Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Hancurnya Hati Lena

Pak Irwan masih mencoba menghubungi Aldi dan keluarganya, tetapi hasilnya nihil. Nomor yang mereka berikan hari itu, tidak ada yang aktif satu pun. Termasuk nomer milik Aldi sediri. Pak Irwan mulai resah, khawatir dan terlihat beberapa kali ia mendengkus kesal.

"Bagaimana, Pa?" tanya Ibu Hana.

"Belum ada jawaban, Ma! Sepertinya kita memang tertipu!" jawab pria paruh baya itu.

Keresahan semakin terasa di sini. Pak Irwan seperti kebakaran jenggot. Bagaimana tidak? Semua sudah siap. Bahkan undangan sudah tersebar. Tetapi, pengantin pria malah tak bisa dihubungi.

Tak kehilangan akal, pria paruh baya ini pun juga berusaha menghubungi beberapa rekan kerjanya. Berniat meminta bantuan untuk melacak keberadaan pria yang telah menipu putri semata wayangnya.

"Gimana, Pa! Mama takut sekali!" Bu Hana terlihat meremas jari-jarinya. Tentu saja ia ketakutan. Tak dipungkiri bahwa pikiran buruk kini sedang menghantuinya.

Tak lama kemudian, terdengar suara ponsel Lena berdering. Sebuah pesan teks tengah Lena terima. Dengan segera gadis itu pun membaca isi pesan teks itu.

Betapa terkejutnya gadis ini.

Pesan teks itu berasal dari pria yang ia cari dan tunggu-tunggu kabarnya. Lena tertegun lemas dan menjatuhkan ponselnya setelah membaca pesan itu.

Dita langsung tanggap. Ia pun mengambil ponsel itu dan segera membacanya. Dita tak kalah terperanjat. Wanita dewasa ini ikut tak percaya. Sebab, kabar yang ia bawa kini menjadi kenyataan.

"Om," ucap Dita sambil menyerahkan ponsel yang ia pegang itu pada orang tua Lena dan pak Irwan segera membaca pesan tersebut. Pesan yang membuat putrinya lemas.

"Brengsek, berani sekali dia bermain api dengan keluarga kita," ucap Pak Irwan pelan. Meski pelan, nada dari suara itu tak mengurangi amarahnya. Pria paruh baya ini diam sesaat, berpikir, mencoba mencari solusi terbaik. Keresahan dan kekhawatiran kembali hadir di hati Pak Irwan. Karena kegagalan pernikahan ini bukan lagi hanya sebatas angan, tetapi telah menjadi kenyataan.

Yang itu artinya, kegagalan pernikahan ini akan menjadi aib seumur hidup bagi keluarga besarnya.

"Ya Tuhan, hukuman apa ini?" tanya Pak Irwan takut.

Bu Hana yang saat ini berada di samping sang suami, tentu saja ikut gemetar tak karuan.

Di sini yang khawatir bukan hanya Irwan. Dita dan sang suami juga terlihat gusar.

Apa lagi Lena, gadis ini sudah tak mampu lagi berucap. Pikirannya semrawut tak karuan. Mimpi untuk menjadi ratu semalam dan seorang istri agaknya tidak akan menjadi kenyataan.

Ibu Hana beranjak dari duduknya dan menghampiri sang suami. “Bagaimana ini, Pa?” tanyanya lagi, gugup.

“Belum tahu, Ma.” Irwan masih berusaha menghubungi Aldi lewat nomer yang barusan mengirim pesan teks tersebut. Sayangnya usaha beliau gagal. Nomer itu tiba-tiba tak aktif, alias dimatikan.

“Lena, selain nomer ini, apakah Aldi memiliki nomor lain?” tanya Irwan. Lena hanya menggeleng.

“Dita, kamu kan udah lama kenal sama Aldi. Selain apartemen yang di Pluit itu, apakah dia punya tempat tinggal lain?” tanya Irwan.

“Apartemen Pluit? Saya malah nggak tahu Om kalau soal itu. Setahu saya rumah dia ada di daerah Cilandak situ, dekat Trakindo,” jawab Dita sesuai apa yang ia tahu. Kedua orang tua Lena saling mentap, tentu saja keduanya terkejut. Apa lagi Lena, gadis ini diam seribu bahasa sembari menahan tangis.

“Sabar ya, Len,”ucap Dita berusaha memberikan kekuatan pada sahabatnya ini.

“Aku takut, Ta,” jawab Lena lirih.

“Kita coba cari dia, Len. Semoga dia masih di Jakarta. Belum kabur keman-mana,” ucap Dita menguatkan.

“Aamiin, Ta,” jawab Lena pelan.

“Kalau pun dia datang, Papa nggak akan pernah mengizinkan pria penipu itu menikahimu, Lena!” ucap Irwan dengan nada tinggi.

“Tapi Lena cinta sama Mas Al, Pa!” jawab Lena berusaha mengungkapkan isi hatinya.

"Cinta kamu bilang!" bentak Pak Irwan.

"Pa, sabar dulu. Lena juga shock, Pa!" Pinta Hana, berusaha menenangkan suaminya.

"Bagaimana Papa bisa sabar, Ma. Kamu lihat aja itu putrimu. Sudah tahu pria itu bajingan, bilangnya cinta-cinta. Makan tu cinta!" Emosi Pak Irwan mulai tak terkendali. Amarahnya telah sampai ke puncak, percuma dilawan. Diam adalah cara terbaik meredam keadaan ini.

"Ampun, Pa! Maafin Lena! " ucap Lena memohon. Bersujud di kaki papanya.

"Seperti ini laki-laki pilihanmu! " hardik Irwan kesal. Lena hanya menangis.

Bingung harus menjawab apa. Karena pada dasarnya dia memang bersalah.

“Apakah Dita masih ingat alamatnya? biar Om suruh seseorang buat nyamperin ke sana,” ucap Irwan. Segera Dita mengambil secarik kertas dan bolpoin untuk menuliskan alamat Aldi yang ia ketahui.

"Ini Om," ucap Dita sambil menyerahkan secarik kertas itu. Irwan langsung mengambil kertas itu dan membacanya.

"Ma, jaga gadis bodoh ini. Papa pergi dulu, jangan biarkan dia ke mana-mana! " pinta Irwan. Hana hanya menatap bingung.

"Papa mau kemana?" tanya Hana.

"Pernikahan ini harus tetap terlaksana 'kan,!" jawab Irwan. Jujur Lena dan ibunya tak paham dengan maksud ucapan pria paruh baya tersebut.

"Maksud Papa, apa?" tanya Lena dengan wajah bingung.

"Maksud apa? Sudah cukup keluarga ini malu karena ulahmu, Lena. Mama dan Papa sudah cukup dihujat, memiliki anak yang tak laku-laku sepertimu!” ucap Irwan lantang.

Lena diam tertegun, bergeming, mulut gadis ini tertutup rapat. Tenggorokannya kering seketika. Kata yang hendak ia ucapkan serasa hilang entah kemana.

Lena sungguh tak menyangka jika pria yang ia kagumi selama ini tega berucap kasar padanya. Hanya karena kesalahan yang tak ia sengaja.

Lena tak mampu lagi menopang tubuhnya. Kakinya lemas. Tubuhnya gemetar.

Ucapan sang papa ternyata mampu membuat hati Lena tergores. Luka yang dirasakan gadis ini menjadi bertambah. Karena sang calon suami yang pergi dan ucapan sang ayah yang mengebu penuh racun. Hati Lena patah, jika dibandingkan, rasa ditinggalkan Aldi tak separah ucapan yang dilontarkan sang ayah. Ucapan itu seperti belati yang menghujam jantungnya, berkali-kali. Sakit, perih dan entahlah. Lena tak bisa menjabarkan rasa itu. Yang jelas, Lena tak menyangka jika papanya tega berkata bahwa dirinya adalah anak yang selalu membuat malu karena tak laku-laku.

Lena melangkahkan kakinya, meninggalkan ruang tamu itu. Ruangan itu seperti penjara, tempat penyiksaan batin baginya.

Bagaimana tidak? Ia menerima kabar menakutkan di tempat itu. Lalu, sekarang, sang ayah yang ia segani tega menggores hatinya.

Lalu ia harus apa, selain menerima perlakuan tidak adil itu. Sungguh, Lena seperti berjalan di atas bara api. Perih panas sekali rasanya.

Di lain pihak, Pak Irwan dan Ibu Hana tak tau harus berbuat apa. Masalah yang mereka hadapi saat ini sungguh seperti petir di siang bolong.

Tak pernah mereka sangka. Tak pernah mereka duga.

Tangis perih hati sampai tak mampu mereka keluarkan. Hanya sumpah serapah dari kekecewaan itu, penghias bibir mereka saat ini

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel