Bab 2. Persiapan.
Lima hari sebelum ia meninggalkan Ferran Elisha mulai membereskan barang-barangnya satu persatu. Alat make up, pakaian, bahkan alat mandi miliknya dan cangkir kesayangan pemberian Ferran yang sering ia gunakan setiap hari sudah dibersihkan dan disimpan ke dalam kotak. Elisha juga menandai kalender sebagai peringatan untuk hari yang sudah ia tentukan. Setiap tanggal Elisha memberi tanda silang agar Ferran tak curiga melihatnya.
Saat ini Elisha duduk di ruang tamu. Setelah membereskan beberapa barang ia duduk di sana sendirian kemudian menghubungi sahabatnya.
“Elish, ada apa? Bagaimana keadaanmu?”
“Aku sudah baikkan. Anna, ada hal yang ingin kusampaikan padamu.”
“Apa itu?”
Elisha diam cukup lama. “Aku ingin keluar negeri.”
“Untuk apa? Ferran, bagaimana, kau akan meninggalkannya?”
“Aku ingin kau merahasiakan kabar ini darinya sampai hari ulang tahunnya selesai. Aku butuh ketenangan, Anna. Kau satu-satunya yang keberitahu soal ini. Aku harap kau bisa menjaga rahasia. Jangan beritahu siapa-siapa termasuk Ferran. Oke?”
Bunyi pintu terbuka membuat Elisha terkejut. Dilihatnya Ferran masuk sambil membawa sebuket bunga mawar merah.
“Aku tutup dulu, Ferran sudah pulang. Ingat, jangan beritahu dia soal ini.”
Elisha mengakhiri panggilan kemudian menyambut Ferran yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
“Sayang, ini untukmu,” kata Ferran dengan penuh semangat.
Hati Elisha sakit. Ia tersenyum pedih. “Setiap minggu kamu memberikanku bunga mawar merah. Apa kamu masih ingat sejak kapan kamu melakukan ini?”
Ferran membuang napas panjang. Senyum di wajahnya melebar. “Semenjak kita pacaran. Kalau dihitung-hitung sudah enam tahun aku memberikanmu bunga mawar merah.”
Elisha tak menyangka Ferran bisa menjawab pertanyaan itu dan mengingatnya. Bayang-bayang akan perjuangan Ferran mendapatkan cintanya begitu tulus terus terpikirkan. Tahu Elisha menyukai mawar merah membuat Ferran tak bosan-bosannya membeli bunga tersebut untuk diberikan kepada wanita pujaan hatinya. Walaupun beberapa kali ditolak Ferran tak henti-hentinya memberikan bunga mawar merah sampai akhirnya Elisha menerima bunga itu sekaligus menerima pria itu sebagai pacarnya.
“Aku berjanji, mulai sekarang aku akan mencintaimu dan menjadi pacarmu. Jika suatu saat aku tahu kau mencintai wanita lain di belakangku, aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu, Ferran.”
“Bunga kesukaanmu artinya kesetiaan dan cinta. Elisha, tidak akan ada cinta yang lain. Tidak akan ada juga kesempatan untuk kamu meninggalkanku. Kita akan terus bersama sampai maut memisahkan kita.”
Ucapan Ferran di masa lalu mengingatkannya betapa sulit mendapatkan hati Elisha waktu itu. “Sejak sejak itu aku putuskan untuk memberikanmu bunga di setiap hari Minggu. Aku ingin kau tahu, bahwa cinta dan kasih sayangku terhadapmu tidak akan pernah berubah sampai maut memisahkan kita.”
Elisha tertegun menatap Ferran. Ucapan pria itu membuat matanya berkaca-kaca. Ciuman, pelukan, cincin dan kue ulang tahun yang diberikan Ferran pada Najwa terbayang-bayang dalam benaknya.
Ferran tersenyum lebar. Ia mengira bulir kristal yang menetes dari mata istrinya karena bahagia. Elisha tersenyum lebar seolah-olah tak ingin merusak sandiwara yang diperankan suaminya. Sebagai korban ia ingin menikmati peran itu sebelum hari di mana ia akan meninggalkan Ferran untuk selamanya datang.
“Bukalah,” ucap Ferran sambil menunjuk kotak merah di atas buket bunga. Ia meraih buket bunga mawar di tangan Elisha dan memegangnya.
Elisha menurut. Ia mengambil kotak itu kemudian membukanya. Dilihatnya cincin bermata hati berwarna merah memancarkan kilauan yang mewah. Elisha terkejut menatap Ferran.
“Cincin itu berlambang tulus. Sama seperti ketulusanku terhadapmu. Sayang, aku ingin kamu mengenakan cincin ini di hari ulang tahunku. Aku juga memesan cincin yang sama, agar kita bisa mengenakan cincin ini bersama-sama di hari ulang tahunku.”
Elisha terpana menatap Ferran, ia tak menyangka suaminya telah memberikan cincin yang sama seperti yang dia berikan kepada Najwa malam itu.
“Ingat saat menjadi pacarmu kubilang, jika suatu hari kau mencintai wanita lain aku akan pergi?”
Eksprsi Ferran berubah. “Elisha, ada apa? Kenapa kau berkata begitu”
Wanita itu berdecak. “Tidak apa-apa, aku hanya teringat saja.”
“Elisha,” ucap Ferran meyakinkan, “tidak akan ada cinta yang lain. Tidak akan ada wanita yang lain. Kamu satu-satunya cintaku. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk pergi dariku.”
Elisha menatap Ferran ketika ponsel pria itu bergetar. Dilihatnya nama Najwa sebagai pemanggil. Dengan skeptis Ferran menatap Elisha lalu tersenyum.
“Kevin melepon. Tunggu sebentar.”
Ferran memberikan buket bunga itu kembali pada Elisha kemudian menjauh. Ia menyapa si penelpon sambil melirik Elisha. Setelah berbicara ia memutuskan panggilan lalu mendekati istrinya.
“Elisha.”
“Iya?”
“Ada sedikit masalah di kantor. Aku harus pergi. Tidak apa-apa kan aku tinggal sekarang?”
Elisha menatap cukup lama. Ia tahu Ferran berbohong. Tak ingin mencari masalah dengan pria itu Elisha hanya tersenyum dan mengangguk.
“Tidak apa-apa. Pergilah.”
Dengan senyum lebar Ferran meninggalkan Elisha yang masih berdiri di sana. Wanita itu mematung sambil menatap kepergian suaminya. Hatinya sakit membayangkan pria itu menemui saudara tirinya. Saking sakitnya air mata Elisha tak mau keluar. Ia kemudian pergi ke kamar dan menyilang tanggal hari ini dengan pulpen merah. Lima hari lagi ia akan segera meninggalkan Ferran selamanya. Lima hari itu akan ia gunakan sebaik mungkin.
Elisha sudah memutuskan untuk berisikap baik kepada semua orang. Tak peduli Ferran sering menyakitinya, ia akan bersikap baik terhadap pria itu walau sebenarnya ia ingin mengatakan yang sebenarnya.
Keesokan hari Ferran membawa Elisha untuk mencoba gaun ranjangan disainer idola istrinya. Di sana ada Anna serta disainer terkenal yang merancang gaun tersebut. Elisha muncul dengan gaun panjang yang begitu mewah. Anna, Ferran dan desainer itu terpana melihat kecantikan Elisha.
“Nyonya Andara sangat cantik. Gaun ini pola hingga jahitannya butuh waktu yang lama untuk merancangnya. Tuan Andara memintaku meletakan berlian sebanyak 1506 di gaun ini sebagai simbol cinta yang abadi.”
Ferran yang berdiri di depannya tertunduk malu. Ia melihat Elisha seperti saat pertama kali bertemu. Jantungnya berdetak tak karuan menatap istrinya.
Anna tersenyum. “Benar-benar romantis. Elisha, kamu sangat beruntung.”
Ferran berdecak. “Ekor gaunnya terlalu panjang, mudah tersandung. Nona Gloriana, aku ingin anda memperbaikinya. Pastikan sebelum hari ulang tahun gaun ini sudah selesai, aku ingin istriku tampil dengan sempurna.”
“Anda tenang saja, Tuan Andara,” Gloriana menatap Elisha, “Nyonya Andara, silakan masuk ke ruangan ganti.”
Anna menemani Elisha ke ruang ganti, sedangkan Ferran berjalan keluar untuk menerima panggilan dari Najwa.
Begitu selesai Anna mengajak Elisha keluar. “Kau yakin ingin meninggalkannya? Lima hari lagi ulang tahunnya. Kau masih bisa berubah pikiran. Ferran sangat mencintaimu. Jika kau menghilang dia pasti akan gila.”
Suara wanita di layar televisi mengalihkan pandangan Elisha dan Anna. Mereka menatap televisi dan terkejut melihat wanita cantik di layar sana.
“Itu kan saudara tirimu,” kata Anna.
“Sebagai model iklan sekaligus ambasador yang baru diangkat oleh Grup Andara aku merasa sangat terhormat.”
“Model iklan dan ambasador?” Anna terkejut, “Bukankah Najwa hanya peran pembantu di film layar lebar? Kenapa dia sekarang menjadi ambasador dan bintang iklan di perusahan suamimu?”
Elisha tak menjawab. Ia terus menatap Najwa dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Nona Najwa, apakah tuan Andara langsung yang meminta anda menjadi ambasor dan bintang iklan untuk prodak Group Andara? Dan siapa yang ingin anda ucapkan terima kasih, sehingga anda ingin menyiarkan kabar ini secara langsung melalui televisi kami?”
Dengan senyum lebar Najwa berkata, “Pertama-tama aku ingin berterima kasih kepada tuan Andara yang sudah memberikan posisi ini padaku. Aku juga ingin berterima kasih kepada pacarku tentunya, berkatnya aku bisa seperti sekarang.”
Elisha terpaku. Matanya berkaca-kaca. Siapa lagi yang bias memutuskan seseorang bergabung di Grup Andara kalau bukan suaminya sendiri.
“Pacarku sangat mencintaiku. Aku sebenarnya kurang percaya diri menerima ini. Namun, berkat dukungan dan semangatnya aku akhirnya mau menerima pekerjaan ini. Sekedar memberitahu, pacarku itu sering memberiku bunga mawar merah setiap hari. Katanya bunga itu simbol dari kesetiaan dan cinta.”
Bersambung______
