Bab 5 Bakso Setan
Oleh karena matahari mulai meninggi, aku pun memutuskan berjalan pulang. Namun, langkahku berhenti bila mana melihat dua orang pemuda berusia tanggung sedang bersantai di bawah pohon mangga.
Sepertinya dua orang itu sedang berdiskusi tentang masalah yang kuyakini tak sampai di otak mereka.
Sebagai pemuda ramah dan baik hati, aku pun mendekat dan menyapa mereka. "Helloow, everybody."
"Eh, Bang Ipit Kalishgan." Shuaib menundukkan kepala sedikit, menaruh hormat padaku yang bertampang lebih tua.
"Iya. Aku Ipit Kalishgan. Lelaki yang berubah tamvan jika berdiri tepat di bawah sinar rembulan. Jadi, apa yang kalian omongkan dari tadi? Pasti masalah Kak Nurmah yang pagi-pagi rambutnya selalu basah, kan?" tuduhku.
Salah satu rumor yang kudengar ketika berkumpul dengan janda-janda muda tadi ialah ini. Mereka mengghibahkan Kak Nurmah yang rambutnya selalu basah saat pagi, padahal janda juga. Aku malah menganggap itu hal yang wajar karena jika orang habis mandi, tentu saja rambutnya basah. Mana ada orang mandi kering. Iya, kan?
"Ah, Abang suudzon. Biar muka jelek, asal hati baik, Bang." Jep sepertinya sedang menyinggungku. Untung saja aku bukan tipe orang yang emosian. Jika iya, tentu dia sudah kutonjok sampai babak belur.
"Lalu, apa yang kalian ributkan?"
"Ini, si Shuaib mau ketemuan sama cewek. Mereka dijodohkan."
"Nyamanlah kau, Ib." Kutepuk pundak Shuaib, lalu mengguraunya, "Tak kesepian lagi kalau malam."
"Masalahnya, dia ini pemalu," ungkap Jep.
Aku menimbang sejenak sembari mengelus dagu. Sepertinya, hal ini bisa kumanfaatkan untuk mendapatkan uang. Ini zaman edan, mana ada yang gratis.
"Kalau gitu, biar aku ajarkan. Tetapi, ada imbalannya." Aku tertawa kecil.
"Berapa, Bang?"
"Tak usah banyak. Cukup bayar aku seratus ribu saja."
"Boleh, Bang. Tapi, bayarnya nanti sore, ya," tawar Shuaib.
Karena menganggap hal tersebut bukan sebuah masalah, aku pun menyetujuinya, lalu mulai memberikan saran. "Nanti si Jep pura-pura jadi ceweknya."
Mereka berdua tampak sangat serius mendengarkan.
"Terus si Jep bakalan nanya-nanya ke kau, Ib," lanjutku
"Nanya apa, Bang?" Jep menggaruk kepalanya.
"Nanya yang mudah aja. Misal, hobi kau apa. Ntar kau jawab, Ib. Paham?"
"Paham, Bang." Mereka kompak bersuara.
"Oke. Mulai!" Aku melipat tangan kiri sedikit di atas perut dan menggigit jari telunjuk kanan. Kurasa tingkahku sudah mirip sutradara drama Jepang.
Jep memajukan kaki selangkah.
"Kamu hobinya apa, Bang?" Suara Jep jadi cempreng mayor. Mungkin dia melakukannya supaya terdengar seperti suara cewek. Namun, kenyataannya malah terdengar seperti suara kambing disembelih.
"Eeettt," jawab Shuaib gugup.
Sontak aku terkejut, lalu menghentikan peragaan mereka. Saat aku mendekati Shuaib, Jep mengambil dua langkah ke belakang.
"Nggak ada orang yang jawabnya 'eeettt' gitu, Ib. Macam bunyi engsel kurang oli pula kudengar," omelku.
"Saya malu, Bang."
"Ini si Jep kan kawan kau mandi berkubang sambil telanjang waktu kecil. Apa lagi yang mau dimalukan?"
"Oke, Bang. Ulang." Dia menegakkan badan, berlagak seolah-olah siap.
"Ulang, ya," ujarku sambil menarik napas dalam. Sesudah mengembuskan napas lewat mulut, kuperintahkan keduanya untuk memulai adegan. Jep kemudian maju selangkah.
"Kamu hobinya apa, Bang?" tanya Jep dengan suara cempreng yang kali ini agak minor.
"Eeettt!" Shuaib mengeluarkan suara yang sama seperti sebelumnya.
Kadung kesal, kusentil bibir Shuaib. Jep terkejut, kemudian mundur tiga langkah.
"Ib, inikan udah yang kedua kali. Kenapa kau masih gugup?"
"Ma-maaf, Bang." Wajah Shuaib mengiba.
"Ulang?"
Shuaib mengiakan.
"Mulai, Jep."
Jep maju dua langkah.
"Eeettt ...."
Kubekap mulut Shuaib. "Jep kan belum nanya, kenapa kau udah bersuara 'eeettt' begitu!" teriakku.
"Sabar, Bang," pujuk Jep
Kutarik napas dalam, lalu melepasnya panjang. Setelah emosi agak turun, kutawarkan padanya untuk mengulang sekali lagi. Shuaib mengangguk. Kulepas bekapan tanganku dari mulutnya.
"Eeettt!" Shuaib bersuara tanpa komando dariku.
Emosiku memuncak. Kutampar muka Shuaib sampai menimbulkan bunyi. Dia pun tersungkur menyamping, menyusur tanah dan pingsan dengan mulut menganga.
"Belum apa-apaan kau udah bersuara! Jangan bikin aku naik darah ya!" Dengan semua bulu di badan berdiri, kumarahi dia yang terkapar tak sadarkan diri.
"Eh, kawan saya itu, Bang." Jep di belakangku menyatakan ketidakterimaannya.
Aku yang kadung jengkel, lalu berbalik badan dan mengangkat si Jep. Tubuhnya kuempaskannya ke atas tanah, seperti adegan di Smack Down. Jeritannya melengking, sementara badannya melengkung. Belum puas, kutendang selangkangannya. Detik kemudian, Jep ikut pingsan dengan lidah terjulur.
"Banyak protes kau! Aku ini lagi merisau di rumah. Eh, kalian pula cari gara-gara." Aku mengeluarkan unek-unek di hati.
Sebelum melangkah pulang, kuletakkan duit sepuluh ribu. "Duit ini kau belikan telor ayam, Jep. Buat ganti rugi telormu yang mungkin aja pecah."
****
Malam menjelang, bulan sudah ada di peraduan. Sella mengantarkan makanan langsung ke rumah. Tiara tak tahu karena sedang tiduran di kamar. Alhamdulillah, tak ada yang mengganggu aku makan.
Akan tetapi, baru juga aku menyendok kuah empek-empek dari mangkok sebanyak tiga kali, sudah ada yang memanggil namaku dari luar. Kuintip, ternyata Adit. Wah, makanan harus cepat disembunyikan. Bukannya apa, dia itu tipe geragas.
Aku dilanda kebingungan. Harus menyembunyikan makanan di mana? Kalau di bawah tudung saji, bayangannya kelihatan. Tak enak kalau tak menawarkan. Simpan di kulkas juga bahaya. Kalau sempat si Adit mengambil minum, langsung ketahuan. Aduh, bagaimana ini?
Aha, aku sembunyikan di kamar saja. Adit tak mungkin masuk dan Tiara juga sedang tidur. Fyuuuh ... selamat.
Kubersihkan bibir dan sekitarnya, takut jikalau ada bekas kuah yang menempel di kumis. Bisa berabe nanti.
"Apa, Dit?" Hanya kepalaku yang nonggol keluar dari pintu yang sedikit terbuka.
Adit terkejut sebentar, lalu beristighfar. Apa-apaan dia. Emangnya aku setan.
"Bang Angga sama Bang Andi nunggu di warkop Bang Yosi."
"Duluan aja kalau gitu, nanti aku nyusul."
"Sama-sama ajalah, Bang," ajaknya.
Kurang asam. Aku menyuruh dia duluan supaya bisa lanjut makan empek-empek. Kan baru kuahnya yang sempat kuicip tadi. Terpaksa ikut, lagi pula aku jadi bisa hemat bensin.
"Iyalah. Tunggu sebentar. Abang mau ambil pesanan dia berdua."
************
Setibanya, plastik hitam kuberikan pada Andi dan Angga yang duduk bersila di saung. Aku dan Adit juga ikutan duduk.
"Berapa, nih?" Angga langsung membuka karet getah yang mengikat mie tiaw reunian miliknya.
"Tiga puluh enam ribu." Padahal aslinya hanya tiga puluh. Kunaikkan harganya. Bisnis is bisnis.
"Nih!" Angga mengunjukkan beberapa lembar uang.
Setelah kuhitung, rupanya kurang. "Ini 35. Kurang seribu."
"Astaga drakula! Seribu pun kau hitung?! Kau pesan minum, nanti aku bayarkan." Bungkusan satunya diserahkan Angga kepada Adit yang duduk di sampingnya. Baik pula si Angga.
"Nah, itu baru kawan." Karena dibayarkan, kupilih yang paling mahal. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan diri sendiri, jus durian Afghanistan bertopping kacang panjang pun jadi pilihanku.
Andi lewat di depanku dengan membawa sepiring penuh nasi panas. Aku menggodanya, mana tahu ditawarin ikut makan. Aku lapar.
"Nyaman nampaknya, tuh."
"Mau?" tanya Andi.
"Mau, lah!" ucapku girang.
"Boleh, tapi aku gratis."
"Mattamu!"
"Ya, udah." Andi menyuap nasi yang sudah bercampur ayam sambil memonyong-monyongkan mulut. Mengejekku.
"Bayar cepetan. Lama-lama ntar lupa. Kutagih di akhirat, baru kau tau."
"Sabarlah. Tangan aku basah, susah mau merogoh kocek." Si Andi beralasan.
Jakun ini naik-turun melihat tiga orang sahabatku itu makan. Sebenarnya perutku sudah berbunyi. Namun, apa daya, makanan tertinggal di rumah.
Selang lima menit, jus pesananku datang. Lumayan, buat basahin mulut dan perut serta menunda lapar.
Setelah hampir sejam tersiksa karena menanti, akhirnya mereka kelar makan. Aku segera menagih pembayaran kepada Andi.
"Ya Allah, orang ini. Aku baru juga cuci tangan. Tunggu sebentar, lah."
"Cepat ... aku mau balik rumah," desakku.
"Kau mau berkelon terus, Pit." Angga bersuara sembari mencongkel giginya dengan patahan sapu lidi.
"Ntah." Andi mengelap tangannya dengan baju pelayan. "Jadi-jadi, lah, ehem-ehem, tuh. Kasi istri kau rehat."
"Otak kalian dimakan kuman!" sergahku.
"Jadi, berapa utangku?"
"Tiga puluh." Padahal cuma dua puluh. Sisa sepuluh ribu anggap saja upahku menunggu.
"Dua lima, lah. Pas." Andi menyerahkan uang yang memang pas. Tak ada lebihnya. Dasar Andi pelit.
"Dit, antar Abang balik," pintaku.
"Jalan kaki aja ... dekat," tolaknya karena sibuk memainkan ponsel. Palingan, nge-push rank.
"Dekat nenek kau Sailormoon! Bagus kau antar aku kalau tak mau kutempeleng." Darahku mulai naik. Maklum, orang lapar sulit bersabar.
"Ya Allah ... garang Abang sekarang, ya."
Adit mau tak mau mengantar. Sampai di depan rumah, aku turun dengan melompat salto. Lalu, buru-buru masuk. Sudah tak tahan rasanya ingin merasakan kenikmatan empek-empek dan bitter molen keju.
Kubuka pintu kamar, Tiara masih berbaring. Namun, saat kutoleh ke atas meja rias, tak ada mangkok makanan di sana. Ke mana hilangnya? Diambil jin atau bagaimana?
"Waaa ...." Aku berteriak seperti kerasukan setan. Walau, sepertinya setan pun enggan merasukiku.
"Ada apa, sih, Bang?" tanya Tiara sambil mengucek mata.
"Di sini tadi ada mangkok." Meja rias kutunjuk.
"Oh, empek-empek," ucapnya datar.
"Iya. Mana?"
"Udah Adek abisin. Makasih, ya, Bang udah beliin. Enak, terasa tenggirinya." Tiara memberi kode lewat jempol.
"Hah?" Kucakar wajah sendiri.
"Yang satunya lagi juga makjleb. Kejunya lumer," sambungnya.
"Huaaa ...." Aku keluar kamar sambil berjingkrak bak ayam yang kena kejutkan dari belakang. Dasar istri tak pengertian. Masa makanan suami dihabiskan. Mana naga di perutku sudah berdemo sedari tadi.
Di teras, aku mengaduh sembari memegangi perut yang melilit. Entah datang dari mana, di depan rumah terlihat tukang bakso sedang mendorong gerobak. Kupanggil si tukang bakso. Dia berhenti, kemudian kuhampiri.
"Kenapa, Mas?" tanyanya kalem.
"Beli bakso."
"Berapa?"
"Hmmm ... lima belas ribu." Mahalan sedikit biar banyak. Laparku sudah tahap kebuluran soalnya.
"Pakai bakso urat atau telur?" katanya sambil melihat ke arahku
"Telur."
"Telur ayam atau telur bebek?"
"Ayam."
"Ayam kota atau ayam kampung?"
"Kau mau jualan atau mau interogasi aku! Mana ada beda antara ayam kota sama ayam kampung!" Naik tensi darah aku dibuatnya. Dia sebenarnya tukang bakso atau wartawan, sih. Sok nanya-nanya.
"Ada dong, Mas. Yang ayam kampung agak sopanan sedikit. Masih suka negur kalau lewat."
"Bodo amat! Yang penting bakso aku cepat kau buatkan."
"Jadi, ayam kota atau ayam kampung?"
"Kampung."
"Habis, Mas."
"Yang kota."
"Habis juga."
"Ya udah, ganti ke bakso urat aja."
"Sama, Mas. Habis."
"Lalu, kenapa kau berhenti?!" Bakso urat tak ada, malah urat leher aku yang keluar.
"Kan, tadi Masnya yang manggil."
"Aaarrghh ...!" teriakku pada malam, memprotes nasib badan.
"Baaang!" Terdengar suara wanita berteriak.
"Itu ada yang nyariin, Bang. Cewek cantik. Rambutnya panjang berikat."
Rambut? Segera kualihkan pandangan ke arah rumah. Ya Rabbi. Tiara keluar tak pakai kerudung. Kan dilihat sama si tukang bakso jahanam.
"Itu siapa, Bang? Cantiknya luar biasa. Badannya aduhai." Si tukang bakso geleng-geleng kepala. Entah apa yang ada di pikirannya, yang pasti itu kurang ajar. Aku bergegas lari menuju Tiara.
"Keluar kenapa nggak pakai kerudung?"
"Kan udah malam. Nggak ada orang juga, Bang."
"Nggak ada orang dari mana? Itu si ...." Kalimatku terputus setelah tak tampak batang hidung si tukang bakso. Ke mana dia? Kok, bisa gerobaknya lenyap secepat itu? Apakah sekarang ini gerobak bakso pakai NOS, kayak dalam film balap "Past And Furniture".
"Siapa? Dari tadi Adek lihat Abang ngomong sendiri di situ. Makanya Adek panggil. Takut Abang kesambet."
"Apaan? Sendiri?" Otakku mumet seketika.
Tiara menjawab lewat anggukan.
Ada apa ini? Masak tadi aku ketemu setan. Kalau iya, memang tak ada hati itu setan. Orang lapar malah diceng-cengin.
"Deeek," rengekku sembari memanyunkan bibir.
"Apa Abang Sayang?" Tiara menyentuh pipiku. Bikin tenang.
"Laapaaar." huruf A di bagian akhir panjangnya tiga harakat.
"Belum makan? Mau Adek masakin mie?"
"Ada?" Aku semringah.
"Tadi Adek sempat beli pas nyari sabun di warung Mbok Ijum."
"Pakai telur, ya."
"Iya," ujarnya lembut.
"Eh, tapi Adek beli sabun buat apa?"
Tiara tersenyum. "Buat mandi berrrsih." Tiara menekan huruf R.
"Berrrsih itu artinya ...." Kunaik-turunkan alis.
Wajah Tiara merona.
"Yes! Berarti bisa?"
Tiara mengangguk.
Cihuuuyy! Bakalan betul-betul kenyang aku malam ini. Surga dunia, i'm coming.
------
