Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sambutan Baik Keluarga

Sejak pertemuan pertama, Aldi semakin sering menunjukkan perhatian dan cintanya pada Lena. Membuat gadis cantik ini merasa dihargai, disanjung dan diratukan. Lena sangat bahagia dengan itu. Maklum, ini adalah pertama kali baginya jatuh cinta dan Tuhan Maha baik, memberikan jawaban terindah atas doa serta rasa yang ia miliki. Meskipun, ia harus merasakan penantian terlebih dahulu. Kebahagiaan Lena tak sampai di situ. Kedua orang tuanya juga menyambut baik niatnya ini.

Suatu malam, Lena memberanikan diri mengutarakan isi hati pada kedua orang tuanya. Meminta izin untuk menikah. Membina rumah tangga dengan pria yang ia cinta. Bak gayung bersambut, kedua orang tua Lena langsung menyambut penuh suka cinta keinginan anak gadis mereka ini. Mengingat usia Lena juga bisa dibilang sudah matang.

"Alhamdulillah ... akhirnya putri kita menemukan jodohnya ya, Pa. Sok atuh kenalin ke Mama," sambut Hana, ibu kandung Lena.

"Iya, Ma. Akhirnya kita akan segera punya mantu, biar Papa ada yang bantu di toko," saut Irwan, ayah Lena. Ikut antusias juga.

"Papa ini, bisa-bisanya," celetuk Hana dengan candaan seperti biasa.

"Habis gimana Ma? Punya anak satu aja maunya kerja ikut orang, usaha keluarga sendiri malah nggak mau bantu ngembangin," canda Irwan.

"Lena 'kan cuma pengen nyari temen, Pa. Nanti deh kalau habis nikah Lena mengundurkan diri, biar Lena ama suami bisa bantu Papa, " balas Lena dengan senyuman manisnya.

"Bener loh ... awas bo'ong!" balas Irwan.

"Enggak, Pa. Lena janji,"jawab Lena serius.

Hati siapa yang tak berbunga-bunga. Cinta yang ia rasakan begitu indah dan nyata adanya. Ditambah sekarang kedua orang tuanya langsung memberikan lampu hijau. Tinggal membawa sang kekasih menghadap orang tua dan impian menjadi ratu semalam akan segera menjadi kenyataan.

Lena tersipu malu, mengingat saat bahagia yang ia tunggu-tunggu akan segera menjadi kenyataan. Sungguh, Lena masih tak menyangka jika kedua orang tuanya akan langsung menerima pilihan hatinya.

"Papa sama Mama nggak ada kriteria khusus'kan untuk calon pendamping Lena?" tanya Lena takut. Bukan takut, mungkin lebih memastikan.

"Ya enggaklah, Sayang. Yang penting dia sayang sama kamu, seiman dan agamanya bagus. Itu udah cukup," jawab Irwan serius.

"Kalau Mama?" tanya Lena mencari kepastian.

"Mama pun sama seperti yang papamu sampaikan. Sayang sama kamu, seiman dan agamanya pun harus bagus. Biar bisa jadi imam yang baik. Pokoknya bisa bertanggung jawab, dunia dan ahirat tentunya. Mama percaya sama pilihan kamu, " tambah Hana sembari memegang tangan sang putri, memberi keyakinan padanya bahwa ia juga bahagia dengan pilihan putrinya.

"Insya Allah Lena nggak salah pilih, Ma," jawab Lena malu-malu tetapi ia yakin.

Hana dan Irwan selaku orang tua sang gadis langsung tersenyum. Kebahagiaan tampak jelas di wajah kedua orang tua itu. Bagaimana tidak? sebentar lagi mereka tak akan lagi mendengar gunjingan para teman dan kerabat yang mengatakan bahwa anak gadis mereka sebagai perawan tua.Diam-diam kedua orang tua Lena juga memendam rasa malu dan kurang nyaman dengan status putri mereka. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga masih saja sendiri. Hanya saja mereka tak ingin terlalu menekan Lena.

"Kapan mau dibawa ke rumah?" tanya Hana antusias.

"Secepatnya, Ma." Lena tersenyum.

"Jangan lama-lama!" Irwan ikutan tak sabar.

"Kalau malam minggu besok gimana, Ma?" tanya Lena meminta pertimbangan.

"Oh, tak masalah," jawab Hana.

"Dia mau datang sendiri atau mau sama orang tuanya sekalian?" tanya Irwan.

"Orang tua Mas Al ada di sini Pa, adeknya habis wisuda. Nanti deh Lena tanya lagi," ucap Lena.

"Mas Al? Bukankah dia temen sekantor kamu?" tanya Irwan.

"Iya, Pa. Dia!" jawab Lena dengan kerlingan mata penuh kebahagiaan.

"Papa kenal?" Hana menyuapkan nasi kemulutnya.

"Kenal banget sih enggak, Ma. Cuma pernah lihat dia pas Papa dulu jemput Lena di kantor," jawab Irwan.

"Iya, yang waktu itu mayungin Lena sampek ke mobil Pa," tambah Lena.

"Oh dia, ya udah bolehlah!" Irwan terkekeh. Lena dan Hana juga ikut tertawa.

"Tampan nggak Pa?" tanya Hana penasaran.

"Ya lumayanlah," jawab Irwan kembali terkekeh.

Singkat cerita, ini lah malam itu. Malam di mana Lena akan memperkenalkan calon suami pada kedua orang tuanya.

Deru mobil terdengar jelas dari dalam kamar Lena. Jantung gadis ini berdetak jauh lebih cepat sekarang. Bagaimana tidak? Pujaan hati yang ia nanti kini ada di depan rumahnya.Keputusan akan dibawa ke mana hubungannya dengan sang kekasih, akan diputuskan malam ini. Meski gugup Lena tetap merasakan bahagia yang tiada tara.

Lena tersadar dari khanyalan bahagiannya, ketika mendengar seseorang mengetuk pintu.

"Masuk!" ucap Lena.

Seseorang pun membuka pintu itu dan masuk.

"Ayo keluar, tamunya udah dateng tu!" pinta Bu Hana, seperti biasa tak lupa wanita paruh baya ini mempersembahkan senyum termanisnya.

"Lena gugup, Ma," ucap Lena. Sebagai seorang ibu, Hana sangat paham dengan ini. Ia tahu jika sang putri pasti gugup. Dengan senyuman penuh kasih sayang wanita paruh baya ini pun memeluk putri semata wayangnya.

"Ini hal biasa bagi calon pengantin," ledek Hana.

"Mas Al datang ama siapa aja, Ma?" tanya Lena.

"Sama orang tuanya, ada adeknya juga. Ayok mereka udah nungguin," ajak Hana.

Meski gugup dan susah menetralkan perasaanya Lena tetap bersiap menyambut calon suaminya. Gadis ini tampil sangat cantki dengan gaun berbahan satin silk berwarna abu-abu itu. Senyum merekah indah di bibirnya, ketika matanya bertemu dengan mata Aldi. Sang kekasih.

"Assalamu'alaikum semua," sapa Lena.

"Wa‘alaikumsalam," jawab Mereka serempak.

Lena pun menyambut kedua calon mertua serta adek iparnya dengan jabatan tangan dan pelukan hangat. Dengan Aldi dia hanya menangkupkan kedua tangannya, tapi tetap senyuman manis ia persembahkan buat calon imamnya itu.

"Ini nak Lena, aduh cantik sekali," puji Susan, orang tua Aldi.

"Makasih, Tan," jawab Lena malu-malu.

"Mari-mari silakan duduk! " ucap Irwan mempersilakan tamunya duduk.

Tak lupa Hana juga menyiapkan beberapa cemilan untuk tamunya.

"Begini, Pak Besan. Langsung saja ya," ucap Wito, ayah dari Aldi membuka obrolan.

"Ya, silakan Pak Besan. Kita juga sudah siap mendengarkan ini," balas Irwan selaku tuan rumah dan ayah dari calon mempelai wanita.

"Maksud kedatangan kami kemari menyangkut hubungan putra kami yang bernama Aldi Nugraha dengan putri bapak. Dia, putra kami berniat untuk meminang putri Bapak. Bagaimana Pak?" ucap Pak Wita langsung pada pokok tujuannya.

"Wah, kami cukup bahagia Pak

Besan. Mereka juga sudah dewasa, niat baik memang harus disegerakan," balas Pak Irwan.

Ruangan itu pun menjadi ramai oleh tawa mereka. Obrolan serius namun santai itu nampak sekali kehangatan yang tercipta oleh kedua belah pihak.

Keluarga Aldi datang disambut baik oleh keluarga Lena dan mereka pun melanjutkan obrolan. Membahas hari dan konsep yang akan mereka ambil di acara sakral itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel