BAB 9 Rumah baru
Hari ini hari pertama bagi najwa menempati rumah barunya.
Hari yang membahagiakan bagi najwa karena berpikir sifat dan perilaku azzam akan lebih baik dari kemarin
Tak mengulur waktu, ketika sampai najwa langsung membereskan rumah yang terlihat tua namun elegan itu.
Mulai dari halaman depan hingga belakang ia bersihkan, menyapu mengepel lantai hingga mengganti bola lampu ia kerjakan dengan sangat telaten dan cekatan.
najwa tak ingin memiliki pembantu karena ingin mengerjakan semua kerjaannya sendiri, berkali kali ibu mertuanya bilang bahwa dia harus memiliki pembantu minimal satu orang namun najwa selalu menolak dengan alasan ia ingin menjadi istri yang solehah dan melayani suami.
4 jam najwa selesai membersihkan rumah dan ia memutuskan untuk memasak didapur karena kata neneknya bahwa suami akan setia dan luluh jika kita pandai memasak.
Sambil memasak najwa tersenyum sendiri karena memikirkan reaksi suaminya nanti ketika ia melihat masakan kesukaannya.
Hanya dalam waktu 2jam najwa sudah selesai memasak makan malam kesukaan azzam yaitu ayam bakar, sayur lodeh, sambal tomat dan ikan goreng.
Semua ditata dengan rapi oleh najwa dimeja makan
Setelah selesai dengan meja makan lalu najwa pun mandi dan mempersiapkan diri karena sebentar lagi azzam pasti pulang
Setelah najwa membersihkan diri lalu ia menunggu kedatangan azzam diruang tamu sambil membaca alqur'an
Tak lama azzam pun pulang dan segera najwa menghentikan membaca alqur'an dan membuka pintu untuk suaminya.
"Assalamualaikum mas" ucap najwa ketika membukakan pintu untuk suaminya dan menyalami suaminya
"Waalaikum salam" jawab azzam
"Mas, hari ini najwa masak kesukaan mas azzam, mas mandi dulu lalu ganti baju habis itu kita makan ya mas?" Ucap najwa sambil menggambil tas ditangan azzam
"Iya"
Lalu azzam pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap makan malam
Hanya butuh 20 menit bagi azzam melakukan ritualnya
Dan sekarang dia sudah berada dimeja makan untuk makan
"Dari mana lo tau makanan kesukaan gue" ucap azzam ketika duduk dikursi makan
"Najwa nanya sama mama mas" ucap najwa
"Oh"
"Mas boleh najwa yang ngambilin mas nasi?"
"Ya"
Setelah selesai najwa mengambilkan nasi dan lauk untuk azzam.
Ketika azzam hendak menyuapkan sendok pertamanya tiba-tiba telpon milik azzam berdering.
Lala is calling.....
"Halo" ucap azzam
"Hai sayang kamu kok gak datang sih?" Ucap lala
"Aku capek sayang"
"Heii ayolah sayang aku tunggu ditempat biasa, oke daaahh aku sayang kamu" ucap lala dan langsung menutup telpon
Azzam pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar
"Mas mau kemana?" Tanya najwa
"Ketemu temen" balas azzam
"Tapi mas belum makan?"
"Nanti aja aku makan diluar sama temen"
"Tapi masakan najwa mas?"
"Buang aja, yaudah gue pergi dulu"
Seolah tak berarti dimata azzam, mata najwa pun langsung berkaca kaca hatinya remuk seperti ada yang menusukkan seribu pedang ke hatinya
Semua harapan dan rencana yang ia buat selalu berakhir dengan satu telpon dan air mata
Namun ia berusaha tegar mengahadapi semuanya.
Najwa tak mempunyai rencana lagi untuk menghabisi waktu bersama suaminya, kekecewaan karena hal kemarin malam masih sangat terasa
Luka karena kesedihan kemarin pun masih terlihat jelas
Sekarang yang ia butuhkan hanyalah sandaran dan orang yang mendengarkan dia
Jika anak perempuan lainnya selalu bercerita kepada sang ibu, berbeda dengan najwa ia tak memiliki orang tua.
Ia sangat rindu kepada neneknya dan ingin bercerita panjang lebar kepada neneknya namun tidak mungkin karena sekarang sang nenek berada diluar kota.
Tak mungkin pula ia bercerita pada sang ibu mertua.
Dan pikiran najwa hanya terpikir pada satu orang yaitu NURI.
Ia akan mengunjungi nuri sore nanti, karena azzam bilang ia akan pulang agak terlambat
Segera najwa melepaskan sapu dan mengambil telpon genggam miliknya untuk menghubungi suami dan sahabatnya.
"Halo assalamualaikum mas" ucap najwa ketika nada dering tersambung
"Waalaikumsalam, kenapa?" Jawab azzam
"Mas nanti pulang jam berapa?"
"Gak tau"
"Najwa boleh gak izin kerumah nuri nanti sore"
"Pergi aja tapi gak usah pulang malem ntar kalo lo kenapa napa gie yang disalahin sama mama"
"Iya mas sebelum magrib najwa udah pulang kok"
"Yaudah gue banyak kerjaan, dah"
Tutup azzam sepihak
Segera najwa menyelesaikan menyapu lantai lalu ia pun membersihkan diri.
Tak perlu waktu lama najwa sekarang sudah siap untuk berangkat kerumah nuri namun sebelum berangkat tadi ia sudah mengabari nuri bahwa ia akan mengunjunginya.
Najwa tak pernah berdandan yang berlebihan jika keluar dari rumah, cukup memakai sedikit bedak saja sudah cukup baginya.
Rumah Nuri
"Assalamualaikum" ucap najwa sambil mengetuk pintu rumah nuri
"Waalaikumsalam" jawab nuri dan membuka pintu
"Najwa, yuk masuk" ajak nuri
"Ri, najwa boleh minta masukan gak sama nuri?"
"Iya ada apa wa?"
"Tapi ini masalah rumah tangga najwa dan aib suami najwa apakah boleh najwa menceritakannya?"
"Najwa, jangan buka aib suamimu bahkan didepan ibumu sendiri karena aib suami adalah aib istri jadi kau harus bisa menutupi aib suamimu sebagaimana kau menutup aibmu"
"Tapi sekarang najwa butuh temen buat cerita"
"Yaudah kalo gitu ceritain secara singkat aja"
"Najwa gak ngerasa udah nikah dan belum bahagia"
"Terus?"
"Najwa sakit hati, pernikahan najwa ini percuma pernah terlintas dipikiran najwa untuk berpisah sama mas azzam" ucap najwa berurai air mata
"Astarfirullahal'azim najwa kamu gak boleh kayak gitu, perceraian itu sangat dibenci oleh Allah SWT, memang apa yang membuat kamu berpikiran seperti itu? Apakah kesalahan azzam sangat besar? Apakah pernah ia melarang kamu untuk mengunjungi makan ibumu?
Melarangmu mengunjungi nenekmu? Apakah pernah azzam melarangmu melakukan ibadah dan kewajibanmu? Apakah azzam pernah menyuruhmu memutuskan tali silaturahmi?"
"Tidak mas azzam tidak pernah menyuruh najwa seperti itu"
"Lantas mengapa kau berpikir seperti itu? Allah membolehkan kita bercerai apabila pernikahan itu memiliki banyak mudoratnya, jika azzam belum pernah melakukan kesalahan seperti yang ku ucapkan mengapa kau ingin berpisah?"
"Tapi hati najwa udah terlanjur sakit"
"Najwa, sakit hati adalah luka yang paling susah untuk diobati karena luka tersebut tanpa goresan dan tanpa mengeluarkan darah, jadi kamu harus bisa menyembuhkan sakit itu"
"Astarfirullahal'azim maafkan hamba ya Allah, hamba sungguh tak berpikir sebelumnya, jadi najwa harus bagaimana?"
"Begini saja ambil undangan ini nuri akan menikah sama mas arfan akhir bulan ini jadi nuri mau kamu mendampingi nuri nanti ya?"
"MasyaAllah maafin najwa ya, najwa gak tau kalo nuri mau nikah, bukannya bantuin nuri najwa malah ngerepotin"
"Gak papa kok, yang penting kamu bisa datang nanti"
"Iya insya Allah najwa datang" ucap najwa sambil memeluk nuri
