Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Ancaman.

Ponsel Ferran berdering. Dilihatnya nama Najwa sebagai pemanggil. Ia menatap Elisha yang ternyata sedang menatapnya. “Aku terima telpon dulu.”

Elisha diam cukup lama. “Iya.”

Ferran berdiri di depan kamar kemudian menyambungkan panggilan. Tanpa ia sadari Elisha menatap sedih ke arahnya. Begitu panggilan selesai ia menemui Elisha sambil tersenyum.

“Dekorasi di ruang acara ada masalah. Aku harus ke sana untuk memeriksanya.”

Elisha hanya tersenyum. Ia tahu suaminya berbohong. “Baik.”

“Kamu istirahat, ya, aku akan segera kembali.”

“Iya.”

Dengan senyum hambar Elisha menatap punggung suaminya. Ia tak menyangka yang dikatakan Najwa benar.

Hari-hari yang ia lewati tetap sama seperti yang ia alami. Ferran lebih banyak menghabiskan waktu bersama Najwa daripada dengannya. Satu panggilan dan pesan saja dari Najwa bisa membuat Ferran meninggalkan Elisha meskipun mereka sedang bersama.

“Sayang, hari ini aku ada pertemuan di luar kota. Aku harus pergi ke sana. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?”

Saat ini Ferran dan Elisha sedang makan malam di rumah. Elisha tahu apa yang dikatakan suaminya tidak benar. Ia tersenyum dan menyetujui ucapan suaminya.

“Tidak apa-apa. Pergilah.”

“Malam ini aku harus pergi, biar urusannya cepat selesai dan aku cepat pulang.”

Elisha hanya mengangguk dalam kesakitan yang hanya ia sendiri yang tahu. Ia yakin keputusan untuk meninggalkan Ferran sudah benar.

Beberapa hari kemudian ponsel Elisha bergetar ketika ia menyilangkan tanggal di kalender. Nama Anna membuat senyum di wajah cantiknya kembali terlihat.

“Halo?”

“Aku sudah memesan tiketnya. Penerbangan ke dua pukul 09.00 pagi.”

“Baik. Terima kasih, Anna.”

“Hmm, kau tidak ingin berubah pikiran? Ferran sudah menyebarkan undangan.”

“Aku akan memberikan dia kesempatan besok malam. Kalau dia melanggarnya, aku akan benar-benar menghilang dari kehidupannya. Ingat, ketika aku pergi jangan pernah kau sebutkan di mana aku berada. Apa pun yang dia lakukan kau tidak boleh memberihu keberadaanku.”

“Kau tenang saja. Aku juga tidak ingin dia menyakitimu terus menerus seperti ini.”

“Terima kasih, Anna.”

“Apa Ferran sudah kembali?”

“Belum.”

“Kau yakin dia pergi untuk urusan bisnis?”

Elisha diam cukup lama. “Besok adalah penentuan akhir. Jika dia lebih memilih Najwa daripada aku, selamanya dia tidak akan pernah melihatku.”

“Itu sangat menyaktikan. Baiklah, aku masih ada pasien. Kabari aku kalau butuh sesuatu.”

“Iya.”

Elisha memutuskan panggilan. Pandangannya kosong ke arah dinding. Bunyi pesan masuk mengejutkannya. Dilihatnya pesan dari Najwa.

“Terima kasih sudah mengijinkanku berlibur dengan suamimu. Kamu memang istri yang pengertian. Sudahkan kau pikirkan apa yang kukatakan? Sebaiknya kau segera melepas Ferran sebelum kau semakin sakit.”

Elisha mengabaikan pesan itu kemudian beranjak. Ponselnya bergetar. Nama Ferran terpampang di layar itu.

“Halo?”

“Elisha, urusanku belum selesai. Kemungkinan besok malam aku akan pulang.”

“Tidak masalah.”

“Kamu ingin apa, katakan?”

Elisha menarik napas. “Karenaa besok malam kau akan pulang, aku ingin makan malam romantis denganmu di rumah.”

“Baik. Kamu ingin makan apa? Aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu.”

“Tidak perlu, aku akan memasak semua makanan kesukaanmu.”

“Oke. Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu. Kalau begitu aku lanjut kerja dulu. Sampai nanti.”

Elisha terdiam saat Ferran memutuskan panggilan. “Suamiku, besok adalah kesempatan terakhirmu.”

Ponsel Elisha kembali bergetar. Dilihatnya nama Najwa melakukan panggilan video call. Elisha penasaran.

“Aku pikir kau tidak akan mengangkatnya.”

“Ada apa?”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

Elisha melihat Najwa menjauhi kamera.

“Kau lihat gaun ini,” kata Najwa sambil menari-nari di depan kamera.

Elisha terkejut. Gaun yang dikenakan Najwa adalah gaun yang akan ia kenakan di pesta ulang tahun Ferran.

“Gaun ini addalah gaun desainer nomor satu di dunia. Suamimu memesan gaun ini agar aku mengenakannya di hari ulang tahunnya.”

Elisha tercengang. Andai gaun itu tidak terpasang di tubuh Najwa mungkin ia tidak akan percaya. Gaun itu sangat pas di tubuh wanita itu. Bahkan lebih terlihat pas ketika gaun itu dikenakan wanita itu daripada dirinya.

“Bagaimana, sekarang kamu sadar kan, siapa di antara kita yang paling dicintai Ferran?”

“Najwa, jika benar Ferran lebih memilihmu, kau tidak perlu terus-terusan membuktikannya padaku,”

Elisha bisa melihat wajah kesal Najwa. Ia memutuskan panggilan kemudian menangis.

Ponselnya kembali berbunyi. Dilihatnya nama Ferran sebagai pemanggil. Setelah menghapus air mata Elisha menyapa, “Halo?”

“Elisha, ada sesuatu yang ingin kukatakan.”

“Soal apa?”

“Gaunmu bermasalah. Kemungkinan lusa kamu tidak bisa mengenakannya. Kata desainer butuh satu minggu untuk memperbaikinya.”

Elisha terdiam.

“Tapi, aku punya gaun yang bagus untuk kamu pakai di acara nanti. Gaun yang kubelikan ini edisi terbatas dan termahal. Kamu pasti akan suka.”

Elisha menarik napas. “Tidak apa-apa. Hanya perkara baju. Tidak perlu dipermasalahkan,” air mata Elisha menetes, “Sepertinya memang tidak ada kesempatan lagi untukmu,” katanya dalam hati.

“Maafkan aku, Elisha.”

“Tidak apa-apa.”

“Oh, ya, soal hadiahmu … aku jadi penasaran apa isinya.”

“Kamu akan tahu nanti.”

“Kita akan membukanya bersama.”

“Tidak, kau sendiri yang harus membukanya.”

“Kenapa?”

“Hadiah itu untukmu. Aku menyiapkan hadiah itu khusus untukmu.”

“Aku jadi tidak sabar lagi.”

Elisha tersenyum.

“Aku sedang menyetir. Sampai ketemu besok.”

“Hmmm.”

Ke esokan hari Elisha menyiapkan makan malam untuk suaminya. Ini adalah makan malam terakhir bersama pria itu. Elisha sengaja mengadakan makan malam ini karena besok ia tidak akan menghadiri acara ulang tahun suaminya.

Saat ini Ferran sudah duduk di kursi bagian kanan. Ia tersenyum-snyum melihat menu yang disajikan Elisha adalah menu kesukaannya.

“Aku akan memakan semuanya.”

Elisha tersenyum. “Ayo makan, kita rayakan ulang tahunmu lebih awal,” Elisha diam dan berkata dalam hati, “Anggap saja ini perpisahan resmi.”

“Oke. Mulai tahun ini sampai tahun-tahun ke depan, kita akan merayakan ulang tahunku atau ulang tahunmu lebih awal. Kita akan merayakan makan malam seperti ini satu hari lebih awal. Bagaimana?”

Elisha menatap Ferran dalam diam. Ia tersenyum kemudian duduk. “Baik.”

Ferran tersenyum lebar. “Ayo, makan.”

Bunyi notifikasi di ponsel Elisha terdengar. Ia melirik isi pesan itu yang terpajang di layar. Pesan itu dari Najwa.

“Aku dengar kau sudah menyiapkan makan malam romantis malam ini bersama suamimu. Percaya atau tidak, aku bisa menggagalkan makan malam yang kau siapkan dengan satu panggilan telpon.”

Ferran penasaran melihat eskpresi Elisha. “Siapa?”

“Orang tidak penting. Sudahlah, ayo makan.”

“Ayo,” Ferran mengambil gelas anggur miliknya, “Bersulang.”

“Selamat ulang tahun.”

Baru saja gelas mereka menempel tiba-tiba ponsel Ferran berdering. Ia menatap Elisha kemudian menurunkan gelasnya. Ferran melihat ponsel di sampingnya. Melihat nama Najwa ia segera menolak panggilan itu kemudian membalikkannya agar tidak terlihat oleh Elisha.

“Orang tidak penting. Biasa, pekerjaan. Ayo, kita bersulang.”

Baru saja gelas mereka hendak menyentuh ponsel Ferran kembali berdering. Tangan sebelahnya menyentuh benda itu kemudian menolak panggilan.

Elisha yang tahu siapa yang menelpon segera meletakan gelas di sampingnya. Wajahnya sedih. “Angkat saja, mungkin saja itu panggilan penting.”

Elisha hanya ingin mencoba. Jika benar ia sangat berarti, Ferran akan mengabaikan panggilan itu.

Ferran tersenyum kemudian mengangkat panggilan itu. “Halo?”

“Ferran, aku di rumah sakit. Bisa kau temani aku.”

“Aku sedang bersama istriku.”

“Ferran, kata dokter aku hamil. Jika kau tak datang aku akan memberitahu kabar ini pada Elisha.”

Ekspresi Ferran berubah. “Baik, aku akan segera ke sana.”

Bersambung_____

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel