Menuntaskan Yang Tertunda
Alan tiba-tiba mengakhiri panggilan video itu. Firda menjadi sangat kesal, karena ia sendiri sudah mulai tegang juga dan semuanya sudah terasa di ubun-ubun, tinggal dituntaskan saja.
"Pasti Alan takut ketahuan istrinya. Huh!" Firda hanya menggerutu saja, kemudian ia memakai pakaiannya yang tadi sempat ia buka ketika melakukan panggilan video.
Firda melirik jam pada ponselnya, menunjukan pukul enam sore. Ia merasa sangat kesepian di apartemen ini. Bara Syahreza, suami Firda sedang keluar kota selama satu Minggu untuk urusan pekerjaan. Ini hari keempat Bara pergi. Mereka sudah menikah selama tiga tahun dan sampai hari ini belum dikarunia anak. Firda pernah sekali mengalami keguguran. Setelah itu belum hamil lagi.
Firda merasakan sesuatu yang sangat berbeda ketika ia bertemu kembali dengan Alan. Sebelumnya, dia hanya menganggap Alan sebagai teman lama, tetapi kali ini, ada gejolak yang begitu kuat dalam dirinya. Setiap tatapan Alan, setiap senyum yang ia berikan, membuat Firda merasa seakan seluruh dunia berhenti berputar, hanya mereka berdua yang ada.
Namun, ada satu kenyataan yang tidak bisa ia hindari—Bara. Suaminya yang sukses, yang begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur di perusahaan keluarganya. Bara selalu berada jauh, sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota atau luar negeri, sementara Firda, yang juga bekerja di perusahaan papanya, merasa sepi meskipun dikelilingi oleh kemewahan.
Ketika Alan datang kembali ke hidupnya, seakan semua perasaan yang sempat terkubur itu muncul kembali. Firda tahu, ini salah. Ini sangat salah. Tetapi perasaan itu begitu kuat, tak bisa ditahan. Mereka harus menyembunyikan pertemuan mereka dari semua orang, termasuk Bara. Setiap momen yang mereka habiskan bersama, meskipun singkat, terasa sangat berharga.
Mereka sedang mengalami puber kedua—sebuah fase kehidupan yang penuh gairah dan ketegangan, seolah-olah semua yang sempat terpendam selama ini meledak begitu saja. Firda merasa seperti seorang gadis muda yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya, namun dengan kompleksitas yang jauh lebih besar dan berbahaya.
Firda tahu bahwa hatinya mulai goyah. Kehadiran Alan sudah merasuki setiap sudut pikirannya. Dan meskipun ia tahu bahwa itu bisa menghancurkan segalanya, Firda tak bisa menghindar dari godaan yang begitu menggoda.
"Mau ngapain ya? Bosan sekali rasanya. Masih tiga hari lagi Bara pulang. Besok baru bisa bertemu Alan. Apa aku telpon Alan ya, biar ia kesini," gumam Firda sambil memainkan ponselnya.
Ting tong! Ada seseorang yang memencet bel pintu apartemennya. Membuyarkan lamunan Firda.
"Tumben Bara pulang hari ini. Untung aku tadi belum sempat menelpon Alan untuk datang kesini," kata Firda dalam hati. Ia berjalan menuju ke pintu apartemennya.
Ceklek! Matanya terbelalak lebar melihat siapa yang datang.
"Alan!" seru Firda, suaranya gemetar, seakan tak percaya dengan kedatangan Alan yang tiba-tiba. Ia langsung berlari dan menarik tangan Alan ke dalam, kemudian mengunci pintu apartemennya dengan terburu-buru, seolah-olah dunia luar bisa menghalangi momen itu.
"Kenapa kamu langsung kesini?" kata Firda sambil bergelayut manja pada Alan, bibirnya melengkungkan senyum penuh godaan. "Aku tadi baru mau menelponmu, memintamu untuk datang ke sini."
Alan tertawa pelan, mata penuh tatapan menggoda. "Salah sendiri kamu, Firda," jawabnya, dengan nada yang penuh tantangan. "Kamu yang memancingku. Kamu sengaja, kan? Diajak video call malah menggoda."
Dengan gerakan cepat, Alan menggendong Firda seperti seorang pengantin dan membawanya ke tempat tidur. Firda hanya bisa tertawa pelan, tapi ada getaran dalam hatinya yang semakin kencang. Semua yang terjadi ini terasa seperti permainan yang penuh bahaya, dan ia tahu—ini bukan sesuatu yang bisa mereka pertahankan lama.
Sebelum Firda sempat berkata apa-apa, Alan menonaktifkan ponselnya, memastikan Aira—istri Alan—tidak bisa menghubunginya. Namun, Firda merasa ada ketegangan yang lebih besar dari sekadar permainan fisik ini. Sesuatu yang lebih dalam, yang mungkin tak bisa mereka hindari.
Suasana kamar yang sepi, hanya dihiasi oleh desahan pelan, menjadi saksi bisu dari gejolak yang muncul. Namun, di balik setiap momen penuh gairah itu, Firda merasakan sesuatu yang lebih berat.
Keputusan-keputusan yang mereka ambil dalam keheningan ini akan memengaruhi banyak hal. Meski begitu, Firda tak bisa menahan dirinya—terlarut dalam euforia yang datang begitu mendalam, hingga ia hampir lupa apa yang harus dipertaruhkan.
"Kamu pamit apa sama istrimu?" tanya Firda ketika mereka sudah menyelesaikan satu ronde. Alan yang masih tampak ngos-ngosan menatap sekilas pada Firda. Kemudian ia menarik nafas panjang.
"Tadi Aira nggak ada di rumah. Mungkin ia sedang pergi bersama Kenzo ke minimarket."
"Oh. Aku tadi kaget waktu bel berbunyi. Aku pikir Bara yang pulang, eh ternyata kamu yang datang."
"Senang nggak kalau aku yang datang?"
"Tentu saja! Kita kan bisa bersenang-senang." Firda menggoda Alan lagi.
"Kamu hebat sekali, aku sampai ngos-ngosan ngikutin irama permainanmu," kata Alan sambil tangannya bergerilya.
"Kamu juga hebat. Luar biasa, membuatku merem melek." Firda menggelitik Alan, dan akan berlanjut ke ronde kedua.
Ting tong! Belum sempat mencapai puncak, terdengar bel berbunyi. Alan dan Firda langsung berpandangan mata. Mereka tampak kaget dan bergegas beranjak dari tempat tidur. Alan merasa pusing karena hasratnya belum tersalurkan lagi.
"Apa suamimu pulang?" tanya Alan.
"Katanya masih tiga hari lagi ia pulang." Firda berkata dengan suara bergetar.
Segera Alan dan Firda memakai pakaian, Firda buru-buru membersihkan tempat tidurnya.
"Kamu sembunyi dulu di kamar sebelah, nanti kalau sudah aman aku panggil kamu, baru kamu keluar," kata Firda memberikan arahan pada Alan.
Ting tong!
Alan mengangguk, ia bergegas melakukan apa yang diperintah oleh Firda. Setelah mematut diri di depan cermin, merapikan baju dan rambut, Firda pun segera membuka pintu apartemennya.
Ceklek! Firda tampak lega ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu.
"Lama sekali sih buka pintunya? Lagi ngapain coba kamu sendirian disini, apa kamu ketiduran?" cerocos Gita, sahabat karibnya.
Gita pun menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada.
"Jangan bilang kalau kamu lupa, padahal kamu yang menyuruhku kesini." Gita melanjutkan ucapannya lagi.
Firda duduk di sebelah Gita, ia masih terpaku belum fokus dengan kondisi yang ada. Ia tadi berfikir kalau yang datang itu adalah Bara. Seharusnya ia senang ternyata yang datang itu Gita. Ia masih agak syok.
Gita mengenduskan hidungnya ke tubuh Firda.
"Kenapa?" tanya Firda.
"Kamu kok keringatan kayak gini, parfum mu juga beda." Gita langsung membelalakkan matanya.
"Kamu habis ML ya? Berarti aku mengganggumu? Kok nggak bilang sih kalau Bara sudah pulang? Katanya masih tiga hari." Gita langsung cemberut, karena rencananya tadi mereka berdua akan pergi ke kafe bersenang-senang, malah Bara sudah pulang.
"Bara memang belum pulang." Firda menjawab dengan pelan.
"Terus?".selidik Gita.
Entah kenapa, Firda tidak bisa berbohong dengan Gita. Mereka berdua memang bersahabat karib sejak SMA. Gita juga mengenal Alan dan kisah cinta antara Alan dan Firda.
"ML sama siapa? Kamu kok nggak pernah cerita kalau punya yang lain? Hayo mulai nakal ya?" selidik Gita.
"Gara-gara berteman denganmu," sahut Firda.
"Kok bisa gara-gara aku?"
Gita memang belum menikah, tapi ia berpacaran dengan suami orang. Tentu saja segala kebutuhannya dipenuhi oleh pacarnya itu.
"Karena kamu pacaran dengan suami orang, aku jadi ikut-ikutan," kilah Firda.
"Tapi kan kamu sudah punya suami."
"Mencari variasi, biar nggak bosan." Firda menjawab dengan cengengesan.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Gita.
Firda tersenyum penuh teka-teki.
"Apakah Bastian?" tanya Gita menyebut staf Firda di kantor. Karena Firda sering memuji Bastian ketika berbicara dengan Gita.
Firda menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenal kok dengan orangnya."
Firda pun masuk ke kamar yang ditempati Alan untuk sembunyi.
"Gimana? Aman?" tanya Alan.
Firda mengangguk.
*Ayo keluar," ajak Firda.
Alan malah mendekap tubuh Firda.
"Kepalaku pusing, tadi belum keluar," bisik Alan.
"Tapi…" Firda belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi Alan langsung memotongnya.
"Sebentar saja ya? Biar pusingku hilang."
Mereka berdua pun menuntaskan yang sempat tertunda.
Alan dan Firda pun keluar dari kamar menuju ke ruang tamu. Gita terkejut melihat sosok yang bersama dengan Firda, begitu juga Alan.
"Gila kamu, Fir?" seru Gita. Firda hanya tersenyum.
"Halo Gita," sapa Alan. Kemudian duduk di sebelah Firda.
"Kok bisa?" tanya Gita.
"Ya jelas bisa."
"Ngapain lama sekali keluar dari kamar? Jangan bilang kalau kalian ML lagi." Gita menebak.
"Menuntaskan yang tertunda," sahut Firda dengan senyum penuh arti.
"Ya sudah kalian berdua bercerita sepuasnya, aku mau pulang," pamit Alan.
Alan pun berdiri, Firda mengikuti Alan kemudian mereka berdua berc*uman mesra dan penuh gairah. Tidak lagi punya rasa malu, padahal ada Gita.
"Woi, ada aku disini. Kalian bikin aku pengen saja!" teriak Gita mengagetkan dua insan yang dipenuhi hawa nafsu duniawi.
