Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 12 Kesedihan Najwa

Jam menunjukkan pukul 05.00 wib pagi dan najwa bangun untuk melaksanakan solat subuh, namun sang nenek masih tertidur pulas dengan keadaan yang sama ketika mereka tidur semalam,

Perlahan najwa berdiri dari tempat tidur, ia tak ingin membangunkan sang nenek karena semalam terlalu banyak hal yang mereka bicarakan hingga larut malam,

Setelah solat subuh najwa pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, tak butuh waktu lama bagi najwa menyiapkan sarapan untuk mereka, dalam waktu 30 menit sarapan sudah tersaji rapi diatas meja, ada roti selai, sandwich, nasi goreng, dan tak lupa najwa selalu menyediakan susu dan air putih,

Setelah selesai menyiapkan sarapan najwa membangunkan sang nenek untuk sarapan bersama,

"Nek, nenek" ucap najwa sambil menepuk pelan tangan sang nenek,

Namun tak ada jawaban, najwa mencoba berulang kali membangunkan sang nenek tapi tetap saja sama, sang nenek tak bergeming sedikitpun,

Akhirnya najwa memeriksa nadi sang nenek, tak ada denyut, ia masih berpikir jika ia salah memeriksa, sekali lagi ia mencoba memeriksa nadi sang nenek, namun hasilnya nihil, Ia pun menangis sejadi-jadinya, memeluk sang nenek dan berusaha membangunkan sang nenek tapi tak ada jawaban,

Najwa makin terisak sejadi-jadinya lalu ia pun menelpon ibu mertuanya,

"Assalamualaikum ma" ucap najwa sesegukan

"Waalaikumsalam najwa, kamu kenapa sayang kok kayak habis nangis kamu baik-baik aja kan?"

Tanya ibu mertuanya penuh dengan perasaan cemas,

"Najwa baik-baik aja ma, tapi nenek....hiks hiks hiks" tangis najwa mulai pecah lagi,

"Tapi kenapa sayang? Nenek kenapa?"

"Nenek meninggal"

"Innalillahi wainnaillaihi rajiun, mama kerumah nenek kamu ya sayang, kamu tunggu yang kuat ya sayang," ucap ibu azzam dan langsung mematikan telpon sepihak,

Ketika najwa tengah memeluk sang nenek tiba-tiba jatuh sepucuk surat dari tangan sang nenek,

Najwa

Nenek tau kamu pasti ada masalah, tapi kamu masih gak mau cerita sama nenek, jujur nenek sangat terpukul ketika tau bahwa kamu tidak bahagia sama pernikahan kamu, waktu itu nenek kerumah kamu dan azzam sedang memarahi kamu diluar rumah jadi nenek urungkan niat nenek untuk masuk kerumah kamu,

Dan nenek juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba kamu datang tadi malam, pasti kamu lagi ada masalah? Nenek tau bahwa kakakmu nadia sudah pulang dari luar negri tapi nenek tidak tau apakah masalah kamu ada sangkut pautnya sama nadia atau tidak, yang pastinya nenek selalu dukung apapun keputusan kamu najwa,

Nenek akan selalu mendoakan kamu didunia atau diakhirat nanti, nenek sayang najwa

Seketika najwa menangis sejadi-jadinya, ia tidak menyangka bahwa sang nenek mengetahui hidupnya,

"Sayang,,,sttttttss jangan nangis lagi ya ada mama disini,? Ucap ibu mertuanya berusaha menenangkan najwa

"Nenek hiks udah ninggalin hiks najwa ma hiks hiks hiks" ucap najwa sambil menangis dipelukan ibu mertuanya,

"Sabar sayang, tadi ma juga udah nelpon azzam, bentar lagi dia sama papa datang ya"

"Ma..ka..sihh..ma" jawab najwa

"Assalamualaikum, papa turut berduka cita ya najwa" ucap ayah azzam sambil membelai kepala najwa,

"Makasih pa" jawab najwa,

"Assalamualaikum" ucap azzam ketika masuk ke kediaman sang nenek,

"Waalaikumsalam, itu siapa zam?" Tanya ibu azzam,

"Hai tante, aku nadia kakaknya najwa dan pacarnya azzam waktu di luar negri," ucap nadia sambil tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah ibu azzam,

Bruk

Tiba-tiba najwa pingsan, dan azzam ingin menggendong sang istri namun tangan azzam ditepis sang ibu,

"Jangan sentuh anak ku, kamu uruskan saja pacar tersayang kamu itu, papa tolong angkat najwa" ucap ibu azzam sambil memandang sinis kearah azzam dan nadia

Semua sedang berkumpul diruang keluarga rumah azzam, disana ada ayah dan ibu azzam, nadia serta azzam, mereka sedang menunggu najwa,

Sesekali azzam melirik kearah orang tuanya dan hanya mendapat balasan tatapan marah dari sang ibu,

Hari ini adalah hari ke tujuh setelah kematian sang nenek, najwa pun hanya berusaha kuat menerimanya, sekarang najwa sedang berada dikamar dengan sebuah kertas ditangannya, terlihat najwa sedang menulis sesuatu, sambil berurai air mata ia menulis seolah kertas ditangannya itu bisa menghilangkan bebannya,

Tak lama ia pun turun dan berkumpul diruang keluarga,

Ketika najwa menuruni tangga, semua mata tertuju padanya,

"Sayang, kamu tau apa kesalahan azzam, dan ini pun urusan pribadi kalian, papa sama mama cuman pengen denger apa keputusan kamu, dan kami tidak akan ikut campur, karena papa tau bahwa ketika kamu membuat keputusan kamu pasti sudah memikirkannya" ucap papa azzam,

"Iya pa, najwa sudah membuat keputusan bahkan keputusan ini sudah najwa ambil sebelum nenek meninggal" ucap najwa

"Silakan sayang, tapi mama cuman mau kamu ngasih keputusan tanpa paksaan dari siapapun" ucap mama azzam sambil melirik tajam ke arah azzam dan nadia,

"Insya Allah keputusan najwa ini yang terbaik dan tanpa paksaan dari siapapun ma" ucap najwa dan mendapat senyuman dari azzam, mama dan papanya,

"Bismillahirohmanirrahim, najwa memutuskan bahwa najwa.... akan membiarkan mas azzam menikahi kak nadia" ucap najwa mantap sementara azzam dan orang tuanya diam dengan sangat terkejut,

"Tidak, mama tidak setuju, mama tidak setuju dengan kamu najwa bagaimana mungkin kamu mengikhlaskan suami kamu kepada orang lain, walaupun itu kakak kamu sendiri" ucap mama azzam marah

"Sayang, apa kamu serius? Ini sangat berat sayang" ucap azzam berlutut didepan najwa dan memegang tangan najwa,

"Najwa serius mas, najwa yakin mas bisa melakukan yang terbaik" ucap najwa seraya membelai lembut pipi suaminya, lalu azzam mengambil tangan najwa dan menciumnya,

"Najwa" bentak mama azzam,

"Ma, mama sama papa kan udah lama banget pengen punya cucu dan sekarang itu semua sudah terkabul didalam perut kak nadia sudah ada darah daging  mas azzam, cucu mama, kalo misalnya mas azzam gak nikahin kak nadia apa mama gak kasian sama cucu mama? Kalo dia nanti kesepian gimana? Kalo nanti dia ditanya kemana papa sama kakek neneknya, dia mau jawab apa? Najwa gak mau dia terlahir seperti najwa" ucap najwa berusaha menjelaskan kepada ibu mertuanya,

"Masih ada cara lain sayang, kita bisa memelihara dia untuk sementara dan setelah dia melahirkan anak itu kau dan azzam bisa mengadopsinya" ucap mama azzam sambil memegang pundak menantunya,

"Ma kalo seperti itu berarti najwa sudah tidak adil kepada kak nadia dan anaknya, bagaimana perasaan mama ketika anak mama dipisahkan dari mama" ucap najwa sambil membelai lembut pipi ibu mertuanya,

"Sayang, hati kamu memang mulia hingga kamu memikirkan semua kebahagiaan orang tanpa memikirkan kebahagiaaan dirimu sendiri" ucap ibu azzam sambil memeluk najwa,

"Kak nadia sekarang kakak adalah keluarga baru kami, semoga kakak selalu bahagia ya" ucap najwa sambil memeluk nadia ketika mama azzam sudah melepaskan pelukannya,

"Sekarang najwa pengen kalian selalu berpegangan seperti ini" ucap najwa sambil menyatukan tangan azzam dan nadia,

Jangan tanya apakah itu sakit atau tidak? Sebagai seorang perempuan pasti itu sangat menyakitkan, najwa juga tak pernah mau membagi cinta dan kasih sayang suaminya pada orang lain walaupun itu kakaknya, najwa tak bisa namun najwa ingat petuah neneknya sebelum meninggalkan najwa, hanya itu yang bisa menguatkan najwa sekarang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel