Part 6
“Zoya, kau pulang?”
Lunar bisa melihat mata Hana yang berbinar cerah setelah mendapati sosok putrinya itu. “Ibu sudah memasakkan makan malam untukmu. Bisakah kita makan bersama?”tawar Hana.
“Cih! Sok perhatian sekali!” decih Zoya.
“Kak Zoya …. “
“Apa!”
Belum selesai Lunar berkata, Zoya sudah memotongnya terlebih dahulu. Lunar mengerti, ia tak akan pernah disukai oleh kakak sepupunya itu. Tapi untuk meremehkan perhatian Hana, ia tak akan menerimanya. Menurutnya, tidak seharusnya Zoya memperlakukan ibunya seperti itu.
“Zoya, sudah. Jangan bertengkar dengan adikmu, ya. Ayo kita makan bersama.” bujuk Hana. Sungguh, ia tak mau lagi berada di posisi yang tak menyenangkan seperti ini. Baru beberapa menit yang lalu mate-nya bersitegang dengan Lunar, dan kini berganti posisi dengan putrinya. Rasanya ia ingin mengatakan jika berada di antara Gamma dan Deltha yang bersitegang itu menyesakkan. Jadi sebisa mungkin ia harus segera keluar dari situasi seperti ini.
“Makan bersama? Tidak akan jika aku harus semeja dengan anak pungut ini.”
“Zoya, dia bu-“
“Berhenti membelanya, Bu. Putri kandungmu yang sebenarnya itu aku atau dia? Mengapa kau selalu lebih memilih membelanya dari pada aku?”
Hana menghela napasnya dalam-dalam. Selalu seperti ini jika ia mulai mengoreksi panggilan Zoya pada Lunar. Ia mengerti jika Zoya cemburu akan kedekatannya dengan Lunar. Akan tetapi, entah mengapa mendengar Lunar selalu dipanggil anak pungut oleh mate dan putrinya membuatnya muak. Namun, ia tak bisa mengatakannya secara langsung.
“Aku tak akan ikut makan malam jika hal itu bisa membuatmu makan masakan Ibu, Kak. Aku bisa keluar dari rumah ini.” tukas Lunar. Ia memandang wajah ibu angkatnya itu dan menyunggingkan senyum seolah berkata semua baik-baik saja. Lunar ingin memperbaiki hubungan antara ibu dan anak itu. Sepertinya, dia harus melupakan tekadnya untuk menjadi egois kali ini.
“Tapi kau juga belum makan, Nar.”
“Tak apa, Bu. Aku masih kenyang karena tadi sore aku sempat membeli jajanan di kedai langgananku. Jangan khawatir. Kakak benar, kakak adalah putri kandungmu sedangkan aku hanya anak pungutmu.” Lunar mengatakannya sambil tersenyum kecil untuk menutupi sakit hatinya. Menurutmu, siapa yang tak sakit hati mendengar kata anak pungut? Meski kata itu telah terucap ribuan kali, tetap saja hatinya belum kebal menerimanya.
“Baguslah jika kau sadar,” ucap Zoya.
“Aku pergi dulu, Bu. Aku lupa jika ada janji dengan Sean tadi.”
Setelah mengatakan hal itu, Lunar beranjak dan mengambil jaketnya yang tersampir di punggung kursi yang ia duduki tadi. Lunar berjalan dengan menunduk tanpa menghiraukan apapun. Ia juga mengabaikan eksistensi Zoya yang masih bersandar pada pintu. Hana tahu, Lunar pasti berbohong jika ia memiliki janji dengan teman sesama Deltha-nya. Namun ia sama sekali tak bisa mencegah kepergian Lunar. Ia mengerti. Pasti Lunar tengah memberinya waktu untuk memperbaiki sikapnya pada putrinya itu.
“Ayo kita makan, sayang. Lunar telah pergi dan kita bisa makan malam berdua. Ibu sudah memasakkan makanan kesukaanmu dan ayahmu. Tapi maaf, ayahmu tidak bisa makan malam bersama kita,” ajak Hana pada putrinya. Ia tak akan mengatakan pada Zoya jika ia dan mate-nya bertengkar beberapa waktu lalu.
“Hm.”
Zoya hanya menggumam. Setelahnya ia beranjak menuju meja makan dengan sebuah senyuman kecil yang ia sembunyikan agar Hana tak melihatnya. Lunar memutuskan untuk pergi dari sini. rasanya, dia tak betah jika harus berada lebih lama di sana. Tak apa, dia masih bisa mencari makan di jalanan nanti.
***
Tapak kaki Lunar masih menyusuri jalanan yang mulai sepi dari aktivitas. Di tangannya, terjinjing sebuah kantong plastik berisi makanan dan minuman untuk mengganjal rasa lapar di perutnya. Beruntung, ia masih menjumpai kedai yang masih buka hingga ia bisa mampir untuk membeli makanan dari sana.
Mendapat penolakan secara terang-terangan dari kakak sepupunya tadi membuat Lunar enggan menampakkan diri di rumahnya. Ia mengerti, pasti kakaknya itu kini tengah bercengkrama dengan ibunya. Jadi dia tidak ingin mengganggu moment berharga mereka. Ia ingin, kakak dan ibu angkatnya membangun kembali hubungan ibu dan anak yang sempat merenggang karenanya. Jika ia pernah berpikir untuk egois, maka ia akan menghilangkan pikiran itu untuk kali ini. Lagi pula ia sudah menemukan sebuah fakta yang cukup membuatnya senang. Yakni fakta bahwa ada kemungkinan ibunya masih hidup. Ia hanya harus bekerja dan berusaha lebih keras untuk menggapainya.
Dan untuk malam ini, ia ingin menyendiri. Ia ingin bermalam di bangku taman saja dan tidak tidur di tempat nyamannya seperti biasa. Ia ingin merasakan dinginnya malam yang menusuk tulang tanpa selimut sebagai penghalang. Ia ingin merasakan kesakitan. Sebentar saja, agar ia bisa melupakan kenangan menyakitkan yang ia alami beberapa waktu lalu.
Meski nyatanya, ia tak akan benar-benar merasakan kedinginan yang ia harapkan sampai menusuk tulangnya karena ia terlahir sebagai werewolf. Tubuh werewolf memiliki suhu yang lebih panas dari suhu tubuh manusia. Bahkan meski ia hanya memakai baju tipis dan berada di tumpukan salju, ia tak akan mati kedinginan atau membeku.
Setidaknya seperti itulah asumsi yang ia dapatkan saat membaca buku di perpustakaan tentang manusia. Lunar tahu, ibunya adalah seorang manusia dan ayahnya seorang werewolf murni. Jika saja gen ayahnya lebih lemah dari gen manusia milik ibunya, ia pasti tidak akan menjadi seperti ini. Ia akan menjadi manusia tanpa sibuk memikirkan latihan pertahanan diri. Ia tak akan repot memikirkan jiwa lain dalam dirinya. Dan ia yakin, bibinya tak akan serepot ini mengasuhnya.
Tapi bagaimana Lunar bisa bertahan jika ia menjadi seorang manusia? Dari buku yang ia baca, manusia memiliki tubuh yang sangat lemah, cepat menua, dan rapuh. Sama sekali berbeda dengan kaumnya dan kaum vampire. Jika kaumnya memiliki suhu yang panas, maka vampire memiliki suhu yng teramat dingin. Tubuh mereka cenderung terasa seperti es karena racun yang mengalir di pembuluh darah mereka. Dan manuisia, memiliki suhu di antara dua kamu itu, tiak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin.
Jujur saja, saat membaca tentang kehidupan dua kaum itu –vampire dan manusia--, Lunar merasa lebih takjub akan kehidupan manusia. Manusia tidak memiliki ketahanan tubuh yang super dan usia yang panjang selayaknya vampire dan kaum werewolf. Namun untuk kehidupan ini, jumlah mereka lebih banyak dari jumlah vampire maupun werewolf. Mereka memiliki tingkat kemampuan otak yang tinggi. Mereka mampu bertahan di antara kehidupan dua kaum super power dan hidup berdampingan dengan mereka tanpa mengalami kepunahan meski perbedaan kekuatan mereka terlihat begitu jelas.
Pkir Lunar, jika ia memiliki kesempatan untuk mencoba kehidupan lain, ia akan memilih menjadi manusia.
