Bab 15 Menolak Menikah
Adnan menggendong putrinya, diperhatikannya wajah Jelita yang begitu mirip dengan dirinya. Bayi itu tenang di tangannya hingga tak lama Jelita terlelap.
Emak, Anggita dan Wati mengamati dengan seksama.
"Kemarikan, Jelita sudah tidur!" Wati mengulurkan tangannya.
"Dia mirip sekali denganku,"
"Sudah jelas kan siapa bapaknya, sekarang kemarikan!"
Melihat Wati yang menatapnya tajam, Adnan segera menyerahkan Jelita.
Begitu bayi mungil itu di tangan Wati, ia segera menidurkannya di kasur. Wati sengaja berlama-lama di kamar berharap Adnan segera pergi.
Begitu rumahnya terasa sepi, Wati keluar dari kamar untuk melihat situasi. Benar saja Adnan telah pergi.
"Mak," panggil Wati pada ibunya yang sedang merapikan barang dagangan.
"Mereka udah pergi." kata emak seakan tahu apa yang akan dikatakan Wati.
"Syukurlah."
"Tapi si Adnan itu bilang akan kembali lagi besok."
"Untuk apa dia datang lagi?"
"Entah. Dia tidak bilang."
"Laki-laki brengsek."
"Biar begitu dia ayah dari anakmu."
"Iya, aku tahu."
Kenapa aku selalu bertemu pria tak bertanggung jawab seperti Adnan dan juga bapak?
Wati merenung, Adnan hampir sama seperti ayahnya yang pergi begitu saja meninggalkan ibunya saat Wati masih bekerja sebagai PSK. Sampai saat ini pun tak jelas kabar ayahnya.
***
Seperti biasa di waktu Ashar Wati merapikan dagangannya. Meja tempatnya berjualan telah bersih. Sore sampai malam adalah waktunya bersama Jelita.
Jelita yang menggemaskan telah selesai dimandikan. Wangi minyak telon menguar dari tubuh mungilnya.
"Cantiknya anak ibu," puji Wati sambil memakaikan baju pada putri kecilnya.
"Assalamualaikum," ucap suara lelaki di pintu rumah Wati.
Mendengar ucapan salam itu Wati merasa tak nyaman. Jelita yang sedang dipakaikan baju pun tiba-tiba menangis.
"Cep ... cep ... cep ...." Wati mengusap punggung Jelita sambil menggendongnya.
Ucapan salam itu kembali terdengar. Tidak ada yang membukakan pintu karena emak sedang sholat Ashar.
Tangis Jelita belum juga reda, Wati berusaha menyusui tetapi Jelita menolak.
Wati ingat tangis Jelita yang tak mau berhenti kemarin dan kali ini hal yang sama terjadi, Adnan datang dan Jelita menangia. "Dek, mau bertemu ayahmu ya?" tanya Wati pada bayinya.
Walau ia sangat membenci Adnan namun melihat putrinya yang terus menangis hatinya tersentuh. Demi Jelita ia akan menemui pria yang pernah mengisi sekaligus menghancurkan hatinya.
Wati menggendong Jelita, membawanya menuju ke pintu depan. Ia buka perlahan pintu kayu itu. Di baliknya ada sosok Adnan bersama Anggi istrinya.
"Mau apa kalian ke sini?"
"Ada hal penting yang ingin kami bicarakan." jawab Adnan.
"Bagiku sudah tidak ada yang penting jika itu terkait dirimu." jawab Wati ketus sambil terus menimang Jelita yang masih saja menangis.
"Nangis terus ya, sini aku gendong." ucap Adnan begitu melihat Jelita yang menangis.
Wati terdiam sebentar lalu menyerahkan putrinya. Begitu sampai di gendongan Adnan, tangis Jelita berhenti.
"Bisakah kita bicara serius sebentar saja?" pinta Adnan sambil menimang putrinya.
"Bicara saja sekarang."
"Lebih baik kita bicara di dalam," saran Anggi.
"Tidak. Aku tidak mengizinkan kalian memasuki rumahku."
"Baiklah. Aku akan sampaikan sekarang."
"Langsung saja, tak perlu basa-basi."
"Tujuan kami ke sini adalah untuk menyampaikan bahwa aku akan menikahi kamu."
"Hah?! Setelah dulu kau menolak bertanggung jawab, sekarang tiba-tiba ingin menikahiku? Kau mau mengerjaiku?"
"Eva, maksudku Wati. Maafkan aku dulu menolak bertanggung jawab, kini aku ingin sepenuhnya menjadi ayah bagi Jelita."
"Kau gila! Di depan istrimu, kau meminta perempuan lain untuk menikah denganmu!"
"Anggi sudah setuju. Bukan begitu?" Adnan menoleh pada Anggi istrinya.
"Iya."
"Luar biasa, kamu istri luar biasa. Mengizinkan suamimu menikah lagi dengan mantan pelacur bahkan melamar di depan matamu sendiri." Wati berkata sinis.
"Saya rela Mas Adnan menikah denganmu agar ia bisa sembuh dari penyakitnya."
"Owh, jadi ini karena penyakit? Hahaha ... aku kira suami kamu itu sudah benar-benar sadar ternyata karena ingin sembuh. Ckckck ...."
"Kasihanilah Mas Adnan,"
"Kasihan? Kemana dia selama ini? Apa ia kasihan padaku?! Cih!"
"Wati, saya ...."
"Kemarikan Jelita!" Wati merebut paksa Jelita dari tangan Adnan hingga tangisnya kembali terdengar.
"Pergi kalian dari rumahku!" Wati membalik tubuhnya lalu masuk dan menutup pintu.
"Wati," Adnan memanggil.
"Pergi! Aku tidak akan pernah menikah denganmu!"
Wati tak sudi menikah dengan Adnan hanya untuk menyembuhkannya. Betapa egoisnya lelaki itu. Saat ia telah sembuh bisa jadi Wati kembali dibuang. Itulah yang ada di pikiran Wati.
