Mencari Solusi
Bingung dengan keadaan ini, Pak Irwan memilih melangkahkan kakinya untuk mencari solusi atas masalah yang saat ini sedang mereka hadapi. Namun, sang istri dengan cepat menghadang langkah kaki sang suami.
"Pa," Hana berlari berusaha mencegah suaminya pergi.
"Apa, Ma? Mama mau belain anak tak tahu diri ini!" hardik Irwan sembari menunjuk ke arah Lena.
"Kenapa Papa bicara seperti itu? Lena itu putri kita, Pa. Kenapa Papa begitu tega? " cecar Ibu Lena.
Bukannya reda, amarah Irwan malah semakin bertambah. Pria ini malah menatap sang istri dengan tatapan penuh kebencian.
"Cukup, Ma. Mama jangan belain dia terus, biarkan gadis bodoh ini berpikir. Harusnya lihat dulu yang bener! diselidiki dulu silsilah keluarganya, baru mau diajak kawin!" bentak Irwan.
"Pa, putri kita juga nggak tahu kalau pria itu bajingan. Jangan menghakimi dia seperti itu, Pa. Kasihan! Andai dia tahu mana mungkin sih, Pa, Lena bakalan jatuh cinta dan ngenalin dia ke kita. Coba Papa pikir baik-baik. Masuk akal nggak!" pinta Hana memohon.
"Kasihan Mama bilang! Lalu apakah dia kasihan pada kita? Kalau sampai pernikahan ini tak terjadi, kita bakalan malu, Ma. Semua gara-gara siapa, dia kan?" Tunjuk Pak Irwan geram.
Lena yang mendengar perkataan sang ayah, ia pun hanya diam, tak menjawab satu kata pun, sebab ia tahu bahwa apa yang katakan orang tuanya adalah benar adanya. Ia memang tidak teliti sebelumnya.
"Iya pa, tapi ini kan musibah," jawab Hana berani. Tentu saja ia tak bisa terima jika semua kesalahan ini dibebankan pada sang putri.
"Kita masih harus bersyukur, Ma. Kita tahu kebobrokkan pria bajingan itu sebelum hari H. Coba banyangkan Ma kalau gadis ini sendirian di pelaminan. Apa kata dunia Ma?" tambah Irwan. Sepertinya pria ini enggan menutupi apapun. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah menyelamatkan nama baik keluarga. Namun, ia lupa, bahwa saat ini hati putrinya sedang hancur-hancurnya.
"Lalu Papa mau pergi ke mana?" tanya Hana.
"Papa harus mencari seseorang yang bisa dibayar untuk menikahi gadis bodoh ini," jawab Irwan spontan.
Ibu Hana dan orang-orang yang ada di situ tentu saja kaget. Tak percaya dengan pemikiran pria ini. Terlebih Lena. Lena sangat tidak menyangka, bahwa orang tuanya akan berpikir semenakutkan itu.
"Pa!" hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Lena.
"Apa!" bentak Irwan kesal. Amarah yang memuncak membuat napasnya terlihat ngos-ngosan.
"Ampuni Lena, Pa. Lena mohon jangan lakukan ini pada Lena. Lena nggak mau nikah sama yang lain!" pinta Lena. Memohon, bahkan gadis ini bersimpuh di kaki papanya.
"Papa nggak butuh penolakan dari kamu, Lena. Keputusan ini tak bisa digangu gugat. Mau ditaruh di mana muka Papa, kalau kamu sampai gagal nikah!" cecar Irwan.
"Enggak, enggak, enggak, Lena nggak mau, Pa!" teriak Lena. Menutup kedua telinganya. Menangis histeris. Namun sayang papanya sama sekali tak peduli
"Pa, istigfar Pa!" pinta Hana memohon.
"Papa pasti isgthifar, Ma, tapi sudah ngga ada waktu lagi. Papa harus segera mencari pengganti pria bajingan itu. Setidaknya bisa menyelamatkan keluarga kita untuk saat ini. Papa akan membayar berapapun yang dia mau," ucap Irwan tegas. Mantap dan tak bisa diganggu gugat.
"Pa, Lena nggak mau!" teriak Lena lagi, tangis gadis itu kembali pecah.
"Lihat saja kalau kamu berani melawan Papa. Kali ini Papa tak akan melepaskanmu. Jangan harap Papa akan mengakuimu sebagai anak kalau kamu sampai berani mempermalukan kami sekali lagi!" ancam Irwan dengan tatapan tegas tentunya.
Lena hanya bisa meneguk kasar ludahnya. Ketakutan kembali menyerang jiwanya. Saat ini ia merasa seperti telur di ujung taduk. Berani gerak, maka semua akan hancur. Lena tak punya pilihan lain selain diam dan mengikuti apa yang orang tuanya inginkan.
"Pa!" Hana masih berusaha meminta belas kasih pada Irwan untuk putrinya.
"Mama tidak usah hawatir, percayalah semua akan baik-baik saja. Mama jaga saja anak kurang ajar inidan percayakan semuanya pada, Papa!” jawab Irwan yakin.
Hana tak mampu lagi mencegah sang suami untuk tidak melakukkan apa yang dia mau. Jujur ia sendiri juga tidak punya solusi untuk masalah ini.
"Papa pergi dulu!" Irwan berpamitan.
Sebenarnya Hana masih tak rela. Ia pun kembali mengikuti langkah sang suami sampai di garasi rumah mereka.
Irwan membuka kasar pintu mobil berwarna silver itu dan Hana pun tak mau kalah. Ia langsung ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah pria itu, masih berniat mencegah sang suami pergi.
"Ngapain Mama ngikuti, Papa?” tanya Irwan.
"Jelasin dulu Papa mau ke mana?" balas Hana.
Irwan diam sesaat. Sepertinya ia sendiri juga masih belum yakin tentang keputusannya ini.
"Kita harus mencari pria pengganti untuk putri kita, Ma," jawab Irwan. Suaranya terdengar lemah, pertanda dia memang ragu.
"Tapi siapa, Pa? Di mana ada orang seperti itu?" tanya Hana khawatir.
Irwan menghela napas dalam-dalam. Terlihat berpikir.
Hana pun sama, ia juga bimbang. Dalam suasana hening itu, tiba-tiba Hana mengingat satu nama. Yang tak lain adalah kariyawan baru mereka di toko.
"Pa," ucap Ibu Hana.
"Ya, Ma."
"Hari itu Bima pinjam uang buat apa ya?" Tanya Hana.
"Bima? Bima siapa Ma?" Irwan malah balik bertanya.
"Bima, sopir toko yang baru, Pa," jawab Hana.
"Oh, dia. Papa nggak tahu dia pinjam buat apa Ma, tapi aneh dia pinjamnya banyak bener," jawab Irwan. Jujur mereka juga heran sebenarnya
"Bagaimana kalau kita minta bantuan dia, Pa? Kalau mama lihat dia santun, Pa,” ucap Hana.
Irwan berpikir sejenak. Lalu, "Boleh deh, Ma," jawab Irwan pasrah.
"Mama telepon ya Pa. Suruh ke sini," tambah Hana.
"Boleh deh, Ma!" Irwan mencoba menimbang solusi.
***
Di dalam rumah, Lena hanya bisa menangis. Menyesali apa yang terlah terjadi padanya.
"Len, jangan begini. Percayalah ini adalah jalan terbaik untukmu. Allah menyelamatkanmu dari pria bajingan itu," ucap Dita mencoba membuat gadis bermata agak sipit ini sadar.
"Kenapa ini terjadi padaku, Ta. Salahku apa?" tanya Lena pada sahabatnya.
"Kamu nggak salah apa-apa, Len. Percayalah Allah tahu yang terbaik untukmu," jawab Dita.
Lena masih belum bisa menghentikan tangisannya. Gadis ini merasa hatinya terasa teremas, sakit. Bukan hanya kecewa ditinggal Aldi, tetapi kata demi kata yang keluar dari mulut sang ayah serasa seperti benda tajam yang menghujam jantungnya. Ngilu sekali rasanya. Lena hanya bisa memejamkan matanya. Menahan sakit yang merengkuh jiwanya.
Tangisan gadis itu semakin lama semakin tak terdengar. Tenaga yang ia miliki seakan telah terkuras habis oleh emosi yang terus memeras pikirannya.
Lena takut, sungguh takut.
Aldi, pria yang sangat ia cintai saja berani mengkhianatinya. Lalu, bagaimana dengan suami penggantinya nanti? Mungkinkah pria itu bisa lebih baik dari Aldi. Atau kan pria itu akan berlaku sebrengsek pria yang kini menipunya.
Bersambung...
