BAB 11 Luka
Najwa tidak tau apa-apa sekarang, setelah pulang dari rumah nuri tadi yang najwa lakukan hanyalah menangis, najwa tidak habis pikir mengapa nuri bisa menuduhnya seperti itu.
Ketika najwa tengah menangis tiba-tiba azzam memeluknya dari belakang,
"Hei,kenapa kamu menangis sayang" ucap azzam sembari memeluk najwa
"Mas, ini mas azzam kan?" Tanya najwa bingung dan masih dalam keadaan menangis
"Iya ini mas azzam, kamu kenapa nangis sayang?"
"Najwa cuma habis nonton film aja mas" ucap najwa berbohong karena tidak mau azzam tau masalahnya
"Ya ampun kamu bikin mas khawatir aja, yaudah jangan nangis lagi dong ntar kamu tambah jelek" ucap azzam sembari menghapus air mata najwa
"Makasih mas"
"Sekarang kamu gak usah nangis lagi ya karena mas akan jadi suami yang baik buat kamu dan mas mau kamu juga bantuin mas buat membimbing kamu lalu mas juga minta maaf atas kesalahan mas di empat bulan yang lalu karena sebagai suami mas sudah mendzolimi kamu"
"Iya mas najwa juga minta maaf karena najwa belum bisa menjadi istri yang baik buat mas" ucap najwa dan langsung mendapat pelukan dari azzam
~~~~~~
"Apa? Sekarang azzam sudah menikah?" Teriak seorang wanita ketika menerima panggilan
"Iya nona" balas seorang pria yang seperti mata-mata
"Kapan dia menikah?"
"Sekitar empat bulan yang lalu nona"
"Dengan siapa dia menikah?"
"Najwa alfatunnisa"
"Bagus terus pantau azzam besok aku akan datang ke indonesia" ucap wanita itu dan langsung menutup telpon sepihak
"Pantas saja kau tidak ada kabar empat bulan ini,ternyata kau sudah menikah, dan ini sangat menarik zam, kau menikah dengan najwa? tunggu kejutan ku besok sayang, ini sebagai kejutanku karena tidak bisa hadir diacara pernikahan kalian" ucap wanita itu sambil tersenyum sinis
~~~~~~~~~
"Sayang mas berangkat dulu ya, kamu hati-hati dirumah" ucap azzam sambil mencium kening istrinya
"Iya mas, mas hati-hati dijalan dan jangan lupa makan siang"
"Iya, mas berangkat dulu ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Najwa pun masuk ke rumah dan akan membersihkan rumah lalu tiba-tiba bel berbunyi, najwa bergegas membuka pintu karena najwa mengira suaminya kelupaan sesuatu, ketika najwa membuka pintu dan ternyata itu bukan suaminya melainkan KAKAKNYA nadia.
"Kak nadia" ucap najwa sambil melihat nadia
"Hai, Najwa" balas nadia
"Ayo kak masuk" ajak nadia dan baru selangkah nadia masuk ke rumah najwa tiba-tiba nadia mual dan ingin muntah
"Astarfirullah hal'azim kakak kenapa?" Lalu najwa langsung mengantarkan kakaknya ke kamar kecil
"Gue gak papa kok cuman emang ini udah biasa terjadi maklum lah gejala orang hamil" ucap nadia ketika keluar dari kamar kecil
"Ya Allah selamat ya kak, najwa baru tau kakak hamil lalu suami kakak mana?" Ucap najwa antusias
"Ini rumah suami gue"
"Maksud kakak?"
"Iya azzam suami gue"
"Gak kak gak mungkin, azzam suami najwa"
"Apa? lo beneran istri sah azzam?"
"Iya kak"
"Maaf ya najwa gue udah terlanjur ngelakuin itu sama azzam sebelum lo nikah sama azzam" ucap nadia.
Seperti terkena seribu sayatan dihati najwa hanya terdiam dan terduduk tak berdaya mendengar ucapan sang kakak, najwa lalu berusaha mengumpulkan pikiran dan tenaganya.
"Kakak pasti capek, mari najwa antar ke kamar kakak" ucap najwa sambil memapah sang kakak
"Najwa, lo?" Ucap nadia tak percaya
"Stttt, kakak istirahat aja kasian kandungan kakak,najwa keluar dulu ya" ucap najwa sambil tersenyum dan menutup pintu
"Sialan tuh anak pikirannya apa sih, bukannya marah malah manis" batin nadia
Najwa masuk ke kamar dan mengemaskan dua helai bajunya dan memasukkannya ke dalam tas dan meninggalkan sesuatu dinakas dekat tempat tidur lalu pergi dengan menahan air matanya.
Ketika najwa menutup pintu nadia membaringkan tubuhnya dikasur hingga tanpa sadar ia terlelap,
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 wib namun nadia tak bergeming dari tempat tidurnya hingga ia merasa sangat haus tapi dikamarnya tidak ada air minum, dengan mengumpulkan tenaga ia keluar dari kamarnya,
Masih mengucek mata dan menguap ia menuju dapur, tapi tunggu? Tidak ada najwa didapur? Kemana anak itu? Nadia seakan sangat penasaran kemana najwa akhirnya ia dengan lancangnya memasuki kamar najwa dan azzam,
Dibukanya lemari pakaian najwa, berharap najwa pergi dari rumah ini namun yang ia lihat malah sebaliknya, pakaian najwa masih utuh disana, sial kemana anak itu? Batin nadia,
Jam sudah menunjukan pukul 19.00 wib tapi tak ada tanda-tanda najwa, nadia kembali melamun memikirkan apa dan dimana anak itu, tiba-tiba nadia dikejutkan dengan suara bel lalu nadia bangkit dari sofa dan mengintip siapa yang datang, dan ternyata itu orang yang paling ia tunggu AZZAM,
Segera nadia membuka pintu dan memeluk azzam,
"Hai sayang aku kangen" ucap nadia sambil memeluk azzam
"Nadia? Kapan kamu datang?" Ucap azzam terkejut
"Oh babe sekarang kau jadi canggung pada ku, apa karena istrimu najwa?" Kata nadia sambil melepaskan pelukannya,
"Nadia sekarang aku sudah memiliki istri, namanya najwa" ucap azzam melepaskan pelukannya dari nadia,
"Oh najwa dia sudah pergi berapa jam yang lalu" jawab nadia
"Apa? Pergi kemana dia?" Tanya azzam terkejut
"Mana ku tau, aku berusaha menghalanginya pergi tapi dia malah mendorongku hingga aku terluka seperti ini" ucap nadia sambil memperlihatkan siku nya yang lebam
"Tidak mungkin Najwa seperti itu, kemana najwa sekarang" ucap azzam dengan perasaan yang campur aduk,
"engga tau, Untung saja anak kita baik-baik saja" ucap nadia sambil mengelus perutnya
"APA?" Teriak azzam
"Oh babe santai, kau mengejutkan aku"
"Apa kau gila nadia? Aku sudah beristri"
"Lalu apa masalahnya dengan itu, kalian juga tidak saling mencintai justru kita yang saling mencintai" ucap nadia sambil mengambil tangan azzam dan menciumnya,
"Apa kau memberitahukan ini pada najwa?"
"Tentu karena tadi tanpa sengaja aku ingin muntah" ucap nadia tanpa perasaan bersalah,
Azzam masuk kerumah dengan jalan yang lunglai tidak tau dimana keberadaan istrinya, apa dia baik-baik saja? Itulah kebodohan azzam jika dia sedang khawatir, dia tidak bisa memikirkan apapun,
Najwa pov,
"Kamu kok tiba-tiba datang nak, ada apa?" Tanya sang nenek sambil membelai lembut kepala najwa
"Enggak nek, najwa cuman kangen aja sama nenek" ucap najwa yang sedang duduk dipangkuan sang nenek,
"Kalo waktu kamu kecil dulu, kamu slalu bersikap begini jika kamu mengalah pada kakak kamu, baik itu mainan atau apapun" ucap sang nenek,
"Nek, najwa boleh nanya gak?" Ucap najwa
"Apa sayang?"
"Kalo misalnya nenek punya suami lalu mantan pacar suami nenek itu tiba-tiba nyamperin nenek dan bilang kalo dia hamil anak suami nenek, nenek harus gimana?"
"Loh kok tiba-tiba nanyain hal gitu? Kamu gak papa kan sama azzam?"
"Enggak nek, cuman temen najwa minta saran sama najwa" ucap najwa terpaksa berbohong
"Jika benar anak itu anak suami nenek, nenek pasti akan marah lalu nenek menghukum suami nenek dengan menikahkan suami nenek dengan wanita itu karena yang salah itu ibu dan ayahnya bukan anaknya, maka dari itu nenek akan menikahkan mereka dan bertanggung jawab bersama-sama ketika membesarkan anak itu" jelas sang nenek
"Apa nenek tidak sakit hati atau merasa bersedih?"
"Kalo itu sudah pasti dirasakan, tapi nenek tidak boleh egois hanya karena perasaan nenek lalu nenek harus mengorbankan darah daging suami nenek? Itu terlalu kejam sayang" ucap sang nenek sambil membelai lembut kepalanya,
Sekarang najwa mengerti apa yang harus di lakukannya
