Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Part 7

“Hey!” tegur seseorang.

Duagh! Plak!

Karena lamunannya, Lunar tidak menyadari ada seseorang yang mendekat dan menyapa. Ia reflek memukul orang yang menepuk pundaknya, hingga orang itu terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri. Begitu ia melihat siapa orang itu, Lunar langsung memberikan cengiran lebar padanya dan mencoba menyembunyikan kegundahan hati.

“Apa kau tidak mengenal aromaku? Kau pikir aku ini penjahat yang mengincar gadis perawan sepertimu untuk diperkosa?” tanya sosok itu.

Lunar memberikan cengirannya sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Aku sedang memikirkan sesuatu jadi aku kurang waspada. Lagi pula, untuk apa terlalu waspada? Bukankah akan ada Warrior yang berjaga untuk menekan tingkat kejahatan?” cercanya.

“Jika seperti itu, mengapa kau memukulku dengan kencang seolah aku ini ancaman untukmu, Nar? oh, aku jadi mempertanyakan kemampuanmu yang katanya sudah dilatih Guru Dan itu.”

Lunar tahu jika Sean—sosok itu, teramat kesal karena memukulnya dengan kekuatan besar seperti tadi. Karena jika Lunar tidak memakai kekuatannya, ia yakin jika Sean hanya akan terdorong sedikit saja dan tak sampai menggerakkan kaki dari tempatnya.

“Memang apa yang kau pikirkan hingga menganggap keadiranku ini ancaman, Nar?”

Sean mendekat dan mengambil barang yang Lunar jinjing hingga memunculkan sebuah kernyitan di dahi Lunar.

Tumben sekali tingkah sahabatnya ini. Tidak biasanya dia mau membantunya membawakan sesuatu seperti ini. Biasanya juga barang bawaan pria itu yang selalu Lunar bawa. Apakah ada hal lain yang tidak diketahuinya sedang terjadi?

“Anggap aku membalas budiku, Nar. Kau selalu membawakan barangku jadi kali ini biarkan aku membawakan barangmu. Kau mengatakan jika kau tengah memikirkan sesuatu, bukan? Jadi, ayo berbagi denganku seperti biasanya,” kata Sean yang seolah menjawab pertanyaan yang mengganggu di benak Lunar. Bagi she-wolf itu, tak buruk juga untuk menerima kebaikan yang jarang dilakukannya. Apalagi, dilakukan dengan sukarela dan tanpa membujuk sebelumnya.

Lunar tersenyum. Meski pada nyatanya Sean memiliki sifat jahil, bagi Lunar hanya hewolf itu lah yang selalu ada di sampingnya. Saat ia tengah menyendiri seperti ini, atau sedang merasa dunia tak adil. Dia pun tak akan sungkan untuk membantu Sean meski dalam hal remeh seperti membawa barang yang sebenarnya Sean sendiri pun tak akan kesusahan. Lunar menyebutnya dengan hubungan timbal balik yang menguntungkan. Lunar membantu Sean, dan Sean ada untuk Lunar.

“Nar, ayo duduk di bangku itu!” tunjuk Sean ketika melihat siluet bangku taman yang terletak sedikit jauh dari lampu penerangan. Suasana yang suram tak akan membuat mereka merasa takut karena insting werewolf lebih tajam dari manusia. Yah, terkecuali jika werewolf itu takut akan hantu.

Lunar hanya mengangguk saat Sean mengajaknya menuju bangku taman itu. Ia masih enggan mengeluarkan suaranya meski pada sahabatnya sekali pun. Beginilah Lunar. Saat ia enggan, segalanya akan terasa berat.

Sesaat setelah mereka duduk di bangku taman itu, Lunar langsung menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya seolah ia ingin menghilangkan beban yang ada di otaknya.

“Aku pernah membaca jika menghela napas terlalu dalam bisa mengurangi usiamu, Nar,” ujar Sean.

Lunar menoleh, ia memang sering membaca buku. Namun ia sangat yakin jika dirinya sama sekali belum pernah mendengar hal seperti ini. Omong-omong, apa-apaan itu? Memang apa hubungannya dengan menghela napas dalam-dalam dengan panjang usia seseorang? Asumsi yang menurutnya sangat konyol.

“Boleh ku tahu judul buku itu, Sean?” tanya Lunar.

“Untuk apa? Kau tidak akan mencarinya untuk mengingat semua kata di dalam buku itu kan,Nar?”

Bukannya menjawab pertanyaan Lunar, Sean malah melemparkan pertanyaan umpan pada Lunar.

“Jika besok aku ke perpustakaan kota, ingatkan aku untuk mencarinya dan membakarnya. Aku yakin pastilah buku itu hanya berisi omong kosong. Jadi menurutku membakarnya ada hal bagus yang perlu ku lakukan!” sinis Lunar.

Glup!

Sean merasa jika kini tenggorokannya terasa amat kering. Entah, dalam nada sinis yang di lontarkan Lunar padanya, ia merasa jika ada keseriusan di dalamnya.

“Lupakan itu, Nar. Anggap aku tengah bercanda saat mengatakan hal itu.”

“Menganggapnya bercanda? Jadi benar jika omong kosong itu benar-benar serius, Sean?”

Demi Moon Goddess! Sean merasa jika Lunar kini tengah dalam masa ingin kawin. Ia hanya bercanda sedikit, tetapi reaksi Lunar sungguh di luar perkiraannya. Sahabatnya ini, selalu saja membuatnya tak enak hati dalam keadaan yang tidak terduga.

“Bukan begitu maksudku, Nar. Aku hanya mengatakan hal itu untuk menghiburmu. Auramu terlalu suram. Dan kupikir memberikan sedikit lelucon untukmu merupakan hal bagus. Tapi ....“

“Oh, jadi menurutmu aku ini pantas kau lempari lelucon seperti itu? Begitu?”

Belum selesai kata yang Sean keluarkan, Lunar sudah lebih dulu memotongnya. Jika begini, Sean yakin jika Lunar benar-benar dalam suasana hati yang buruk.

Jika sudah begini Sean hanya bisa mengeluarkan hal terakhir yang terlintas di benaknya.

“Ayo kita makan cemilannya. Aku lapar karena belum sempat makan malam. Ibuku sedang mengunjungi kakek bersama dengan ayah dan adikku. Jadi aku hanya sendirian di rumah dan taka da yang memasakkanku.”

“Nah, mengapa tidak mengajakku makan sedari tadi saja? Aku juga lapar. Kau tahu, bertengkar dengan paman dan kakak sepupuku saja sudah membuatku lapar, ditambah dengan aku yang tidak makan malam di rumah. Membuat mood-ku buruk dan aku ingin makan. Sean, jika cemilanku kurang, aku minta milikmu ya?” oceh Lunar.

Benar, kan?

Makanan bisa mengalihkan mood buruk Lunar dan membuatnya mengoceh sepanjang itu setelah sebelumnya ia memarahi Sean. Tak butuh waktu lama ataupun jawaban dari Sean, Lunar langsung mengambil beberapa cemilan dan langsung melahapnya.

Sambil memakan cemilan mereka menikmati hening dan dinginnya mala mini. Lunar yang menikmati setiap kunyahannya dan Sean yang sesekali melirik Lunar yang tengah sibuk mengunyah. Jika orang lain melihat mereka yang seperti ini, mungkin yang melihat akan mengira jika mereka berdua merupakan sepasang mate. Tapi, tidak! Mereka teramat yakin jika mereka bukan mate karena sejak awal mereka tidak merasakan tanda-tanda itu.

Bagi werewolf, mereka akan mengetahui mate mereka sejak awal mereka bertemu. Hidung sensitive mereka akan menangkap feromon khas yang mampu membuat indra penciuman itu mengenali dan menetapkan bahwa aroma feromon itu akan menjadi candu untuk setelahnya. Dan untuk Sean maupun Lunar, keduanya tidak merasakan hal itu. Jadi mereka yakin jika mereka bukanlah sepasang mate.

“Sean, andai kau diberikan kesempatan hidup yang kedua dan menjadi bagian dari kaum selain werewolf, kau memilih menjadi manusia atau menjadi vampire?” tanya Lunar tiba-tiba.

Sean memandang Lunar dengan penuh tanda tanya. Mengapa tiba-tiba sahabatnya itu menanyakan hal ini?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel