Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1. Awal Mula.

Di salah satu rumah termewah dan terbesar di kota Jakarta, sosok cantik berambut hitam dan panjang duduk diam dengan wajah yang begitu sedih dan menyedihkan. Mata sayunya menatap benda panjang berwarna putih biru di dalam kotak berwarna biru. Wanita cantik itu bernama Elisha Hanif. Mata cokelatnya mulai berair saat menatap garis dua berwarna merah di benda itu. Di samping kanan Elisha duduk wanita cantik bernama Anna. Dia sahabat Elisha sekaligus teman seprofesi.

“Kau yakin akan meninggalkan Ferran? Dia sangat mencintaimu, Elish. Dia pasti akan gila kalau tahu kau pergi dari rumah.”

Elisha menatap Anna. “Dia tidak cinta padaku, dia mencintai Najwa bukan aku.”

“Itu tidak benar, Elish.”

Elisha tersenyum sakit. “Jangan beritahu dia kalau aku hamil sebelum hari ulang tahunnya. Aku ingin dia membuka kotak ini di saat hari itu tiba. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya bersama Najwa.”

“Bagaimana kalau kau beritahu dia sekarang? Aku yakin dia pasti akan meninggalkan Najwa jika dia tahu kamu hamil.”

Elisha menunduk. Ia menangis, Anna pun ikut menangis. Sebagai orang terdekat satu-satunya Anna paling tahu penderitaan yang dialami Elisha sebelumya.

“Kau tahu kenapa dia sering pergi dan pulang pagi?”

“Kenapa?”

“Najwa bilang dia hamil. Ferran sangat menginginkan bayinya dan takut terjadi sesuatu pada Najwa.”

“Kamu jangan terlalu percaya padanya, Elish. Coba kau pikir, kalau memang Ferran benar-benar mencintainya, dia tidak akan melakukan pembuktian padamu untuk menunjukan cinta Ferran padanya. Dia hanya ingin merusak kebahagian kalian. Sebenarnya Ferran tidak pernah mencintainya. Kau harus tahu itu.”

Elisha menarik cairan hidung dan menghapus airmatanya. “Keputusanku sudah bulat. Terima kasih sudah merahasiakannya selama ini. Aku akan sangat merindukanmu, Anna.”

Anna menangis. “Sebenarnya aku tidak ingin ini terjadi. Ferran sudah keterlaluan, dia pantas mendapatkannya.”

Flashback on:

Enam hari lalu tepat di hari ulang tahun sahabatnya, Anna, Elisha begitu anggun dengan balutan terusan panjang berwarna cokelat. Riasan sederhana yang elegan membuat pemilik wajah cantik itu menjadi pusat perhatian.

“Elish, kamu sangat cantik.”

“Terima kasih.”

Mata cokelat Elisha mencari-cari di balik keramaian tamu undangan. Ia menatap semua wajah-wajah di sana, tapi tidak menemukan suaminya. Ekspresi Elisha berubah. Serkali-kali ia menghubungi Ferran tapi tidak ada balasan.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.”

Anna muncul. “Ferran di mana? Kenapa dia belum datang?”

“Ini salahku, seharusnya aku sudah memberitahu dia sebelumnya.”

“Dia tidak menjawab panggilanmu?”

Elisha terus menghubungi Ferran. “Mungkin dia sedang rapat. Tunggu sebentar,ya, dia pasti akan datang.”

“Kalau begitu aku menyapa para undangan dulu. Beritahu aku kalau dia sudah datang.”

“Terima kasih, Anna.”

“Sama-sama.”

Elisha menjaga jarak dari keramaian. Ia menghasingkan diri untuk menghubungi Ferran. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena tidak memberitahu acara ini pada suaminya.

“Sayang, kamu di mana … kumohon aktifkan ponselmu.”

Elisha kembali menghubungi nomor yang sama. Ekspresi yang tadinya khawatir kini berubah begitu panggilan di kontak suaminya tersambung.

“Halo! Sayang, kamu di mana? Sejak tadi aku menghubungimu tapi nomormu tidak aktif. Apa kamu sibuk?”

“Ferran sedang sibuk denganku. Ini siapa? Untuk apa mencarinya?”

Suara wanita di balik telpon mengejutkan Elisha. “Kau siapa?”

“Dia sedang merayakan ulang tahunku. Ada apa? Nanti aku sampaikan padanya.”

“Kau siapa?” suara Elisha gemetar. Jantungnya berdetak tak karuan. Perasaannya tidak enak.

“Aku Najwa, pacarnya Ferran. Kalau kau ada keperluan datang saja ke Bebbi klub 156 sekarang juga dan sampaikan sendiri padanya.”

Dengan rasa penasaran yang tinggi Elisha segera meninggalkan acara kemudian pergi ke Bebbi klub. Ia mencari ruangan 156 yang disebutkan Najwa melalui telpon tadi. Begitu matanya melihat angka tersebut ia segera mendorong pintu dan terkejut melihat Ferran sedang berlutut di depan Najwa.

“Meskipun tidak bisa menikahimu, aku janji, bersamaku kau akan selalu bahagia.”

Ucapan Ferran kepada Najwa menyakiti hati Elisha. Dilihatnya Ferran memakaikan cincin di jari kiri wanita itu kemudian memeluk saudara tirinya.

“Cium, cium, cium.”

Teriakan pada sponsor di ruang itu membuat Elisha semakin sakit. Ekspresinya menyedihkan. Dilihatnya Ferran berdiri kemudian mencium bibir Najwa. Najwa menyadari kehadiran Elisha dan melirik wanita itu seolah-olah meledeknya.

Tak tahan dengan rasa sakit yang ada di hadapannya Elisha meninggalkan Bebbi klub sambil menangis. Ia berlari dan nyarik menabrak kue ulang tahun yang dibawa oleh petugas Bebbi klub.

“Kau …,” pelayan laki-laki mendorong Elisha hingga terjatuh, “Kue ini sangat mahal. Kau hampir saja merusaknya.”

Hati Elisha semakin teriris-iris melihat kue ulang tahun berwarna pink itu tertulis selamat ulang tahun Najwa. Bayang-bayang wajah Ferran dan ucapan dari laki-laki yang begitu mencintainya membuat Elisha sesak napas. Ia pun berdiri kemudian meninggalkan Bebbi klub.

Hanya memakan waktu satu jam Elisha tiba di rumah. Kejadian hari ini benar-benar membuka luka lama yang pernah dialaminya. Tak mau berlarut dalam sakit yang begitu dalam Elisha mengobati dahinya yang luka kemudian pergi ke kamar. Ia membersihkan diri lalu tidur tanpa menunggu kepulangan suami seperti biasa yang sering ia lakukan setiap malam.

Keesokan pagi Ferran muncul dengan senyum begitu lebar. Ia mendekati Elisha yang baru saja selesai membungkus hadiah kemudian mencium tangan istrinya.

“Sayang, aku merindukanmu,” ia terkejut, “Kenapa dahimu?”

“Tidak apa-apa, hanya sedikit kesalahan karena kelalaian.”

Ferran memeluk Elisha. “Aku sedih melihatmu terluka.”

Elisha hanya diam dalam pelukan. Ia tersenyum samar kemudian membalas pelukan Ferran. Lelaki itu melepaskan pelukan kemudian menatap Elisha.

“Maaf, semalam aku tidak datang karena mempersiapkan acara ulang tahun untuk kita berdua,” Ferran menunjukan gaun putih panjang yang terlihat mewah disebuah patung, “Lihat, kamu suka? Ini aku pesan dari desainer idolamu. Semalam aku tidak pulang karena menjaganya membuat gaun ini. Karena ini perayaan ulang tahunku setelah menjadi suamimu, aku ingin mengadakan acara besar-besaran. Aku ingin dunia tahu betapa aku sangat beruntung menikahi dan mendapatkan istri sepertimu.”

Elisha tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

“Aku mencintaimu, Elisha. Aku sangat mencintaimu.”

Elisha tersenyum dalam diam. Ia mengangguk seolah-olah percaya apa yang dikatakan Ferran. Namun, senyum di wajah cantiknya perlahan pudar ketika mendapati tanda merah di leher Ferran yang nyaris tertutup kemeja.

“Kau sudah mengkhianatiku, Ferran. Susah payah aku mempercayaimu, tapi kau merusak kepercayaanku.”

Ferran tak menyadari isi hati istrinya. Ia terus tersenyum sambil menggenggam tangan Elisha. Berkali-kali ia mengeluarkan kata cinta agar istrinya percaya.

Elisha melepaskan tangan Ferran kemudian mendekati meja. Ia mengambil kotak berwarna biru kecil yang tadi ia bungkus.

“Sebagai balas budi karena sudah menyiapkan gaun yang indah di hari ulang tahunmu, aku juga punya hadiah untukmu. Ini hadiah dariku.”

Elisha memberikan kotak itu kepada suaminya. Karena penasaran Ferran ingin segera membuka dan melihat isi kotak itu. Elisha mencegahnya.

“Jangan dulu. Bukalah tepat di hari ulang tahunmu. Anggap ini kejutan dariku.”

Elish tersenyum lebar kemudian mengembalikan kotak itu di atas meja. Ferran tersenyum lembut. Ia mendekat lalu memeluk istrinya dari belakang.

“Baiklah. Buka di hari spesialku memang akan lebih bermakna,” Ferran membenamkan wajah di leher Elisha, “Sayang, sudah dua bulan menikah rasanya aku semakin mencintaimu. Selamanya aku hanya ingin mencintaimu.”

Bukannya bahagia Elisha justru biasa saja mendengar ucapan Ferran.

“Mungkin, hanya kematian yang bisa memisahkan kita. Aku tidak ingin kita berpisah sampai maut memisahkan.”

“Lagi-lagi kamu berbohong padaku. Kamu tidak mencintaiku, Ferran, kau mencintai Najwa. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian. Sepertinya kamu memang lebih bahagia bersama dia daripada aku.”

Bersambung____

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel