Bab 3. Kembali Terluka.
Elisha terkejut mendengar itu. Bayangan soal Ferran yang mengucapkan hal yang sama di masa lalu kembali teringat. Seketika Elisha menatap tajam ke arah suaminya yang berada di kejauhan. Pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia bahkan senyum-senyum sendiri melihat siaran langsung yang diadakan Najwa.
Anna terkejut. “Bunga mawar merah setiap hari? Bukankah Ferran juga sering melakukan hal yang sama padamu? Atau mungkin semua laki-laki seperti itu? Aku jadi penasaran. Apa kalau punya pacar, pacarku juga akan melakukan hal yang sama seperti pacar kalian?” Anna terkikik kecil membayangkan hal itu.
Elisha tak menjawab. Ia mengabaikan guyonan Anna kemudian menatap layar. Ia terlihat begitu fokus menyaksikan pengakuan Najwa di layar televisi.
“Pacarku itu mengajariku keromantisan yang sebenarnya. Dia suka memberikanku kejutan, seperti kalung berlian diselipkan di gelas kristal kesayanganku, gaun mahal diselipkan di balik selimut dan makan malam romantis saat pulang ke rumah. Dia suka menghabiskan waktu bersamaku di rumah di sela-sela kesibukannya”
Anna semakin penasaran. “Romantis sekali. Tapi, aku heran, kenapa kebiasaan pacarnya sama seperti yang dilakukan Ferran padamu? Apa keromantisan semua lai-laki itu sama?” ia menatap Elisha dan terkejut mendapati wanita itu menangis.
“Tidak hanya barang-barang mewah, pacarku itu sangat baik soal materi. Dia sering memberiku rumah, mobil, ruko, bahkan pesawat pribadi. Dia juga tahu aku suka laut, jadi dia membelikanku resort dan kapal atas namaku secara langsung.”
Anna terkejut. “Resort? Ferran juga membelikanmu resort, kan?”
Pandangan tajam tertuju ke arah Ferran. Elisha sedih. “Ferran, kau menceritakan kisah cinta kita kepada Najwa? Atau kau memang ingin mengulangi kebaikanmu itu kepada wanita lain?” katanya dalam hati.
“Pacar Nona Najwa sangat baik, romantis dan begitu memanjakan anda,” ucap si pembawa acara.
Salah satu penonton berkata, “Keromantisannya masih kalah dengan yang dilakukan tuan Andara saat menikahi nyonya Elisha di gedung milik keluarga Andara, tuan Ferran menyiapkan 1506 mawar merah dan kembang api sebanyak 1506 kali. Tuan Ferran sangat mencintai istrinya. Kata tuan Andara 1506 itu adalah angka kelahiran nyonya Andara.”
Ucapan itu membuat Najwa marah. Tak ingin kalah ia pun berkata, “Tuan Andara adalah bos yang baik. Beliau sangat memanjakanku dan sangat baik padaku.”
Dengan air mata yang semakin deras Elisha terus menatap Ferran yang masih sibuk dengan ponselnya. Pria itu tidak menyadari jika istrinya terus menatapnya sejak tadi.
Di layar televisi Najwa terkejut mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Ia membuka benda itu dan melihat pesan. Senyumya melebar dan memperlihatkan kepada para penonton isi pesan itu.
“Pukul tujuh malam di salah satu gedung milik keluarga Andara, tuan Andara sudah menyiapkan 2512 bunga mawar dan kembang api 2512kali. Bukankah tuan Andara sangat baik? 2512 itu adalah angka kelahiranku.”
Elisha kembali melirik Ferran. Jemari pria itu terlihat sibuk di layar ponsel. Ia sangat yakin kalau pesan yang diperlihatkan Najwa adalah pesan dari suaminya. Hati Elisha semakin sakit. Pujian yang dilontarkan pada Najwa membuat hatinya terluka. Ia terisak kemudian terjatuh ke lantai.
“Elisha, kau tidak apa-apa?”
Mendengar suara Anna membuat Ferran berpaling. Ia terkejut kemudian menyimpan ponselnya dan menemui Elisha.
“Sayang, kamu kenapa?”
Dada Elisha terasa sesak. Napasnya sangat sulit dikeluarkan. Hatinya benar-benar sakit.
Ferran segera memeluk dan membawa Elisha keluar. “Apa yang terjadi, Anna?”
Anna tidak menjawab, ia segera mengekor dan masuk ke dalam mobil bersama mereka.
“Aku antar kamu ke rumah sakit, ya?” kata Ferran sambil menatap Elisha dan Anna di bangku belakang, “Apa yang terjadi Anna? Kenapa istriku tiba-tiba sakit?”
Elisha menjawab, “Tidak apa-apa, mungkin aku hanya kelelahan.”
“Kamu yakin tidak ingin ke rumah sakit?”
“Tidak perlu. Cukup dengan istirahat saja aku akan sembuh. Kita antar Anna dulu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Anna, “kita antar kamu dulu. Aku bisa pulang naik taksi.”
Ponsel Ferran berdering. Karena mengenakan ear phone ia segera menekan tombol dan menyambungkan panggilan.
“Halo?”
“Ferran, ada kabar baik, ini tentang om Barra,” kata Najwa dari balik telpon, “Kau harus ke sini sekarang. Dua menit kau harus ada di sini.”
“Baik,” Ferran memutuskan panggilan kemudian menatap mereka dari kaca spion, “Anna, bisa antar Elisha pulang? Ada urusan mendadak yang harus kuhadiri.”
Anna marah. “Apa urusan itu lebih penting dari Elisha?”
Ferran merasa bersalah.
“Tidak apa-apa,” balas Elisha, “biarkan Ferran pergi. Ayo, kita naik taksi saja.”
Anna terkejut melihat Elisha keluar dari mobil. Ferran yang tak ingin berkomentar hanya diam dan tak berani menatap mereka. Ia segera keluar dan mencarikan taksi untuk mereka.
“Anna, terima kasih mau mengantar Elisha. Elisha sayang, begitu tiba di rumah kamu harus istirahat.”
Elisha hanya mengangguk. Dilihatnya tubuh Ferran yang menjauh kemudian pergi bersama mobilnya.
Bapak supir taksi bertanya, “Kita mau ke mana?”
“Ke jalan___” ucapan Anna terpotong.
“Ikuti mobil tadi, Pak,” Elisha menatap Anna, “Bukankah kau ingin tahu alasan aku meninggalkan Ferran? Kau akan segera tahu jawabannya.”
Taksi yang ditumpangi Anna dan Elisha pun tiba di sebuah rumah mewah berlantai dua. Di depan gerbang itu mobil mewah Ferran sedang terparkir. Anna terkejut.
“Ini kan rumahnya Najwa. Kenapa Ferran ke sini?”
Elisha menyuruh si supir untuk menurunkan mereka sedikit menjauh. Dilihatnya Ferran keluar dari mobil dan disambut oleh Najwa. Wanita itu dengan penuh semangat menyambut Ferran dan segera memeluknya. Ferran balas memeluk Najwa kemudian mengajaknya masuk.
Anna terkejut dan semakin terekjut ketika lampu di lantai atas segera menyala. Ferran yang sedang memeluk Najwa pun terlihat di balik tirai. Anna sangat marah.
“Apakah itu benar-benar Ferran? Dia sangat mencintaimu. Kenapa dia mengkhianatimu?”
Air mata Elisha menetes. “Cintanya tidak berarti lagi bagiku. Tidak bisa dipungkiri, setiap pernikahan tak akan lepas dengan ujian. Pria kaya akan menjadi buruk. Dan wanita matre akan merasa miskin. Hidup lama-kelamaan akan terasa biasa. Hati mungkin tidak akan berubah, tapi tubuh lama-lama akan berubah karena tergoda.”
Elisha semakin menangis.
“Ferran sayang, inikah yang dinamakan cinta dan kesetiaan? Kau mengucapkan cinta dan kesetiaan padaku, tapi kau … Jangan salahkan aku meninggalkanmu. Inilah pilihanmu.”
Bayang-bayang akan masa lalu kembali dalam benaknya. Luka yang disebabkan trauma akibat perlakuan sang ayah terhadap sang ibu membuat hati Elisha sakit sekali. Ia menyesal telah menikah. Ia menyesal telah meningalkan karir demi cinta. Ia menyesal telah membuka hati pada Ferran dan menikah dengannya.
Elisha ingat ketika sekolah ada pria tampan yang memberanikan diri memberikan cokelat padanya untuk pertama kali. Bukannya menerima cokelat itu Elisha justru membuangnya ke tempat sampah. Itu adalah pemberian pertama dan terakhir bagi pria itu.
Berbeda dengan pria itu, Ferran tak henti-hentinya memberikan hadiah pada Elisha. Ferran jatuh cinta pada Elisha sejak pertama kali pindah ke sekolah yang sama. Meskipun ditolak berkali-kali Ferran tak patah semangat memberikan hadiah pada Elisha. Sampai akhirnya Elisha luluh dan mau membuka hati untuk pria itu.
Tidak sedikit waktu dan uang yang terbuang untuk mendapatkan hati Elisha. Mengingat perjuangan dan kegigihan pria itu sejak di bangku SMA hingga bangku kuliah untuk mendapatkan hatinya membuat Elisha kecewa ketika bayangan tubuh Ferran dan Najwa terlihat sedang tertawa bersama di balik tirai.
Perasaan Elisha terhadap Ferran mulai muncul sejak di bangku kuliah. Namun, Elisha tak ingin langsung menerima begitu saja. Ia ingin tahu seberapa besar perasaan Ferran terhadapnya. Dan akhirnya ia menerima Ferran saat pria itu kembali menyatakan perasaan ketika mereka lulus kuliah.
“Tidak ada kesetiaan yang mutlak. Di mata pria wanita selalu egois. Padahal wanita selalu saja mengalah.”
Suara Anna mengejutkan Elisha. “Aku tidak akan mengalah. Sekali tak setia, selamanya takkan setia.”
Bersambung_____
