Berusaha Percaya
Sesuai dengan kesepakatan, resepsi pernikahan Lena dan Aldi akan digelar di salah satu gedung serbaguna dekat rumah Lena. Sedangkan akad nikah akan diselenggarakan di rumah mempelai wanita. Kebahagiaan tampak jelas di wajah seluruh anggota keluarga. Sampai, saat Lena mengantar Aldi ke mobil, pria itu menyempatkan diri mengucapkan kata cinta untuk sang calon istri.
"Aku mencintaimu calon makmumku, jaga diri baik-baik ya," ucap Aldi. Tak lupa pria tampan itu pun memberikan senyuman tertampannya untuk Lena.
"Aku juga mencintaimu calon imamku," jawab Lena, gadis ini pun membalas senyuman calon imamnya itu.
"Hati-hati ya." Lena melabaikan tangannya sebelum Aldi masuh ke mobil.
Ada perasaan berat di dalam hati kedua sejoli itu. Terlihat rasa tak rela, tampak jelas di mata keduanya.
"Sudah jangan lama-lama lihatinnya, belum halal," tegur Hana. Lena dan Aldi pun tersipu dan terpaksa mengikhlaskan perpisahan mereka kali ini.
Lena terus saja memandang mobil yang membawa kekasihnya. Sampai mobil itu hilang dari pandangannya.
"Bagaimana perasaanmu calon pengantin," goda Ibu Hana pada putrinya.
"Ah, Mama," jawab Lena manja.
"Lihatin putri kita, Pa. Mukanya memerah begitu!" ucap Ibu Hana, jujur wanita paruh baya ini juga bahagia. Dia antusias sekali mempersiapkan pesta pernikahan putri semata wayangnya.
"Iya, Ma. Akhirnya! " jawab Pak Irwan.
Lena kembali tersipu, ia pun menggandeng sang mama dan mengajak beliau masuk ke dalam rumah.
"Udah istirahat, besok masih kerja 'kan!" ucap Pak Irwan.
"Kan minggu, Pa. Suruh ke butik kata Mama. Ya kan Ma," jawab Lena. Ibu Hana menganguk tanda menghiyakan.
"Oh iya, ya udah masuk kamar sana. Jangan begadang, jaga kesehatan. 'Kan mau jadi pengantin. Harus sehat! " Pak Irwan mengakhiri ucapannya. Lena pun mengiyakan apa yang orang tuanya perintahkan. Masuk ke kamar dan mengistirahatkan raganya.
Tak lupa, gadis cantik ini pun mengirim pesan chat pada sang kekasih. Mengucapkan kata cinta dan selamat malam. Mereka juga membuat janji besok bertemu untuk pergi ke butik dan mencari cincin kawin untuk pernikahan mereka.
***
Ke esokan harinya ...
Lena sudah siap dengan baju terbaik dan tas tangan mahalnya. Duduk di ruang tamu sembari menikmati teh sekaligus menunggu sang pujaan hati menjemputnya. tak lupa ia juga terus memantau gawai penghubung antara dirinya dan sang calon imam. Agar tak melewatkan pesan yang dikirim Aldi untuknya. Sungguh cinta yang merekah dengan sempurna.
Lima belas menit kemudian, mobil yang di kendarai Aldi sampai di depan rumah Lena. Dengan sikap gentelmannya, Aldi pun segera turun dari mobil dan menjemput sang kekasih.
Mendengar suara mobil sang kekasih telah dekat, Lena segera keluar rumah untuk menyambut kedatangan pria yang ia nantikan itu.
"Asaalamu'alaikum, calon makmumku!" sapa Aldi, senyum tampan mengembang sempurna di bibirnya.
"Wa‘alaikumsalam, calon Imamku," balas Lena. Saat ini, detik ini, Lena merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Meskipun jujur, ia masih belum percaya ini. Belum percaya cintanya pada Aldi berbalas dengan begitu sempurna.
"Ayo masuk, tante sama om mana ya? Kok nggak kelihatan?" tanya Aldi sambil membukakan pintu untuk Lena. Maksudnya bertanya ia ingin pamit mungkin.
"Oh, mama sama papa lagi keluar kota. Mau ngabarin kalau anak gadisnya ini sudah laku." Lena terkekeh. Aldi ikutan tertawa.
"Bisa aja jawabnya, semoga dilancarkan ya, Dek! " ucap Aldi.
Lena bengong, meskipun hatinya mengamini doa Aldi. Gadis ini tak percaya jika Aldi akan memanggilnya dengan kata mesra, 'Dek' astaga, lagi-lagi Lena merasa tersanjung.
Aldi mulai menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gasnya.
"Kok tersenyum, kenapa?" tanya Aldi.
"Ah, nggak ... suka aja," Jawab Lena dengan kembali tersipu.
"Suka apa hayo!" goda Aldi.
"Mas, panggil Lena adek tadi," jawab Lena jujur.
"I love you!" bisik Aldi. Ingin rasaya Aldi mencium kening gadis disebelahnya ini, tapi dia tahu batasannya. Ia tak ingin melukai harga diri calon istrinya ini. Sungguh perjuangan yang melelahkan. Menahan hasrat memang tak mudah. Aldi tersenyum
"I love you too, calon imamku," balas Lena. Sekali lagi gadis ini tersipu, hatinya seperti dipenuhi bunga-bunga. Lena sungguh bahagia.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di butik langganan keluarga Lena.
"Kita pesen baju pengantinnya di sini, Dek?" tanya Aldi.
"Iya, Mas. Kenapa?" tanya Lena.
"Ah, enggak. Mas takut uang Mas nggak cukup," jawab Aldi jujur.
"Jangan pikirkan itu, Mas. Mama udah bayar kok. Kita tinggal pilih aja," jawab Lena, Aldi menatap bengong.
"Ih nglihatinya gitu amat. Mamaku udah persiapkan semua buat kita," tambah Lena sembari mengelus lengan sang calon suami. Berusaha menengkan Aldi, agar tak merasa direndahkan.
"Jujur, Dek. Mas merasa nggak nyaman," ucap Aldi.
"Nggak apa-apa, Mas. Santai aja, Lena udah cerita semua kok soal Mas ke mama, dan orang tuaku nggak mempermasalahkan pekerjaan, Mas. Makanya mama nyiapin ini semua buat kita. Mari kita nikmati, nanti pasti ada saatnya kita balas kebaikan mereka," ucap Lena dewasa. Aldi semakin rikuh.
"Udah yuk, turun," ajak Lena.
Aldi masih diam, pria ini terlihat tak nyaman. Membuat Lena kembali bertanya.
"Apakah Mas menghawatirkam sesuatu?" tanya Lena.
"Iya, Dek. Sebenarnya Mas ...." Aldi menghentikan ucapannya. Pria ini terlihat gugup.
"Apa, Mas? Bilang aja!" pinta Lena, penasaran dengan apa yang calon suaminya risaukan.
"Sebenarnya, Mas belum punya biaya untuk membeli keperluan pernikahan kita, Dek. Kemarin Mas mengajukan pinjaman di perusahaan tapi nggak di Acc," ucap Aldi dengan wajah muram.
Hati Lena merasa trenyuh, kasihan pada kekasihnya ini.
"Oh, masalah itu!" balas Lena santai.
"Iya, Dek. Masak nanti pas Mas ke rumah kamu nggak bawa apa-apa. Gimana kata keluarga kamu nanti," ucap Aldi lagi.
"Terus, gimana?" tanya Lena.
"Em, boleh nggak kalau Mas pinjam uang kamu dulu. Nanti kalau pinjaman Mas di Acc, pasti langsung Mas kembalikan," jawab Aldi langsung pada maksud hatinya.
Sebenarnya Lena bingung, tapi masak pernikahan yang mereka impikan harus batal gara-gara dana. Lena menganggap ini adalah bentuk perjuangan mereka menuju JannahNya Allah. Apa salahnya meminjami calon suami sendiri uang. 'Kan ini juga demi mereka. Aldi juga bilang bakalan dikembalikan, iya kan?
Tanpa berpikir panjang, Lena pun langsung menhiyakan permintaan Aldi.
"Mas, butuh berapa? Pakai aja uang Lena, Mas!" jawab Lena.
"Kata ibuku kira-kira 30 jutaanlah, Dek," balas Aldi. Lena terkejut, tapi gadis tetap berusaha percaya pada calon suaminya ini.
"Baiklah, Mas. Nanti Lena transfer!" jawab Lena yakin.
Setelah menyelesaikan percakapan sensitif itu, mereka pun turun dari mobil dan memasuki butik tersebut.
Di dalam butik, senyum mengambang sempurna di bibir pemuda tampan itu. Sebab tipu dayanya pada gadis itu telah berjalan sesuai harapan.
Bersambung....
