Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kabar Mengejutkan

Tak terasa hari pernikahan semakin dekat. Sehari lagi akad nikah akan digelar. Undangan sudah disebar. Halaman rumah dihias sedemikian rupa. Pelaminan sederhana sudah siap. Tempat untuk melaksanakan janji suci juga telah tertata dengan semestinya. Kursi-kursi untuk keluarga besar yang akan menjadi saksi juga telah berbaris rapi. Rasanya indah sekali melihat pemandangan seperti itu.

Lena berjalan melintasi setiap sudut halaman rumah. Hampir di setiap sisi halaman rumah itu di hiasi bunga-bunga yang didominasi warna putih. Sesuai dengan warna kesukaan Lena.

Semua terasa sangat berbeda. Sungguh hatinya tak sabar menunggu matahari tenggelam dan kembali terbit, membawa calon imannya mendekat padanya. Kerlingan mata Lena mencerminkan betapa ia mendambakan pernikahan ini. Pernikahan yang menjadi impiannya selama ini.

Beberapa kali terlihat Lena mencium dan menghirup aroma bunga-bunga itu.

Aromanya sungguh menenangkan jiwa. Kebahagiaan Lena tak cukup sampai di situ. Ia juga menyaksikan kamar pribadinya dirapikan, dihias dengan bunga dan lampu-lampu warna-warni. Karena ini memang permintaan Lena. Ia ingin malam pengantinnya di rumah saja. Baru, keesokan harinya setelah acara resepsi di gedung yang telah orang tuanya pesan, ia dan sang suami bisa menginap di hotel. Sesuai dengan apa yang telah di sepakati.

Senyum Lena kembali mengembang dengan sempurna, saat melihat kedua orang tuanya ada di sekitar kerumunan tim yang tengah bertugas mendekor pelaminan sederhana itu.

"Ma, Pa!" sapa Lena. Kedua orang tua Lena pun menoleh ke arah sang calon pengantin.

"Hai, gimana Sayang? Kamu suka?" tanya Ibu Hana dengan senyum semringahnya.

"Suka, Ma. Pilihan Mama emang top," jawab Lena.

"Duh, putri Papa udah mau diambil orang," canda Pak Irwan.

"Emmmm, Papa," balas Lena manja.

"Nanti kalau udah jadi istri yang baik. Nggak boleh nyakitin perasaan suami loh. Apa-apa harus dibicarakan. Kayak Mama sama Papa gini. Lena ngerti 'kan maksud Mama!" ucap Bu Hana tegas. Nasehat yang sangat baik dan itulah yang Lena butuhkan saat ini.

"Iya, Ma. Lena paham, tujuan Lena menikah kan biar mendapat ridhonya Allah, Ma," jawab Lena, dengan seyum terbaiknya pula.

"Kamu memang putri sholehahnya Mama, Sayang. Mama yakin kamu pasti bisa jadi istri yang baik dan bisa menjaga nama baik suami." Tak terasa air mata Hana menetes begitu saja. Masih ada rasa tak rela, putri kecil yang dulu ditimangnya. Kini akan menjadi istri orang.

Melihat mamanya menangis, Lena pun langsung memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang.

"Insya Allah, Lena akan jadi istri yang baik, Ma," jawab Lena sembari menghapus air mata harunya.

Sayangnya percakapan penuh kebahagiaan itu terhenti. Sebab ada kedatangan seorang. Sahabat lama Lena yang tak lain adalah Dita dan suaminya.

"Asaalamu'alaikum!" sapa Dita.

"Wa‘alaikumsalam," jawab Mereka serempak. Lena dan kedua orang tuanya langsung menoleh dan berjalan menghampiri orang yang sudah mereka kenal itu.

"Dita, kapan datang?" tanya Lena, seraya menghampur kepelukan sahabatnya.

Dita pun menyambut pelukannya sahabatnya itu dengan pelukan hangatnya.

"Kemarin Say, Marteen ada kerjaan di Jakarta. Jadi aku ngikut, mau jenguk orang tua," jawab Dita. Mereka pun melepaskan pelukan dan Dita bergantian menyapa kedua orang tua Lena.

"Apa kabar Tan, Om?" tanya Dita sambil memeluk serta menjabat tangan kedua orang tua Lena secara bergantian.

"Baik, Sayang. Kamu gimana? Betah di Turki? " balas Ibu Hana.

"Betahlah, Tan. Kan ada bebeb," jawab Dita malu-malu. Marten sang suami juga tersenyum malu.

"Kok mau nikah nggak ngabarin?" tanya Dita.

"Maaf, Ta. Bukanya aku nggak mau ngabarin kamu, tapi Mas Al nggak nyaman katanya. Tahu 'kan. Kalian pernah ada hubungan. Sebenarnya kalau untukku pribadi sih nggak masalah. Cuma ya sudahlah, lagian kamu kan jauh," jawab Lena jujur apa adanya.

"Kalau tadi pagi nggak ketemu Jani, mungkin aku nggak bakalan tahu loh, serius. Emmm ... Len, bisa kita bicara, ini penting Len!" pinta Dita.

Lena menoleh ke arah kedua orang tuanya, bermaksud meminta persetujuan.

Bu Hana dan Pak Irwan mengangguk, mengiyakan permintaan Dita. Mereka pun mengajak Dita dan suaminya masuk ke dalam rumah untuk berbincang.

"Duduk, Len. Mr. silakan duduk!" pinta Lena pada kedua tamunya.

"Makasih, Len." Dita dan suaminya pun duduk. Begitu juga Lena dan kedua orang tuanya.

"Sebelumnya aku minta maaf, Len. Bukan maksud hati untuk menghalangi pernikahan kamu dengan dia Len, tapi alangkah baiknya kamu tahu siapa Aldi dan keluarga palsunya itu," ucap Dita.

Tentu saja ucapan Dita membuat Lena dan ke dua orang tuanya terkejut. Mereka saling pandang tak percaya.

"Apa maksud kamu, Ta? Kita kan sahabat masak kamu tega ngefitnah calon suami aku," jawab Lena, bibirnya gemetar, mata Lena berkaca-kaca.

"Demi Tuhan, Len. Aku bukan orang seperti itu. Tante, Om sungguh saya tak mempunyai niat buruk. Justru karena tadi pagi aku ketemu sama Jani di mini market yang biasa kita deket gang itu, Len. Terus kami berbincang sebentar, dia kasih lihat undangan pernikahan kamu sama Al. Aku kanget, terus terang aku nggak percaya Len. Kok bisa-bisanya kamu sama dia. Sedangkan aku ninggalin dia 'kan pasti ada alasannya," ucap Dita sungguh sungguh.

"Dia cuma bilang kalian selalu beda pendapat, Ta. Nggak lain," jawab Lena hampir terisak.

Dita beranjak dari duduknya dan mendekati Lena.

"Sebenarnya bukan itu masalah aku putus ama dia, Len. Dia itu parasit," jawab Dita jujur. Lena terkejut, menatap tak percaya ke arah sahabatnya.

"Maksud kamu apa, Ta?" tanya Lena, bibir gadis ini gemetar. Pikirannya bercampur aduk. Seperti ada yang tak beres.

"Dia sering meminjam uang, Len. Alasanya keluarganya sakit lah, ibunya mau operasi. Adeknya mau bayar sekolah, pokoknya macem-macem, Len. Dan kurang ajarnya nggak pernah mau balikin. Yang bikin aku marah besar dan mutusin dia adalah ... pada kenyataannya dia itu duda dua anak, Len." Sungguh ucapan Dita kali ini sukses membuat Lena gemetar, shock, bingung dan tak tahu harus ngomong apa. Mengingat beberapa hari yang lalu, Aldi juga meminjam uang padanya senilai tiga puluh juta dengan alasan untuk membeli keperluan pernikahan mereka.

"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan, Nak?" tanya Ibu Hana masih berusaha menahan amarahnya.

"Saya yakin, Tan. Lihatlah ini Tan, foto-foto Aldi sama mantan istri dan juga anak-anaknya. Chat Dita sama dia pas pinjam uang juga belum Dita hapus, sebagai bukti kalau suatu hari nanti dia mengelak akan perbuatan kotornya tersebut, " jawab Dita sambil menyerahkan ponselanya pada kedua orang tua Lena.

Lena hanya bisa menangis pasrah. Sedangkan kedua orang tuanya memeriksa dan membaca pesan teks antara Dita dan Aldi.

"Brengsek!" umpat Irwan kesal. Wajah pria paruh baya ini memerah menahan emosi

Pikiran Lena semakin kalut. Orang tuanya marah dan ia tak punya alasan untuk mencegahnya.

"Hubungi anak kurang ajar itu sekarang, Pa!" pinta Ibu Hana dengan amarah yang mulai ikut keluar.

Pak Irwan segera menghubungi Aldi. Sayangnya ponselnya tak aktif, membuat pria ini naik pitam. Kecurigaannya semakin menjadi.

"Lena, Papa tanya! Apakah dia pernah meminjam uang sama kamu?" tanya Pak Irwan dengan nada mulai meninggi.

Lena menghapus air matanya, kemudian dia pun menjawab pertanyaan itu dengan rasa takut yang luar bisa.

"Ada, Pa. Pas mau fitting baju, dia pinjam 30 juta," ucap Lena dengan bibir gemetar. Jawaban Lena tentu saja membuat orang tua beserta sahabatnya terkejut. Pak Irwan dan Ibu Hana saling menatap. Rasa kesal atas kecerobohan putrinya makin bertambah.

"Kenapa kamu begitu bodoh, Lena!" bentak Pak Irwan.

"Lena nggak tahu kalau dia begitu, Pa," jawab Lena jujur.

Pak Irwan dan istrinya diam. Mereka semua diam. Begelut dengan pikiran masing-masing. Jujur kabar yang dibawa Dita sukses membuat perasaan Lena dan keluarganya hancur. Namun sekali lagi, tujuan Dita datang ke sini hanyalah memberi tahu Lena dan keluarganya. Agar tidak terbujuk oleh rayuan dan sikap lembut Aldi yang ternyata adalag seorang penipu ulung. Dita mengelus pundak Lena. Berusaha menenangkan perasaan sang sahabat. Walaupun pada kenyataannya sikapnya ini tak berpengaruh sedikitpun pada Lena. Gadis ini tak sanggup lagi berpikir. Ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah membuat dirinya sendiri rugi. Fatalnya adalah kedua orang tuanya akan sangat malu, jika pernikahan ini gagal.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel