Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Asisten Babu CEO

Senin jam 7.29 pagi.

Alina nyelonong masuk lobi Mahendra Group Tower kayak maling dikejar polisi. Napasnya ngos-ngosan. Rambutnya masih diikat asal.

"Selamat pagi, Nona Alina," sapa Pak Riko. "Selisih satu menit. Hebat."

"Jangan muji dulu Pak," Alina nyengir kecut. "Saya hampir ketabrak motor tadi."

Lift kaca naik ke lantai 47. Jantung Alina juga ikutan naik. Neraka pribadinya dimulai hari ini.

Pintu lift kebuka. Sepi dan dingin menyambut kehadiran Alina. Semua orang berjalan cepat kayak lagi lomba.

"Meja kamu di situ," Pak Riko menunjuk meja kecil tepat di depan pintu ruangan kaca. "Itu singgasana kamu selama 90 hari. Semoga kamu betah dan kuat."

Alina duduk. Meja nya bersih banget. Steril kayak meja operasi. Nggak ada foto, nggak ada bunga bahkan serasa nggak ada jiwa.

Jam 7.30 tepat. Pintu kaca kebuka.

Arka keluar memakai jas hitam dan dasi biru dongker. Wajahnya datar seribu derajat.

"Selamat pagi, Pak," ucap Alina gugup.

Arka berhenti, menatap Alina dari atas sampai bawah. "Kamu telat satu menit."

"Saya, kan di sini jam 7.29 Pak," Alina langsung membela diri. "Malah lebih cepat satu menit."

"Jam kerja mulai jam 7.30. Kamu duduk jam 7.29. Itu nganggur satu menit," kata Arka datar. "Potong gaji."

Alina mendelik kesal, "Iya Pak. Maaf Pak. Ampun Pak CEO."

Arka melempar map tebal ke meja Alina. "Jadwal hari ini. Hafalin semuanya."

Map itu mendarat keras sampai debu nya berterbangan.

Perlahan map Alina buka. Matanya langsung berkedip-kedip. "Meeting jam 8.30, teleconference jam 10, makan siang investor jam 12, tanda tangan kontrak jam 2, lembur sampai selesai? Pak, ini jadwal manusia atau robot?"

"Robot nggak butuh asisten," balas Arka tajam. "Kerja."

Alina menarik napas. "Ok, fine. Aku bisa dan harus bisa," bisik hati kecilnya.

Jam 8.30, meeting tim marketing. Alina duduk paling belakang. Niatnya mau mencatat baik-baik.

Tapi jam 9.15, perutnya berontak.

Kruuuuk.

Suaranya kenceng banget. Menggema satu ruangan.

Semua orang berhenti dan menoleh.

Muka Alina merah padam, langsung menunduk malu rasanya mau mati saja.

Arka menatap Alina lama. "Meeting dilanjut nanti," katanya. "Kita istirahat 5 menit."

Lima menit kemudian, Pak Riko datang bawa kantong kertas dikasih ke Alina. "Ini dari Pak Arka. Roti dan susu."

Alina terkejut. "Untuk saya?"

"Katanya biar perut kamu nggak bikin malu dia lagi," kata Pak Riko berbisik.

Alina melihat ke Arka yang sudah balik fokus ke laptop. Dih, CEO dingin tapi nggak tega juga ternyata.

Alina makan roti sambil menahan malu. Rasanya enak juga apalagi lagi lapar, tapi gengsinya hancur.

Jam 10, teleconference sama Hong Kong. Bahasa Inggris semua. Kepala Alina pusing sampai akhirnya mencatat sekenanya saja.

Jam 12 siang, waktunya makan siang.

"Pak, mau dipesanin makan?" tanya Alina.

"Tidak usah. Saya sedang sibuk," jawab Arka tanpa melihat Alina.

Jam 2 sore, masalah datang. Klien buat tanda tangan kontrak tiba-tiba minta revisi logo harus sekarang dan di tempat itu juga.

"Saya nggak bawa laptop, Pak," Alina panik.

"Harusnya bawa," Arka menatap tajam. "Kamu asisten saya bukan pajangan."

"Desainer nggak disuruh bawa laptop 24 jam Pak," Alina nggak mau kalah.

Ruangan jadi tegang sampai kliennya canggung.

Arka mendorong tablet nya ke Alina. "15 menit harus sudah selesai."

Alina mengambil tablet dengan jari gemetar, tapi dia langsung membuat logo dengan cepat dan fokus.

Arka berdiri di belakangnya. Memperhatikan Alina dan merasakan napas Alina yang nggak teratur karena panik.

Dan hasilnya diluar dugaan, sangat keren. Lebih hidup dari desain awal.

Kliennya langsung acc. "Ini bagus. Kita pakai yang ini."

Alina lega setengah mati, rasanya mau nangis saja saking leganya.

Tapi Arka cuma bilang, "Bagus. Kerja kamu selanjutnya jangan menunggu disuruh."

Ketus. Tapi Alina tahu itu pujian versi Arka.

Jam 6 sore kantor sudah kosong, tapi tumpukan dokumen di meja Arka masih setinggi gunung.

"Pak, kita pulang jam berapa?" tanya Alina. Suaranya sudah serak.

"Jam 12," jawab Arka singkat.

"Jam 12 malam?!" Alina terkejut. "Pak, saya manusia."

"Kalau capek, pulang," kata Arka. "Kontrak bisa dibatalin."

Ancaman. Lagi-lagi ancaman. Bicara dengan Arka selalu diakhiri dengan ancaman.

Alina menggerutu. "Nggak. Saya kuat, saya bisa sampai tengah malam."

Jam 8 malam. Alina sudah ngantuk. Jam 9 malam, kepalanya mau jatuh ke keyboard.

"Alina."

Yang dipanggil kaget sampai hilang ngantuknya. "Iya Pak!"

"Pulang," kata Arka tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.

"Nggak bisa Pak. Tanggung jawab," Alina memaksa diri duduk tegak. "Lagi pula, saya dibayar buat kerja lembur kan?"

Arka akhirnya nengok. Penampilan Alina sangat berantakan. Kuncir rambutnya sudah lepas bahkan ada noda tinta di pipi serta lingkaran hitam di mata.

Arka diam dua detik lalu kemudian teriak, "Riko. Pesan makan malam dua porsi."

Alina bengong. "Eh? Saya juga?"

"Diam dan makan," bentak Arka.

Tak lama Riko datang membawa makanan. Mereka makan di ruang meeting saling diem-dieman dengan penuh kecanggungan.

Alina makan sangat lahap terlihat lapar banget. Arka makan pelan. Sesekali melirik Alina yang nggak ada sopan-sopannya.

"Kamu nggak diajari makan sama orang tua kamu?" tanya Arka tiba-tiba.

Alina nyaris keselek. "Diajarin Pak. Tapi kalau lagi laper banget, tata krama nomor dua."

Arka nggak jawab. Tapi sudut bibirnya naik dikit nyaris nggak kelihatan.

Akhirnya di jam 11 malam pekerjaan sudah selesai.

"Akhirnya!" Alina bersorak kecil. "Bebas!"

"Jangan teriak," Arka pijit pelipis. Wajahnya pucat.

Alina baru nyadar. "Pak, kamu sakit?"

"Nggak," Arka berdiri tapi goyah, tangannya memegang tepi meja.

"Pak!" Alina langsung menahan lengan Arka yang terasa dingin dan gemetar.

"Maag," gumam Arka. "Sudah biasa."

"Biasa apaan? Bapak pucat kayak mayat!" Alina panik. "Kapan terakhir makan?"

"Siang," jawab Arka pendek.

"Gila kamu," Alina ngoceh. "CEO tapi nggak bisa urus diri sendiri. Duduk!"

Alina menarik Arka ke sofa dengan kasar, tapi khawatir.

Arka mau menepiskan tangan Alina. "Lepas."

"Nggak," tolak Alina lalu kemudian membuka tas mencari obat maag. "Buka mulut."

"Kamu nyuruh saya?" Arka nggak percaya.

"Iya. Pilih, minum obat atau saya teriak minta tolong," Alina nggak takut. "CEO pingsan di kantor, malu kan?"

Arka menatap Alina lama. Akhirnya kalah, Arka buka mulut.

Alina masukin obat sama air. Tangannya gemetar tapi tegas.

"Telan," perintahnya.

Arka menurut saja apa yang diminta Alina.

Beberapa menit kemudian, napas Arka lebih stabil. Wajahnya nggak sepucat tadi.

"Lebih enak, kan?" tanya Alina pelan.

"Ya," jawab Arka serak.

Alina ngedumel. "Tolong lah Pak, jaga diri. Saya nggak mau kerja sama hantu."

Arka buka mata, menatap Alina. Untuk pertama kalinya, tatapannya nggak dingin. Hanya terlihat capek dan itu manusiawi.

"Kamu kenapa menolong saya?" tanya Arka pelan.

Entah kenapa Alina jadi salah tingkah. "Karena ,,, karena nggak lucu aja kalau bos saya mati di hari kedua saya kerja. Nanti saya yang disalahkan."

Bohong. Dan Arka tahu itu bohong yang terlihat dari bola mata Alina.

Jam dinding menunjukkan pukul 12 lewat.

"Pak, pulang," kata Alina. "Saya mau pesan taksi."

"Biar saya antar," kata Arka langsung berdiri.

"Hah?" Alina kaget. "Nggak usah Pak. Biar saya pulang naik taksi saja."

"Kalau saya bilang akan mengantarkan pulang maka akan saya antarkan," kata Arka tegas. Nada bosnya balik lagi.

Di mobil, suasana canggung. Wangi parfum Arka bercampur sama bau obat maag.

Alina melirik ke Arka yang sedang merem, terlihat capek banget. Tanpa berpikir panjang, Alina melepas blazernya dan menyelimuti bahu Arka.

Arka buka mata sekilas, melihat blazer itu lalu menatap Alina.

Alina langsung salah tingkah. "K,,,kamu kedinginan. Jangan salah sangka."

Arka nggak jawab. Dia malah menarik blazer itu lebih rapet terus merem lagi.

Mobil berhenti di depan kos Alina. Kos yang kecil dan catnya sudah ngelupas.

"Terima kasih Pak," kata Alina buru-buru.

"Tunggu," Arka nahan. "Blazernya, dibalikin besok."

"Iya Pak, tidak apa-apa," Alina cepat-cepat turun dari dalam mobil.

Setelah sampai di dalam kos, Alina menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Napasnya terasa aneh dengan jantung yang berdegup tak karuan.

CEO dingin tadi, yang pingsan, yang mau mengantarkannya pulang di jam 12 malam dan yang pakai blazer dia.

Neraka katanya?

Kok rasanya ,,, mulai hangat ya?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel