Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Lambang keluarga Hayes terasa dingin di telapak tanganku.

Aku menatap liontin perak itu, teringat pagi Natal ketika Nathaniel mengaitkannya di leherku. "Supaya kamu selalu punya tempat untuk pulang," katanya waktu itu, jemarinya lembut di tengkukku.

Tempat untuk pulang. Lelucon yang kejam.

Tanganku bergetar saat aku meletakkannya ke dalam kotak kardus bersama peninggalan lain dari kebodohanku. Syal kasmir yang dia pilihkan untuk ulang tahunku yang kedelapan belas, selembut bisikan, berwarna langit musim dingin. Salinan Jane Eyre bersampul kulit, dengan catatan-catatan kecilnya yang rapi di tepi halaman—setiap catatan adalah remah roti yang kuikuti, menuntunku semakin dalam ke dalam delusiku sendiri.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Aku tidak menoleh saat Nathaniel memenuhi ambang pintu. "Beres-beres."

"Elena—"

"Jangan." Kata itu keluar lebih tajam dari yang kuinginkan. "Tolong... jangan."

Dia tetap melangkah masuk ke kamarku, dan aku mencium aroma colognenya—sandalwood dan sesuatu yang khas dirinya, yang dulu bisa membuatku terlena. Kini hanya membuatku mual.

"Kamu tidak harus membuang semuanya," katanya pelan.

"Harus."

Setiap hadiah, setiap kenangan, setiap suvenir bodoh dari cinta yang tak pernah berbalas. Satu per satu masuk ke dalam kotak, seolah aku sedang menguburkan orang mati.

"Elena, kita perlu bicara—"

"Nathaniel!" Suara Sabrina memotong apa pun yang hendak dia katakan. Dia muncul di sampingnya, rambut pirang berkilau, lipstik terulas sempurna, menyodorkan sebuah kotak beludru kecil kepadaku. "Aku punya hadiah sambutan kecil untuk adik baruku!"

Adik. Kata itu lagi, terpelintir menjadi sesuatu yang terdengar seperti kepemilikan.

"Kamu tidak perlu—" aku mulai berkata.

"Ah, jangan begitu! Buka saja!"

Di dalamnya ada jam tangan emas yang anggun, jenis yang harganya lebih mahal dari sewa rumah kebanyakan orang. Cantik, mahal, dan sama sekali bukan untukku.

"Biar kupakaikan!" kicau Sabrina, meraih pergelangan tanganku sebelum aku sempat menolak.

Kait logam itu menutup di kulitku seperti belenggu.

Reaksinya seketika—rasa panas membakar menjalar naik di lenganku seperti api liar. Aku terengah, mencoba membuka kaitnya, tetapi Sabrina memegangi pergelangan tanganku erat.

"Ada apa?" tanyanya, namun matanya menari dengan sesuatu yang mencurigakan—kepuasan.

"Alergi logam," kataku terbata, akhirnya aku berhasil membuka kait itu. Bentol merah menyala sudah muncul di kulit tempat jam itu menyentuhku.

Wajah Nathaniel memucat. "Astaga, Elena, kamu—"

"Aku tidak apa-apa." Padahal tidak. Pergelangan tanganku terasa seperti terbakar.

"Oh tidak!" Sabrina terkejut, tetapi dia menatap Nathaniel, bukan aku. "Maaf sekali, Sayang! Aku benar-benar tidak tahu!"

Sayang. Dia memanggilnya sayang sementara aku berdiri di sana dengan luka seperti terbakar di lenganku.

"Tidak apa-apa," kataku lagi, meski kulitku terus terasa perih. "Sungguh."

Nathaniel meraih pergelangan tanganku, jemarinya sejuk di atas kulit yang meradang. Sesaat saja, aku membiarkan diriku mengingat masa ketika sentuhannya berarti kenyamanan, perlindungan, cinta.

Lalu Sabrina mengeluarkan suara kecil yang terluka, dan perhatian Nathaniel langsung beralih kepadanya, seolah dia adalah kutub magnet.

"Jangan menangis, Sayang," gumamnya, menarik Sabrina ke dalam pelukannya. "Itu hanya kecelakaan."

Sayang. Sejak kapan dia memanggilnya begitu?

Aku kembali membereskan barang-barangku, memasukkan jam tangan itu ke dalam kotak bersama semuanya. Pergelangan tanganku berdenyut, tetapi tak sebanding dengan nyeri di dadaku.

"Aku akan tinggal di sini beberapa hari ke depan," umum Sabrina, suaranya kembali cerah dan riang. "Persiapan pernikahan, tahu sendiri! Banyak sekali yang harus diurus!"

"Di sini?" Aku menoleh tanpa sadar.

"Ya, tentu saja. Maksudku, ini akan jadi rumahku juga nanti." dia tertawa, tawa merdu yang membuat gigiku ngilu. "Kamu harus mulai membiasakan diri memanggilku Kakak, Elena."

Cara dia mengucapkan namaku membuatnya terdengar kotor.

"Aku hanya membersihkan beberapa barang lama," kataku, merekatkan kotak itu dengan tenaga berlebih.

"Bersih-bersih musim semi di tengah musim dingin?" Sabrina tertawa lagi, tawa yang sama menusuk telinga. "Betapa... telitinya dirimu. Tapi kurasa memang bagus memberi ruang untuk kenangan baru, bukan? Kenangan keluarga."

Keluarga. Dia terus menggunakan kata itu seperti senjata.

Nathaniel menatapku dengan kerutan di kening, mata gelapnya menyelidiki wajahku seolah mencoba memecahkan teka-teki. "Elena, kamu yakin baik-baik saja?"

"Tentu saja," aku berbohong dengan mulus. "Tidak pernah lebih baik."

Malam itu, aku duduk di lantai kamarku, dikelilingi sepuluh tahun kenangan. Buku harian demi buku harian, penuh dengan nama Nathaniel yang tertulis berulang dalam tulisan melingkar. Surat-surat yang kutulis namun tak pernah kukirim, menumpahkan perasaan yang terlalu kutakuti untuk kuucapkan. Foto-foto liburan keluarga, di mana aku berdiri cukup dekat untuk merasakan hangatnya, tetapi tak pernah cukup dekat untuk berarti apa-apa.

Aku merobek setiap halaman dengan teratur, suara kertas terkoyak menjadi simfoni pembebasan.

Tanpa air mata. Aku sudah menangisi Nathaniel Hayes cukup lama untuk mengisi lautan. Malam ini, yang kurasakan hanyalah kejernihan dingin yang aneh.

Gadis yang mencintainya sedang mati, halaman demi halaman.

Dan akhirnya aku siap melepaskannya.

Aku memasukkan sisa-sisa sobekan itu ke dalam kantong sampah, memelintirnya hingga tertutup rapat, lalu meletakkannya di dekat pintu. Besok, bahkan kepingannya pun akan lenyap.

Dari lorong terdengar tawa Sabrina, cerah dan penuh kemenangan, disusul cekikikan Nathaniel yang lebih dalam.

Mereka terdengar bahagia.

Selamat untuk mereka.

Aku mematikan lampu dan berbaring dalam gelap, pergelangan tanganku yang terbakar masih berdenyut di atas seprai yang dingin.

Dalam tiga puluh enam jam lagi, aku akan berada di pesawat menuju London, dan mereka akan terbangun mendapati aku telah pergi.

Bayangan keterkejutan dan kebingungan mereka memberiku kepuasan gelap yang samar.

Namun sebelum itu, aku harus bertahan dua malam lagi, berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel