Pasrah
Dita membawa Lena masuk ke dalam kamar atas perintah Irwan. "Len udah jangan nangis terus!" pinta Dita.
"Percayalah Len, ini adalah ujian dari Allah. Kamu pasti bisa!" ucap Dita memberi semangat.
"Aku nggak nyangka aja, Ta. Kenapa Mas Al begitu tega. Aku sungguh nggak ngerti. Aku sungguh nggak tahu kalau dia begitu!" ucap Lena, kesedihan tampak jelas di wajah ayu itu.
"Iya, Len aku paham. Cuma aku menyayangkan, kenapa kamu nggak nanya dulu sama aku, Len? Kenapa kamu main iya aja di ajak nikah?" tanya Dita heran.
"Aku nggak kepikiran sampai sana, Ta. Yang aku tahu dia baik, dia sopan. Kamu tahu kan tutur katanya juga lembut. Aku mana tau kalo dia penipu," jawab Lena jujur, sesuai dengan penilaiannya selama ini.
"Padahal itu semua palsu, Len. Harusnya kamu tanya-tanya dulu, Len. Kan temen kita banyak yang paham Aldi orangnya gimana!" tambah Dita.
"Aku nggak tau, Ta. Sungguh, aku nggak kepikiran ke sana!"
"Kenapa kamu nggak ngajak pacaran dulu gitu, Len? Saling mengenal?" tanya Dita lagi. Penasaran, ingin tahu kenapa Lena langsung mau aja diajak nikah?
"Kamu kan tahu, Ta. Aku udah umur. Terus terang aku nggak mau pacaran. Aku nggak ingin terlalu menanggung dosa, Ta," jawab Lena jujur. Kini, Dita mengerti dan paham maksud sahabatnya. Wanita cantik ini pun melanjutkan pertanyaaannya.
"Mohon maaf, Len. Memangnya kalian ketemu di mana? Bukankah dia udah pindah kerja 'kan? "
"Iya, Ta. Dia emang udah nggak kerja di tempat kita lagi. Kami ketemu di pernikahan Kalila dan Revan," jawab Lena jujur.
"Berarti belum lama dong?" tambah Dita.
"Ya, kira-kira dua minggu yang lalu." Lena mengusap kasar air mukanya. Sepertinya Lena mulai bisa berpikir jernih. Gadis ini juga sedikit lebih tenang dari pada tadi.
"Lena ... sungguh aku ikut menyesal akan masalahmu ini. Kita beneran bernasib sama Len. Dipermainkan oleh laki-laki yang sama," ucap Dita.
Suasana hening sejenak. Tiba-tiba Lena kembali menangis.
"Sudah, Len. Jangan nangis terus!" ucap Dita sambil mengelus punggung Lena.
"Aku bukan hanya sedih akan penghianatan Mas Al, Ta. Tetapi juga karena ...." Lena menghentikan ucapannya. Jujur rasanya tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Sebab, rasa sakit tiba-tiba menyerang sanubarinya.
"Karena apa Len?" tanya Dita
"Karena ... orang tuaku, Ta. Kenapa papa tega bilang begitu ya?" Gadis cantik ini kembali terisak.
"Sabar, Len. Papamu sedang emosi. Mengertilah!" pinta Dita lagi. Sesekali wanita ini juga mengusap punggung sang sahabat.
"Aku tahu, Ta. Beliau memang emosi, tapi pantaskan seorang ayah mengeluarkan kata-kata tak pantas seperti itu. Bukan aku tak ingin menikah! Aku pun ingin menikah! Tetapi Allah belum mengirimkan jodoh untukku," ucap Lena. Sungguh ucapan Lena menyayat hati.
"Sabar ya, Len. Jujur aku nggak tahu kalau semua bakal kisruh seperti ini. Sebagai sahabat aku hanya nggak ingin kamu jatuh pada orang yang salah. Aku ingin kamu bersama orang yang tepat, Len. Demi Allah," balas Dita. Mereka saling menatap sekilas.
Lena meremas ujung bajunya, ia tahu jika Dita tak mungkin berbohong.
"Mungkin Allah telah menghukumku karena menghianatimu, Ta." Lena kembali menangis.
"Nggak, Len. Jangan bicara begitu! Kamu nggak pernah menghianati persahabatan kita. Kamu memendam perasaanmu sendiri. Kamu nggak pernah mengganggu hubunganku dengan Aldi waktu itu," balas Dita sambil memeluk Lena.
"Lalu? Kenapa Allah menghukumku seperti ini, Ta?" lagi-lagi Lena mengeluarkan pertanyaan bodohnya.
"Ini musibah, La. Allah tidak sedang menghukummu. Allah malah menyelamatkanmu!" jawab Dita, berusaha mengubah pemikiran kolot Lena.
"Entahlah, Ta." Lena mulai tak bisa mengendalikan perasaanya lagi. Penyesalan demi penyesalan iki mengukungnya. Sampaj bernapas pun terasa amat sesak.
"Kamu nggak sepenuhnya salah, Len. Hanya saja kamu jatuh cinta pada orang yang kurang tepat," tambah Dita. Lena menghentikan tangisannya, dan menatap Dita. Menatap mata sahabatnya itu, mencari kebenaran di sana.
"Entahlah, Ta!" Lagi-lagi hanya kata itu yang mampu Lena ucapkan.
"Sebenarnya kita senasib Len. Kita sama-sama jatuh cinta pada orang yang salah dan Allah menyelamatkam kita berdua, Len. Walaupun dengan cara yang berbeda. Percayalah Len, ini adalah cara Allah menyelamatkanmu. Tolong percaya dan yakini itu," tambah Dita, tiba-tiba Dita tersenyum. Ternyata dalam hati wanita ini sedang menertawakan kebodohannya. Sebab, ia sendiri juga bisa tertipu oleh sikap lembut Aldi. Sikap palsu pria bangsat itu.
"Apa kamu yakin, Ta. Kamu tak menganggapku bodoh?" tanya Lena memastikan.
"Jujur Len, kamu sedikit bodoh. Harusnya kamu waspada. Harusnya kamu tanya dulu padaku, kenapa hubungan kami berakhir?" jawab Dita jujur.
"Kamu benar, Ta. Harusnya aku menghubungi kamu dan mencari kebenarannya dulu. Maaf Ta, aku kira dia pria baik," balas Lena. Lena tersenyum kecut.
"Len, boleh aku tanya sekali lagi?" tanya Dita.
"Tanya aja, Ta."
"Emmm, sejak kapan jatuh cinta sama Al? Maksudku suka sama Al?" tanya Dita ragu.
"Sejak kamu kenalin dia ke aku, Ta. Maaf!" jawab Lena jujur.
Dita tersenyum, tapi juga kasihan pada sahabatnya ini. Wanita ini mengerti kenapa Lena langsung mau diajak menikah. Ternyata sahabatnya ini sudah lama suka sama Aldi. Lena sudah lama menantikan cinta dari pria ini. Sayangnya, penantian Lena sia-sia. Lena menantikan pria yang salah.
"Len, jika papamu meminta kamu menikah dengan pria pilihannya. Bagaimana?" tanya Dita tiba-tiba. Tak menutup kemungkinana, bukan? Kalau Pak Irwan akan mencari pengganti Aldi. Mereka tak mungkin sangup menanggung malu. Mengingat keluarga Lena bukan keluarga biasa.
"Tak ada pilihan lain, Ta. Aku pasrah!" jawab Lena pelan.
Dita diam, tapi wanita ini berharap, kedua orang tua Lena menemukan pria yang baik untuk sahabatnya ini.
"Aku senang dengan jawabanmu, Len. Aku yakin, keikhlasan mu menerima perjodohan ini, Insya Allah malah akan membawamu pada kebahagiaan. Cinta itu rumit, Len. Siapa tahu, setelah kalian hidup bersama, sering bertemu, lalu saling mengenal, pasti akan tumbuh rasa cinta. Aku sih berharap, pria pilihan orang tuamu ini akan jauh lebih baik di banding Aldi. Oke!" ucap Dita, penuh harap.
"Aamiin, Ta. Insya Allah!" jawab Lena, di selingi senyum yang tidak dipungkiri bahwa senyuman itu mengandung rasa sakit yang kini membelenggunya.
Dita sangat tahu itu. Tetapi ia juga tak mau terus menekan sang sahabat. Dita berharap, Lena bisa seikhlas senyumannya.
"Len, apa kamu tahu?" tanya Dita.
"Tau apa?"
"Sebenarnya Aldi punya seorang kakak?"
"Tidak!"
"Dulu kakaknya di Bekasi, tapi sekarang entah. Kabar terakhir aku dengar kakaknya itu ditipu juga sama Aldi. Dia bersekongkol dengan kakak iparnya. Mencuri aset kakak kandungnya. Lalu menggadaikan ke bank. Tanpa sepengetahuan kakaknya. Ini kakaknya sendiri lo, Len. Parah nggak tu?" Dita terlihat geram.
Lena menghapus air matanya. Menatap penasaran pada sang sahabat.
"Serius, Ta?"
"He em!"
"Sttt, jangan keras-keras. Nanti takut papa mama dengar!"
"Iya, sebenarnya tadi aku mau cerita, tapi aku takut orang tuamu makin murka."
"Kamu tau dari mana cerita itu?" tanya Lena, semakin penasaran.
"Aku udah tau lama, cuma masak iya aku nanyain dia. Secara dia bukan pacarku lagi Aku ogah ikut campur, Len."
"Astaga! Kenapa dia bisa setega itu? Aku nggak nyangka, sungguh!" ucap Lena.
"Makanya, harusnya kamu senang dia cuma makan uang kamu 30 juta. Bayangin kalo kamu jadi nikah sama dia. Lebih ngeri lagi kan? Nggak menutup kemungkinan, kedua orang tua kamu juga bakalan kena Len?" ucap Dita lagi.
Benar juga kata Dita. Lena masih belum sepenuhnya memahami apa yang sahabatnya sampaikan. Tetapi Dita benar, ia masih beruntung tidak jadi menikah dengan bajingan itu. Setidaknya, hanya dirinya yang ditipu. Kedua orang tuanya mqsih selamat dari rubah berwujud manusia itu.
Bersambung..
