Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 14 Anakku

"Adnan?!" seru Wati, ia terkejut dengan kedatangan pria yang tak diharapkannya.

"Iya ini aku." Adnan bicara dengan sangat tenang.

"Mau apa kamu ke sini?" Wati bergerak ke arah pintu rumahnya, berniat menghalangi Adnan masuk. Ia tak mempedulikan pelanggan yang berdiri di sekitar meja jualannya. Meja jualannya terletak di teras samping rumah.

Adnan memperhatikan tubuh Wati dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau ... sudah melahirkan?"

"Apa pedulimu?"

"Aku ayah dari anak itu,"

"Setelah sekian lama, kamu baru menyadarinya?"

"Eva, jangan bicara seperti itu."

"Aku bukan Eva, aku Wati. Namaku Wati."

Adnan mengangguk, ia tidak ingin membantah Wati yang sudah terlihat emosi. Adnan juga tahu nama asli Eva adalah Wati.

"Maafkan aku, Wati."

"Pergi kau dari sini dan bawa serta maafmu!"

"Aku ingin bertemu anakku,"

"Tidak! Dia anakku, kamu tidak mengakuinya dulu."

Melihat ketegangan antara Wati dan Adnan, para pelanggan Wati bergegas pergi. Mereka tidak ingin terlibat dalam permasalahan dua insan tersebut.

"Wati aku mohon, aku ingin menemui anakku."

"Pergi!" usir Wati pada Adnan yang mengiba.

"Aku sakit, aku tidak tahu bisa hidup berapa lama lagi. Karena itu aku ingin bertemu anakku."

"Sakit? Jadi karena itu kamu mau mengakui anakku. Itu hukuman dari Tuhan untukmu." Wati berkata tegas, ia tidak pernah bisa melupakan penilakan Adnan untuk beetanggung jawab.

Seorang perempuan yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Wati turun dari mobil yang sama dengan mobil yang dinaiki Adnan.

Wati memicingkan matanya melihat perempuan tersebut, ia pernah melihat wajah perempuan itu di ponsel Adnan.

"Mba Wati," suara lembutnya memanggil Wati. Wati tidak menoleh justru membuang mukanya ke arah lain.

"Saya mohon izinkan suami saya bertemu anaknya."

Wati mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Kamu istri Adnan kan? Anggi nama kamu kan?"

"Iya saya Anggi,"

"Kamu nggak sakit hati suami kamu punya anak dari seorang pelacur?"

"Bagaimanapun sebagai istri saya pasti sakit, tapi saya berusaha memaafkan. Apalagi Mas Adnan kini sakit jadi maafkanlah ia Mba."

Anggita berusaha membujuk Wati demi suami yang dicintainya. Penyakit misterius yang dialami suaminya dua bulan terakhir ini membuatnya mau tak mau mengambil langkah tersebut.

Sudah dua bulan Adnan merasa sangat sakit di organ vitalnya tiap malam. Sudah banyak dokter di berbagai rumah sakit dikunjunginya, namun tak satu pun yang mengetahui penyebabnya dan obat yang dikonsumsinya seakan tak berfungsi. Maka Adnan mengunjungi seorang yang alim untuk dimintai pendapat dan sarannya adalah agar meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakitinya. Dan dosa terbesarnya adalah pada Wati dan anak mereka.

"Saya mohon Mba bisa memaafkan mas Adnan,"

Wati terdiam mendengar ucapan perempuan cantik dan lembut yang ada di hadapannya. Seorang istri yang terluka akibat perilaku suaminya namun bisa memaafkan.

Belum juga Wati menjawab, tangisan Jelita keras terdengar.

"Oek ... oek ..."

"Itu pasti bayi kamu, anakku." ucap Adnan sambil melangkah maju.

"Gak, kamu gak boleh nemuin Jelita!" Wati mendorong tubuh Adnan yang mendekat.

"Jadi namanya Jelita? Perempuan."

"Dia putriku,"

Tangis Jelita terus terdengar, tidak lama emak membawa Jelita keluar. Emak tidak tahu kalau di luar ada Adnan dan istrinya.

"Wat, Jelita nangis terus nih. Kamu susuin dulu biar Emak yang urus pembeli." Emak berkata sambil menimang Jelita.

Mata Adnan membulat sempurna melihat bayi mungil yang diselimuti kain sedang digendong Emak.

Wati membalik tubuhnya ke arah Emak lalu mengambil Jelita untuk ia gendong.

"Sh...sh...sh..." Wati menimang putrinya berusaha menenangkan Jelita yang terus saja menangis. Ia masuk ke dalam untuk menyusui Jelita tanpa mempedulikan keberadaan Adnan dan istrinya. Baginya Jelita lah yang terpenting.

Emak melihat dua orang di hadapannya yang menatap Wati dengan penuh rasa ingin tahu.

"Kalian siapa?"

"Saya Adnan,"

Mendengar nama Adnan disebut, emosi Emak seketika itu juga naik. "Pergi kamu dari sini!"

"Saya ingin minta maaf, saya punya banyak kesalahan pada Wati dan putri kami."

"Putri kamu? Gak malu kamu dulu gak mau ngakuin sekarang tiba-tiba datang!"

"Saya ingin minta maaf dan memperbaiki semua,"

"Kamu sudah minta maaf kan? Sekarang pergi!" usir Emak dengan tegas.

Tangis Jelita terdengar makin keras. Wati membawa Jelita keluar.

"Mak, Jelita gak mau nyusu. Kenapa ya nangis mulu? Badannya juga gak panas."

Adnan mendengar ucapan Wati pada ibunya. " Biar aku gendong dia," pinta Adnan.

"Gak!" tolak Wati tegas diantara tangis Jelita yang makin keras.

"Mba, siapa tahu dia mau digendong ayahnya." Anggita bersuara.

"Gak, gak boleh!"

"Wati please, kasi aku kesempatan,"

Wati menatap Jelita yang tak berhenti menangis, rasa keibuannya tak tega melihat hal itu. Ia menoleh ke arah Emak, meminta izin. Emak akhirnya mengangguk.

Adnan mendekat mengulurkan tangannya untuk menggendong Jelita. Begitu Jelita ada di gendongan Adnan, tangisnya berhenti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel