Bab 6. Istri Anda di Rumah Sakit.
Tangan Elisha yang tadi sibuk memotong stik di piringnya langsung terhenti.
“Elisha. Ada urusan kantor mendadak.”
“Bisakah kau pergi setelah makan?”
“Kita makan nanti saja, ya? Lagi pula aku belum lapar.”
Elisha terkejut. “Kau pasti tidak akan pulang malam ini. Sebaiknya selesaikan makan dulu baru pergi. Anggap saja ini permintaan pertama dan terakhirku.”
Ferran terdiam cukup lama. Ia hendak memegang sendok dan garpu ketika bunyi pesan masuk dari Najwa muncul di ponselnya.
“Aku beri waktu 30 menit. Jika kau tidak datang, aku akan memberitahu Elisha soal hubungan kita.”
Ferran menatap istrinya. “Elisha, aku harus pergi. Aku janji akan segera kembali dan kita akan makan bersama.”
“Baiklah. Jangan lupa, aku akan menunggumu selarut apa pun.”
Ferran mendekat, memeluk dan mencium Elisha. “Jangan terlalu larut. Kalau sudah mengantuk tidurlah lebih dulu.”
Tanpa menunggu balasan Ferran pergi meninggalkan istrinya. Elisha menangis. Ia tak menyangka laki-laki yang telah menyembuhkan luka dan trauma di hati beberapa tahun lalu kini melukainya secara langsung.
Elisha pun berdiri meninggalkan ruang makan. Dengan air mata yang terus mengalir ia meletakan semua pakaiannya di dalam koper. Ia mengosongkan lemari dari barangnya dan menyisakan barang milik Ferran.
Ponsel Elisha bergetar. Dilihatnya nama Anna terpampang. “Halo?”
“Besok hari keberangkatanmu. Bisakah aku yang mengantarmu ke bandara?”
Elisha terkekeh. “Tentu saja. Tanpa kau bilang pun aku akan memintamu.”
“Suaramu … kau sedang menangis?”
Tangis Elisha pecah. “Dia melewatkan kesempatan yang kuberikan, Anna. Aku sudah menyiapkan makan malam yang romantis, tapi dia malah pergi dan menemui Najwa.”
“Aku rasa keputusanmu sudah benar. Ferran harus merasakan seperti yang kau rasakan.”
Elisah menarik cairan hidung. “Aku tidak membencinya. Aku juga tidak akan marah padanya, biar bagaimana pun apa yang dia lakukan padaku saat ini telah membuatku menjadi kuat. Anggap saja Tuhan menggunakan raganya untuk mengajariku bagaimana menjadi wanita kuat dan sabar.”
“Jangan terlalu banyak berpikir. Ingat, sekarang kau tidak hanya memikirkan dirimu, kau harus memikirkan bayi dalam perutmu.”
Elisha melihat ke arah perut yang masih rata. “Andai tidak ada bayi ini, mungkin aku akan meninggalkan dunia selamanya.”
“Jangan bicara begitu. Sekarang sudah malam, istirahatlah. Besok aku akan menjemput dan mengantarmu ke bandara.”
Flash back off.
“Ayo, kita harus pergi sekarang. Aku tidak ingin Ferran melihatku.”
Anna menangis.
Elisah terkekeh. “Aku hanya menghilang, aku tidak akan mati. Tidak perlu ditangisi, Anna.”
“Berapa lama kau menghilang? Kapan kau akan kembali? Rasanya bukan hanya Ferran yang akan menjadi gila, tapi aku juga. Aku tidak punya siapa-siapa lagi kalau kau pergi sekarang.”
“Aku akan kembali, tapi dalam waktu yang lama. Kalau pun demikian, aku tidak akan muncul di depan mereka. Kalau pun mereka melihatku, aku akan berpura-pura tidak mengenal mereka.”
Elisah menyimpan kembali tespek ke dalam kotak. Ia juga meletakan ponselnya di samping kotak tersebut.
Anna terkejut. “Kau tidak membawa ponsel?”
“Aku tidak ingin dia menemukanku. Kalau aku membawa benda ini, cepat atau lambat dia akan menemukanku. Kau tenang saja, begitu tiba di sana aku akan segera menghubungimu. Orang pertama dan satu-satunya yang tahu kontakku hanya kamu. Jadi, kalau Ferran sampai tahu, berarti kamu yang mengatakannya.”
Ponsel Elisha bergetar. Melihat nama Ferran membuat ia menatap Anna.
“Angkat saja. Anggap saja ini terakhir kali dia bicara denganmu.”
Elisha menurut dan menyapa Ferran. “Halo?”
“Elisha, satu jam lagi aku tiba di rumah. Kamu ingin sesuatu?”
“Tidak perlu.”
“Baik. Tunggu aku, ya, aku akan segera pulang.”
“Iya,” jawab Elisha kemudian memutuskan panggilan, “Dia akan segera tiba. Aku tidak ingin dia menggagalkan rencanaku.”
Dengan berat hati Elisha meletakan ponsel di atas meja kemudian menarik koper.
Anna menangis dan memeluknya. Terkesan buruk, tapi ia sangat mendukung keputusan sahabatnya untuk meninggalkan Ferran.
Sejak dulu ia adalah satu-satunya orang yang paling tahu apa yang dialami Elisha. Ia ingat ketika Elisha menangis karena masalah yang dialami orangtuanya. Karena itu Elisha telah berjanji tidak akan pernah menikah karena takut mendapatkan suami seperti ayahnya.
Ketakutan itu hilang ketika Ferran hadir dalam hidupnya. Ferran membawa warna dan membuat gembok di hati Elisha terbuka. Sebagai sahabat Anna senang Ferran telah menyembuhkan trauma yang dialami sahabatnya. Namun, siapa sangka luka yang pernah sembuh kini muncul lagi dan semakin membesar.
Satu jam kemudian Ferran tiba di rumah dengan satu baket bunga mawar. Dengan senyum lebar dan perasaan bahagia ia masuk ke dalam rumah. Ia membuka pintu tapi tidak menemukan istrinya.
“Elisha, aku pulang,” ia mencari-cari, “Elisha, kau di mana?”
Ferran ke ruang tamu. Ia mencari Elisha tapi tidak ada. Ia ke dapur kemudian ke kamar, tapi tidak menemukan istrinya. Ferran menuruni tangga lalu ke taman belakang. Di sana ia hanya melihat tanaman yang baru saja disiram. Ia kemudian kembali ke ruang tamu lalu menghubungi Elisha.
Drttt…. Drttt…
Ferran terkejut dan mendapati ponsel Elisha di atas meja. Ia melihat benda itu dan mendapati namanya terpampang di layar sebagai pemanggil. Ia semakin bingung.
“Ke mana dia, kenapa dia tidak membawa ponsel?”
Mata Ferran tertuju ke kotak kecil di samping ponsel. Ia tersenyum kemudian mengambil kotak itu. Ia hendak membuka, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Ia kembali meletakkan kotak itu dan melihat ponsel.
“Halo?”
“Apa benar ini tuan Ferran Andara?”
“Iya. Ini siapa?”
“Kami dari rumah sakit. Istri anda kecelakaan. Dia mengalami pendarahan parah.”
“Kirimkan alamatnya sekarang. Aku akan segera ke sana.”
Ferran memutuskan panggilan kemudian pergi meninggalkan rumah. Dengan perasaan campur aduk dan nyaris menangis ia terus menyetir sambil menyalahkan diri sendiri.
Ia tiba di rumah sakit. “Dokter, di mana istri saya?”
“Nyonya Andara ada di kamar 15.”
“Terima kasih, Dokter.”
Dengan tergesa-gesa Ferran berlari ke arah kamar nomor 15. Ia membuka pintu kemudian melihat punggung wanita yang membelakanginya.
“Elisha!” Ferran mendekat, “Sayang, kau tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa.”
Ferran terkejut melihat wanita itu. “Najwa,” ia marah, “Kenapa dokter bilang istriku kecelakaan?”
Najwa yang terlihat baik-baik saja tersenyum menatap Ferran. Ia duduk kemudian menarik tangan Ferran.
“Aku memang kecelakaan. Aku takut. Jadi aku meminta dokter untuk menghubungimu. Aku juga tidak punya pilihan selain memberikan kontakmu pada dokter.”
Ferran meremas leher Najwa dengan sebelah tangannya. “Sudah kuperingatkan, jangan pernah kau menggangguku dengan hal-hal seperti ini.”
“Sa-sakit. Le-lepaskan aku, kau menyakitiku, Ferran.”
Ferran melepaskan lalu menatap tajam. “Kau jangan main-main denganku, Najwa. Kau harus ingat, hubungan kita hanya sebatas kerja sama.”
“Maafkan aku … sebenarnya__”
“Kau jangan berharap lebih padaku. Apa yang kulakukan padamu hanya sebagai kompensasi karena kau sudah membantuku.”
Wajah Najwa sedih. “Aku sudah jatuh cinta padamu, Ferran.”
Najwa menyentuh tangan Ferran, tapi pria itu menghempasnya dengan kasar. “Kau mau ke mana?”
“Aku ingin mencari Elisha, dia tidak ada di rumah.”
“Mungkin dia pergi berbelanja.”
“Dia meninggalkan ponsel di rumah. Aku pergi dulu. Aku harus mencarinya.”
Anna muncul dengan baju dinas putih serta file di tangannya. Ia terkejut dan menatap mereka secara bergantian.
“Ferran, sedang apa kau di sini?”
Bersambung____
