Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Memprovokasi.

Di ruang tamu yang besar Najwa sangat bahagia. Ia tersenyum lebar. Dilihatnya Ferran sibuk memasang kancing kemeja sambil membelakanginya. Dengan gerakan lembut ia mendekat kemudian memeluk pria itu dari belakang.

“Bisakah tidak usah pulang malam ini? Aku ingin kau menginap.”

“Tidak bisa, Elisha sedang menungguku.”

Najwa marah kemudian menjauh. “Apa yang istimewa darinya? Bukankah kau bilang dia seperti patung?” Najwa memeluknya kembali, “Bagaimana kalau kau ceraikan saja dia dan nikahi aku? Aku akan memberikan kesenangan padamu setiap malam. Aku akan memberikan kebahagiaan yang tidak bisa Elisha berikan padamu.”

Ferran marah. Ia berbalik dan meremas dagu Najwa.

Wanita itu berteriak. “Ferran, sakit.”

“Ingat perjanjian kita sejak awal, hubungan kita hanya saling memanfaatkan. Aku hanya butuh jasamu dan kau butuh uangku. Soal cinta kau tidak akan pernah menggantikan Elisha dalam hatiku. Hanya Elisha satu-satunya wanita pertama dan terakhir dalam hatiku,” Ferran merapatkan wajahnya ke wajah Najwa, “Aku harap kau tidak berpikir lebih soal hubungan kita. Kau pasti ingat konsekuensi yang kita bicarakan sejak awal jika kau melanggar aturan.”

Najwa tersenyum dalam ketakutan. “Baiklah, aku janji tidak akan membahas itu lagi.”

Ponsel Ferran bergetar. Dilihatnya nama Anna sebagai pemanggil Dengan cepat ia segera menyambungkan panggilan di depan Najwa. “Halo?”

“Ferran, Elisha pingsan.”

“Apa?” Ferran panik, “Kalian di mana? Aku akan segera ke sana,” tanpa memperdulikan Najwa Ferran pergi meninggalkan wanita itu.

“Feran, tunggu! Kau mau ke mana?” Najwa marah, “Ferran, Ferran, lihat saja nanti. Mungkin kamu tidak akan pernah meninggalkan Elisha, tapi aku bisa membuat Elisha meninggalkanmu.”

Di sisi lain.

Ferran terlihat gelisah menunggu Elisha sadar. Tangan lembut dalam genggamannya bergerak. Ferran terkejut dan lega melihat istrinya sudah sadar.

“Sayang,” ia menempelkan tangan di dahi Elisha, “Syukurlah demammu sudah hilang.”

Anna muncul. “Kamu baik-baik saja? Semalam kamu pingsan. Demammu tinggi. Ferran juga sejak semalam tidak tidur, dia di sini dan terus menjagamu sampai sekarang.”

Elisha menatap Ferran dalam diam. Ekspresinya datar. “Aku tidak ingin di sini, aku ingin pulang.”

“Baik,” kata Ferran cepat, “aku akan panggilkan dokter. Anna, tolong jaga dia sebentar.”

Setelah Ferran pergi Anna duduk di samping Elisha. “Dia sangat peduli padamu. Semalam begitu memberitahu keadaanmu, tak lama setelah itu dia muncul. Sepertinya dia lebih peduli padamu daripada Najwa.”

“Kau lupa? Semalam dia dari rumah Najwa, Anna. Apa kau ingin melihat aku disakiti oleh suami dan saudara tiriku?”

Anna menyesal. Ia sedih kemudian memeluk Elisha. “Maafkan aku, aku seharusnya tidak berkata begitu.”

“Hatiku lelah, Anna, hatiku lelah.”

Ferran muncul bersama dokter. Setelah memeriksa keadaan Elisha dokter mengijinkannya untuk pulang. Hanya memakan waktu setengah jam mobil sport milik Ferran tiba di rumah besarnya.

Elisha yang hendak turun terkejut melihat Najwa berdiri di depan tangga. Ferran juga terkejut kemudian segera membuka pintu dan membantu Elisha.

“Elisha, kau tidak apa-apa?” sapa Najwa begitu mereka berdiri di dekatnya, “kata Ferran kamu sakit. Apa kau baik-baik saja?”

Mata Ferran melotot. “Sejak kapan aku memberitahumu?”

“Bukankah semalam kau telpon aku dan bilang sedang menjaga Elisha di rumah sakit.”

Ferran semakin marah. Ia tak menyangka Najwa akan berani muncul dan memprovokasinya di depan Elisha.

Elisha melirik Ferran. Hatinya sedih. Begitu berartinya Najwa bagi suaminya, hingga segala aktivitasnya harus diketahui oleh Najwa.

“Sedang apa kau di sini, hah?” tanya Ferran dengan suara marah.

“Aku ingin bicara dengan Elisha. Sudah lama aku tidak berkomunikasi dengan saudaraku. Elisha, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Bisakah kita bicara sekarang ini?”

“Elisha sedang tidak sehat. Sebaiknya kau pulang sekarang.”

Najwa mengabaikan ucapan Ferran. “Elisha, Ferran pasti sangat mencintaimu. Aku juga ingin memberitahumu, sekarang aku punya pacar yang mencintaiku seperti itu. Dia memberiku rumah, mobil, uang, perhiasan, bahkan resort dan kapal. Bukankah itu semua sama seperti yang Ferran berikan padamu?”

Elisha hanya dia.

Ferran seperti cacing kepanasan. “Najwa, sebaiknya kau pulang sekarang. Elisha harus istirahat.”

“Kau tahu Elisha, pacarku itu sangat mencintaiku. Dia tidak bisa tidur jika tidak mencium bauku. Setiap malam walauapun hanya sebentar dia memelukku sampai aku tertidur. Dia bilang, dia akan susah tidur jika tidak memelukku.”

Elisha hanya diam. Ia menatap Najwa dan Ferran secara bergantian.

Najwa tersenyum lebar. “Menurutku kita punya banyak kesamaan soal pasangan. Jika tidak keberatan, aku ingin menceritkan padamu tentang kebahagiaan yang kurasakan saat ini selama bersamanya.”

“Cukup! Sudah kubilang, istriku butuh istirahat. Apa kau tuli? Se___”

“Seperti kata suamiku,” kata Elisha tak ingin suaminya marah, “aku ingin istirahat. Sebaiknya kau pulang saja. Maaf, aku tidak ingin bicara.”

Dengan cepat Ferran membawa Elisha masuk dan meninggalkan Najwa. Najwa sedih. Ia menangis karena Ferran memilih mengabaikannya di depan Elisha.

Ferran membawa masuk istrinya ke kamar, membaringkannya dengan penuh kasih sayang. “Aku ambil air panas dulu untukmu. Sudah waktunya minum obat.”

“Terima kasih.”

Begitu Ferran keluar kamar satu notifikasi masuk ke ponsel Elisha. Ia mengambil benda itu dan melihat isi pesan yang masuk.

“Elisha, kau jangan pura-pura tidak tahu hubunganku dengan Ferran. Kau tahu, ketika bersamaku dia sering memanggilku istri. Teman-temannya sering memanggilku nyonya Andara. Sebagai saudara walaupun tidak sedarah, aku tidak ingin menyakitimu. Jadi, lebih baik kau lepaskan posisimu sebagai nyonya Andara, agar supaya aku bisa mendapatkan posisi itu secepatnya. Mungkin ini terkesan jahat. Tapi, aku sedang mengandung anaknya Ferran. Aku tidak ingin menyakitimu. Jadi, pikirkanlah kata-kataku ini dengan baik.”

Di dapur Ferran merasa heran melihat cangkir milik Elisha sudah tidak ada. Ia kemudian pergi ke wastafel dan mendapati gelas dan sikat gigi, serta handuk tangan milik istrinya juga sudah tidak ada. Yang tersisa di sana hanyalah gelas, sikat gigi, handuk tangan serta sabun pencuci muka miliknya. Ferran semakin terkejut. Ia berbalik dan mendapati kalender yang ditandai oleh Elisha. Bingung apa yang dimaksud Elisha melingkari setiap tanggal di kalender Ferran kembali ke kamar sambil membawa benda itu.

Elisha terkejut melihat Ferran membawa kalender. “Ada apa?”

Ferran duduk di dekatnya. “Kenapa semua barangmu sudah tidak ada?”

“Aku ingin menggantinya.”

“Kamu tidak suka barang pemberianku?”

“Suka, tapi lama-lama pasti akan bosan. Aku ingin coba yang baru.”

Ferran diam sambil berpikir. “Elisha, kamu marah padaku? Apa aku berbuat salah padamu? Aku tahu, beberapa hari ini aku terlalu sibuk dan mengabaikanmu. Kumohon percayalah padaku, aku sibuk mempersiapkan ulang tahun nanti. Sama sepertimu, sudah tidak sabar lagi menunggu hari ulang tahunku.”

Pria itu menunjukan kalender yang ditandai oleh istrinya.

“Kau pasti sudah tidak sabar kan menunggu hari itu?”

Elisha tersenyum samar. “Ya, aku sudah tidak sabar menunggu hari itu.”

“Kamu tenang saja, di acara itu kamu akan menjadi wanita paling bahagia. Aku akan membuat semua wanita iri melihatmu. Kamu akan memakai gaun rancangan disainer nomor satu di dunia dan aku akan mengumumkan kepada mereka, bahwa kamulah cinta sejatiku. Kamulah satu-satunya wanita yang kumiliki. Aku beruntung memilikimu.”

Air mata Elisha menetes. Sambil tersenyum ia terus menatap Ferran. “Baik.”

Bunyi notifikasi masuk ke ponselnya. Elisha meraih benda itu dan membaca pesan yang masuk.

“Aku adalah wanita yang dicintai suamimu. Aku satu-satunya wanita yang bisa membuat suamimu bahagia. Dia sangat bahagia bersamaku. Percaya atau tidak, satu panggilanku bisa membuatnya meninggalkanmu.”

Bersambung____

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel