat dan payung bolong di tangan, sementara di luar hujan makin gila dan petirnya menyambar-nyambar bikin Alina jadi keder.

Arka datang lima menit kemudian, mobilnya berhenti tepat di depan pintu lobi. Tak lama Arka turun lalu membuka payungnya, terus jalan ke arah Alina tanpa basa-basi.

"Masuk," katanya singkat.

Alina dan Arka jalan bareng ke arah mobil, Alina basah kuyup setengah badan karena payungnya bolong, dan begitu masuk mobil dia langsung menggigil karena AC nya dingin banget.

Arka melihat Alina yang kedinginan lalu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Arka menghidupkan pemanas dan mengambil blazer cadangannya dari jok belakang buat Alina.

"Pakai," katanya singkat, "biar nggak sakit."

Alina mau nolak tapi badannya sudah dingin banget, jadi dia nurut aja, dan wangi parfum Arka yang nempel di blazer itu langsung bikin dia tenang.

"Terima kasih Pak," kata Alina pelan sambil memeluk blazer itu, "kamu ternyata nggak sedingin kelihatannya."

Arka nggak menjawab, cuma fokus nyetir karena jalanan macet parah dan air sudah setinggi mata kaki, dan sepanjang jalan suasana di dalam mobil tak ada suara, yang terdengar hanya suara hujan yang nabrak kaca.

Di tengah jalan, mobil Arka mendadak mogok. Mesinnya mati, dan mau di starter lagi nggak bisa, dan begitu Arka turun buat ngecek kap mesin, hujan makin deras kayak nggak kasih ampun.

"Pak, masuk lagi, basah semua nanti," teriak Alina dari dalam mobil, tapi Arka nggak mendengar karena suara hujan ketutup petir.

Dengan nekat Alina keluar bawa payung bolongnya, terus lari ke arah Arka dan menahan payung itu di atas kepala mereka berdua walau tahu payungnya nggak bakal ngebantu banyak.

"Gila kamu," Arka langsung narik dia ke bawah kap mobil, "kamu bisa sakit."

"Ya, kamu juga bisa sakit Pak," Alina ngos-ngosan, rambutnya sudah basah semua sampai nempel di pipi pucatnya, "kita kejebak nih, nggak ada bengkel buka jam segini."

Mereka berdua basah kuyup, berdiri dekat banget di bawah kap mobil, napas keduanya kelihatan karena dingin, dan jantung Alina deg-degan bukan karena takut tapi karena jarak mereka yang terlalu dekat.

Arka mengeluarkan ponselnya buat nelpon supir, tapi sinyalnya hilang, jadi dia maki pelan dan memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku, terus menatap Alina yang menggigil parah.

"Kamu kedinginan," katanya, dan sebelum Alina menjawab, Arka sudah menarik Alina ke dalam pelukannya erat banget, kayak mau ngasih semua kehangatan dari badannya.

Alina kaget, "P,,pak, nggak usah ,,,"

"Diam," bisik Arka di telinga Alina, "kamu kedinginan, jangan keras kepala."

Akhirnya Alina nurut, karena memang tubuhnya dingin banget, dan pelukan Arka itu sangat hangat dan kuat serta aman banget, berbeda dari semua pelukan yang pernah Alina rasakan.

Mereka diam beberapa menit di bawah hujan, saling merasakan deg-degan satu sama lain, dan buat pertama kalinya Arka nggak mikir dia CEO, nggak mikir dia harus jaga jarak, yang Arka rasakan saat itu cuma mikir bagaimana caranya cewek di pelukannya nggak kedinginan.

"Pak," Alina akhirnya buka suara pelan, "kamu sering nolongin asisten kamu kayak gini?"

Arka ketawa kecil di atas kepalanya, "Nggak, kamu satu-satunya yang bikin saya repot begini."

Alina mendelik walau Arka nggak liat, "Bagus, berarti saya spesial."

"Spesial bikin masalah," Arka cubit pelan pipinya, "tapi ya ,,, nggak bisa ditinggal juga."

Kalimat itu mendarat di hati Alina kayak bom, dan dia langsung diam seribu bahasa karena nggak tahu harus jawab apa, takut kalau ini cuma kelepasan.

Beberapa menit kemudian supir Arka datang bawa mobil lain, dan mereka akhirnya bisa pulang, tapi sepanjang jalan Alina masih diam, masih merasakan anget dari pelukan tadi yang belum hilang.

Begitu sampai depan kos, Alina turun dengan ragu, "Pak, blazernya saya cuci dulu ya."

"Nggak usah," jawab Arka, "bawa aja, kamu pakai dulu biar nggak sakit, balikin minggu depan saja."

Alina bengong, "Pak, tapi itu mahal ,,,"

"Sudah, masuk," Arka cepat motong kalimat Alina, "jangan bikin saya menunggu lama di hujan."

Alina nurut, turun dari mobil, terus lari kecil masuk kost sambil meluk blazer itu erat, dan dari jendela dia melihat Arka masih di mobil, melihat dirinya sampai pintu kos ketutup baru pergi.

Di dalam kos, Alina duduk di lantai sambil masih pakai blazer Arka, dan dia nggak berhenti senyum sendiri kayak orang gila, karena itu pertama kalinya dia merasakan dijagain sama orang yang selama ini dia kira nggak punya hati.

Sementara di mobil, Arka melepas dasinya kasar. Dadanya masih hangat, dan otaknya masih muter di kata-kata, "kamu nggak bisa ditinggal juga", yang dia ucapkan tadi tanpa berpikir dulu.

Arka nggak tahu sejak kapan, tapi sejak cewek nyebelin itu masuk hidupnya, tembok es yang dia bangun bertahun-tahun mulai bocor sedikit demi sedikit, dan hujan malam ini malah membuat bocornya semakin besar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel