Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 6

"SEMANGAT STEVE!!!"

"LUIS, KITA DISINI!!!"

"AYO SEMANGAT YUHUUU!!!"

Semua pasang mata mengarah pada sekumpulan lelaki berjersey basket yang berada ditengah lapangan. Para lelaki itu begitu incah dan jago mendribble, melempar, serta menangkap bola berwarna oranye tersebut ke teman se-team nya.

Seketika, semua siswa berteriak heboh ketika melihat seorang lelaki berjersey merah dengan nomor punggung kosong delapan, kini telah berada didekat ring basket. Lelaki itu Steve. Namun, sepertinya Steve tampak kesusahan mengelabui lawannya karena sejak tadi mereka mencoba merebut bola basket itu dari tangan Steve. Ah, tidak. Steve tidak boleh menyerah!

Lo pasti bisa!

"STEVE, STEVE!!"

"STEVE AYOO!!!"

Dan-----Yap!

Steve berhasil melompat, memasukkan bola oranye itu kedalam ring basket.

"YEEYY STEVE!!!"

"AYO SEMANGAT LAGI!!"

Para lelaki itu kembali berpencar saling merebut bola basket tersebut. Mereka kembali saling mendribble, menshooting, melempar, menangkap, serta men-screen bola basket itu. Hingga tidak terasa bahwa detik telah berganti menit. Dan waktu yang mereka miliki tidak lagi begitu banyak.

Lapangan kembali bersuara riuh. Para penghuni SMA MANANDA dibuat tegang oleh Luis, lelaki dengan nomor punggung dua belas yang berhasil merebut bola dari tangan lawan.

"LUIS!!!"

"AYOO SEMANGAAAT!!"

Tangan Luis dengan lincah mendribble bola basket tersebut. Ketika matanya menangkap teman lawan yang kini sedang mencoba merebut bola dari nya, Luis segera melakukan tekhnik pivot dengan cara langsung men-shooting bola ke dalam ring. Suara teriakan kagum kembali terdengar dari kursi penonton di gedung indoor SMA MANANDA.

Pritttt!!!

Suara peluit panjang menandakan pertandingan telah usai. Semua penghuni SMA MANANDA bersorak senang ketika mengetahui bahwa SMA mereka lah pemenangnya. Durasi normal yaitu 40 menit bersih, telah berakhir.

Sekumpulan siswi berbondong-bondong turun dari kursi penonton, menghampiri sekumpulan lelaki berjersey yang tengah ber-higfive di tengah lapangan. Tangan para siswi itu masing-masing memegang botol minuman serta tisu untuk di berikan kepada pada idola mereka.

"Steve, ini buat lo!"

"Kak Luis, ini buat kakak!!"

"Ivan, buat lo nih!"

Para siswi itu begitu antusias memberikan botol minuman serta tisu itu, kepala lima pemuda berjersey merah tersebut. Mereka adalah Steve, Luis, Ivan, Asier, dan juga Ardo.

Steve hanya tersenyum menanggapi beberapa siswi yang mencoba memberikan minuman serta tisu mereka padanya. Lagipula, tangan dirinya kan ada dua, mana bisa ia menerima semua yang diberikan oleh para siswi. Huh astaga, dirinya merasa pengap berada di tengah-tengah kumpulan siswi yang mengelilinginya seperti ini.

Steve segera menarik tangan Luis supaya menjauh dari kerumunan. Mata lelaki itu menangkap dua sahabatnya yang tengah berdiri di tepi lapangan.

"Wih, congrast bro!"

"Keren bener!"

Karel dan Arian ber-higfive dengan Steve dan juga Luis. Mereka tersenyum bangga menatap kedua sahabatnya.

"Sheenaz liatin lo tuh." Karel berbisik pada Steve sambil menatap kearah tiga gadis yang masih duduk di kursi penonton. Steve yang mendengar bisikan dari Karel pun, langsung saja mengikuti arah pandangnya. Namun, diwaktu yang bersamaan Sheenaz mengalihkan pandangan nya kearah lain, ketika dirinya melihat Steve menoleh kearahnya.

"Samperin sana." Arian menepuk bahu Steve sambil tersenyum.

"Gue duluan ya." Pamit Steve, dan dibalas anggukan oleh ketiga sahabatnya.

Ditempat lain, atau lebih tepatnya di kursi penonton, Sheenaz dkk tampak terlihat terkejut ketika mereka menangkap Steve yang tengah berjalan kearah mereka.

"Kak Steve kesini tuh Shee. Ciee, di samperin." Zetta melirik Sheenaz dengan senyum jahilnya.

"Iih, apaan sih. Udah ah ayo buruan, kita pergi aja dari sini. Kita pura-pura ga liat kak Steve."

Ucapan Sheenaz disetujui oleh kedua sahabatnya. Mereka pun sama-sama beranjak, untuk segera pergi menghindari Steve.

Baru dua langkah Sheenaz melangkah, tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang mencekal pergelangan tangannya. Tubuhnya Sheenaz seketika menegang. Pasti pelaku yang telah menggenggam tangannya adalah Steve.

Duh, mampus! Gerutu Sheenaz dalam hati. Matanya menatap kedua sahabatnya yang kini tengah melambaikan tangan kearahnya, dengan senyuman jahil yang terukir dibibir mereka.

Sheenaz menggigit bibir bawahnya gugup. Perlahan, Sheenaz membalikkan tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Steve yang tengah tersenyum padanya.

"Mau kemana sih?"

"Ak--aku mau ke kelas." Balasnya, lalu menjauhkan tangan Steve dari tangannya.

"Kok ketus gitu? Lo masih marah sama gue?" Steve menunduk, menatap wajah Sheenaz yang menatap kearah lain.

"Aku ga marah."

"Terus kenapa?"

"Gapapa kak, aku ke kelas duluan ya." Selepas mengucapkan itu, Sheenaz kembali melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Steve. Namun, lagi dan lagi, lelaki itu mencekal tangannya. Steve menarik Sheenaz, menuntunnya supaya duduk di salah satu kursi penonton itu.

"Shee?"

Steve menghembuskan nafasnya ketika tidak mendapat respon dari Sheenaz. Tanpa sengaja, pandangan matanya menangkap sebotol aqua dingin ditangan kiri gadis itu.

Kebetulan banget. Batin Steve tersenyum lebar. Ia pun mengambil botol minuman itu dari tangan Sheenaz, kemudian membuka tutupnya.

"Eh---kak, ngap-"

Sheenaz berdecak kesal melihat Steve yang kini tengah meneguk minuman nya.

"ih kok di minum? Itu kan bukan punya kakak."

Steve menutup kembali tutup botol minuman itu, kemudian menoleh kearah Sheenaz.

"Tapi buat gue kan?"

"Bu--ya terserah kakak deh."

"Makasih ya." Steve tersenyum, seraya mengacak rambut Sheenaz dengan gemas.

"Shee?"

"Ya?"

"Lo tau gula?"

Sheenaz mengangguk.

"Gula manis kan?"

Sheenaz kembali mengangguk.

"Bagus deh kalo lo tau."

Sheenaz membulatkan matanya tak percaya. Astaga, ia pikir kakak kelasnya ini akan mengucapkan kata-kata romantis atau semacamnya. Huh, apa ini yang disebut dengan kepedean tingkat tinggi?

"Kak Steve!!" Sheenaz memukul pelan lengan Steve, membuat lelaki itu terkekeh.

"Engga, engga, gue bercanda." Steve memberhentikan kekehannya dan beralih menatap Sheenaz lekat.

"Manisnya gula, ga sebanding dengan manisnya senyuman lo."

Blush.

Tidak perduli lebay atau tidak, yang jelas kini pipi Sheenaz sudah memanas. Tanpa ia sadari, kedua sudut bibirnya telah terukir membentuk senyuman tipis.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel