Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13 Jelita

Wati berusaha untuk menutup telinganya dari omongan-omongan para tetangga. Mulut mereka banyak sementara tangan hanya ada dua jadi lebih baik menutup telinga sendiri bukan?

Perut Wati semakin membesar dan setiap dini hari ia mesti berangkat ke pasar. Untunglah ada Pak De Narto yang setia mengantarkan ke pasar dengan motornya.

"Waduh itu perut udah gede masih ke pasar aja."

"Ya gimana lagi Pak De, demi sesuap nasi."

"Yowis, ayo naik!"

Menembus gelapnya malam motor Pak De Narto melaju. Wati mengeratkan jaket yang dipakainya, sisa-sisa air hujan membuat udara semakin dingin.

Sampai di pasar tidak perlu waktu lama Wati mendapatkan berbagai belanjaannya. Ia sudah memiliki pedagang langganannya hingga belanja jadi lebih mudah.

Pak De Narto menyusun barang belanjaan di motornya, sebagian ia taruh di bagian depan, sebagian lagi akan dipegang oleh Wati.

"Pak ... De." ringis Wati sambil memegang perut bagian bawah.

"Kenapa?"

"Perutku,"

Pak De Narto melihat Wati yang meringis sambil memegang perut bawahnya menjadi panik, ia teringat istrinya saat akan melahirkan.

"Aku anter kamu ke bidan,"

"Belanjaan ini bagaimana, Pak De?

"Gak usah mikir belanjaan, kamu udah mau lahir itu. Ayo naik!"

Pak De Narto memapah Wati untuk menaiki motornya. Secepatnya setelah Wati duduk, Pak De Narto menyalakan motor dan melaju secepat mungkin.

Wati meringis sepanjang berjalan, perutnya mulas. Dan ia belum pernah merasa sesakit ini.

"Bu Bidan, Bu Bidan!" teriak Pak De Narto begitu motornya sampai di depan pagar sebuah klinik kebidanan.

Tidak berapa lama seorang perempuan berusia 30an berpiyama keluar dan membukakan pagar.

"Ini ada yang mau lahiran," ucap Pak De Narto sambil menoleh ke arah Wati.

"Mari masuk!"

Wati perlahan turun dengan dipapah sang bidan. Jalannya perlahan dan sedikit membungkuk menahan sakit.

"Aww," Wati kembali meringis.

Masuk ke dalam ruang praktek, Wati berbaring di brankar. Sang bidan pun menyiapkan diri memeriksa Wati.

"Aku jempuk emakmu ya, nanti kubawa ke sini."

"I ... iya Pak De. Makasih."

Pak De Narto pun pergi meninggalkan Wati bersama sang bidan yang sedang memakai sarung tangan.

Bidan mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti. "Ibu sebentar lagi melahirkan, ini sudah bukaan 3. Sudah berapa minggu usia kandungannya?"

Sang bidan memastikan, ia memang bukan bidan tempat Wati biasa memeriksakan kandungan.

"37 minggu,"

"Berarti memang saatnya melahirkan. Saya siapkan semuanya dulu."

Setelah satu jam, mulas di perut Wati semakin menjadi. Namun keberadaan Emak di sisinya sedikit melegakan.

"Mak, sakit." keluh Wati.

"Sabar,"

"Ini sudah bukaan sepuluh, siap mengejan ya, Ibu."

Bismillah

"Eungh!" Wati mengejan sekuat tenaga.

"Eungh!"

"Oe ... " tangis bayi terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

"Alhamdulillah," ucap Emak dan Bu Bidan bersamaan.

"Perempuan, Bu." Ibu Bidan menaruh bayi itu di dada Wati untuk proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

Wati menatap putrinya penuh sayang, wajahnya mengingatkan Wati pada Adnan. Setitik air mata jatuh di pipi Wati.

Bayi perempuan itu begitu cantik, Wati memberinya nama Jelita.

~~~

Sudah seminggu Wati tidak berjualan, hari ini Wati kembali membuka warung sayurnya. Ia tidak ke pasar hanya meminta tolong Pak De Narto yang berbelanja. Pak De Narto sudah tau pada siapa Wati biasa membeli barang dagangannya sehingga Wati cukup menyerahkan daftar belanja saja.

Saat sibuk melayani pelanggan sebuah Range Rover hitam parkir di depan rumahnya. Wati dan Emak tidak mengenali mobil itu.

"Permisi, apa Bu Wati tinggal di sini?" tanya seorang pria yang berdiri agak jauh dibalik ibu-ibu yang berbelanja. Semua pembeli menoleh.

"Bu Wati yang punya warung?" tanya salah satu pelanggan.

Pria itu berjalan mendekat, jantung Wati bertalu-talu. Ia mengenali suara itu.

Pria itu membuka kaca matanya, sontak Wati mengenali dirinya.

"Adnan?!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel