Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

DI MATA MEREKA

Aroma teh melati yang masih mengepul hangat memenuhi ruang tengah kediaman Bu Rahma sore itu. Sebagai istri dari ketua RT di Cluster Nirwana, rumahnya memang kerap menjadi pusat berkumpulnya ibu-ibu pengurus PKK maupun sekadar tempat arisan kecil-kecilan. Namun, setelah agenda rutin komplek selesai dan menyisakan dirinya bersama Bu Diana yang sengaja tinggal lebih lama, topik pembicaraan mereka perlahan bergeser dari urusan iuran kebersihan menuju hal yang lebih personal.

Bu Rahma menyandarkan punggungnya di sofa empuk bermotif bunga, matanya sesekali melirik ke arah gorden beludru baru berwarna cokelat muda yang terpasang sempurna di jendela besarnya. Senyum kepuasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus usia akhir 30an.

“Jujur ya, Jeng Diana,” Bu Rahma membuka obrolan sambil mengaduk tehnya pelan. “Awalnya saya itu agak ragu pas anak muda itu datang bawa proposal. Zaman sekarang kan banyak vendor interior yang cuma modal pasang iklan di media sosial, pas datang ke lokasi malah planga-plongo atau kerjanya asal jadi. Tapi si Rian ini beda banget.”

Bu Diana yang sedang memperhatikan contoh katalog HPL di pangkuannya mendongak, tertarik dengan arah pembicaraan sahabatnya itu. “Beda gimana maksudnya, Jeng?”

“Ya dari pembawaannya itu, lho. Sopan banget, tapi gak canggung,” tutur Bu Rahma dengan nada antusias. “Biasanya kan anak muda seumur dia kalau ketemu ibu-ibu komplek sini suka agak gemeteran atau malah over-akting biar kelihatan hebat. Kalau Rian ini tenang. Suaranya adem, pas ngejelasin soal kain blackout sama sistem rel otomatis itu runut banget. Gak ada kesan mau nipu atau nyari untung kegedean.”

Bu Diana tersenyum tipis, mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Rian kemarin sore di rumahnya sendiri. “Iya sih, saya juga ngerasa begitu pas dia survei ke kamar atas kemarin. Pas saya tanyain soal kekuatan dinding bata ringan buat nahan lemari baju yang tinggi, dia langsung bisa ngasih solusi teknis yang masuk akal. Gak pakai mikir lama.”

“Tapi sebenarnya, bukan cuma soal kepintaran teknisnya yang bikin aku kepikiran sampai semalam,” batin Bu Diana dalam hati, menyembunyikan secuil kesan pribadi yang agak berbeda dari sekadar urusan bisnis.

Sebagai wanita matang yang suaminya sering berdinas ke luar kota, Bu Diana terbiasa berinteraksi dengan berbagai macam kontraktor dan arsitek senior. Namun, ada sesuatu pada diri Rian yang memicu rasa penasaran yang aneh di kepalanya. Pemuda itu memiliki tatapan mata yang sangat fokus—terlalu fokus bahkan untuk ukuran seorang pekerja lapangan.

“Nah, bener kan!” sahut Bu Rahma lagi, memotong lamunan singkat Bu Diana. “Terus yang paling saya suka, dia itu kerjanya bersih. Pas masang gorden di kamar saya kemarin, dia nggak bawa asisten lapangan, tapi dia sendiri tetap turun tangan langsung. Pas ngebor dinding pun, dia megang wadah kecil di bawah bornya biar debunya gak jatuh ke karpet saya. Detail kecil kayak gitu lho, Jeng, yang bikin saya ngerasa dihargai sebagai konsumen.”

“Oh ya? Sampai segitunya?” Bu Diana menaikkan alisnya, sedikit terkesan dengan tingkat disiplin kerja Rian yang diceritakan Bu Rahma.

“Iya, Jeng Diana. Makanya pas dia pamit pulang, saya nggak ragu buat langsung ngasih pelunasan dan nawarin buat promosiin dia ke grup WA arisan kita. Anak muda yang punya etos kerja kayak begitu di zaman sekarang ini langka. Kebanyakan maunya yang instan, tapi hasil kerjanya berantakan,” ujar Bu Rahma sembari menyeruput tehnya.

Bu Diana mengangguk-angguk setuju, namun monolog di dalam benaknya kembali berputar. Ia mengingat momen ketika Rian berdiri di ruang pakaian atas rumahnya kemarin, memegang meteran laser dengan postur tubuh yang tegap dan bahu yang lebar. Kemeja abu-abu yang dikenakan pemuda itu tampak pas membungkus fisiknya yang proporsional, memberikan kesan maskulin yang bersahaja namun kuat.

“Ada aura kepemimpinan aneh,” pikir Bu Diana sambil jemarinya mengusap pinggiran cangkir teh. “Dia masih dua puluh empat tahun, tapi caranya natap ruangan sama mengorganisir pekerjaan bikin dia kelihatan jauh lebih dewasa. Malah... kayak ada ketegasan tersembunyi di balik sikap sopannya itu. Tipe pria yang tahu persis apa yang dia pengen dan gimana cara dapatinnya.”

Rasa aneh itu sempat membuat Bu Diana sedikit salah tingkah kemarin sore. Saat mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, ia sengaja berjalan di depan dan bisa merasakan pandangan Rian di belakangnya. Namun, ketika ia menoleh secara tiba-tiba untuk menunjukkan pintu kamar, ia mendapati kepala pemuda itu menunduk sopan, mengunci pandangannya hanya pada anak tangga. Perilaku yang sangat menjaga jarak dan penuh tata krama itu justru membuat Bu Diana merasa ada kontradiksi menarik dalam diri Rian: seorang pria muda dengan fisik dan ambisi yang kuat, namun memiliki kontrol diri yang luar biasa ketat.

“Eh, ngomong-ngomong, Jeng Diana jadi ambil proyek renovasi walk-in closet-nya?” tanya Bu Rahma, membuyarkan kembali analisis pribadi Bu Diana.

“Jadi, Jeng. Tadi pagi draf penawaran harganya sudah masuk lewat WhatsApp. Hitungannya rapi banget, lembar per lembar materialnya ditulis jelas, jadi saya tahu uang saya dipakai buat apa aja. Suami saya juga pas saya telepon tadi siang langsung setuju pas udah lihat gambar kerjanya,” jawab Bu Diana profesional.

“Wah, alhamdulillah kalau begitu. Mulai pengerjaan kapan katanya?”

“Rencananya Selasa depan mereka mulai bongkar lemari lama saya, terus langsung instalasi yang baru. Katanya target selesai Kamis sore sebelum akhir pekan. Cepet juga ya, cuma sekitar semingguan dari proses pabrikasi di ruko mereka,” tutur Bu Diana.

“Nah, itu dia kelebihannya. Mereka punya workshop sendiri, jadi gak dilempar ke pihak ketiga lagi. Si Rian itu emang perfeksionis orangnya, Jeng. Pasti dipantau terus sama dia,” kata Bu Rahma menambahkan, seolah dirinya adalah juru bicara resmi dari usaha Rian.

Bu Diana hanya tersenyum menanggapi antusiasme sahabatnya. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ada sepercik rasa penasaran yang mulai tumbuh terkait bagaimana jalannya proyek hari Selasa nanti. Ia mendapati dirinya tidak sabar untuk melihat bagaimana pemuda tegas itu mengeksekusi rencana-rencana besarnya di dalam rumahnya.

“Rian, Rian... kamu benar-benar menarik buat ukuran seorang kontraktor muda,” gumam Bu Diana dalam hati, menutup rapat-rapat pemikiran tersebut di balik wajah anggunnya yang tetap tampak tenang dan berwibawa di hadapan Bu RT.

Sore pun semakin larut, dan setelah obrolan panjang mengenai berbagai hal seputar komplek, Bu Diana akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumahnya di Blok A. Sepanjang perjalanan pendek menggunakan mobil sedannya, pandangan mata Bu Diana menatap lurus ke aspal jalanan cluster, namun pikirannya sesekali kembali melayang pada detail interaksinya dengan Rian kemarin.

Sebagai wanita yang memiliki kehidupan sosial mapan, Bu Diana sangat jarang menaruh perhatian lebih pada penyedia jasa yang bekerja di rumahnya. Biasanya, ia menyerahkan segala urusan pengawasan kepada asisten rumah tangga atau langsung menerima hasil jadi saja. Namun kali ini, ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk ikut terlibat, minimal duduk di ruang tengah lantai atas sambil membaca buku saat Rian dan timnya melakukan instalasi minggu depan.

Ia ingin melihat lebih dekat bagaimana dinamika kerja pemuda itu. Bagaimana suara baritonnya saat memberikan instruksi kepada asisten lapangannya, bagaimana ketelitian jemarinya saat memeriksa kerapian engsel-engsel pintu kaca hitam yang ia tawarkan, dan bagaimana pembawaannya yang tenang itu menghadapi tekanan tenggat waktu yang cukup ketat.

“Ini cuma rasa penasaran seorang klien yang mau mastiin rumahnya digarap sebaik mungkin, nggak lebih,” Bu Diana mencoba merasionalisasi perasaannya sendiri sembari membelokkan kemudi mobilnya memasuki pekarangan rumah Blok A Nomor 12.

Namun, senyuman tipis yang mendadak muncul di bibir penuhnya saat ia menatap ruang pakaian atas dari halaman luar rumah menunjukkan bahwa kehadiran Rian telah meninggalkan impresi yang jauh lebih dalam daripada yang mau ia akui secara terbuka. Babak baru pekerjaan di rumah mewah itu tidak lagi sekadar menjadi urusan transaksi bisnis biasa di mata sang nyonya rumah, melainkan sebuah panggung pertunjukan di mana sang kontraktor muda akan diuji kelayakan dan pesonanya.

Sore itu, setelah Bu Diana pamit pulang dengan mobil sedannya yang melaju tenang membelah jalanan Blok A, Rahma tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia berdiri sejenak di teras, melipat kedua tangannya di dada sambil memandangi deretan rumah kluster Nirwana yang tertata rapi. Angin sore berembus pelan, menggoyang dedaunan pohon peneduh di tepi jalan. Rahma mengembuskan napas panjang, lalu berbalik masuk dan mengunci pintu kasanya.

Langkah kakinya membawa dirinya kembali ke ruang tengah. Pandangannya lagi-lagi tertambat pada gorden beludru baru berwarna cokelat muda yang menjulang anggun dari batas plafon hingga menyentuh lantai marmernya. Kerapian lipatannya, presisi jarak antar rings, hingga kehalusan gerakan rel otomatisnya saat tombol remot ditekan—semuanya benar-benar tanpa cela.

“Pilihan aku emang gak salah,” batin Rahma sambil mengusap permukaan kain beludru itu dengan ujung jarinya. “Dari awal anak itu datang, insting ibu-ibu aku udah bilang kalau dia ini punya potensi gede. Gak kayak kontraktor-kontraktor modal nekat yang biasa nawarin jasa lewat brosur murahan.”

Sebagai istri ketua RT yang sudah tinggal di Cluster Nirwana selama hampir tujuh tahun, Rahma sudah kenyang melihat berbagai tipe pekerja interior. Mulai dari yang skalanya perusahaan besar dengan arsitek berdasi yang bicaranya selangit tapi hasil lapangannya sering molor, sampai tukang borongan keliling yang kerjanya berantakan dan suka ninggalin sisa semen di mana-mana.

Namun, ingatan Rahma kembali berputar pada momen tiga hari lalu, saat Rian pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya. Waktu itu, Rian datang mengendarai mobil bak terbuka yang bersih—sebuah detail kecil yang langsung dinilai positif oleh Rahma. Kebanyakan tukang membawa mobil bak yang kotor dan berkarat, tapi mobil Rian terawat, mencerminkan bagaimana pemiliknya menghargai aset usahanya.

Saat Rian melangkah masuk ke rumahnya, pakaian pemuda itu sangat rapi. Kemeja berkerah sewarna bumi yang pas di badan, celana jins gelap tanpa robekan, dan sepatu bot kerja yang bersih. Pembawaannya tegap, tapi kepalanya sedikit menunduk saat menyapa Rahma.

“Selamat siang, Bu Rahma. Saya Rian yang kemarin dihubungi lewat WhatsApp,” ucap Rian waktu itu. Suaranya berat, tenang, dan memiliki intonasi yang tertata. Gak ada kesan buru-buru, gak ada juga kesan mau cari perhatian.

“Oh iya, Mas Rian. Silakan masuk, silakan duduk dulu,” jawab Rahma sambil memperhatikan gerak-gerik pemuda itu.

Ada satu hal yang bikin Rahma langsung merasa sreg: Rian tidak langsung menyodorkan katalog atau buru-buru mempromosikan barang mahalnya. Pemuda itu justru duduk dengan tenang, meletakkan tas kerjanya dengan rapi di lantai samping kakinya, lalu mendengarkan semua keluhan Rahma tentang gorden lamanya yang sering macet dan warnanya yang mulai pudar karena matahari sore.

“Gini lho, Mas Rian,” kata Rahma waktu itu, bicaranya santai dan mengalir seperti kepada tetangga sendiri. “Saya tuh pengen gorden yang kalau siang bisa nahan panas banget, soalnya rumah saya ini hadap barat. Tapi kalau sore atau malam, tampilannya pengen kelihatan mewah, gak kaku kayak gorden kantor. Kira-kira bahannya apa ya yang cocok, tapi harganya juga gak bikin jantungan?”

Rian tersenyum sopan. Senyuman yang tipis, namun memancarkan rasa percaya diri yang matang. “Untuk rumah hadap barat seperti rumah Ibu, tantangan utamanya memang radiasi sinar ultraviolet yang bisa memudarkan warna furnitur di dalam ruangan. Solusi terbaiknya adalah menggunakan kain blackout dengan kerapatan serat seratus persen, Bu. Tapi, biar estetika mewahnya tetap dapet, kita bisa pakai sistem double-layer.”

Rian kemudian membuka tabletnya dengan gerakan yang efisien, menunjukkan draf visualisasi tiga dimensi. “Lapisan pertamanya pakai vitrase linen putih bersih untuk siang hari, jadi cahaya matahari tetap masuk tapi lembut dan gak panas. Nah, lapisan utamanya pakai beludru premium dengan tekstur matte warna cokelat muda ini. Bahan beludru jenis ini punya bobot yang pas, jadi jatuhnya kain bakal kelihatan jatuh anggun dan lurus. Soal harga, karena kami beli langsung gulungan dari pabrik pengolahan di Surabaya, kami bisa pangkas biaya vendor ketiga. Jadi Ibu tetap dapat kualitas nomor satu dengan harga yang sangat kompetitif.”

Mendengar penjelasan yang runut, logis, dan transparan seperti itu, pertahanan Rahma sebagai ibu-ibu yang hobi menawar langsung runtuh. Gak ada ruang buat meragukan kompetensi anak muda ini. Semua angka di RAB ditulis jelas sampai ke jumlah sekrup dan tipe mesin relnya.

Kembali ke masa sekarang, Rahma berjalan menuju dapur untuk meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong. Sambil membasuh cangkir di bawah kucuran air wastafel, pikirannya masih tertuju pada sosok kontraktor muda itu.

“Si Rian itu, kalau aku lihat-lihat, umurnya baru dua puluh empat. Tapi kok bisa ya punya ketenangan kayak orang yang udah umur tiga puluhan?” pikir Rahma heran. “Aku perhatiin pas dia kerja kemarin, dia gak banyak omong yang gak perlu. Semuanya sistematis.”

Ada satu momen yang paling berkesan di benak Rahma. Pas proses pengeboran besi penyangga gorden di plafon atas yang tingginya hampir empat meter, Rahma sempat cemas debu halusnya bakal mengotori sofa kulit dan karpet bulu mahalnya yang baru saja selesai di-laundry. Baru saja Rahma mau mengambil koran bekas buat alas, ia melihat Rian sudah siap dengan sebuah alat modifikasi sendiri—sebuah wadah plastik kecil yang ditempelkan tepat di bawah mata bornya. Begitu bor dinyalakan, seluruh debu putih sisa bobokan dinding langsung tertampung di wadah itu, gak ada sebutir pun yang jatuh ke lantai atau beterbangan di udara.

“Wah, Mas Rian kreatif banget ya, pakai wadah begitu,” puji Rahma kagum waktu itu.

Rian yang sedang berdiri di atas tangga aluminium menoleh ke bawah, lalu tersenyum ramah. “Kenyamanan rumah Ibu adalah prioritas kami, Bu. Kami gak mau setelah kami selesai pasang gorden, Ibu malah repot harus bersihin rumah lagi. Tugas kami adalah datang membawa solusi, bukan meninggalkan pekerjaan tambahan buat pemilik rumah.”

Kata-kata itu terngiang kembali di telinga Rahma. Sederhana, tapi maknanya dalam. Itu adalah kalimat dari seorang pebisnis tulen yang paham betul arti dari sebuah pelayanan konsumen (customer service) tingkat tinggi.

“Makanya aku langsung klik sama dia,” monolog Rahma sambil mengeringkan tangannya dengan kain lap. “Aku sengaja ngebagiin kontak dia ke grup arisan utama komplek. Bukan cuma karena puas sama gordennya, tapi tahu orang kayak Rian ini bakal jadi aset penting kalau grup ibu-ibu kluster butuh vendor interior yang bisa dipercaya. Lagian, ngelihat anak muda berjuang dari nol dengan cara yang lurus sama profesional begitu, rasanya ada kepuasan tersendiri bisa bantu buka jalan buat usahanya.”

Rahma tersenyum sendiri mengingat bagaimana Bu Diana tadi tampak begitu tertarik saat mendengarkan ceritanya tentang Rian. Sebagai sesama wanita komplek, Rahma tahu betul kalau Diana itu tipikal orang yang sangat pemilih dan perfeksionis. Kalau Diana sampai langsung setuju buat ambil proyek lemari pakaian di rumahnya setelah disurvei Rian, itu artinya impresi pertama yang ditinggalkan pemuda itu memang luar biasa kuat.

“Tinggal kita lihat aja nanti gimana hasil kerja Rian di rumah Diana minggu depan. Kalau di rumah megah kayak gitu dia bisa sukses dan bikin suami Diana yang galak itu puas, jalan Rian buat jadi kontraktor langganan elite komplek sini bakal makin terbuka lebar,” pungkas Rahma dalam hati, merasa langkah intuisinya merekomendasikan Rian sudah sangat tepat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel