Bab 4 Jajan
Sudah empat hari berlalu sejak duitku jual kambing habis diembat Tiara, tetapi kekesalanku belum juga hilang. Sifat boros Tiara terlalu barbar. Kalau dia tak juga berubah, bisa-bisa aku nambah istri lagi. Eh ....
"Bang, bangun!" Tiara menggoyang-goyangkan badanku yang gemuknya bikin oleng timbangan.
Sebenarnya aku sudah tersadar sedari tadi, tetapi berpura-pura masih tidur. Sengaja. Sesekali mau merajuk biar dibujuk. Masa iya dia melulu yang ngambek. Aku pun bisa.
"Bang, bangun!" katanya lagi dengan suara yang lebih keras. "Shalat Subuh. Adek tau Abang udah bangun."
Tapi, aku tak peduli dengan setiap kata yang dia ucapkan. Aku bergeming. Tetap lanjut berpura-pura tidur dengan terus memejamkan mata. Biarpun dia terus menggoyangkan badanku, aku takkan bangun dan menanggapi. Rasain, emangnya enak dicuekin?
"Kalo nggak mau bangun buat Subuh, Adek cari suami lain. Buat apa punya suami yang nggak ingat Allah," ancamnya kemudian.
Aku tersentak kaget mendengarnya. Ancaman macam apa itu? Anehnya, tubuh ini langsung bergerak sendiri, bergegas bangkit. Lalu, tanpa basa-basi, kutinggalkan dia yang sedang duduk di ranjang belah tepi. Lebih baik aku segera mandi dan bersujud menghadap Illahi.
***
Ketika kami selesai berdoa, Tiara mendadak bertanya dengan suara mendayu manja. Suara yang konon mampu merubuhkan hati setiap pria. "Abang masih marah?"
Aku menjawab lewat gumaman pelan seraya membuang muka dengan sombong. Pertanyaannya itu kubiarkan menguap hilang, seperti janji manis mantan. Lalu, aku bergegas ke ruang tamu, duduk di sofa.
Saat asyik mengusap naik-turun layar hape, sebuah postingan dari Sella muncul tak terduga. Beli lima gratis satu, begitu bunyi postingannya. Hmmm, menarik.
Tiara datang membawakanku segelas kopi panas, yang kemudian dia letakkan di atas meja. Setelahnya, langsung berlalu pergi. Mungkin mau berberes rumah.
Kulirik sekilas kopi buatannya itu. Ciiih ... dipikirnya aku bakalan luluh hanya karena segelas air minum. Sorry, yah, aku nggak segampangan itu. Ipit kali, nih.
"Beneran gratis satu, Sel?" Kukirim pesan pada Sella lewat aplikasi.
"Bener, tapi beli lima," balasnya kemudian.
"Itemnya harus sama atau boleh beda?"
"Boleh beda."
Mantap kalau begitu, jadi aku bisa mencoba satu-satu makanan yang dijual tadi. Masalahnya adalah kalo beli lima, kebanyakan buat aku sendiri. Si Tiara tidak usah dibelikan. Biar saja dia. Siapa suruh boros, menghabiskan duit suami.
Kulihat satu per satu gambar makanan yang Sella jual. Ada korket kerja paksa, mie tiaw reunian, sayur asam asin, ayam goreng kejepit, risoles jago ngeles, tauge pok ame-ame, sop ketela curiga, pempek tenggiri, bitter molen keju, dan masih banyak lagi. Kesemuanya tampak lezat.
Muncul ide di kepala. Kutawarkan saja pada teman yang lain. Harganya naik sedikit. Dengan begitu, aku membeli sisanya dengan lebih murah.
Angga dan Andi kujadikan korban. Setelah kutawarkan, keduanya setuju untuk membeli. Angga memesan dua mie tiaw reunian. Sedangkan si Andi, memesan ayam goreng kejepit dan sop ketela curiga. Cakep!
"Sel, pesan mie tiaw reunian, dua. Lalu, satu ayam goreng kejepit, satu pempek tenggiri, Terakhir, sop ketela curiga, satu. Berapa semua Sel?"
Begitulah bunyi pesan yang kukirimkan kepada Sella. Selang beberapa jenak, balasannya muncul.
"Oke, di-copy."
"60 10 = 70." Bunyi pesannya yang kedua. Tepat dua menit setelah pesan pertama.
"Yang 10 apaan, Sel?"
"Ongkir."
"Masak keluarga pakai ongkir?"
Aneh-aneh saja si Sella. Bukannya kami masih hitungannya keluarga. Masak dengan keluarga sendiri perhitungan. Pelit amat.
"Oi, Jigong T-rex! Kau pikir dari Sungai Rengas ke Sungai Jawi, motor aku pakai air hujan?"
"Baaaah ... diskon, lah, dikit." Aku menawar.
"Dah, bayar aja 65."
"Sip ... terus bonusnya apaan? Aku minta bitter molen keju, ya," pintaku lewat pesan.
"Milih pula, tuh."
"Please-lah, kan keluarga," rayuku.
"Ah, kau ngaku keluarga pas perlu aja. Okelah, jam 9 nanti aku antar."
"Abis Isya aja Sel."
Dia mengakhiri pesan dengan emot yang menyatakan 'OK'.
Karena masih lama makanan datang, lebih baik aku berjalan-jalan pagi sekitar rumah. Kain kuganti dengan celana training panjang. Baju koko kutukar dengan baju bola Inter. Lalu cuuus, berjogging ria sambil cuci mata.
Pas mau keluar, tak sengaja aku melihat kopi di atas meja yang tadi enggan kusentuh. Aku tersenyum. Lalu, sruputlah sudah. Sayang kalau tak diminum, mubazir. Kopi sama gula kan belinya pakai duit, bukan pakai daun kelor.
********
Segar juga rasanya jalan-jalan pagi di kampung. Udaranya masih adem. Namun, jangan coba-coba ke luar rumah kalau sudah agak siangan sedikit. Pontianak panas luar biasa. Saking panasnya, kalau ada yang letak telur mentah di luar, terus ditinggal sebentar, balik-balik pasti sudah jadi anak ayam. Ajaib, kan?
Aku ikut berbaur dengan komplotan janda-janda muda yang berkumpul di lapangan voli untuk latihan senam diiringi musik india bernada koplo. Enak, enak, joosss! Sesekali mataku nakal mencuri pandang. Lumayan buat penyegaran.
Seusai senam, janda-janda muda itu mulai berbicang hangat. Mulanya, mereka membahas mengapa harga terong meroket. Lalu, beralih ke pembahasan politik. Dan akhirnya beralih ke topik awal, yaitu terong. Namun, terong yang dimaksud berbeda dari yang awal. Aku saja sampai senyum-senyum malu mendengarkannya.
Ada baiknya ternyata ikut berkumpul dengan mereka. Selain mata jadi cerah, pikiranku yang semulanya kalut juga menjadi sedikit lebih baik walaupun rasa kesal masih tersisa di hati.
**
