Bab 3 Amblas!
Tiara mengantar Pak Ghazali pulang, mungkin hanya sampai depan rumah kami. Istriku memang begitu, sopan dan ramah. Namun, yang bikin aku sedikit kesal adalah keramahannya kadang terlalu berlebihan. Contohnya tadi, dia sempat terlihat olehku, mengambil beberapa lembar duit untuk diselipkan ke saku kemeja Pak Ghazali. Itu berlebihan. Sungguh kelakuan istri boros. Padahal, cukup beri ucapan terima kasih saja. Toh, kami dan Pak Ghazali kan tetangga. Sudah sewajarnya saling tolong-menolong. Betul, kan?
Beberapa menit kemudian, terdengar derap langkah, terlihat juga bayang hitam di bawah pintu. Menandakan Tiara kian dekat, akan segera masuk ke kamar. Bergegas kuselimuti diri hingga menutupi wajah, lalu berpura-pura tidur.
"Abaaang!" Tiara berteriak kencang. Saking kencangnya, kalau kuntilanak dengar pasti sawan. Aku yakin.
Selimut yang membungkus tubuhku ditariknya. Mata kupejamkan seketika itu pula. Ngeri, euy! Tak lama, telinga kananku berasa dipulas. Aku lantas menjerit kesakitan, terus berbalik badan dengan cepat untuk melepaskan diri. Kemudian, mengusap telinga yang terasa amat perih akibat perbuatannya.
"Sakit, Dek," kataku dengan nada pelan. Melihat wajahnya yang menegang beriring sorot mata melotot garang, aku merasa terintimidasi. Dia garang
"Obat apa yang Abang minum? Hah?!"
"I-itu ...." Aku terbata-bata. Jujur, aku bingung hendak menjawab apa. Kalau jujur, bisa-bisa istriku itu semakin berang.
"Itu apa?" bentaknya kemudian. "Minum sampai empat butir pil itu untuk apa?"
"Bu-buat ...."
"Buat apaa?!"
"Buat ngebales delapan ratus ribu tadi siang." Aku keceplosan. Ah, mau bagaimana lagi, terpaksa mengatakannya secara jujur. Toh, berbohong juga percuma.
"Astaga buah naga!" Tiara mendengkus kesal, kemudian geleng-geleng.
Aku hanya bisa membalas lewat cengiran.
"Suami perhitungan!" sambungnya, lalu keluar seraya membanting pintu. Bunyinya membuatku terkaget-kaget. Dan bukan hanya aku. Cicak di dinding pun kaget, sampai jatuh melompat ke lantai.
Sekarang bagaimana membujuknya. Bukan apa, Tiara kalau sudah ngamuk, sungguh mengerikan. Kurasa, setan pun enggan melawannya. Tapi, kalau tak dipujuk, aku tak bisa dapat jatah. Ah, naseb!
****
Siang ini seperti biasa, mentari selalu bersinar secara berlebihan. Pontianak sangat panas. Mungkin pengaruh dilewati garis khatulistiwa. Entahlah.
Aku berencana turun dari rumah, hendak ke warung Kak Limah. Siang-siang begini, sahabat-sahabatku kerap nongkrong di sana. Menikmati kopi es ataupun cappucino cincau. Namun, kadang mereka dan aku diomeli Kak Limah. Katanya, kami cuma minum lima ribu, tapi nongkrongnya sampai berjam-jam. Dia rugi bayar wi-fi. Bagi aku sih bodo amat, ya kan. Selama bukan aku yang bayar ya harusnya tak apa-apa. Kak Limah saja yang berlebihan.
"Jaket Abang mana, Dek?" Aku mengobok-obok lemari pakaian. Agar kulit tak semakin gelap, aku harus pakai jaket.
"Yang mana?" tanyanya sambil memoles krim putih di wajah.
"Yang ada gambar beruang main kelayang."
"Jangan asal bongkar, Bang. Capek Adek ngemasinnya," omelnya. "Jaket Abang yang itu belum dicuci."
"Apa? Kan itu jaket kesayangan Abang. Kok, belum dicuci? Abang nggak pede kalo nggak pake itu," protesku.
Bukan aku tak mau pakai jaket yang lain. Tapi, saat memakai jaket itu, aku merasa seperti beruang. Baik secara kekuatan, maupun perawakan. Jadi, wajar dong aku pede.
"Mulai sekarang, Adek nggak mau nyuci di papan penggilesan lagi," keluhnya. "Abang pake baju bentaran, udah langsung lempar ke baskom. Ganti lagi yang baru, terus lempar lagi. Begitu melulu. Capek, letih, lesu Adek, Bang. Pokoknya beliin Adek mesin cuci, kalo masih mau dicuciin."
Aku tersentak. Baru kali ini dia berani mengancamku. Apa karena kejadian semalam, lalu dia mulai perhitungan?
"Dikira Abang ini konglomerat, yang batuk aja keluar duit." Tak segampang itu aku mengiakan.
"Kalo nggak mau, baju celana Abang akan numpuk sampai setinggi Himalaya."
Aih! Kenapa pula si Tiara jadi manja begini? Biasanya, dia rajin mencuci dan jarang mencaci. Namun, kini ... ah, aku tahu. Ini pasti ulah emak-emak kompleks yang menghasutnya. Dasar emak-emak perusak rumah tangga orang! Kalian Jahat!
Karena tak mendapatkan apa yang kumau, maka kutinggalkan dia yang masih sibuk memoles krim sambil duduk di depan kaca. Mungkin dia lakukan itu agar krim rata di wajahnya. Terserahlah. Yang jelas, perutku mula terasa lapar. Seharian ini belum makan karena sibuk di kebun. Durian dan langsat sudah siap dipanen.
"Deeek!" Aku berteriak kencang, sampai menembus dimensi lain agaknya.
Dia yang kupanggil datang setelah lima menit. "Apa, sih, Bang? Teriak mulu kayak penganten baru."
Sontoloyo ini anak. Ngomongnya suka ngejeblak.
"Kok, kosong?" Kutunjuk meja di bawah tudung saji yang melompong tanpa isi.
"Abang, kan, nggak ada ngasi duit belanja," katanya santai.
"Yang tiga setengah mana?"
"Tiga setengah?" Wajahnya tampak bingung.
"Yang Abang kasih dua minggu sekali," ujarku mengingatkan.
"Ooh ... bukan tiga setengah, tapi tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah. Kan yang dua lima ribu Abang minta buat beli rokok Anaconda."
Ampun Gusti. Seteliti itukah dia? Atau jangan-jangan dia ketularan pelit?
"Iya, yang itu. Mana? Kenapa nggak dibelanjain?" cecarku.
"Udah abis." Dia tersenyum dengan wajah berlumuran krim putih, mirip kue moci. Senyumannya itu seakan mengejek. Ingin sekali kucubit pipinya, lalu kucium bibirnya. Eh.
"Habis? Adek apain? Nyawer?"
"Iiisssh! Buat bayar Kak Emy."
"Emy mana lagi ini, Tiara Kunyit-chova binti Izamudin Mat Saleh." Kusebut nama lengkapnya biar dia tahu kalau saat ini aku sedang marah. Bisa-bisanya duit belanjaan yang kuberi saban dua minggu itu, habis begitu saja. Boros sekali dia.
"Kak Emy temannya Abang."
"Emy Wahid? Yang kalo marah suka manjatin pohon kelapa?" tanyaku memastikan.
Tiara mengangguk pelan.
"Yang kalo lapar, suka gigitin kursi plastik?"
"Tepat sekali, Alfredo."
"Yang kalo kentut, baunya bisa bikin orang meriang?"
"Iya! Dia orangnya."
"Untuk apa bayar dia?" Hatiku rasanya mulai kesal.
"Adek pesan sabun dan krim wajah sama dia. Barang yang dijualnya itu bagus."
"Nggak kemahalan?"
"Nggaklah. Ada harga, ada kualitas. Jujur aja, harganya cukup murah untuk kualitas yang ajib begitu. Apa Abang mau, Adek kulitnya kusam dan mukanya kusut?"
Ah, pandai sekali Tiara mengancamku. Memang, aku tak mau kalau Tiara yang cantik jelita berubah sejelek diriku. Bukannya apa, punya istri cantik itu bisa dipamerkan dan dibanggakan. Bisa juga untuk membungkam mulut-mulut gibah penoh dosa milik para tetangga, yang dulu meremehkan tampangku. Kata mereka, mustahil aku bisa mendapatkan jodoh bidadari. Nyatanya, aku berhasil. Aku beruntung. Istriku yang sial.
"Ya, udah. Ambilin dompet Abang." Merengut wajahku saat menyuruhnya. Alamat bakal keluar duit lagi.
Tiara beranjak, lalu tak sampai dua menit datang lagi sambil mengunjukkan dompetku. Gercep dia soal beginian. Coba saja kalau disuruh yang lain, banyak kali alasannya.
"Eh, kok, sisa seratus?" Aku mengurut kening, mengingat duit keluar ke mana saja. Aneh, perasaan kemarin duitku masih berlembar-lembar.
"Kemaren Adek ambil buat nambahin beli gorden hologram. Duit Adek kurang." Tiara tertawa pelan. Tawa yang sangat menyakitkan bagiku
Detik itu juga, aku langsung jatuh terduduk dalam kegamangan. Tangan dan kakiku mulai mengentak lantai. Aku meringis, merengek bak anak kecil yang diejek nama emaknya. Duit yang sudah susah payah kukumpulkan demi membeli satu set figure baja hitam telah lenyap. Amblas.
Emaaak ...!
"Abang," katanya, "jangan nangis, ah. Abang lebih jelek kalo nangis. Mirip musang sange."
Gara-gara ucapannya, tangisku semakin pecah. Masa separah itu sih mukaku.
****
