Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Awal Pertemuan Setelah Perpisahan

Senyum mengembang di bibir ayu itu. Kebahagiaan kini nyata ia rasakan. Sang kekasih hati bersama kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Untuk melamar dan membicarakan perihal pernikahan yang sudah ia dan sang kekasih nanti.

Alena Ayunda nama gadis itu. Gadis keturunan Indo-Jepang ini terlihat begitu bahagia, antusias dan tak sabar menunggu keluarga sang kekasih datang. Meskipun sebenarnya ia gugup.

Aldi Nugraha adalah pria pujaan hati Lena. Pria yang selama ini ia simpan rapi dalam hati. Tanpa berani mengusiknya. Sebab, sebelum mereka memutuskan menjalin kasih, Aldi adalah kekasih Dita, yang tak lain adalah sahabat Lena. Lena gadis yang baik, ia tak mungkin tega menyakiti hati seseorang yang berarti dalam hidupnya.

Dulu, sebelum hubungan Dita dan Aldi berakhir, sedikit pun Lena tak pernah ikut campur urusan mereka. Lena memilih diam. Menyimpan sendiri perasaan yang ia rasakan pada kekasih sahabatnya itu. Sampai pada akhirnya Dita sendiri yang mengumumkan pada khalayak bahwa dia dan Aldi sudah tak lagi punya ikatan cinta. Alias putus, dan kini Dita juga sudah menikah dengan pria pilihannya serta memilih ikut sang suami ke Turki, di mana sang suami berasal.

Meski mempunyai kesempatan untuk mendekati pria itu, Lena tetap tak melakukannya. Ia memilih diam dan menyimpan sendiri perasaannya. Perpisahan sempat terjadi antara Lena dan Aldi. Karena Aldi pindah kerja. Tinggalah Lena sendiri, memendam rasa tanpa berani mengutarakan. Menangis sudah pasti, tapi Lena sadar diri. Tak mungkin baginya untuk mengejar pria yang tak mau melihatnya. Lena berpikir, lebih baik cintanya bertepuk sebelah tangan. Dari pada ia mempermalukan dirinya sendiri. Gadis ini takut, jika ia mengutarakannya ... Aldi akan menolaknya dan Lena tak cukup punya keberanian untuk mengambil resiko tersebut.

Sejak Aldi pindah, tak pernah sekali pun mereka berkomunikasi, apa lagi bertemu, tapi namanya hati tak bisa dibohongi. Diam-diam Lena merindu. Merindukan pria yang selama ini tersimpan rapi di dalam sanubari. Hingga suatu hari mereka dipertemukan lagi di sebuah pesta pernikahan salah satu teman Lena. Gadis ini tak menyangka jika mempelai pria adalah teman Aldi.

Hati Lena seperti mendapat tetesan embun, sejuk bukan main rasanya. Bayangin aja, seseorang yang selama ini ia rindukan, tanpa ada angin, tanpa ada hujan tiba-tiba berdiri tampan di depan matanya. Tetapi sayang ia tak berani menyapa. Lena tampak malu-malu, sampai pada akhirnya teman Lena, yang datang bersamanya menyapa Aldi.

"Hai, Al!" sapa Jani pada Aldi. pria itu menoleh ke arah suara.

"Hai!" balas Aldi. Jani mengulurkan tangannya terlebih dahulu kemudian pria ini pun menyambut uluran tangan itu.

Lena menyapa Aldi dengan senyuman. Pun sebaliknya, Aldi juga membalas sapaan itu dengan senyuman.

"Makin tampan aja, Al!" goda Jani.

"Bisa aja kamu, Jan," balas Aldi.

"Gimana tempat kerja baru, aman?" tanya Jani lagi.

"Aman, Jan. Kalian gimana? Ibu Bos sehat'kah?" tambah Aldi.

"Sehat, Al. Kami agak keteteran ngadepin doi sejak kamu keluar. Doi 'kan sukanya sama kamu." Jani terkekeh.

"Bisa aja kamu, Jan. Jangan gitu ah, jadi berasa tersanjung ni!" Aldi tampak malu-malu.

"Serius Al 'kan kamu memang anak emas doi," Jani masih melanjutkan sanjungannya.

"Astaga Jan, jangan gitu ah. Beliau memang begitu'kan ama siapa aja." Aldi mulai merasa tak nyaman.

"Iya sih," jawab Jani. Sejenak mereka diam, duduk manis dan mulai menikmati hidangan yang telah disajikan oleh pramusaji di pesta itu.

Tak lama, Jani melihat seseorang yang ia kenal. Wanita ini pun berpamitan, meninggalkan Lena dan Aldi berduaan.

"Len, Al, sorry banget ya. Aku tinggal bentar, mau ketemu seseorang! " pinta Jani sambil menunjuk seseorang. Lena dan Aldi pun menghiyakan permintaan itu. Tinggalah sekarang mereka berdua, sibuk menata perasaan masing-masing.

Malu sudah pasti. Perasaan canggung tiba-tiba menjalar hati keduanya. Sampai pada akhirnya Aldi memberanikan diri bertanya pada Lena.

"Kamu apa kabar, Len?" tanya Aldi dengan senyum manisnya.

"Baik, Al. Kamu gimana?" balas Lena.

"Ya ginilah Len, apa baiknya jomblo sejati," jawab Aldi sambil terkekeh. Lena hanya tersenyum.

"Baru juga putus sebulan yang lalu, masak iya udah punya predikat jomblo sejati. Lalu, apa kabar denganku!" timbal Lena dengan candaan seperti biasa.

Aldi tersenyum, Lena pun sama.

"Masak sih Len gadis secantik kamu jomblo," goda Aldi.

"Nggak percaya, kalau aku ada, pasti kubawalah sekarang," jawab Lena jujur.

"Wah, ada kesempatan ni," celetuk Aldi tiba-tiba. Lena hanya melotot tak percaya ke arah Aldi.

"Kenapa?" tanya Aldi heran.

"Nggak," jawab Lena singkat.

"Bener'kan! Kalau kamu jomblo berarti aku ada kesempatan buat deketin kamu," tambah Aldi. Lena kembali menatap pada Aldi.

"Kenapa? Ada yang salah?" desak Aldi.

"Kamu ma becandanya keterlaluan, Al," jawab Lena.

"Loh, kok keterlaluan. Ya enggaklah Len, menurutku wajarlah. Kamu sekarang sendiri aku pun sama. Apa salahnya jika kita berusaha saling memahami? Toh kita udah berteman sejak lama. Kamu tahu aku, aku tahu kamu. Apa salahnya jika kita saling berbagi rasa." Tanpa persetujuan Lena, Aldi langsung mengambil tangan gadis ini dan menggenggamnya. Membuat Lena gugup.

"Kamu yakin, Al. Aku kan nggak cantik," balas Lena.

"Siapa bilang kamu nggak cantik, Len. Bagiku kamu cantik kok, hatimu pun. Kan aku tahu kamu," rayu Aldi.

Lena hanya menjawab rayuan itu dengan senyuman. Jujur Lena masih terbayang kenangan saat Aldi masih menjalin hubungan dengan sahabatnya, Dita.

"Kok diam?" tanya Aldi.

"Nggak aku hanya ngerasa aneh aja, Al!"

"Kenapa?"

"Kita baru aja ketemu, masak kamu udah bilang gitu. Bikin aku salah tingkah aja."

"Jujur Len, sebenarnya hati ini udah lama punya rasa sama kamu. Cuma 'kan nggak mungkin aku nyatain perasaan ini ke kamu. Sedangkan waktu itu, aku masih terikat sama Dita," ucap Aldi mulai berani mengutarakan apa yang ada di hatinya.

"Emang iya?" tanya Lena tak percaya.

"Iya, salah satu penyebab kami putus adalah kami sama-sama memiliki perasaan pada yang lain, Len. Aku punya rasa sama kamu dan dia dengan Ziko. Suaminya saat ini," tambah Aldi, berusaha menyakinkan Lena bahwa dia sudah lama memendam rasa untuk gadis ini.

"Tapi aku nggak ingin pacaran, Al," balas Lena.

"Tak masalah, aku pun tak ingin pacaran. Aku sudah lelah main-main Len, aku ingin seperti mereka, " tambah Aldi sambil menunjuk pengantin yang sedang bersanding di pelaminan.

Lena menunduk malu dan menyembunyikan senyumannya.

Seperti mendapat lampu hijau, Aldi pun kembali mengutarakan keinginan hatinya.

"Kamu mau 'kan memulainya denganku? Menjadi istriku, makmumku dan ibu untuk anak-anakku? " tanya Aldo langsung, sebab ia pun tak ingin basa-basi.

"Aku harus jawab apa, Al. Jujur ini tak pernah kusangka, tapi jika kamu yakin padaku, baiklah ... mari kita bergandengan menuju Jannah-Nya Allah," jawab Lena mantap.

Percakapan di awal pertemuan setelah perpisahan itu sungguh membuat hati mereka berbunga-bunga. Lena dan Aldi sama-sama sepakat untuk membangun impian bersama, dalam ikatan sah pernikahan tanpa pacaran. 

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel