Part 5
Steve memandang dirinya lewat pantulan sebuah cermin. Lelaki itu terlihat tampan dengan setelah hoodie hitam yang melekat di tubuh atletisnya. Wajahnya yang tampan, semakin terlihat tampan dengan kedua sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman. Ah, entah mimpi apa ia semalam, akhirnya malam ini ia bisa jalan berdua dengan Sheenaz. Alibi nya benar-benar menguntungkan. Yaa--walaupun tidak begitu masuk akal.
•Flashback on•
"Emm--Shee? Nanti malem lo mau temenin gue ga?"
"Temenin kemana kak?" Sheenaz menatap Steve dengan kening berkerut.
"Gue mau beli kaos kaki buat tanding besok."
"Kaos kaki? Emang kakak punya kaos kaki berapa?"
Mampus! Steve bingung harus menjawab apa!
"Ba--banyak."
"Terus kenapa mau beli lagi? Sayang dong kalo ada banyak kak."
Huft! Steve merasa terpojokkan! Mengapa sih gadis ini banyak bertanya? Mengapa tidak langsung bilang 'iya' saja? Kan selesai urusannya.
"Gue--gue mau ganti! Iya! Gue mau ganti aja, lo mau yaa? Please.."
Kak Steve kok aneh?
"Gimana ya? Aku-"
"Ayolah Shee."
Sheenaz menggigit bibir bawahnya ragu. "Kakak izin sendiri ya ke bunda?"
"Boleh-boleh, bunda nya mana?"
"Bunda ada didapur, yuk kita kesana aja."
Steve mengangguk antusias. Lelaki itu berjalan mengikuti Sheenaz menuju ke dapur.
Aroma khas cupcake, tercium oleh hidung mancung milik Steve. Mata lelaki itu menangkap beberapa macam perlengkapan pembuat cupcake yang berada diatas meja. Hingga matanya beralih, menatap punggung bunda Sheenaz yang terlihat sibuk tengah mengaduk adonan cupcake.
"Bunda?" Panggil Sheenaz, membuat Rana sang-bunda langsung menoleh kebelakang.
"Sayang, kenapa?"
"Emm--tan, Steve mau ngomong."
"Ngomong apa nak?"
"Steve mau izin ajak Sheenaz nanti malem, boleh tan?" Tanya Steve tampak ragu. Lelaki itu takut jika nanti bunda Sheenaz tidak mengizinkan nya.
"Mau kemana?"
"Ma--"
Masa iya gue boong sih ke orang tua? Tapi yaudah lah gapapa sekali. Maafin Steve ya tan. Batin Steve.
"Ke mall tan, temenin Steve cari kaos kaki."
"Kaos kaki?"
Steve mengangguk.
"Sheenaz nya mau ga?"
"Aku?" Sheenaz menunjuk dirinya sendiri. "Aku iya-iya aja kalo dapet izin dari bunda."
Rana mengulum senyumnya. "Bunda izin kan. Tapi ingat, jangan pulang terlalu larut. Anak gadis ga boleh pulang sampai larut malam."
Steve tersenyum lebar mendapat respon baik dari bunda Sheenaz.
"Makasih bunda mertua."
Seketika, Sheenaz dan Rana saling pandang, bingung akan ucapan yang dilontarkan oleh pemuda tampan ini.
"Eh? Salah ya?" Steve menggaruk tengkuk nya, sambil menyengir lebar.
"Sudah sana kalian ke depan lagi. Nak Steve jangan pulang dulu ya, tante mau bawakan cupcake buatan tante."
"Iya tan."
•Flashback off•
"Bang!"
"Abang!"
Vandra bergidik ngeri, menatap sang putra yang kini tengah senyum-senyum sendiri didepan cermin. Udah ganteng, tapi kok malah senyum-senyum sendiri? Vandra lantas melangkah maju mendekati Steve. Ia berjinjit, mengacak gemas rambut Steve yang sudah tertata rapi.
"Eh--yah mami, rambut Steve jadi berantakan lagi kan." Steve mendengus kesal menatap sang pelaku yang telah mengacak rambut nya, yang yang lain adalah mami nya sendiri.
"Ya lagian, ngapain sih senyum-senyum di depan cermin?"
"Gapapa hehe." Steve menyengir lebar.
"Katanya mau pergi, nanti keburu malem loh."
"Iya mam, Steve benerin rambut dulu. Gara-gara mami nih jadi berantakan." Steve menatap Vandra dengan wajah sok pura-pura marah.
Vandra terkikik geli, kemudian ia meraih sisir yang berada di tangan putranya.
"Mami aja. Kamu duduk disana gih, mami ga nyampe."
"Mami pendek sih." Kekeh Steve.
"yee pendek-pendek gini kan imut, udah cepet."
Steve menurut. Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur yang tadi ditunjuk oleh Vandra.
Vandra mulai menyisir rambut Steve perlahan. Wanita itu tersenyum menatap putranya yang kini sudah beranjak remaja. Dulu, ia menyisirkan rambut Steve ketika Steve masih kecil. Namun sekarang, Steve kecil sudah tumbuh menjadi pemuda remaja yang tampan.
"Udah."
"Makasih mam. Steve berangkat ya, assalamualaikum." Steve mencium punggung tangan Vandra, dengan dilanjut mencium kedua pipinya bergantian.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya."
Steve mengangguk kemudian keluar meninggalkan Vandra.
•••
Sheenaz mengerutkan dahinya, ketika mobil yang dikendarai oleh Steve berbelok memasuki sebuah restoran.
Kak Steve ngapain kesini? Dia bilang, dia mau beli kaos kaki. Emang di sini jual kaos kaki kali ya? Kak Steve aneh. Batin Sheenaz.
"Emm--kak? Ngapain kita kesini?" Sheenaz memberanikan diri untuk bertanya pada Steve.
"Ikut aja."
"Kakak bilang kita mau beli kaos kaki buat besok kakak tanding, tapi kenapa kita malah ke sini?"
"Maaf ya, itu alibi gue doang." Steve menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maksud kakak, kakak bohong?"
"Iya, hehe. Maaf-"
"Biar apa sih kak? Aku ga suka cara kakak kayak gini. Tau gitu, lebih baik aku ga ikut kakak." Sheenaz menatap Steve kecewa. Gadis itu meraih handle pintu mobil Steve, berniat untuk keluar dari mobil ini. Namun, Steve segera menahan nya.
"Shee, bukan gitu maksud gue." Steve meraih tangan Sheenaz, mencegahnya supaya tidak keluar.
"Lepasin kak, aku mau pulang."
"Shee, gue-"
"Aku ga suka kakak bohong kayak gini.” Sheenaz menatap Steve dengan raut wajah tanpa ekspresi. Demi apapun, Sheenaz paling tidak suka jika ada seseorang yang membohongi nya.
"Gue minta maaf, gue tau mungkin cara ini emang salah. Gue minta maaf Shee." Steve menatap Sheenaz dengan raut wajah bersalah.
"Tapi, apa salah kalo gue mengharapkan kebersamaan bareng lo? Apa salah kalo gue berharap lebih ke lo? Gue cuma mau punya waktu berdua bareng lo Shee. Jujur, gue cemburu sama orang-orang yang dengan gampangnya mereka nikmatin kebersamaan bareng lo. Gue iri sama Juan. Juan, dengan gampangnya bisa buat lo senyum tanpa beban. Dengan gampangnya dia bisa pulang bareng lo, tanpa dia coba buat ngebujuk atau maksa lo. Tapi gue? Lo ga akan mau kalo gue ga paksa." Lanjut Steve.
"It's okey kalo emang lo belum bisa nerima gue. Tapi, lo harus inget dan tau satu hal." Steve meraih tangan Sheenaz, menempatkan tangan tersebut didada bidangnya. "Disini, cuma ada nama lo--- Sheenaz."
Sheenaz hanya diam menatap Steve. Apakah benar ucapan lelaki ini?
“sorry kalo gue buat lo kecewa karna gue udah bohongin lo. Gue anterin lo pulang ya? lain kali mungkin kita bisa dinner lagi.” Steve mengusap puncak kepala Sheenaz sambil mengulas senyum nya.
