Part 5
Semenjak Lunar mendengar percakapan antara bibi dan gurunya, Lunar membulatkan tekad untuk segera mendaftar ujian calon Warrior. Saat ditanya alasannya, ia mengatakan ingin menjadi Warrior dan melindungi pack yang telah menjadi tempat tumbuhnya itu. Tentu saja itu bukan tujuan yang sebenarnya. Dan Lunar merasa, dengan menjadi Warrior ia bisa selangkah lebih dekat untuk menemukan ibunya.
Selama ini ia hidup dengan topeng yang sangat baik untuk menutupi keinginan hatinya. Bohong rasanya jika ia tidak merindukan kasih sayang ibu kandungnya. Dan untuk alasan-alasan yang ia utarakan kepada bibinya itu adalah semata-mata agar sang bibi tidak terlalu mencemaskannya. Beliau telah banyak berkorban untuknya, dan ia tak ingin bibinya semakin menambah jumlah pengorbanannya hanya untuk kebahagiaan Lunar. Karena itu, sebisa mungkin Lunar berusaha untuk melakukan semuanya secara diam-diam.
Lunar teramat faham dengan rasa penyesalan bibinya hingga memaksa bibinya untuk meminta bantuan guru latihannya. Meski pembicaraan malam itu bukan pembicaraan pertama yang Lunar mencuri dengar, namun Lunar baru benar-benar mengetahui dengan benar jika ada cara yang lebih efektif untuk mencari keberadaan ibunya. Dan hal itu semakin membuat Lunar membulatkan tekadnya untuk menjadi pemimpin Warrior. Karena selain membuat ayah angkatnya tidak meragukan kemampuannya, ia juga bisa mencari keberadaan ibunya.
Lunar tak tahu jika ada werewolf yang bertugas di luar daerah dan berada di bawah kepemimpinan pamannya. Selama yang ia tahu, mereka –para werewolf- hanya hidup di pack masing-masing tanpa mau mengusik kehidupan bangsa lainnya. Selain werewolf, Lunar juga mengetahui jika ada bangsa manusia dan vampire yang menghuni belahan lain dari dunia tempat ia tinggal. Hanya saja, ia sama sekali tidak tahu menahu semua informasi tentang mereka. Hanya Alpha pack dan werewolf tertentu saja yang mengetahuinya, termasuk di dalamnya adalah ayah angkatnya –atau pamannya-.
Di dalam pack-nya, mereka telah hidup secara berkecukupan. Hidup di lembah dengan latar bukit di depan dan pegunungan tinggi di belakangnya membuatnya enggan memupuk rasa ingin tahu yang besar akan dunia di luar sana. Hidup di dalam pack-nya ini sangat kompleks karena pack-nya termasuk pack dengan warga yang lumayan banyak. System pemerintahan mereka begitu tertata dengan beberapa lapisan pemimpin dan system jual beli pun tertata dengan baik dengan mengandalkan mata uang. Lunar tak tahu, apakah di luar sana para vampire dan manusia juga menggunakan mata uang seperti yang Lunar gunakan? Bagaimana hidup mereka? Dan bagaimana dengan perkembangan teknologi mereka?
Lunar memang mengetahui sedikit tentang vampire dan manusia dari buku yang pernah dibacanya di perpustakaan kota. Meski pamannya mengekang Lunar dari akses latihan fisik, ia tidak kehabisan akal dan memakai waktu luang untuk mencari pengetahuan apapun tentang dunianya. Ia pernah mendengar tentang buku adalah jendela dunia dari pustakawan di sana. Dan ia membenarkan hal itu. Ia banyak membaca tentang manusia dan vampire. Namun yang membuatnya heran hingga saat ini adalah dari sekian ribu buku disana, ia tidak menjumpai buku yang memberi tahu tentang detail bangsa werewolf. Hanya sedikit yang ia ketahui, dan itupun hanya terbatas seputar mate, tingkatan werewolf, kelemahan dan kelebihan werewolf, serta potensi werewolf. Ia tahu, pengetahuan seperti ini tidak akan membantu banyak dalam ujian nanti.
Meski tak membantu banyak dalam ujian, setidaknya Lunar tahu bahwa hidupnya hanya sebagian kecil dari kehidupan besar di luar sana. Dan suatu saat, Lunar ingin menjadi bagian darinya.
Sebenarnya bisa saja Lunar mengusahakan untuk menjadi Watcher, tapi ia tetap memikirkan eksistensi pamannya. Ia yakin jika melihat gelagat pamannya itu, dia akan dengan mudah menghalangi niatan Lunar dengan jabatan yang ia miliki. Jadi jalan aman satu-satunya adalah dengan mendaftar menjadi Warrior lalu setelah itu berusaha menjadi pemimpinnya. Dengan begitu ia bisa mendapatkan akses mereka.
Dan di tengah kekangan sang paman, Lunar bersyukur jika pamannya lebih sering bekerja di area yang jauh darinya. Dengan begitu ia bisa lebih sering ke perpustakaan dan berlatih dengan guru Dan. Ditambah dengan informasi dari bibinya, ia lebih mudah dalam mengatur waktu belajarnya.
Melihat usaha keras Lunar, Hana hanya bisa mendoakan keponakannya itu dengan kebaikan karena ia tahu ia tak akan bisa membantu Lunar lebih banyak. Lunar adalah harta berharga kakaknya dan sudah menjadi kewajibannya untuk menjaganya. Beruntung sahabat kakaknya itu masih berada di jajaran Warrior dan mau menjadi tutor Lunar dan mengajarinya secara diam-diam. Dari pandangannya, ia bisa melihat bahwa Lunar adalah anak yang memiliki tekad kuat dan sanggup berjuang dengan keras.
Selama ini Hana tidak pernah mendengar Lunar mengeluh tentang kehidupannya dan betapa berat latihannya. Anak itu akan pulang dengan senyuman cerahnya lalu akan membantunya mengerjakan pekerjaan rumah yang belum ia selesaikan sebelum mate-nya pulang. Sebenarnya, ia juga memiliki kekecewaan tersendiri akan sikapnya yang terlihat lebih condong ke Lunar dari pada anaknya sendiri. Namun ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk tetap memperhatikan putri kandungnya. Meski putri kandungnya sudah terlihat menjauhinya karena hal itu.
“Sayang, kau yakin akan mengikuti ujian Warrior setelah tahu mate-ku menolaknya?” ujar Hana. Jejak airmata masih terlihat di pipinya dan suaranya juga masih terdengar serak setelah menangis tadi.
“Ya, Bu. Aku sudah membulatkan tekadku untuk hal ini.”
“Aku tahu, kau tak akan bisa melewati ujian itu secara maksimal seperti halnya Zoya, kakakmu. Tapi aku akan selalu memanjatkan doa agar kau bisa melewatinya. Kau tidak memiliki pelatih handal seperti Zoya. Kau tidak memiliki kesempatan sebagus Zoya. Namun aku berharap kau bisa melewatinya dan memenuhi keinginanmu.”
Lunar menatap wajah yang kini terlihat lebih cerah dari pada beberapa waktu setelah pamannya meninggalkan mereka. Ia tatap lekat-lekat wajah yang selalu memberinya kasih sayang melimpah itu. Wajah yang tak berubah semenjak ia mulai mengingat, seolah lupa bahwa werewolf berumur panjang dan menua dalam waktu yang cukup lama.
“Terimakasih atas semuanya, Bu. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa,” bisiknya.
Hana menggeleng pelan, “Tak perlu dibalas. Dirimu adalah harta berharga yang ditinggalkan oleh mendiang kakakku. Jadi sudah sepatutnya aku menjagamu dengan baik. Dan jangan pernah berpikir terlalu jauh untuk membalasnya. Aku menyayangimu, dan tidak ada kata balas jasa dalam hal itu.”
“Sungguh! Pemandangan yang sanggup membuat perutku mual.”
Hana dan Lunar sontak menoleh ke arah pintu dimana ada sosok yang tengah menyandarkan badannya di sana. Sosok itu, sosok yang serupa ayahnya namun dalam versi perempuan, Zoya. Kakak sepupu yang tidak pernah menyukai dan akrab dengannya karena ia merasa jika Lunar telah merebut kasih sayang dari ibunya.
