Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

SUDUT PANDANG YANG BERBEDA

Sementara itu, di dalam ruang kerjanya yang bernuansa modern minimalis di lantai satu Blok A Nomor 12, Diana sedang duduk di balik meja kerja kayunya yang elegan. Layar tablet di depannya masih menampilkan dokumen draf visualisasi tiga dimensi Full-Height Wardrobe yang dikirimkan oleh tim Rian tadi pagi. Kacamata baca berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, memantulkan cahaya putih dari layar monitor.

Diana melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya pelan sambil menghela napas. Pikirannya tidak benar-benar tertuju pada angka nominal total di lembar terakhir RAB yang baru saja disetujuinya, melainkan pada memori interaksi personalnya dengan sang kontraktor muda kemarin sore.

“Rian...” nama itu terucap lirih dari bibirnya tanpa sadar.

Diana adalah wanita yang cerdas. Di usianya yang menginjak tiga puluh sembilan tahun, ia telah mendampingi suaminya membangun karier dari bawah hingga kini menempati posisi eksekutif di sebuah perusahaan multinasional. Ia sudah terbiasa membaca karakter orang, menilai motif di balik kata-kata, dan mendeteksi ketulusan dari bahasa tubuh seseorang.

Dan Rian, di mata Diana, adalah sebuah anomali yang sangat menarik.

Ketika pertama kali membuka pintu rumah untuk menyambut Rian kemarin, draf awal di kepala Diana mengira ia akan menghadapi seorang pemuda ambisius yang akan bicara menggebu-gebu dengan istilah-istilah arsitektur keren untuk membuat dirinya terkesan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Rian berdiri di sana dengan pembawaan yang sangat membumi, kokoh seperti pohon besar, namun memiliki ketenangan air telaga.

“Selamat sore, betul Bu Diana. Saya Rian,” suara bariton pemuda itu terdengar begitu mantap saat pertama kali mereka bersalaman. Genggaman tangannya hangat, tegas, namun tidak berlebihan—sebuah tanda dari seseorang yang memiliki kepercayaan diri internal yang kuat, bukan yang dibuat-buat.

Selama diskusi di sofa ruang tamu, Diana sengaja menguji Rian dengan beberapa pertanyaan menjebak seputar material dan perbandingan harga dengan vendor luar negeri yang biasa ia gunakan. Ia ingin tahu apakah pemuda ini bakal gugup atau malah defensif.

“Mas Rian, saya ini biasa pakai furnitur impor dari Italia buat ruang tengah bawah,” kata Diana waktu itu, suaranya tenang tapi menuntut jawaban berbobot. “Kualitas pengerjaan mereka itu rapi banget, gak ada sambungan HPL yang kelihatan kasar. Kira-kira, workshop lokal kayak punya Mas Rian ini bisa gak ngejar standar kerapian kayak begitu? Jangan sampai nanti pas dipasang, malah kelihatan kayak lemari bikinan tukang pinggir jalan.”

Rian tidak tampak tersinggung sama sekali dengan kalimat bernada meremehkan itu. Pemuda itu justru menatap mata Diana secara langsung—sebuah tatapan yang jujur, tajam, namun tetap menghormati batas kesopanan.

“Saya sangat paham kekhawatiran Ibu Diana,” jawab Rian dengan nada santai tapi berbobot. “Produk Italia memang terkenal dengan teknik mitre joint empat puluh lima derajat mereka yang sangat presisi di bagian sudut pertemuan kayu. Di workshop kami, kami tidak menggunakan teknik manual untuk memotong HPL. Kami menggunakan mesin table saw dengan mata pisau ganda berkecapatan tinggi khusus yang memastikan hasil potongannya bersih tanpa ada retakan mikro di pinggirannya. Selain itu, untuk proses pengeleman, kami menggunakan lem resin poliuretan yang tahan terhadap kelembapan udara kamar ber-AC, sehingga risiko lapisan HPL terkelupas dalam jangka panjang bisa kami eliminasi.”

Rian menjeda kalimatnya sejenak, memberikan waktu bagi Diana untuk mencerna aspek teknis tersebut sebelum melanjutkan dengan kalimat pamungkasnya. “Kami mungkin bukan vendor internasional, Bu, tapi dedikasi kami terhadap kerapian detail milimeter di lapangan adalah reputasi utama yang kami pertaruhkan. Ibu bisa periksa sendiri nanti pas proses instalasi dimulai.”

Diana menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya yang nyaman, pandangannya beralih menatap kosong ke luar jendela kaca besar yang menampilkan taman samping rumahnya.

“Cara dia ngejawab itu... benar-benar dewasa,” monolog Diana dalam hati, sebuah senyuman tipis misterius muncul di sudut bibirnya. “Dia gak berusaha mendebat aku sama nada tinggi, tapi dia matahin keraguan aku pakai argumen teknis yang benar-benar valid. Pria muda yang punya kompetensi sebesar itu di balik sikapnya yang bersahaja, jelas bukan orang sembarangan.”

Namun, ada hal lain yang membuat Diana merasakan getaran aneh di dalam hatinya yang sudah lama terasa datar. Rasa aneh itu muncul pas mereka berdua berada di ruang pakaian atas yang sempit untuk proses pengukuran.

Saat Rian sibuk menembakkan alat ukur laser digitalnya ke langit-langit, jarak berdiri mereka berdua sempat cukup dekat, hanya terpisah sekitar satu meter karena keterbatasan ruang di antara tumpukan baju di lemari lama. Dari jarak sedekat itu, Diana bisa mencium aroma maskulin yang khas dari tubuh Rian—bukan aroma parfum mahal yang menyengat, melainkan aroma bersih dari sabun dan sisa wangi kain jemuran yang segar, bercampur sedikit aroma kayu kering yang maskulin. Aroma seorang pria yang benar-benar bekerja dengan fisiknya.

Diana juga sempat memperhatikan detail fisik Rian dari samping saat pemuda itu berjongkok untuk memeriksa kesikuan sudut lantai. Otot-otot lengan bawahnya tampak menyembul tegas di balik gulungan lengan kemejanya yang rapi setiap kali ia menarik meteran besi. Garis rahangnya tegas, dan ada konsentrasi penuh di matanya yang membuat wajah tampannya kelihatan berkali-kali lipat lebih berwibawa.

Waktu itu, ada satu momen pendek di mana Rian mendongak secara tiba-tiba setelah selesai mencatat angka di bukunya. Mata mereka berdua bertemu secara langsung dalam jarak dekat selama beberapa detik. Diana sempat menahan napasnya, merasakan desiran halus yang aneh menjalar di tengkuknya—sebuah reaksi fisik yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan lagi sebagai seorang wanita.

Namun, alih-alih memanfaatkan situasi atau bersikap genit seperti kebanyakan pria muda yang tahu kalau mereka punya wajah tampan, Rian justru langsung mengalihkan pandangannya kembali ke lembar catatannya dengan gerakan yang sangat natural dan profesional.

“Untuk area sudut sebelah kiri ini, Bu Diana,” kata Rian waktu itu, suaranya tetap stabil tanpa ada riak kegugupan sedikit pun. “Struktur dindingnya sedikit miring sekitar dua milimeter dari garis lurus siku. Nanti di workshop, kami akan buatkan panel penutup khusus (filler) di bagian tepi lemari agar tampilannya tetap terlihat lurus sempurna dan gak ada celah kosong yang bisa jadi sarang debu.”

Kontrol diri yang luar biasa ketat itu benar-benar membekas di benak Diana sampai sekarang. Pemuda itu seolah memiliki dinding pembatas profesional yang sangat tebal, yang tidak akan pernah ia langgar demi apa pun. Dan bagi wanita seperti Diana, tipe pria yang memiliki disiplin diri tinggi seperti itu justru jauh lebih menarik dan memicu rasa penasaran daripada pria yang mudah ditebak jalannya.

Diana bangkit dari kursi kerjanya, berjalan menuju jendela besar dan menatap ke arah langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.

“Aku penasaran sama kamu, Rian,” batin Diana sambil melipat kedua lengannya di bawah dada. “Kamu datang ke rumah ini sebagai seorang kontraktor muda yang mau merenovasi lemari pakaian. Tapi pembawaan kamu, ketenangan kamu, dan cara kamu natap mata aku kemarin... itu semua ninggalin kesan yang terlalu dalam buat ukuran sebuah hubungan kerja.”

Diana memikirkan hari Selasa depan, hari di mana Rian dan timnya akan mulai membongkar lemari lamanya dan bekerja di dalam area pribadinya selama tiga hari penuh. Biasanya, Diana paling malas berada di rumah jika sedang ada tukang yang bekerja karena suara bising dan debu yang mengganggu ketenangannya. Ia sering memilih untuk pergi ke mal, berkumpul bersama teman-teman sosialitanya di kafe mewah, atau sekadar melakukan perawatan di spa kecantikan.

Tapi untuk minggu depan, rencana itu sepertinya sudah ia coret dari kepalanya.

“Aku bakal tetap di rumah Selasa depan,” putus Diana dalam hati dengan kemantapan yang mutlak. “Aku mau lihat langsung gimana cara dia memimpin asistennya. Aku mau denger suara baritonnya saat ngoordinir kerjaan di atas. Aku pengen tahu, apa ketenangan dan profesionalisme yang dia tunjukkin kemarin itu cuma topeng draf awal buat dapet proyek, atau itu emang karakter aslinya.”

Diana mengembuskan napas pelan, merasakan debaran halus yang menyenangkan di dadanya—sebuah rasa antisipasi yang sudah lama hilang dari rutinitas kehidupannya yang serba teratur dan monoton di kluster elite ini. Pertemuannya dengan Rian telah membuka sebuah celah kecil dari rasa penasaran seorang wanita matang terhadap sosok pria muda penuh ambisi, dan ia memilih untuk menikmati jalannya proses tersebut dengan caranya yang anggun, profesional, dan tetap berada di balik kendali penuh dirinya sendiri sebagai nyonya rumah Blok A.

-----------

Deru mesin gergaji sirkular memecah keheningan ruko workshop sejak pukul delapan pagi. Suasana di lantai satu workshop interior milik Rian kini berubah menjadi medan pertempuran produksi yang sesungguhnya. Lembaran-lembaran kayu lapis meranti berkualitas setebal 18 milimeter berjejer rapi di dekat meja potong utama, siap dieksekusi menjadi komponen-komponen lemari pakaian raksasa pesanan Bu Diana.

Rian berdiri dengan posisi tegap di sisi meja potong, mengenakan masker debu, kacamata pelindung transparan, dan sarung tangan kerja berbahan kulit penahan gesekan. Kaos oblong hitam polos yang ia kenakan tampak basah oleh keringat di bagian punggung dan dada, memperlihatkan lekukan otot bahunya yang bekerja keras menahan bobot kayu yang berat. Di seberang meja, seorang pemuda berbadan tegap dengan potongan rambut cepak sedang memegangi ujung lembaran kayu dengan sigap. Pemuda itu adalah Taufik, asisten lapangan baru yang baru saja direkrut Rian kemarin siang.

“Fik, tahan agak kuat di ujung kiri ya. Dorongnya pelan-pelan aja, ikuti ritme gergajinya jangan dipaksa,” instruksi Rian dengan suara lantang agar terdengar di antara bisingnya mesin.

“Siap, Mas Rian! Aman ini,” jawab Taufik sigap, mengerahkan tenaga lengannya untuk menjaga kestabilan lembaran kayu lapis tersebut.

Sreeeeeet!

Mata pisau gergaji ganda memotong lembaran kayu itu dengan presisi milimeter yang sempurna. Hasil potongannya sangat bersih, lurus, dan tanpa ada serat kayu yang pecah di bagian pinggirannya—persis seperti standar kualitas tinggi yang dijanjikan Rian kepada Bu Diana saat presentasi draf awal.

Rian mematikan mesin gergaji, membiarkan suasananya mendadak hening sejenak. Ia menurunkan masker debunya ke leher, lalu mengambil penggaris siku besi untuk memeriksa tingkat kelurusan hasil potongan tadi. Setelah memastikan angkanya pas di garis 240 sentimeter, ia mengangguk puas.

“Bagus, Fik. Potongan tiang utama modul satu beres. Tolong tumpuk di sebelah sana, bedain sama potongan buat sekat laci ya biar gak ketuker pas proses pengeleman HPL nanti,” ucap Rian sambil menyeka keringat di dahinya menggunakan lengan kaosnya yang kering.

“Siap, Mas. Langsung saya pisahin,” sahut Taufik sambil mengangkat potongan kayu besar itu dengan kedua tangannya tanpa kesulitan. Fisik kuatnya sebagai mantan pekerja toko material benar-benar terbukti sangat membantu ritme kerja produksi hari ini.

Rian berjalan mendekati meja kerja Dimas di sudut ruangan untuk mengambil botol air mineralnya yang masih dingin. Ia meneguk air tersebut hingga tandas setengahnya, merasakan kesegaran yang langsung menyiram tenggorokannya yang kering karena debu kayu halus.

Dimas yang sedang asyik memeriksa manifes pengiriman engsel dan rel sliding premium soft-close di laptopnya melirik ke arah sahabatnya. “Gila, Yan, baru jam sepuluh pagi lo udah dapet tiga modul tiang utama aja. Kenceng amat ritme kerjanya hari ini.”

Rian terkekeh pelan, meletakkan botol minumnya kembali di meja. “Harus sat-set, Dim. Bu Diana itu tipikal klien yang megang banget omongan soal waktu. Dia minta hari Kamis sore minggu depan semuanya udah serah terima kunci dalam kondisi bersih dan siap pakai. Gua gak mau ada drama molor di lapangan cuma karena kita males-malesan di proses fabrikasi workshop.”

Dimas mengangguk-angguk paham, jemarinya kembali mengetik sesuatu di laptop. “Bener sih. Eh, ngomong-ngomong soal dana DP lima puluh persen dari Bu Diana, tadi jam sembilan pagi udah masuk rekening resmi kita, Yan. Jumlahnya pas, gak kurang sepeser pun. Gua udah langsung bayar lunas nota sisa kain beludru di Surabaya sama pelunasan aksesori rel impor di Jakarta Barat. Jadi besok semua barang pelengkap udah ready di ruko.”

“Alhamdulillah,” sahut Rian, ada rasa lega yang besar terpancar dari rahang tegasnya. “Arus kas kita aman berarti buat proyek ini. Tinggal fokus gua sekarang adalah ngejaga kualitas finishing-nya. Gua mau pas proses pengeleman HPL nanti, Pak Jono ikut bantu pengawasan kerapian sudut-sudutnya. Bu Diana itu matanya jeli banget, Dim. Tadi pas survei, dia langsung nanyain soal teknik mitre joint dan kerapian sambungan. Berarti dia paham standar barang premium.”

Dimas memutar kursinya, menatap Rian dengan tatapan sedikit menyelidik yang dipenuhi candaan khas sahabat lama. “Ciye... yang merhatiin detail kliennya sampai segitunya. Gimana kemarin pas survei di kamar atas? Orangnya aslinya galak kayak gosip ibu-ibu komplek gak?”

Rian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, menganggap pertanyaan Dimas sebagai bumbu obrolan santai di sela-sela kerja keras mereka. “Gak galak kok, Dim. Lebih tepatnya tegas dan tahu apa yang dia mau. Tipe wanita mandiri yang punya standar tinggi. Tapi pembawaannya anggun banget, bahasanya sopan dan gak mandang rendah kita sebagai kontraktor muda.”

“Malah... ada yang aneh pas di ruangan sempit kemarin,” batin Rian dalam hati, mendadak teringat momen singkat ketika mata mereka berdua bertemu dalam jarak dekat saat mengukur sudut dinding.

Sebagai pria muda normal berusia dua puluh empat tahun yang memiliki insting tajam, Rian tentu tidak buta untuk melihat bahwa Bu Diana adalah sosok wanita matang yang memiliki daya tarik fisik yang luar biasa memikat. Kulitnya yang putih bersih terawat, sepasang mata sayunya yang tenang namun menyimpan kedalaman, serta aroma parfumnya yang elegan sempat membuat atmosfer di ruang pakaian yang sejuk terasa sedikit berubah selama beberapa detik.

Namun, bagi Rian, ambisinya untuk sukses di industri interior ini jauh lebih besar daripada sekadar terbawa perasaan sesaat karena pesona seorang klien mewah. Ia memiliki disiplin diri yang sangat ketat yang selalu ia jadikan benteng pertahanan utama dalam kariernya.

“Gua datang ke rumah itu buat kerja profesional, nyari duit halal, dan ngebangun reputasi bisnis,” monolog Rian tegas dalam benaknya, mengunci rapat-rapat memori singkat tersebut agar tidak mengganggu fokus kerjanya. “Bu Diana itu istri orang terpandang di komplek ini, dan gua adalah kontraktor yang dipercaya karena rekomendasi Ibu RT. Sekali aja gua bersikap gak sopan atau salah tingkah di depan dia, reputasi usaha yang gua bangun bareng Dimas dari nol ini bisa hancur dalam semalam. Gua gak akan pernah biarin hal itu terjadi.”

“Woi, Yan! Malah ngelamun lo,” tegur Dimas sambil melemparkan gulungan isolasi kertas kecil yang langsung ditangkap Rian dengan satu tangan tanpa kesulitan.

Rian tersentak dari lamunan singkatnya, lalu terkekeh lepas. “Sialan lo, Dim. Gua gak ngelamun, lagi mikirin urusan instalasi kelistrikan lampu LED buat modul tas nanti di rumah dia. Jalur kabelnya harus tersembunyi rapi di balik panel ganda biar gak kelihatan acak-acakan pas pintu kaca hitamnya digeser.”

“Oh, soal itu tenang aja. Gua udah beliin pipa pelindung kabel mikro yang fleksibel, jadi aman pas ditekuk di sudut lemari,” sahut Dimas menenangkan. “Eh, si Taufik gimana kerjanya? Oke gak menurut lo?”

Rian melirik ke arah Taufik yang sedang sibuk menyapu sisa-sisa serbuk gergaji di dekat mesin dengan sapu ijuk. “Bagus banget, Dim. Anaknya penurut, gak banyak tingkah, jalannya cekatan, dan tenaganya kuat. Pilihan lo gak salah kemarin. Gua rasa dengan ritme kerja kayak gini, besok sore proses perakitan bodi kasar (carcase) lemari udah bisa kita uji coba berdiriin di lantai dua ruko sebelum kita bongkar lagi buat dikirim Selasa depan.”

“Sip deh kalau gitu. Gua lanjut bikin draf dokumen berita acara serah terima (BAST) sama surat jalan barang buat Selasa depan ya, biar administrasinya gak keteteran pas hari-H,” kata Dimas kembali fokus ke layar laptopnya.

“Oke, atur aja, Dim. Gua mau lanjut potong bahan buat kompartemen laci tengah,” jawab Rian sambil memasang kembali masker debunya.

Rian kembali melangkah ke area meja potong kayu dengan fokus yang kembali tajam seratus persen. Energi mudanya seolah tidak ada habisnya jika sudah berhadapan dengan urusan produksi. Bagi Rian, setiap lembaran kayu yang ia potong, setiap sudut yang ia haluskan dengan mesin ampelas, adalah kepingan-kepingan masa depan dari mimpi besarnya. Ia memiliki target jangka panjang yang sangat jelas di kepalanya: dalam waktu sepuluh tahun, bisnis interiornya ini harus sudah mencapai skala nasional, menjadi penyuplai utama untuk proyek-proyek hotel, apartemen, dan perkantoran mewah, sebelum nantinya ia bertransisi mengejar legacy di dunia politik seperti rencana hidup dua puluh tahunnya.

“Rumah Bu Diana di Blok A ini adalah ujian pertama gua di level pasar premium,” pikir Rian sembari menyalakan kembali mesin gergajinya. “Kalau gua bisa bikin lemari pakaian setinggi 3,4 meter itu berdiri dengan kokoh, rapi, tanpa ada cacat di sambungan HPL-nya, gua yakin Bu Diana bakal bangga buat pamerin ke teman-teman sosialitanya. Dari sana, orderan dari rumah-rumah megah lainnya di Blok A pasti bakal mengalir sendiri.”

Motivasi yang kuat itulah yang membuat gerakan Rian sore itu terlihat begitu efisien dan penuh perhitungan. Ia memperlakukan setiap modul lemari pakaian tersebut layaknya sebuah karya seni mahal yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Ia tidak segan-segan mengulang proses pengukuran jika merasa ada pergeseran setengah milimeter saja pada posisi dudukan engsel soft-close.

Taufik yang bekerja di sampingnya pun sampai dibuat kagum dengan tingkat ketelitian bos mudanya itu. “Mas Rian ini kalau kerja rapi banget ya, detail sekrup aja diperhatiin posisinya harus sejajar semua.”

Rian menurunkan maskernya sebentar, memberikan senyuman hangat seorang mentor kepada asisten barunya. “Kerapian itu yang bikin nilai jual kita mahal, Fik. Orang kaya di komplek elite kayak Nirwana ini gak cuma beli fungsi lemari buat nyimpen baju, tapi mereka beli kepuasan visual. Kalau dari detail kecil kayak sekrup aja kita udah jorok, gimana mereka mau percaya buat ngasih proyek renovasi rumah yang nilainya ratusan juta? Selalu ingat itu ya pas kerja bareng gua.”

Taufik mengangguk takzim, mencamkan baik-baik nasihat berharga dari pria muda yang meskipun umurnya tidak terpaut jauh darinya, namun memiliki kedalaman berpikir dan kewibawaan seorang pemimpin yang matang.

Waktu bergerak cepat menuju pukul lima sore. Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela pintu kaca ruko mulai memanjang dan meredup, menandakan akhir dari hari kerja yang produktif. Di lantai satu workshop, deretan komponen utama lemari pakaian milik Bu Diana kini telah tersusun rapi, terbungkus kain pelindung tipis untuk menghindari debu malam, siap untuk memasuki tahap finishing pelapisan HPL esok hari. Rian menyeka sisa keringat di lehernya, menatap tumpukan hasil kerja kerasnya hari ini dengan seulas senyuman puas yang sarat akan ambisi masa depan yang membara di dalam dadanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel